kataitukata

Pastilah Uang yang Disukai Banyak Orang

In Uncategorized on February 13, 2010 at 3:40 am

Oleh: Hasnan Bachtiar

(Penggemar Novel Metamorfosa Franz Kafka)

Berkah atau keberuntungan selalu datang semena-mena, sama sekali tanpa kompromi. Misalnya malam ini, ia datang begitu saja, apa mungkin perginya juga begitu saja?

Kupikir apakah Tuhan berlebihan, sering terburu-buru, atau apa? Tentu aku tidak tahu.

Di suatu malam kami terlalu banyak bersenang-senang. Memang wajar kalau setiap pesta dirayakan dengan meriah. Kami sekeluarga adalah orang miskin, karena tak setiap hari bisa makan. Beruntung malam ini turut berpesta pada upacara “kematian” orang baik yang dermawan. Aneh.

Apa boleh buat? Semasa hidup, orang itu telah berjanji pada warga, “Tidak ada duka pada hari kematianku nanti, tidak pula harus meratapinya. Jadi, boleh kalian berpesta dan makan enak sepuasnya dengan uang warisanku”.

Benar sekali, semuanya gembira. Tidak ada yang sedih. Atau paling tidak, tak boleh nampak sedih dan pura-pura senang. Apa semua orang berlebihan dengan bersenang-senang di hari yang seharusnya penuh duka? Aku bahkan lupa hari itu hari apa, karena terlalu banyak makan.

Perutku penuh sesak, kelihatan membuncit, menyembul keluar seperti balon. Lucu, tetapi sakit sekali rasanya. Ibu hanya berbicara ringan, “Seharusnya kau tidak berlebihan, anakku. Setiap yang berlebihan pasti tak baik.”

Tetanggaku yang dokter baru pulang dari luar kota. Ia segera bergegas datang ke rumah. Setelah memeriksaku, lalu memberikan sebotol obat pencahar. Aku tak paham soal obat-obatan, aku hanya paham matematika. Jadi, kutanyakan harus kuminum seberapa obat itu. Dokter itu memberi petunjuk untuk meminumnya sesendok makan saja sehari.

Huh.., betapa perihnya perut ini, seperti gunung yang tak kunjung meletus. Malu-malu menyemburkan apinya, seperti kentutku, tapi bedanya baunya memalukan.

Kupikir, aku harus segera sembuh. Kalau kuminum sebotol berarti sama dengan lima puluh sendok. Kata dokter, mungkin aku akan sembuh lima hari kemudian. Ini berarti harus kuminum lima sendok sepanjang hari-hari itu. Kalau sebotol adalah sejumlah lima puluh sendok dan itu untuk lima hari, berarti sehari aku minum sepuluh sendok. Aku bisa sembuh lima kali lipat lebih cepat.

“Apa tidak terlalu lama? Hmm…, ya aku tahu. Aku harus minum lima puluh sendok sekarang juga, karena bisa berhemat dua puluh lima kali lebih cepat untuk sembuh. Wah, ternyata aku lebih pandai dari dokter itu.”

Ibu datang membawakan segelas air minum, memberikannya padaku dan mengomel, “Seharusnya kau tidak berlebihan, pasti itu tidak baik”. “Entahlah,” kataku. Perutku panas. Setiap menit bertambah panas.

Dan sekarang, sesuatu dalam perutku mendidih. Kulit pada perut ini sepanas panci masak. Baju yang kukenakan menghitam dan berbau gosong. Bapakku berlari memanggil dokter.

Dokter segera datang tetapi tidak membawa apa-apa kali ini. Ia tersenyum dan berkata, “Kau hanya perlu ke wc, tapi kau tak bisa duduk atau jongkok untuk mengeluarkan isi dalam perutmu. Kau harus melompat-lompat selama lima hari untuk mengeluarkan sepenuh isi perutmu itu.”

Karena merasa aneh, ibu bertanya padanya, “Apa itu tidak berlebihan dok?” Dokter menjawab, “Jelas berlebihan, karena memang ulah putramu berlebihan.”

Kini bapak membopongku ke tempat yang paling tak kusuka itu. “Jangan ditutup pintunya,” kataku pada mereka. Mereka memperhatikanku yang melompat-lompat tanpa bercelana.

Keluarlah berceceran. Semuanya mundur karena baunya sangat tidak enak, Menjijikkan. Kini lembek-lembek kotoran yang kukeluarkan semakin banyak saja, menggunung. Semua orang rumah mengungsi, karena kotoran itu sepenuh rumah.

Pada hari yang kelima, seluruh pintu rumah jebol. Bubur kuning yang panas berserakan di halaman, di jalan-jalan. Baunya sungguh Menjijikkan!

Pada hari ketujuh, seluruh cairan itu sekonyong-konyong berubah menjadi Uang. Ya, benar, uang! Seluruh orang berdatangan mengambilnya, meskipun aromanya masih sama.

Tak peduli kaya, miskin, lelaki, perempuan, yang beragama maupun yang tidak, professor sampai si buta huruf, orang baik maupun bajingan, semuanya datang berduyun-duyun mengambilnya.Mereka semua tertawa semua, bermandi uang dengan bau yang amit-amit memuakkan. Semuanya berpesta di rumahku.

Di hari yang kesembilan, di mana rumahku sudah roboh karena kelakuan Semua Orang, mereka menanyaiku, “kau namakan apa rumah penuh berkah ini?” Seperti menerima wahyu, kujawab sekenanya, “Century,” tapi kupikir itu menjijikkan. Itu menjijikkan karena sebulan penuh aku hanya sibuk menonton tv yang membicarakan Century dan aku sama sekali tak sempat memikirkan hal lain.

Sekarang hari yang kesebelas. Hari itu, hari di mana ibuku datang menengokku. Ia ingin tahu, apa aku masih hidup ataukah sudah mati. Kali ini aku merasa sedih. Kupikir ibuku sendiri jijik denganku. Hidungnya ditutup dengan jepit jemuran.

Ia berkomentar lagi, “Kau berlebihan anakku, tentu itu sama sekali tidak baik.” Sangat berbeda dengan orang-orang, mereka menganggapku keberuntungan. Ada seorang kaya malah berkata, ”Apa yang lebih baik dari pada uang? Tidak ada.”

Seorang pejabat juga berkata, “Hidupku adalah uang, rajaku adalah uang dan semuanya indah.” Kini mereka saling membelanjakan uang dariku itu. Aku juga heran, mengapa kini baunya menjadi wangi. Aneh. Bukannya uang juga begitu? Baik buruknya tak kelihatan, tetap saja dianggap baik.

Pada hari ketigabelas, sesuatu yang aneh terjadi. Hujan terus menerus sampai sore. Sama sekali tak ada sinar mentari. Karena seharian matahari tak membuka mata, sebagai gantinya, malam ini ia datang menerangi seluruh sudut bumi.

Sial bukan kepalang! Setiap uang yang terkena sinarnya, langsung berubah menjadi semula. Menjadi wujud yang sebenarnya. Menjadi kotoran. Menjijikkan.

Mengapa yang menjijikkan disukai banyak orang? Kau tahu? Ha ha, pastilah uang!

Malang, 08.22 PM. 10 Februari 2010.

[Tulisan ini belum pernah diterbitkan. Dilarang mengkopi sebagian atau keseluruhan isi tulisan ini tanpa izin penulisnya. Silahkan mengirim permohonan via email di hasnan.unmuh@gmail.com]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: