kataitukata

Tatkala Elit Kegamaan Membincang Islam dan Hak Asasi Manusia

In Uncategorized on November 15, 2010 at 7:06 am

Judul Buku : Attitudes to Human Rights and Freedom of Religion or Belief in Indonesia, Voices of Islamic Religious Leaders in East Java
Penulis : Syamsul Arifin
Penerbit : Kanisius, November 2010
Tebal Buku : Cover + 108 Halaman
Peresensi : Hasnan Bachtiar

Telah terbit sebuah buku yang bertajuk, Attitudes to Human Rights and Freedom of Religion or Belief in Indonesia, Voices of Islamic Religious Leaders in East Java (Kanisius, 2010). Buku 108 halaman ini ditulis oleh Syamsul Arifin (Guru Besar Sosiologi Agama Universitas Muhammadiyah Malang), diedit dan diterjemahkan dalam bahasa Inggris oleh Nelly van Dorn-Harder (Indonesianis dari Universitas Wake Forest, Amerika), Tore Lindholm (Pakar HAM Terkemuka, Universitas Oslo Norwegia) dan Nicola Colbran (Norwegian Center for Human Rights, Universitas Oslo).

Sepintas, banyak orang menduga buku ini seperti buku-buku pemikiran lainnya. Khas literatur akademis dan terkesan angker. Namun diluar dugaan, buku ini menggairahkan. Ada dialog-dialog yang bukan sekedar enak dibaca, tetapi juga mengandung nilai reflektif dalam menghadapi silang sengkarut fenomena keagamaan.

Tema-tema sosio-religius seperti HAM, kebebasan beragama dan berkeyakinan, hubungan antara agama dan negara (identitas agama dalam KTP), isu mayoritas-minoritas, dan gerakan keagamaan baru, menjadi garapan detil profesor yang menaruh perhatian pada multikulturalisme. Sederetan isu sensitif ini, oleh Arifin dituangkan dalam laporan penelitian yang valid, akademis, ilmiah, tetapi renyah, ringan, dan dengan bahasa yang mengalir begitu saja.

Soal isinya, secara garis besar adalah merekonstruksi wacana HAM yang difokuskan pada isu kebebasan beragama/berkeyakinan di Indonesia. Lebih spesifik adalah upaya untuk mengakomodir suara-suara para tokoh keagamaan di Jawa Timur yang memiliki otoritas yang tidak diragukan oleh publik. Mudah ditebak komentar para tokoh tersebut. Ada yang setuju, ada pula yang “mikir-mikir dulu” untuk mengakomodir isu yang menghangat baru-baru ini. Memang ide keagamaan menjadi barang dagangan yang paling laris diperebutkan dalam pasar tafsir.

Berdasar pada temuan Arifin, bahwa ada hal yang menarik hubungannya dengan pendapat para Islamis sendiri tentang HAM. Misalnya pemaparan pandangan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), ternyata tidak satu suara dalam merespons isu HAM. Jika dibuatkan kategorisasi, maka ada pandangan yang memiliki pandangan inklusif, sedangkan yang lain berpandangan eksklusif.

Mereka yang inklusif, menerima gagasan universal HAM termasuk ketentuan kebebasan beragama atau berkepercayaan. Bagi mereka, HAM tidak perlu dipandang sebagai konsep yang bertentangan dengan Islam.

Lebih jauh lagi, telah banyak negara berpenduduk mayoritas Islam yang mengakui dan meratifikasi instrumen HAM yang dikeluarkan PBB. Para kaum inklusif menggunakan alasan teologis dan historis untuk menilai itu semua. Secara teologis, Islam memiliki sumber autentik yang dapat dijadikan legitimasi penerimaan umat Islam terhadap HAM. Sumber yang dimaksud adalah al-Qur‘an.

Menurut pemahaman kelompok inklusif, dalam al-Qur‘an terdapat banyak ayat yang dapat meneguhkan ide-ide utama HAM yang muncul dari Barat. Ayat-ayat al-Qur‘an yang sering dikutip oleh kelompok inklusif adalah: surat al-Baqarah (2) ayat 256; al-Kahfi (18) ayat 29; surat al-Kafirun (109) ayat 6. Mereka menyimpulkan bahwa, ayat-ayat tersebut merupakan bukti pengakuan Islam terhadap kebebasan beragama atau berkeyakinan yang ditekankan oleh HAM.

Berbalik seratus delapan puluh derajat, pandangan ini berbeda dengan pihak eksklusif. Jika pandangan inklusif menepis adanya kontradiksi antara HAM dengan Islam, sementara bagi kelompok eksklusif, cenderung menempatkan HAM dan Islam dalam posisi yang bertentangan, sehingga tidak bisa diterapkan pada masyarakat Islam.

Dalam benak golongan eksklusif,  konsep HAM yang dicetuskan oleh PBB tidak bisa diberlakukan secara universal karena lebih didominasi oleh pandangan Barat. Salah satu yang menjadi sasaran kritik ada pada aspek kebebasan beragama atau berkeyakinan yang ditekankan oleh HAM.

Kebebasan beragama atau berkeyakinan tidak bisa diberlakukan secara universal terhadap masyarakat Islam kendatipun al-Qur‘an sering menyinggung masalah kebebasan. Kebebasan dalam al-Qur‘an, hanya berlaku secara eksternal. Sementara terhadap umat Islam sendiri yang sudah memeluk agama Islam tidak ada pilihan lagi selain tetap memeluk agamanya.

Dus, dalam menyikapi perbedaan pendapat di kalangan Islam seniri, penulis buku ini bersikap lebih moderat. Dalam artian bahwa, munculnya wacana inklusif dan eksklusif tidak perlu dipandang sebagai hal yang aneh. Hanya yang perlu serius diperhatikan adalah, bagaimana perbedaan wacana tersebut tidak berakibat pada terjadinya praktik anarkis seperti yang marak belakangan ini.

Semua umat beriman, tentu tak ingin menikmati anarkisme yang bernuansakan perbedaan agama. Karena itu, kendati keragaman wacana tidak mungkin bisa dihindarkan, tidak berarti pengembangan wacana yang lebih afirmatif terhadap HAM dan kebebasan beragama atau berkeyakinan tidak bisa dilakukan. Buku ini benar-benar tidak setuju dengan nuansa kekerasan agama.

Sebagai ikhtitam dari tulisan ini, penting kiranya untuk mempertimbangkan saran penulis yang mulai mengintip adanya peluang bagi perdamaian di kalangan internal umat. Syamsul menyarankan bahwa istitusi pendidikan umat Islam seperti yang dimiliki oleh Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama, sangat potensial untuk mempromosikan HAM dan kebebasan beragama atau berkeyakinan. Sebagai ikhtiar bagi urusan ke-ummat-an, kedua lembaga sosial keagamaan terbesar di Indonesia tersebut, memiliki peluang yang besar untuk mengajarkan keagamaan yang nir-kekerasan. Demikianlah, mudah-mudahan ide-ide dalam buku ini dapat memberikan inspirasi bagi masyarakat luas [].

Peresensi adalah Hasnan Bachtiar, rakyat biasa yang tidak berkenan pada konservatisme keagamaan.

[Tulisan ini belum pernah diterbitkan. Dilarang mengkopi sebagian atau keseluruhan isi tulisan ini tanpa izin penulisnya. Silahkan mengirim permohonan via email di hasnan.unmuh@gmail.com]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: