11462

Seandainya waktu berjalan mundur

Aku ingin kembali

Di kala itu, Tuhan tersenyum

Ia menitipkan cinta untukku

dalam rangkaian takdir yang hadir

dengan iringan lagu-lagu kehidupan yang wajar

atas nama seorang gadis

yang bernama Maria

setiap aku menyebut nama itu

aku mengingat al-Qur’an

aku melihat Tuhan

setiap aku membaca nama itu di dalam kitab suci

aku mengingat wajah isteriku

aku mendengar Tuhan berfirman

Ia yang menciptakan segala

menyempurnakan senyumnya

 

Canberra, 6 Mei 2017

 

Nanti

Aku ingin, di penghujung usiaku, di batas nafas yang terakhir

Aku, membaringkan kepalaku di pangkuanmu

Kita bersama-sama membaca puisi kesaksian yang indah

Tiada illah, kecuali Allah

Lalu, kau cium keningku

Kau bisikkan janji di telinga kananku

‘Sampai ketemu sayangku, di kampung akhirat nan abadi.’

Kau mandikan tubuhku dengan air kesabaran

Kau sucikan wajah, kedua tangan, rambut, telinga dan kakiku dengan embun keikhlasan

Kau pakaikan aku dengan kafan ketegaran

Kau shalatkan dengan syariat kedamaian

Kau kubur dengan tanah ibu pertiwi

Kau doakan aku dengan kasih agar dosa-dosaku dibasuh dengan salju yang putih bersih

Kau rapalkan Fatehah agar jalanku tertuntun terang cintamu

Kau kirimkan Yasin di setiap malam Jum’at agar harum muthmainnah mengundangku, kita, mereka, kita semua, umat yang damai, yang yakin, yang tertuntun lurus dan yang terbaik, menghadiri perayaan kebahagiaan yang tak berujung pangkal.

Canberra, 19 April 2017

Persiapan Membaca Das Kapital, Karl Marx

das-kapital

Oleh. Hasnan Bachtiar

Bukanlah hal yang semudah kita pikirkan dalam membaca dan memahami magnum opus yang telah dipersembahkan Karl Marx, Das Kapital. Kita yang sejak awal menginginkan untuk segera memahami secara lebih komprehensif mengenai intisari dari filsafat keadilan sosial ekonomi dari buku tersebut, jelas akan kecewa. Kendati kesimpulan konseptual disajikan di awal, terutama mengenai nilai-nilai moda produksi, sama sekali tidak disinggung perkara ini dengan mudahnya.

Ketika kita mencurahkan perhatian terhadap bab pertama di dalam buku pertama (terdapat tiga jilid buku), pertama-tama kita akan berhadapan dengan tema pokok mengenai komoditas. Saya tidak mengetahui secara pasti, mengapa penulisnya memulai narasinya dengan tema ini. Saya hanya berusaha mengira-ngira, bahwa sang penulis, sebenarnya sangat memahami konteks intelektual akademik, termasuk pula sosio-politik dan kultural masyarakat setempat (Eropa abad ke sembilan belas). Semangat zaman telah mewarnai, bukan sekedar pemilihan tema dan pengaturannya secara sistematis, namun juga gaya penulisan yang begitu cair mengikuti gerak pemahaman terhadap wacana, sejarah dan pemikiran yang dialektis.

Ketika menginjakkan kaki di awal narasi, setelah memahami pokok-pokok pikiran yang ada dan mencoba mengajukan pertanyaan, “mengapa demikian?” dan seterusnya, tentu kita akan menuai kecewa untuk yang kedua kalinya. Kita harus segera menyadari bahwa yang kita nikmati bukanlah sajian intelektual akademik yang berbentuk jurnal ilmiah atau buku-buku akademik yang disusun sesuai dengan kebiasaan akademik Barat abad ke dua puluh satu, yang sangat sistematis mengatur antara tesis yang diajukan, argumen-argumen, bukti-bukti pendukung, contoh-contoh dan seterusnya.

Kendati demikian, mungkin kita akan menemukan berbagai jawaban atau alasan-alasan dari pertanyaan “mengapa” ketika membaca begitu saja bab demi bab pada ketiga jilid Das Kapital. Misalnya, mengapa terdapat kecaman terhadap uang, apa dasar-dasar ilmiah sehingga uang adalah jimat (fetish) yang sangat ampuh, sehingga membuat manusia menjadi mabuk dan seterusnya. Semua ini memiliki konteksnya masing-masing, yang dapat ditemukan di berbagai tempat, di hamparan teks yang tidak dapat diprediksi sebelumnya.

Namun yang jelas, untuk memahami gerak historis moda produksi kapitalis, termasuk pula pada akhirnya memahami berbagai nilai dan prinsip di balik gerak tersebut, harus membaca secara utuh ketiga jilid dari buku yang memuat kritik terhadap kapitalisme tersebut.

Mungkin, kita memerlukan sekurang-kurangnya tiga kali pengulangan, untuk mendapatkan keyakinan yang terbaik, yang menegaskan bahwa kita memahami apa yang dimaksudkan dan menjadi orientasi utama penulisan Das Kapital. Upaya pembacaan yang pertama, berfungsi secara signifikan untuk memetakan berbagai wacana (pengetahuan), terutama yang menopang tesis pokok yang diajukan oleh Marx; pembacaan yang kedua berfungsi menyusun ulang secara lebih sistematis berbagai gagasan yang diajukan; yang terakhir berdaya guna untuk memahami, sekaligus menginterpretasikan ulang teks yang ada, sesuai dengan kepentingan reproduksi pengetahuan pembaca.

*Akses digital mengenai Das Kapital, bisa merujuk kepada link berikut ini https://libcom.org/library/capital-karl-marx

Agama, Konservatisme Islam dan Kaum Miskin

djoko-supriyanto

Oleh. Hasnan Bachtiar

Ada satu titik di dalam hidup kita di mana kita harus berhenti mengejar materi. Hidup seadanya dengan harta yang kita punya, dan mulai mengabdikan diri untuk menolong orang lain. Mengumpulkan sebanyak mungkin kebaikan untuk dibawa ke hadapan Tuhan.” Djoko Supriyanto*

Pagi ini, ketika beredar banyak sekali meme yang menyindir kesigapan pasukan yang mengaku sebagai tentara Tuhan, yang popular dengan nama Front Pembela Islam (FPI), di saat yang sama saya tercengang, melamun dan lama sekali berpikir ketika membaca status seorang aktivis media sosial yang bernama Djoko Supriyanto.

Ketika FPI disindir dengan cara, “Mari kita mendoakan FPI yang siap berjihad ke Aleppo,” Supriyanto menyeru untuk “Hidup seadanya dengan harta yang kita punya, dan mulai mengabdikan diri untuk menolong orang lain.” Yang menarik, status dari media sosial yang dikutip terakhir ini, disertai dengan foto seorang ibu separuh baya, sedang membopong puteranya yang tak berdaya di salah satu bangsal rumah sakit. Warna hitam putih foto ini, membawa kesan adanya kesengsaraan yang penuh nestapa. Saya sendiri merasa bahwa, sang putera tengah menghadapi sakaratul maut yang begitu getir. Terutama bahwa, kaum miskin yang papa, semakin tak berdaya menghadapi ketetapan ilahi yang paling pasti: maut dan duka.

Saya memahami betul bahwa banyak orang memiliki empati dan rasa prihatin yang mendalam terhadap masalah kehidupan yang semakin sulit ditaklukkan ini. Namun kenyataannya, ekspresi keprihatinan ini, justeru termanifestasikan dalam bentuknya yang tak dapat diandalkan. Maksud saya, justeru sebagian kaum Muslim tampil dengan wujudnya yang keras, garang dan sebenarnya bingung harus bagaimana menjawab segala tantangan yang ada. Di sisi lain, krisis kemanusiaan telah mengemuka secara membabi-buta.

Tentu saya sedang tidak mempersoalkan masalah kebenaran informasi dari kedua ekspresi di dunia maya tersebut, antara meme yang mengritik konservatisme Islam dan kampanye kreatif untuk membangun empati kaum beragama terhadap masalah kemanusiaan. Lebih bijak untuk menganggap keduanya sebagai karya intelektual tertentu yang bermuatan estetis. Keduanya, adalah karya yang disampaikan kepada pembaca jagat maya, yang diolah melalui pergumulan akal sehat, hati nurani dan fakta sosial yang ada. Pendek kata, itulah kenyataan yang direpresentasikan melalui kenyataan lain, dengan bentuk yang relatif berbeda.

Pertanyaan yang menghantui saya, terutama berkenaan dengan fakta-fakta krisis kemanusiaan yang dewasa ini mengemuka adalah, bagaimana menyelesaikannya? Bagaimana kita, sebagai agensi sosial yang berpotensi mengupayakan perubahan sosial dan transformasi, mampu menjawab semua ini? Sebelum itu semua, bagaimana mengumpulkan kekuatan sosial, politik, ekonomi dan kultural, yang diawali dengan cara membangun empati humanistik para pengakses media sosial yang sedemikian massif dan terkadang, agresif? Bagaimana membelokkan wacana yang berorientasi kepada perayaan pengerasan sikap keberagamaan di berbagai kalangan, agar supaya menuju pemuliaan terhadap pentingnya agama yang berfungsi sosial?

Sebelum itu semua, jelas penting kiranya mendudukkan akar persoalannya, yakni krisis kemanusiaan di kalangan masyarakat Muslim, sekaligus merebaknya wabah konservatisme Islam. Jelas di antara keduanya memiliki dua kemungkinan, yakni beririsan dan tidak. Disebut beririsan oleh karena banyak pihak melampiaskan ketidakmampuan menghadapi segala krisis yang ada, sehingga memilih jalan konservatisme yang bermodalkan pengecaman, caci maki, takfir dan bahkan memobilisasi massa untuk melakukan tindak kekerasan di tempat dan sasaran yang sama sekali tidak relevan. Disebut tidak, karena konservatisme dianggap berdiri sendiri yang disuburkan oleh benih-benih ideologis, sementara fenomena krisis sosial kemanusiaan yang ada, merupakan katalis yang mempercepat penyebaran dan pertumbuhannya. Yang terakhir ini agak sulit diterima, karena betapapun kompleksnya hubungan antara penderitaan umat dan menguatnya ideologi Islam yang keras, keduanya memiliki interdependensi yang tidak dapat dipungkiri.

Krisis kemanusiaan yang ada, jelas tidak terjadi secara alamiah. Setiap krisis yang ada, – kecuali yang disebabkan oleh bencana alam, atau bencana katastropik lainnya yang berhubungan dengan tatanan semesta – selalu ada penciptanya. Seorang peletak dasar psikoanalisa, Sigmund Freud menyebutkan bahwa, motif tindak laku dehumanistik manusia sehingga berimbas pada lahirnya berbagai krisis, adalah panggilan hawa nafsu seksual, baik terhadap pria maupun wanita. Filosof sosial Jerman terkemuka, Karl Marx, mengajukan isyarat bahwa, motif kepentingan penumpukan kekayaan dan keserakahan adalah motif-motif yang sangat kuat, yang mempengaruhi timbulnya perilaku destruktif di antara individu, kelompok dan bahkan korporasi yang merugikan manusia, alam dan tatanan peradaban. Sementara itu, Friedrich Nietzsche, dengan cara yang sangat mengesankan, menyadarkan kita semua bahwa kekuasaan adalah bahtera yang membawa segenap manusia mengarungi samudera takdir kehidupan ini.

Tahta, harta dan wanita/pria adalah alasan-alasan yang melekat erat, seperti virus yang menggerogoti otak, sehingga pengidapnya menjadi linglung, berjalan miring dan menjadi sangat bebal. Carl Gustav Jung, seorang murid terbaik Freud, Feurbach, seorang teolog pengecam teologi dehumanistik, Marx dan sahabatnya, Engels, menambahkan satu motif yang dapat menyebabkan kerusakan yang luar biasa bagi kehidupan, yakni kegilaan terhadap agama. Berbagai motif ini, beserta segala kompleksitasnya, membawa manusia menjadi raja tega yang sangat merosot moralnya. Dalam konteks ini, kanibalisme dikembangkan secara lebih luas dan kreatif, sehingga korbannya bukan hanya individu-individu, namun juga massa yang besar dan melampaui batas-batas teritorial suatu negara. Neoliberalisme ekonomi, aktivitas blok-blok politik adikuasa pro korporasi multinasional, penciptaan dan pemberantasan terorisme, pasar senjata, perang yang tidak jelas maksud dan tujuannya, pabrik, pasar dan perdagangan narkoba, adalah perwujudan nyata dari senjata pemusnah massal yang lebih dahsyat ketimbang nuklir yang berbahan bakar uranium dan plutonium.

Lantas tidak jarang pula, agama digunakan sebagai komoditas yang paling laku, paling laris dan sangat sensitif, untuk kepentingan para pihak yang kejam dan bengis. Senapan ekonomi politik ini, yang bermesiu wacana keagamaan tertentu, telah membangkitkan sifat-sifat revivalistik sekelompok kaum Muslim di berbagai wilayah di belahan dunia. Lalu disertai pula dengan sifat ideologis yang keras, yang lambat laun menjadi semakin mengeras. Semakin mantaplah ideologi konservatisme yang terutama menjangkiti masyarakat Muslim yang telah sekian lama tertindas. Melindungi diri dari sifat-sifat salah para pihak, seperti riya’ dan sombong (superior), serakah (kapitalis), despotik, sewenang-wenang dan semua untaian bau busuk dehumanisme, adalah kepentingan dari konservatisme ini. Hal tersebut bukan sekedar tidak efektif, namun juga sama kelirunya dalam meletakkan dan memanfaatkan agama, pemikiran keagamaan dan praktik-praktik keagamaan.

Cara menyelesaikan masalah ini adalah membangun kesadaran kritis yang cukup jelas, terang dan mencerahkan ketika berhadapan dengan berbagai kompleksitas krisis sosial kemanusiaan yang dihadapi. Setidaknya, itulah prasyarat yang harus dilakukan, sebelum berbagai langkah strategis lainnya. Kita memang memiliki empati, tapi setiap empati yang membawa kepada terjaminnya keberpihakan terhadap kebenaran, keadilan dan kemanusiaan, harus berjalan beriringan dengan kesadaran kritis ini.

Yang dimaksud dengan kesadaran kritis adalah, kita memahami posisi kita sebagai agensi sosial kemanusiaan yang memiliki kekuatan untuk mengupayakan perubahan menuju kebajikan yang berkelanjutan. Lalu, kesadaran kritis adalah pandangan yang tidak buram, terhadap segala kenyataan sosial kemanusiaan yang ada, baik itu menyangkut segala hal yang terjadi, asal muasal, faktor-faktor penyebab, dampak-dampak yang terjadi dan juga siapa para pihak yang terlibat, termasuk para korban yang menanggung derita berkepanjangan atasnya. Dengan kata lain, kita harus memiliki ketegasan sikap keberpihakan, sekaligus piawai dalam menganalisis seluruh persoalan yang ada. Dari kedua hal ini, akan lahir jalan keluar. Seperti yang kita hadapi saat ini, kita harus mengakhiri sikap-sikap konservatisme Islam yang tidak perlu, karena tidak mungkin sanggup menghadapi neo-imperialisme, terutama yang dilakukan secara membabi-buta oleh negara-negara adikuasa dan berbagai korporasi internasional.

Kita memerlukan kampanye besar-besaran untuk menunjukkan bahwa wacana konservatisme Islam telah keliru dan memiliki banyak kemungkinan gagal menghadapi segala krisis yang semakin tak terkendali. Tidak tidak perlu berjihad ke Aleppo untuk menangani masalah kemiskinan, tingkat pendidikan yang rendah, akses politik ekonomi yang sangat terbatas (yang hanya didominasi dan dihegemoni oleh korporasi internasional), juga korupsi dan banyak lagi masalah lainnya. Apapun caranya, setelah kesadaran kritis, menghentikan segala ekspresi yang tidak cerdas atau sikap yang mengada-ada seperti misalnya konservatisme Islam yang semakin mengemuka, hal yang mendasar lainnya adalah, bagaimana memenangkan wacana kritis yang progresif, berpencerahan dan transformatif, dan juga penting untuk segera secara besar-besaran memobilisasi massa yang memiliki cita-cita, visi dan misi yang sejalan, untuk segera mewujudkan perubahan yang konkret, material dan kasat mata. Membela orang miskin, memerlukan nilai keagamaan yang mulia, kesadaran kritis, memenangkan kontestasi wacana dan mobilisasi massa.[]

*Terimakasih kepada Djoko Supriyanto, seorang aktivis media sosial yang berusaha membangun keberpihakan terhadap kemanusiaan.

Karl Marx, Hegel dan Aleppo di Syiria

critique-of-hegels-philosophy-of-right_karl-marx

Oleh. Hasnan Bachtiar

Pagi ini, di masa di mana terjadi perang saudara di Syiria, terutama di kota Aleppo, saya membaca pendahuluan dari naskah karangan Karl Marx yang bertajuk Introduction to A Contribution to the Critique of Hegel’s Philosophy of Right (versi Deutsch-Franzosische Jahrbucher, Februari 1844).*

Diterbitkannya karya ini, bertujuan untuk memantik kesadaran para pembacanya mengenai pentingnya kritik terhadap spiritualisme-ideal Hegel, seorang filosof terbesar Jerman sepanjang masa. Kritik ini sangatlah penting, oleh karena seringkali kaum beragama keliru memahami, menghayati dan pada akhirnya, mempraktikkan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan mereka. Kekeliruan tersebut, tentu saja membawa konsekuensi kepada hilangnya spirit dan nilai agama yang sejati. Tidak dapat dipungkiri bahwa, sebenarnya agama membawa kepada kebahagian individual dan sosial, serta berpotensi secara aktif membangun keteraturan sosial, menjamin kebebasan, keadilan dan menjunjung harkat dan martabat kemanusiaan.

Karya Marx yang menegaskan bahwa “Kritik terhadap agama merupakan prasyarat untuk seluruh kritik” merupakan hal yang sangat kontekstual. Proposisi tersebut diungkapkan pada latar belakang yang tepat, di mana kaum beragama tampaknya memang sedang terjebak, terbelenggu dan terpenjara oleh ketidakmampuannya meletakkan visi transformatif dari ajaran agama. Kritik ini juga sangat relevan dan pantas dianggap sebagai representasi dari seluruh kritik, karena apapun yang berbumbu agama memiliki nilai kesakralan yang memabukkan. Artinya, terdapat semacam tabu untuk mengritik, mempersoalkan, mempertanyakan dan bahkan, hanya sekedar untuk memikirkannya. Dosa adalah balasan dari aktivitas yang dianggap “tidak pantas” (kritik) terhadap agama.

Ketika semua itu terjadi, selaras dengan ungkapan seorang filosof sosial kritis sepanjang masa ini bahwa, “Landasan untuk kritik sekuler adalah: manusialah yang menciptakan agama, bukan agama yang menciptakan manusia.” Dengan kata lain, segala aspek keagamaan, termasuk hal-hal yang sebetulnya bukan menjadi otoritas manusia untuk menentukannya, seperti dosa, balasan Tuhan, pahala, surga dan neraka, diterjemahkan sedemikian rupa, dalam bentuknya yang paling menakutkan. Di saat yang sama, disadari atau tidak, mereka tergilas dalam proses dehumanisasi yang diaktifkan sendiri. Mungkin, tiada lagi agama, ajaran, kitab suci dan bahkan Tuhan yang sejati, yang sebenar-benarnya, yang paripurna, oleh karena imajinasi kemanusiaan yang “keliru” telah mendiktekannya kepada manusia lainnya secara “keliru” pula.

Ungkapan sarkastik yang diajukan Marx, seperti “Maka, perjuangan melawan agama secara tidak langsung adalah perjuangan melawan sebuah dunia yang aroma spiritualnya adalah agama tersebut” dapat dimaklumi. Tentu saja bukan bermaksud merendahkan, menistakan, menghina dan hendak menegasikan agama itu sendiri, tetapi mengajukan kritik yang relevan dan signifikan terhadap makna-makna agama yang sama sekali bersifat disfungsi dan kehilangan dimensi transformatifnya. Agama yang diharapkan akan membawa kepada kebahagiaan, kesenangan, ketenangan, kedamaian, kesejahteraan dan bahkan tatanan kemasyarakatan yang sangat beradab, justru berbelok ke arah yang sebaliknya, oleh karena penanganan yang melenceng jauh dari kebenaran. Akibat dari kekeliruan kaum beragama yang dehumanistik ini, pada akhirnya membawa kita kepada kesengsaraan kemanusiaan yang mencengkeram dan sulit dilepaskan. Inilah yang dimaksud dengan perjuangan yang sebenar-benarnya. Dengan mengritik agama, maka sesungguhnya ikhtiar ini merupakan ikhtiar yang hendak menjunjung kemuliaan agama yang sebenarnya.

Melalui ekspresi yang begitu jujur, namun tidak kehilangan estetikanya, kritikus Hegel ini mengajukan gugatan bahwa, “Kesengsaraan agamis merupakan ekspresi kesengsaraan riil sekaligus merupakan protes terhadap kesengsaraan yang nyata tersebut. Agama adalah keluhan para makhluk tertindas, jantung-hati sebuah dunia tanpa hati, jiwa untuk keadaan tak berjiwa. Agama adalah candu rakyat.” Para pembaca hendaknya tidak turut tergelincir dalam memahami segala pernyataan yang ada, terutama, “agama adalah candu rakyat.”

Bukan agama itu sendiri yang keliru, namun kaum beragama yang telah secara semena-mena menciptakan makna-makna keagamaan yang jauh dari ruh kebenaran agama. Jadi ketika kita mengritik pemikiran, penghayatan dan praktik keagamaan tertentu, kita akan dianggap telah mengritik agama. Ini jelas penyesatan yang berlapis. Mereka telah keliru dua kali, yang pertama ketika mereka membawa kehidupan beragama dalam hitam legam dehumanisasi, sementara yang kedua, mereka bertopeng agama ketika orang lain yang sadar dan memiliki pengertian yang lebih baik mengingatkannya, menasehati, menunjukkan jalan yang benar dan sejenisnya, walau menggunakan istilah kritik untuk menyebutkannya.

Saya pikir, untuk menemukan benang merah dari kritik terhadap spiritualisme-ideal (agama) Hegel, penting kiranya menyitir pernyataan yang begitu kuat, dari apa yang sudah diupayakan oleh Marx bahwa, “Menghapuskan agama sebagai kebahagiaan ilusioner untuk rakyat, berarti menuntut agar rakyat dibahagiakan dalam kenyataan. Maka, panggilan supaya mereka melepaskan ilusi tentang keadaan mereka adalah panggilan agar mereka melepaskan keadaan di mana ilusi itu diperlukan. Maka, kritik terhadap agama adalah embrio dari kritik terhadap dunia yang penuh kesedihan dimana agama merupakan cahaya lingkaran sucinya.” Maksudnya, kita perlu menjadikan agama agar supaya bersifat transformatif dan berpotensi untuk mengupayakan humanisasi atau aksi-aksi pemanusiaan manusia, agar kehidupan kemanusiaan ini membahagiakan, damai, adil, sejahtera dan beradab.

Sebagai penutup, saya berpikir bahwa, apa yang terjadi di Aleppo, Syiria, di mana terjadi perang saudara dan perang atas nama membasmian terorisme ISIS (termasuk teror ISIS itu sendiri, beserta para penciptanya), adalah hal yang benar-benar menginjak martabat agama, kemanusiaan dan kesejatian kebenaran. Agama hanya menjadi tameng, topeng dan jubah untuk tindak laku dehumanistik yang mereka mainkan, oleh berbagai motif yang ada, baik itu yang bersifat politik maupun ekonomi. Selamanya, bukan agama yang menyebabkan perang, tapi kaum beragama yang secara arogan dan despotik yang membuat itu semua terjadi.

*Terimakasih kepada Ted Sprague selaku editor dan seorang penerjemah anonim, karena telah membuka akses untuk membaca karya Karl Marx melalui website marxist.org.

Tradisi Kritis dalam Filsafat Sejarah: Analisis Hermenutis dalam Teks “Manusia, Filsafat dan Sejarah”

Manusia Filsafat dan Sejarah (2)Oleh. Hasnan Bachtiar, Peneliti Filsafat dan Teologi Sosial di Pusat Studi Islam dan Filsafat (PSIF) UMM

 

Pendahuluan

Paper ini[1] ingin menjelaskan mengenai pokok-pokok tradisi kritis di dalam literatur filsafat sejarah, yang bertajuk “Manusia, Filsafat dan Sejarah,” yang ditulis oleh Juraid Abdul Latief (2013).[2] Oleh karena itu, dari pada sebuah upaya pengujian (examination), narasi ini lebih merupakan interpretasi konstruktif terhadap teks filosofis. Dalam menginterpretasikan karya tersebut, penting kiranya memanfaatkan hermeneutika, untuk mendapatkan makna-makna yang lebih sempurna, – minimal dari sekedar pengertian tekstual – dan menjangkau aspek-aspek di luar persoalan subyektif kepengarangan.[3]

Tujuan utama adanya interpretasi konstruktif ini, adalah untuk mengajukan ide-ide penting (yang bersifat ‘sosial’ filosofis) dalam menghadapi segala problem kehidupan masa kini, dan sebagai dasar pijak untuk membangun masa depan yang lebih cerah. Interpretasi terhadap, baik itu (fenomena) sejarah maupun teks sejarah, sama sekali tidak terlepas dari paradigma interpreter-nya.[4] Bila sang interpreter menghendaki pentingnya memikirkan persoalan kekinian dan kedisinian, maka meletakkan sebuah orientasi tafsir akan (teks) (filsafat) sejarah yang tunduk pada pelbagai kepentingan kebajikan masa kini, bukanlah hal yang perlu dipersoalkan.

Agar lebih mudah dipahami, tulisan ini akan menjelaskan tiga persoalan pokok yang disajikan secara sistematis, yaitu: pertama, bagaimana kita membaca teks filsafat sejarah; kedua, mengapa tradisi kritis di dalam menginterpretasikan teks filsafat sejarah itu penting; dan yang ketiga, bagian-bagian mana saja di dalam literatur filsafat sejarah tersebut, yang mengandung arti penting dari tradisi kritis atau tradisi berpikir kritis.

 

Membaca Teks Filsafat Sejarah

Adalah Kuntowijoyo, seorang sastrawan dan sejarawan terkemuka, pernah menulis seuntai syair, “Aku ingin meletakkan sekuntum sajak di makam Nabi, supaya sejarah menjadi jinak, dan mengirim sepasang merpati.”[5] Membaca puisi tersebut, hal yang perlu digarisbawahi adalah istilah “supaya sejarah menjadi jinak”. Pertanyaannya adalah, mengapa sejarah harus dijinakkan? Bukankah sejarah itu berjalan apa adanya secara obyektif?

Sebagaimana batu kerikil di jalan, walaupun hanyalah sebuah batu, namun tiada satu pun manusia yang mengerti hakikatnya, lantas mampu secara sempurna mengungkap segala hal ihwal mengenai batu tersebut. Pendek kata, terkadang manusia alpa bahwa dirinya pun gagal merengkuh dan mengudar makna sejati dari sebongkah batu. Kebenaran akan batu, hanyalah ada pada batu itu sendiri (the truth in itself, because being in itself). Sementara itu, segala komentar kita pada batu, hanyalah komentar semata-mata, tidak lebih.

Demikian pula dengan sejarah dan filsafat sejarah. Fakta sejarah adalah peristiwa yang terjadi begitu saja, obyektif dan berlaku dalam pergumulan ruang dan waktu. Hanya saja, fakta-fakta tersebut dapat dipandang sebagai fenomena sejarah, tatkala ada sesosok makhluk berakal, yang mencoba belajar dari kejadian masa lalu. Tatkala segala fenomena sejarah itu dibawa ke universitas, ke laboratorium, atau ke tempat yang memiliki tradisi akademik ilmiah tertentu (humaniora), niscaya akan berubah statusnya menjadi data sejarah. Data-data ini diolah, dimengerti, dipahami, ditafsirkan dan dituangkan dalam tenunan teks-teks sejarah, maka jadilah apa yang kita sebut sebagai buku sejarah.[6] Lantas di mana letak obyektivitas sejarah? Tak ada lagi. Karena keperawanannya telah terkontaminasi oleh syahwat interpretasi manusia.

Di dunia ini memang sudah penuh dengan tafsiran, interpretasi, pembacaan-pembacaan, produk aktivitas hermenutika dan seterusnya. Karena intensitas interpretasi ini begitu tinggi, maka telah jamak bila orang berujar, “Dunia ini penuh dengan apa kata orang.” Ya benar. Karena semua manusia menafsirkan segalanya. Lalu sekali lagi, di mana letak obyektivitas obyek yang kita tafsirkan? Sekali lagi kita bisa menjawab, tidak ada (pada kita). Memang kita sendirilah yang mengaku bersalah bahwa telah menikmati ranumnya kesucian segala hal (termasuk kebenaran hakiki).

Apa yang terjadi sehari-hari di tengah kehidupan kita ini, sebenarnya adalah hal yang biasa. Namun, tatkala hal tersebut dihubungkan dengan sesuatu yang dianggap sakral, semisal agama, adat istiadat, moralitas dan seterusnya, maka akan melahirkan sebuah pertanyaan, “Di mana letak kebenaran itu sendiri?” Apa jawaban kita? Sepanjang yang paling mampu kita ajukan adalah, “Kebenaran ada di dalam dirinya sendiri.”

Namun di saat yang sama pula, kita harus dihadapkan dengan kenyataan bahwa, kebenaran kemanusiaan yang paling manusiawi senantiasa bersifat nisbi. Semua orang berkata, berbicara, menafsirkan, menduga, menyangka, menakwilkan, membelokkan makna, berbohong, berdusta, menggelapkan arti, dan sebagainya, selalu berhadapan dengan relativitas absolut. Tidak ada kebenaran (sejati) yang mampu digenggam oleh tangan manusia, kecuali bukan apapun, omong kosong belaka dan segala hal yang nihil. Kita, – disadari atau tidak – terancam oleh jurang nihilitas yang menganga lebar.

Para pembaca bisa saja menyangkal semua narasi ini, walaupun agaknya mustahil. Mungkin istilah yang tepat bukanlah “bisa saja” tetapi “boleh saja”. Kebolehan memberikan penegasan bahwa, di tengah ketidakpastian kebenaran, manusia masih memiliki kebebasan yang utuh. Mereka (dan tentu saja, kita) merdeka membangkitkan sayap-sayap kita bak kupu-kupu yang terbang ke langit luas. Kita boleh saja berseteru dan saling mengklaim memiliki kebenaran yang utuh, tetapi nyatanya, itu hanya prakiraan semata.[7]

Walau demikian sukar dan tiada pernah berhasil menjangkau kebenaran sejati (termasuk obyektivitas yang total), sekurang-kurangnya, kita memiliki kesempatan untuk merindukannya. Menurut filsuf Mohamad Iqbal, hanya kerinduan yang dituangkan dalam bahasa kalbu-lah, mampu menemukan kebenaran sejati itu. Intisari ajaran agama, penghayatan mistik (sufisme) dan sastra, adalah di antara sarana yang mampu membawa kita tenggelam dalam lautan luas kebenaran.[8] Pertanyaannya adalah, apakah manusia memungkinkan untuk berbagi kerinduan tersebut? Atau, setidak-tidaknya, kita berbagi pemaknaan mengenai sesuatu hal, tanpa menegasikan pemaknaan orang lain? Jawabannya adalah, “Mengapa tidak?”[9]

Kembali kepada sebaris puisi Kuntowijoyo. Dengan demikian, kita memahami bahwa, upaya menjinakkan sejarah adalah cara untuk menyadari diri sendiri yang serba fana ini, lantas mulai berbagi mengenai kebajikan obyektif (dan kebenaran). Dalam bahasa agama, genap dengan istilah watawâ saub al-haqq (Q.S. al-Ashr). Harus ada sesuatu yang bernilai, bermanfaat dan berguna yang kita berikan untuk kepentingan kemanusiaan di masa kini dan masa mendatang. Kita perlu memilih kedua masa itu, karena masa lalu mustahil kita jelajahi kembali.

Karena itulah, maka dalam membaca teks filsafat sejarah karya Sdr. Juraid Abdul Latief ini, perlu mengerahkan segala nilai kebajikan di dalam diri ini (menggunakan perspektif kritis), dalam rangka menemukan makna-makna yang selaras dengan kepentingan kemanusiaan masa kini dan masa depan.

 

Arti Penting Pembacaan Kritis

Telah disinggung bahwa, penting kiranya membaca teks filsafat sejarah ini menggunakan perspektif kritis. Menurut Azhar Ibrahim Alwee, ia mengungkapkan bahwa tradisi kritis merupakan dua hal: yang pertama adalah “sikap kreatif dan kritis dalam memikirkan kebuntuan yang dihadapi manusia,” sementara yang kedua, adalah “kesungguhan tanpa jemu untuk mempersoalkan ide-ide dominan yang sudah diterima begitu saja dan menelitinya kembali sesuai dengan potensi manusia tersebut.”[10]

Nah, apa persoalan utama dewasa ini yang kita hadapi? Ada banyak hal. Tetapi, paling tidak, masalah terpenting yang harus diperjuangkan, bermuara pada pokok-pokok persoalan kebebasan, keadilan sosial dan kemanusiaan. Di saat yang sama, berarti kita mengikrarkan diri untuk memilih garis oposisi yang jelas, dalam rangka melawan segala bentuk korupsi, despotisme dan otoritarianisme. Ketiga hal itulah, nenek moyang dari segala kemunkaran yang ada di muka bumi ini (the old mother of evil).

Dalam uraiannya, Azhar Ibrahim melanjutkan,

“pemikiran kritis dapat (a) memberikan suntikan kepada pembangunan dan perkembangan ide, (b) memastikan bahwa yang salah harus dibetulkan, (c) mengangkat kejelasan dari pada ambivalensi, (d) membongkar penyimpangan ideologi, (e) memberi makna baru kepada apa yang selama ini dipakai.”[11]

Jelaslah dalam konteks mengevaluasi gagasan tertentu, maka harus ada keterangan yang benar-benar jernih mengenai “untuk apa” dan “berdaya guna bagaimana” suatu ide digulirkan, dijalankan, diterapkan dan seterusnya. Pemuliaan, perlindungan dan pemenuhan kebebasan, keadilan sosial dan kemanusiaan, harus menjadi fondasi dasar, di mana setiap kritisisme itu bekerja. Dalam konteks ini, segala aspek yang keliru dari esensi nilai-nilai humanistik tersebut, harus diluruskan. Sementara itu, di saat yang sama, tatkala “ide keliru” itu telah membaku, terinstitusionalisasi dan bahkan secara arogan mendapatkan legitimasi publik, maka tidak ada jalan lain kecuali menantangnya dan menguraikan duduk perkaranya secara gamblang, bahwa terdapat kekeliruan yang fatal di dalam (ideologi tersebut). Pada akhirnya, dengan itu semua, akan lahir makna-makna baru, sebagai buah manis dari pohon interpretasi yang kritis, namun memiliki empati yang tinggi pada segala aspek kebajikan dan kemanusiaan.

Apa yang diungkapkan Azhar Ibrahim di atas, sebenarnya selaras dengan penjelasan yang diajukan oleh Erich Fromm sebagai berikut:

“Critical thinking is the only weapon and defense which man has against the dangers in life. If I do not think critically then indeed I am subject to all influences, to all suggestions, to all lies which are spread out, with which I am indoctrinated from the first day on. One cannot be free, one cannot have one’s centre in oneself unless one is able to think critically… Critical thinking is…an approach to the world…; it is by no means critical in the sense of hostile, of negativistic, of nihilistic, but on the contrary critical thought stands in the service of life, in the serving of removing obstacles to life individually and socially which paralyze us.”[12]

Pengertian yang diajukan baik oleh Azhar Ibrahim maupun Erich Fromm mengenai pemikiran kritis, secara sederhana dapat kita pahami bukan sekedar sebagai kritisisme semata (murni), terlebih yang kerap terjebak pada kenisbian (nihilism). Akan tetapi, kritisisme ini diajukan semata-mata demi memenuhi kehendak empati kita terhadap pelbagai nilai kemanusiaan. Kritik yang diajukan terhadap obyek, patut dianggap sebagai salah satu cara dalam berbuat baik, menolong sesama dan membongkar segala bentuk tirani dehumanistik yang membelenggu.

Berlawanan dengan pemikiran kritis yang diajukan, terdapat ciri-ciri pemikiran yang sama sekali tidak menghargai potensi intelektual manusia, dan demikian berarti meremehkan kemanusiaan itu sendiri. Cara berpikir yang dangkal, lembam dan bebal ini antara lain:

“(a) the inability to identify the urgencies of problems and issues in society; (b) accepting ideas without thinking its consequences to individual and society at large, e.g. the ease of denouncing secularism, without much thought given to it; (c) lacking foresight of future trends, e.g. unable to see problems that could emerge in the future. For instance, the refusal of addressing the problem of alienation amongst the youth…”[13]

Dalam rangka menghindari, sekaligus melawan pola pikir yang dekaden di atas, penting kiranya berusaha memahami kerangka berpikir kritis. Tetapi tidak cukup sekedar memahaminya, karena secara moral, kita sendiri merupakan manusia yang masih memiliki jati diri kemanusiaan, memiliki hati nurani, perasaan yang tulus dan kesucian jiwa. Oleh karena itu, sangat perlu mengafirmasi kerangka, cara, struktur, paradigma, perspektif, atau sudut pandang berpikir kritis, untuk memahami apa yang sesungguh terjadi di hadapan kita saat ini. Berkaitan erat dengan hal ini, Karl Mannheim berkomentar bahwa,

“One can understand the contemporary world in its rapid change only if one learns to think sociologically, if one is capable of understanding changes in ways of human behavior by reference to the changing conditions of society. This, however, also requires acquaintance with recent findings in psychology and philosophy.”[14]

Dengan demikian secara reflektif, kita – sekali lagi – bukan sekedar harus terlibat dalam tradisi pemikiran kritis (kritisisme murni), tetapi juga diagnostik. Fungsi utama tradisi pemikiran yang demikian, akan memudahkan kita untuk memahami lingkungan sekitar kita saat ini, sekaligus memberikan terobosan-terobosan intelektual yang bersifat solutif, progresif dan mencerahkan. Oleh karena itu, kita harus memiliki,

“(a) the ability to identify and being affected by a particular problem of issue confronting the society; (b) the ability to determine and define the problems that emerged; (c) the ability to analyse the problems from various dimensions; (d) the ability to offer viable solutions to solve the problems and (e) the courage to challenge the existing ideas that have caused the aggravation of the problems confronted.”[15]

 

Membermaknakan Teks Filsafat Sejarah

Dengan sudut pandang kritis di atas, kini tibalah saatnya menginterpretasikan secara kreatif dan konstruktif, bukan sekedar bagian-bagian dalam buku yang ditulis oleh Juraid Abdul Latief tersebut, tetapi keseluruhannya secara utuh. Pertama, penafsir tetap berpijak pada landasan pemihakan terhadap tiga prinsip penting dalam kehidupan sosial, yakni kebebasan, keadilan sosial dan kemanusiaan. Kedua, penafsir memainkan cara berpikir yang kritis-diagnostik. Namun bukan sekedar teks yang didiagnosa, tetapi juga persoalan-persoalan penting yang dihadapi oleh masyarakat saat ini. Atau setidaknya, seruan moral untuk memikirkan persoalan tersebut. Ketiga, penafsir berupaya mengajukan wacana mana saja di dalam teks yang dievaluasi, yang memiliki nilai penting, yang bermanfaat untuk menyelesaikan segala kebuntuan-kebuntuan persoalan yang dihadapi oleh masyarakat.

Dalam uraian awalnya, sang penulis menukil pemikiran filosofis seorang intelektual Spanyol yang bernama Ortega y Gasset, yang menyebut bahwa “…Man has no nature, what he has is history…”[16] Dalam komentar Ortega, terdapat dua kemungkinan makna. Yang pertama adalah, bahwa setiap manusia memiliki kecenderungan untuk memikirkan masa lalu secara histori, sementara yang kedua adalah, menjadi penggerak sejarah. Dalam menanggapi perkara ini, Juraid secara gemilang menjelaskan bahwa,

“Apa yang diuraikan, kiranya menjadi petunjuk betapa pentingnya arti sejarah sebagai fenomena manusiawi. Sejarah adalah sumber orientasi (masa lalu) yang dikenali kembali dari suatu pusat orientasi lain (masa kini).”[17]

Dalam konteks ini secara sepintas Juraid menegaskan bahwa, berpikir historis merupakan hal yang penting. Tentu saja apa yang diajukannya sama sekali bukan bermaksud untuk menegasikan refleksi sosiologis (yang sebenarnya lebih urgen). Justru dengan menelaah sejarah secara benar, akan menimbulkan kesadaran sejarah. Juraid menuturkan bahwa,

“Kesadaran sejarah…sejauh mereka memahami…bertambah luaslah ruang lingkup kebebasan yang memungkinkan dirinya bertindak secara berani dalam kaitannya dengan proses berlangsungnya pelbagai kejadian, demikian juga ruang lingkup tanggungjawab pribadinya untuk berbuat demikian.”[18]

Istilah “kebebasan” dan “keberanian” yang disinggung Juraid inilah yang sangat penting diperhatikan. Pasalnya, persoalan tersebut merupakan pintu di mana kita bisa memasuki sebuah ruang kesadaran kemanusiaan yang memahami bahwa, sejarah bukan sekedar fakta, tetapi juga makna-makna dan nilai-nilai dari makna yang telah digali, dipelajari, dimengerti dan dipahami oleh setiap peminat sejarah. Dengan kata lain, setiap penafsir sejarah, tidak hidup dan membaca teks sejarah dari ruang hampa. Secara jelas, kita semua hidup di dunia yang memiliki konteks, baik itu kebudayaan, sosial, politik, ekonomi, bahasa, adat istiadat dan seterusnya. Dengan kata lain, sesungguhnya kita mengajukan refleksi sama sekali bukan mengenai sejarah an sich, tetapi juga kondisi kita sendiri, masyarakat kita dan tentu saja, kebudayaan masa kini. Juraid menyatakan bahwa,

“Sejarah itu anak kebudayaan dan kebudayaan itu sendiri dibentuk oleh sejarah…lebih tegas lagi dapat juga dibahasakan bahwa sejarah adalah bagian dari kebudayaan.”[19]

Di saat yang sama dengan demikian, pemikiran sejarah beserta segala kesadaran sejarah yang kita himpun, memberikan pengertian bahwa sejarah bukanlah sekedar mengenai masa lalu. Justru sejarah adalah masa kini dan segala dambaan manusia akan kehidupan yang lebih baik dan sempurna mengenai masa depan. Oleh karena itu, sejarah adalah kita, di segala masa. Lebih dari itu, sejarah adalah manusia. Juraid secara jernih mengungkapkan bahwa,

“Tanpa manusia, mustahil sejarah, baik sebagai proses maupun sebagai cermin sejarah, dapat dihadirkan. Sejarah ditentukan oleh manusia. Tidak ada manusia, tidak ada sejarah.”[20]

Pernyataan Juraid di atas bisa dipahami secara umum bahwa, sejarah masa lalu diciptakan oleh manusia dan dicatat oleh sejarawan masa kini. Akan tetapi, dengan pemikiran kritis, kita bisa menafsirkan kembali secara lebih progresif bahwa, apa yang ditentukan oleh setiap manusia, mengandung makna kekinian dan kedisinian. Jika kita berbicara masalah sejarah, maka tidak boleh terbang mengawang-awang, lantas meninggalkan segala kesadaran mengenai kekonkretan yang kita hadapi saat ini. Bila manusia itu hidup, sekaligus memiliki kebebasan, keberanian, rasa empati dan pemihakan terhadap kemanusiaan, maka tiada lain kecuali mencoba bertanya dan mempertanyakan, masalah apa yang sesungguhnya dihadapi, baik itu oleh dirinya sendiri, lingkungan sekitarnya, masyarakat umum dan bahkan suatu negara dan komunitas global. Melalui contoh yang brilian, Juraid menyatakan bahwa,

“Kesadaran atas ruang dan waktu ini menuntut pula kearifan lain. Bahwa penilaian komparatif terhadap peristiwa sejarah yang berbeda dimensi spasial maupun temporalnya tidak bisa bersifat general. Oleh karena itu, tidak tepat untuk memaksakan dan menyatakan sisi positif zaman tertentu relevan untuk zaman lain dan ruang lain. Peristiwa sejarah sangat terikat dengan semangat spasial dan temporal yang melingkupinya.”[21]

Mengenai masalah temporalitas sejarah, Juraid seakan memberikan tafsiran yang berbeda dengan pengertian umum bahwa, sejarah hanyalah masa lampau semata. Dengan kesadaran sejarah, semestinya kita mampu membedakan segala yang sudah terjadi, melaksanakan apa yang sedang terjadi, serta pula merencanakan apa yang belum terjadi. Oleh karena itu, ia menyatakan bahwa, bukan sekedar peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa lalu, tetapi juga makna di balik itu semua, apa ajaran yang terpenting yang harus kita ambil, apa yang sebenarnya menjadi ibrah yang menjadikan kita lebih paham dalam menghadapi segala persoalan di masa kini. Dengan demikian, konsep utama yang perlu digarisbawahi bukanlah sejarah itu sendiri namun tanpa kesadaran, tetapi “kesadaran sejarah”. Juraid berpendapat,

“Fakta sejarah…bukan merupakan unsur satu-satunya dalam membina kesadaran sejarah. …Yang terpenting mengapresiasi secara cerdas kausalitas peristiwa dalam konteks kekinian untuk tujuan yang lebih ke depan, maka hakikatnya kita telah berupaya memaksimalkan kesadaran sejarah. Dengan kata lain yang terpenting bagaimana belajar sejarah.”[22]

Di titik inilah kita mencoba mempertanyakan kembali, apa sesungguhnya yang terpenting dalam mempelajari sejarah, berguru pada sejarah, membaca teks sejarah, mengafirmasi sebuah teks filsafat sejarah? Jawabannya adalah, apa yang kita hadapi saat ini sebagai manusia, dengan cara yang paling manusiawi, sebagai bagian dari masyarakat dalam kehidupan sosial. Dalam konteks yang lebih luas, misalnya berhubungan erat dengan masalah negara-bangsa dan nasionalisme, Juraid menginsyafkan kita semua bahwa,

“…kesadaran sejarah tetap dapat diharapkan memberi spirit bagi kehidupan bangsa dan negara di masa kini dan di masa mendatang. …telah menjadi komitmen bersama pembangunan dan kemajuan bangsa dan negara hendaknya menyeimbangkan antara material dan spiritual. Di sinilah kesadaran sejarah dapat berperan aktif, yaitu dalam memperkokoh muatan moral pembangunan suatu bangsa.”[23]

Pada akhirnya, Juraid menyimpulkan sendiri bahwa,

“Dengan demikian, nyata sekali sejarah merupakan sesuatu yang selalu harus inheren dalam kehidupan ini, sejarah sama vitalnya dengan hidup itu sendiri. Mereka yang mengabaikan sejarah tidak akan pernah menjadi sempurna dalam spirit kedewasaan.”[24]

Selaras dengan apa yang diungkapkan Juraid, Paulo Freire pernah menyatakan bahwa, perlu kiranya memanfaatkan sejarah masa silam untuk memperbaiki segala kondisi kekinian. Yang sudah lalu bukan saja waktu tatkala kekuasaan zalim dan makna yang sudah baku dipaksakan kepada generasi masa kini, tetapi juga waktu yang bisa membangkitkan kesadaran sejarah dan memicu tumbuhnya kebudayaan perlawanan, sebagai sanggahan terhadap segala kekerasan kekuasaan.[25]

Sangat penting diajukan pendapat bahwa, kritis terhadap sejarah bukan berarti kita menolak bahkan mengabaikan sejarah. Justru dengan kesadaran dan pemikiran kritis, kita berusaha meluruskan segala penyimpangan, kemunkaran, memperbaiki kerusakan dan menunjukkan mana saja pelajaran dan ibrah di balik semua itu. Sejarawan terkemuka asal Belanda, Johann Huizinga menyatakan bahwa, jangan sampai kita benar-benar lalai akan persoalan kemanusiaan yang dihadapi saat ini sehingga tiada sempat memikirkan hari depan, ketika asyik terpana akan keindahan estetis sejarah. Ia berpendapat,

“Even though we may rate older periods higher than the present, for their faith, their art and the solidity and soundness of their social forms, our cultural lif is no (or should not) longer directed towards the illusory ideal of reinstatement. We are neither able nor willing to look back. For us there are only the unknown distances ahead…Humanity has to find its own way…”[26]

Dengan uraian yang sangat tajam, Juraid memberikan pelajaran kepada kita semua bahwa,

“Bangsa yang tidak menjadikan catatan masa silam sebagai materi merancang masa depan, bukan saja mengingkari perilaku yang dibuat sendiri, tetapi lebih dari pada itu, ia akan kehilangan petunjuk arah sehingga rancangan aktivitas pembangunan yang akan dilakukan sekarang maupun ke depan akan kehilangan orientasi pula. Sebab pada dasarnya, sejarah mampu merekam semua bentuk terbaik maupun sebaliknya terhadap yang terburuk yang telah dilakukan oleh manusia.”[27]

Satu hal yang penting lagi, yang perlu kita apresiasi dari pemikiran filsafat sejarah Juraid adalah, bagaimana mengevaluasi “yang terburuk” yang telah dilakukan oleh manusia. Di sepanjang sejarah, kita memang bisa dengan mudah menangkap segala kejadian masa lalu yang mengandung persoalan dehumanisasi. Penjajahan misalnya, adalah praktik di masa lalu yang sangat buruk dan tidak menghargai harkat dan martabat manusia sebagai manusia. Tetapi untuk hal yang sangat sukar ditelaah, kecuali bagi mereka yang memiliki kemampuan berpikir kritis, seperti misalnya mengenai pemikiran dominan yang sebenarnya di sepanjang lembaran sejarah umat manusia telah membelenggu, maka dengan kesadaran sejarah dan pemikiran kritis, kita patut menyelesaikannya. Hal ini dilakukan, agar kita semua mampu terbebas dari segala mitos-mitos yang menghambat penyelesaian segala persoalan masa kini dan meminimalisir segala tantangan di masa depan. Howard Zinn, ahli sejarah kontemporer Amerika menyatakan bahwa,

“We can recapture those few moments in the past which show the possibility of a better way of life than that which has dominated the earth thus far. To move men to act is not enough to enhance thir sense of what is wrong, to show that the men in power are untrustworthy, to reveal that our very way of thinking is limited, disorted, corrupted. One must also that something else is possible, that changes can take place. Otherwise, people retreat into privacy, cynicism, despair, or even collaboration with the mighty.”[28]

 

Kesimpulan

Demikianlah uraian singkat mengenai bagaimana mengapresiasi buku penting tentang filsafat sejarah yang ditulis oleh Juraid Abdul Latief. Penulis buku yang bertajuk “Manusia, Filsafat dan Sejarah” ini menggiring para pembacanya untuk mengafirmasi pemikiran kritis, tatkala berhadapan dengan teks sejarah. Sejarah harus dimaknai sebagai refleksi terhadap segala persoalan kekinian, sekaligus titik tolak untuk merumuskan masa mendatang. Di samping itu, penulisnya juga menegaskan pentingnya kesadaran sejarah. Kesadaran sejarah dalam konteks ini, bukan sekedar tentang kemampuan mempertimbangkan masa lalu belaka, tetapi juga bagaimana sebagai manusia yang humanis, memiliki empati terhadap kebebasan, keadilan sosial dan kemanusiaan, sehingga berani terlibat dalam agenda penyelesaikan problem keanusiaan kontemporer.[]

 

 

Catatan Akhir

[1] Paper ini dipaparkan dalam program book review Juraid Abdul Latief, “Manusia, Filsafat dan Sejarah,” Departmen Sosiologi, Universitas Muhammadiyah Malang, pada 7 Mei 2015. Tulisan ini tidak untuk dikutip, mengingat proses akademiknya belumlah lengkap. Apabila telah lengkap, akan dipublikasikan secara terbuka.

[2] Juraid Abdul Latief, Manusia, Filsafat dan Sejarah (Jakarta: Bumi Aksara, 2013).

[3] Luis Alonso Schökel dan Josê Maria Bravo, A Manual of Hermeneutics (Sheffield, England: Sheffield University Press, 1998), hal. 18-21; Jürgen Habermas, “Hermeneutics and the Social Sciences,” The Hermeneutics Reader: Texts of the German Tradition from the Enlightenment to the Present. Edited, with an introduction and notes by Kurt Mueller-Vollmer (New York: Continuum, 2006), hal. 293-319.

[4] Baca pemahaman terhadap konsep paradigma, melalui literatur yang paling sederhana dan sangat mudah dipahami, melalui tulisan Heddy Shri-Ahimsa Putra, “Paradigma Ilmu Sosial Budaya: Sebuah Pandangan,” Makalah disampaikan pada Kuliah Umum “Paradigma Penelitian Ilmu-Ilmu Humaniora,” diselenggarakan oleh Program Studi Linguistik, Sekolah Pascasarjana, Universtias Pendidikan Indonesia, di Bandung, 7 Desember 2009.

[5] Kuntowijoyo, Makrifat Daun, Daun Makrifat (Jakarta: Gema Insani Press, 1995).

[6] Michel Foucault, “On the archeology of sciences: Response to the epistemology circle,” in part two, “Epistemology and Methodology,” Aesthetics, Method and Epistemology: Essential Works of Foucault 1954-1984 (New York: The New Press, 1998), hal. 297-334.

[7] Persoalan ini secara filosofis mengingatkan kita pada seorang filsuf Jerman terbesar sebagai pioner post-modernisme, Friedrich Nietzsche. Nietzsche melemparkan satire, “The Gods are dead but they have died from laughing, on hearing one God claim to be the only one, ‘Is not precisely this godliness, that there are gods but no God?’” Nietzsche, “Of the Apostates,” Thus Spoke Zarathustra III, hal. 201. Gilles Deleuze, Nietzsche and Philosophy (Columbia University Press, 2002), hal. 4.

[8] Baca Mohammad Iqbal, “Knowledge and Religious Experience,” The Reconstruction of Religious Thought in Islam (Stanford; California: Stanford University Press, 2013), hal. 1-22.

[9] Tariq Ramadan, “Of the Universal,” The Quest for Meaning: Developing a Philosophy of Pluralism (London: Allen Lane, Penguin Group, 2010), hal. 12-25. Baca pula bab khusus yang bertajuk “The Universal Shared”, hal. 22-25.

[10] Azhar Ibrahim Alwee, “Tradisi Kritis dalam Pemikiran Keagamaan dan Keintelektualan Muslim,” Tafkir: Jurnal Pemikiran Kritis Keagamaan dan Transformasi Sosial, Edisi 1, No. 1 (2009), hal. 6.

[11] Ibid.,

[12] Erich Fromm, The Art of Listening (New York: Continuum, 2003), hal. 168-9.

[13] Azhar Ibrahim Alwee, “The Making of Progressive Religion,” Islam, Religion and Progress: Critical Perspective (Singapore: The Reading Group, 2006), hal. 20.

[14] Karl Mannheim, “On the Diagnosis of Our Time,” From Karl Mannheim. Edited by Kurt H. Wolff and with an introduction by Volker Meja and David Kettler (New Brunwick, NJ.: Transaction Publishers, 1993), hal. 95

[15] Azhar Ibrahim, Ibid., hal 24. Lihat juga Karl Mannheim, Freedom, Power and Democratic Planning (London: Routledge and Kegan Paul, 1951), hal. 4.

[16] Juraid Abdul Latief, Ibid., hal. 3.

[17] Juraid, Ibid., hal. 3.

[18] Ibid., hal. 11.

[19] Ibid., hal. 32.

[20] Ibid., hal. 36.

[21] Ibid., hal. 47.

[22] Ibid., hal. 49.

[23] Ibid., hal. 50-1.

[24] Ibid., hal. 63.

[25] Paulo Freire, Letters to Christina (New York: Routledge, 1996), hal. 87.

[26] Johann Huizinga, In the Shadow of Tomorrow (New York: The Norton Library, 1964), hal. 38.

[27] Juraid, Ibid., 68.

[28] Howard Zinn, The Politics of History (Boston: Beacon Press, 1978).

 

Bibliografi

Ahimsa Putra, Heddy Shri, “Paradigma Ilmu Sosial Budaya: Sebuah Pandangan,” Makalah disampaikan pada Kuliah Umum “Paradigma Penelitian Ilmu-Ilmu Humaniora,” diselenggarakan oleh Program Studi Linguistik, Sekolah Pascasarjana, Universtias Pendidikan Indonesia, di Bandung, 7 Desember 2009.

Alwee, Azhar Ibrahim, “Tradisi Kritis dalam Pemikiran Keagamaan dan Keintelektualan Muslim,” Tafkir: Jurnal Pemikiran Kritis Keagamaan dan Transformasi Sosial, Edisi 1, No. 1 (2009).

Alwee, Azhar Ibrahim, “The Making of Progressive Religion,” Islam, Religion and Progress: Critical Perspective. Singapore: The Reading Group, 2006.

Deleuze, Gilles, Nietzsche and Philosophy. Columbia University Press, 2002.

Foucault, Michel, “On the archeology of sciences: Response to the epistemology circle,” in part two, “Epistemology and Methodology,” Aesthetics, Method and Epistemology: Essential Works of Foucault 1954-1984. New York: The New Press, 1998, hal. 297-334.

Freire, Paulo, Letters to Christina. New York: Routledge, 1996.

Fromm, Erich, The Art of Listening. New York: Continuum, 2003.

Habermas, Jürgen, “Hermeneutics and the Social Sciences,” The Hermeneutics Reader: Texts of the German Tradition from the Enlightenment to the Present. Edited, with an introduction and notes by Kurt Mueller-Vollmer. New York: Continuum, 2006.

Huizinga, Johann, In the Shadow of Tomorrow. New York: The Norton Library, 1964.

Iqbal, Mohammad, “Knowledge and Religious Experience,” The Reconstruction of Religious Thought in Islam. Stanford; California: Stanford University Press, 2013, hal. 1-22.

Kuntowijoyo, Makrifat Daun, Daun Makrifat. Jakarta: Gema Insani Press, 1995.