kataitukata

Wacana Konflik yang Memihak

In Uncategorized on November 15, 2010 at 6:50 am

MENGAGETKAN tatkala membaca esai-esai lawas Soetjipto Wirosardjono yang bertajuk “Kesenjangan” dalam dimensi agama, negara dan rakyat. Sejak terbitnya buku Dialog Kekuasaan (Penerbit Mizan) pada 15 tahun silam, kolumnis kritis ini menegaskan bahwa pelbagai konflik sosial ternyata lebih tepat kalau dimaknai sebagai dampak dari kesenjangan sosial. Betapa jarak begitu jauh antara si kaya dan si miskin (1995: 253).

Peristiwa baru-baru ini, konflik-konflik sosial yang ada, apa ini sekedar konflik entis, konflik agama, soal minoritas mayoritas, atau apa yang sebenarnya mengakibatkan adanya persinggungan dan pertarungan fisik? Inilah yang patut dipertimbangkan, mengingat silang sengkarut sosial merupakan wahana paling apik untuk memperebutkan kuasa wacana tertentu. Tentu saja termasuk menyangkut sentimen apa di balik statemen para tokoh yang menanggapi isu nasional ini.

Seluruh masyarakat dari tukang becak, tokoh masyarakat, agamawan, aktivis sosial, sampai para aktor politik menanggapi konflik tersebut. Banyak orang dengan penuh semangat merespon atas nama kepentingan keamanan nasional, atau para pemuka agama yang ingin mengukuhkan teologi kerukunan untuk menjamin kebebasan beragama bagi umat manusia. Kendati demikian, tidak jarang beberapa orang juga menginginkan stabilitas politik yang mengukuhkan kuasa tertentu, atau sebagian kecil aktivis sosial dalam rangka advokasi yang memperjuangkan hak-hak masyarakat terpinggirkan.

Banyak argumen dengan anilisis akademis dilontarkan. Bahkan semakin filosofis, semakin tinggi dan melangit alasan soal konflik tersebut, semakin harus diterima khalayak secara lapang dada, maupun menyesakkan dada karena terpaksa. Inilah kesenjangan awal, di mana kuasa wacana dengan sengaja mensubordinat komunitas tertentu. Obyek tafsiran selalu menjadi korban. Orang miskin, pengangguran, buruh, kuli, minoritas, – bukan sekedar minoritas karena label agama, namun juga kesenjangan sosial seperti dibicarakan Soetjipto dalam bukunya – dan kategori rakyat pinggiran lain, sesungguhnya merekalah yang menjadi korban. Mana mungkin orang kecil memiliki kuasa untuk mengendalikan wacana, kalau hidup mereka dihabiskan untuk berpikir keras bagaimana cara mendapatkan makan dan bertahan hidup.

Jelaslah persoalan konflik ini soal kesenjangan sosial. Semakin jarang orang berpikir bahwa, konflik ini adalah konflik antara orang yang sejahtera secara ekonomi dan yang tidak. Sederhananya, wacana selalu dialihkan ke ranah agama, etnis dan lain sebagainya, yang kira-kira tidak akan berpengaruh apa pun dari penyelesaian konflik, selain memberikan solusi secara hukum dan agama secara praktis dan karikatif. Banyak orang yakin bahwa dengan teologi kerukunan atau artikulasi penghormatan terhadap keragaman akan menyelesaikan konflik, yang sebenarnya adalah masalah kesenjangan sosial, masalah kesejahteraan. Seperti punguk merindukan rembulan, tidak akan mungkin mencapai perdamaian sebelum soal kesejahteraan ekonomi diselesaikan.

Bukannya mengabaikan i’tikad baik pemerintah yang men-generalisir persoalan di Bekasi ini sebagai persoalan kriminal. Tapi masalahnya, akan timbul konflik-konflik lainnya, yang justru karena persoalan ketimpangan sosial. Sulit untuk membayangkan betapa susahnya mencari uang bagi orang miskin, mencari pekerjaan bagi dan sandaran hidup bagi pengangguran, meredakan derita kesejahteraan bagi para kuli, buruh, tukang becak dan para pedagang asongan. Misalnya tidak ada perubahan pandangan tentang wacana konflik oleh para elit atau kelas menengah yang suaranya didengar, misalnya lebih berkecenderungan pada soal konflik karena kesenjangan sosial, lalu siapa yang akan mendengar suara-suara orang terpinggir itu?

Soal konflik ini, bagi siapapun yang miskin, lalu segala hajat hidup dan hak-hak yang semestinya dimiliki tidak menyertai, tentu akan bangkit, cenderung melakukan perlawanan, mengutarakan protes, bahkan sampai pada tindak fisik-kriminil dengan latar kecemburuan sosial. Tidak ada yang peduli dengan kaum terpinggirkan tersebut. Di sinilah seharusnya, muncul sosok cendekia yang memandang bahwa moda aktifitas ekonomi tenyata mempengaruhi moda interpretasi. Cara pandang Kyai, Polisi, Jaksa, Presiden, sampai Tukang Becak dalam menafsirkan fenomena sosial, dikuasai oleh kekuatan ekonomi. Dengan demikian, bukan sekedar menempatkan soal kemiskinan sebagai titik sentral, tetapi juga melakukan advokasi politik wacana atas konflik-konflik yang ada.

Sebagai penentu dari opini ini, yang menjadi pertanyaan adalah siapa yang menempatkan diri sebagai cendekia kemiskinan ini? Cendekia adalah minoritas kreatif yang punya sikap dasar selalu memancarkan semangat intellectual curiousity dan hasrat pemerdekaan bagi kaum pinggiran. Lebih dari itu, karena cendekia adalah minoritas, dambaannya adalah hak dissent, hak untuk berbeda pendapat jika mereka kebetulan tinggal di masyarakat demokratis. Di masyarakat totaliter mereka jelas disebut pembangkang, pembangkang untuk disuruh konform pada uniformitas kuasa. Pertanyaan terakhir, siapa yang mau menjadi pembangkang ini, Kyai, Polisi, Jaksa, Presiden, atau anda pembaca? Kalau tidak ada, silahkan menikmati konflik-konflik selanjutnya, yang pasti muncul karena gesekan kesenjangan sosial. Dengan demikian, benarlah Soetjipto Wirosardjono bahwa konflik timbul dari kesenjangan sosial.

Penulis adalah Staf dan Peneliti di Pusat Studi Islam dan Filsafat (PSIF) UMM

[Tulisan ini belum pernah diterbitkan. Dilarang mengkopi sebagian dan/atau keseluruhan isi tulisan ini tanpa izin penulisnya dan/atau pemilik hak paten dari tulisan ini. Silahkan mengirim permohonan via email di hasnan.unmuh@gmail.com]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: