Di Malam Takbiran

Ada yang diagungkan lewat corong-corong pengeras suara

Seperti knalpot vespa di bengkel-bengkel udik pinggir jalan

Rupanya bunyi keroncongan perut penjual sayur yang duduk di emperan trotoar lebih lantang diteriakkan

Seperti bayi-bayi yang menjerit hebat karena lapar, ibunya mati ketika melahirkan, sementara bapaknya babak belur dihajar massa karena mencopet, demi membayangkan sekaleng susu buah hatinya

Ada yang dipuja dengan kalimah-kalimah thayyibah lewat sound-sound system yang berharga jutaan rupiah

Seperti bel-bel menjengkelkan truk-truk tangki Pertamina yang dikemudikan petaruh nyawa

Rupanya teriakan garang lintah-lintah darat penagih hutang di rumah fakir miskin yang dihimpit rumah-rumah gedong para tetangga lebih nyaring bermelodi nestapa

Seperti suara gemericik air dari sungai yang coklat keruh berbau busuk sampah-sampah plastik sisa kenikmatan dunia tiada tara yang menjadi tempat berwudlu gelandangan yang dicap bukan sebagai manusia

Ada yang dinyanyikan indah dengan selingan kata akbar lewat menara-menara keramik megah

Seperti cekikikan tikus-tikus pengerat uang negara yang sedang ditransfer ke rekening keluarga, para sahabat dan sanak saudara

Rupanya bunyi keserakahan orang-orang berbelanja yang sedang kalap di toko-toko, di mall-mall, di butik-butik lebih menggetarkan Arsy di atas sana

Seperti suara riuh gaduh saling balas caci maki via media sosial demi kebenaran yang serba nisbi yang dikipas-kipas nafsu diri yang gelap mata tanpa sebab kecuali hati yang mati

Ada yang ditakbirkan di langgar sebelah rumah, oleh anak-anak kecil yang rajin mengaji

Seperti hatiku yang ingin mengucapkan seribu maaf untuk keluarga karena tak mampu berlebaran di rumah

Rupanya anak isteriku sedang menanti bunga rindu tanpa balas syair-syair cinta

Seperti pilunya para pujangga ketika tak mampu menulis puisi, prosa ataupun kata-kata mutiara genap hikmah dan nubuwah

Di malam takbiran, tawon-tawon madu mengadu, mengapa tak ada lagi sari-sari kebahagiaan di tengah mahkota bunga yang merekah surga.

Canberra 23/6/2017

Jatuh Cinta

Mimpi semalam, di atas kereta, duduk di hadapanmu, menatap sejuk senyummu, bahagia gila rasanya, Tuhan, aku jatuh cinta pada pandangan pertama!

Sajak untuk dia yang selamanya menjadi belahan jiwaku

Canberra, 30 Mei 2017

Rindu itu

Rindu itu, saat kita hanya punya tiga ribu rupiah, makan bakso semangkuk berdua di pinggir jalan, tanpa memikirkan apa jadinya sejarah hidup kita di masa yang akan datang

Sajak sebelum subuh

WIN_20170430_21_08_12_Pro

Tanpa selimut yang tebal, hantu-hantu menjelma angin yang menghembuskan dingin yang membekukan kesabaran yang melukai syukur yang menertawakan tungku yang termenung lesu menanti api biru yang baru saja padam terbunuh angkuh hantu-hantu yang menjelma angin yang berdesir membisikkan was-was yang menggelapkan segala yang menyilaukan banyak mata yang mabuk fatamorgana tanpa senja.

Canberra 30 Mei 2017

11462

Seandainya waktu berjalan mundur

Aku ingin kembali

Di kala itu, Tuhan tersenyum

Ia menitipkan cinta untukku

dalam rangkaian takdir yang hadir

dengan iringan lagu-lagu kehidupan yang wajar

atas nama seorang gadis

yang bernama Maria

setiap aku menyebut nama itu

aku mengingat al-Qur’an

aku melihat Tuhan

setiap aku membaca nama itu di dalam kitab suci

aku mengingat wajah isteriku

aku mendengar Tuhan berfirman

Ia yang menciptakan segala

menyempurnakan senyumnya

 

Canberra, 6 Mei 2017

 

Nanti

Aku ingin, di penghujung usiaku, di batas nafas yang terakhir

Aku, membaringkan kepalaku di pangkuanmu

Kita bersama-sama membaca puisi kesaksian yang indah

Tiada illah, kecuali Allah

Lalu, kau cium keningku

Kau bisikkan janji di telinga kananku

‘Sampai ketemu sayangku, di kampung akhirat nan abadi.’

Kau mandikan tubuhku dengan air kesabaran

Kau sucikan wajah, kedua tangan, rambut, telinga dan kakiku dengan embun keikhlasan

Kau pakaikan aku dengan kafan ketegaran

Kau shalatkan dengan syariat kedamaian

Kau kubur dengan tanah ibu pertiwi

Kau doakan aku dengan kasih agar dosa-dosaku dibasuh dengan salju yang putih bersih

Kau rapalkan Fatehah agar jalanku tertuntun terang cintamu

Kau kirimkan Yasin di setiap malam Jum’at agar harum muthmainnah mengundangku, kita, mereka, kita semua, umat yang damai, yang yakin, yang tertuntun lurus dan yang terbaik, menghadiri perayaan kebahagiaan yang tak berujung pangkal.

Canberra, 19 April 2017