kataitukata

Wansbrough dan Deideologisasi Historiografi

In Uncategorized on December 1, 2010 at 7:27 am

Oleh Hasnan Bachtiar
PSIF Researcher

TULISAN ini hendak mengapresiasi kerja keras Wansbrough, yang juga diapresiasi oleh Bruce Lincoln dalam catatan Herbert Berg yang bersemangat memberikan penilaian atas teori historiografi. Banyak orang menilai pelbagai karya dengan tuduhan-tuduhan, baik itu truth claim para Islamis atas kritisisme Orientalis. Sebaliknya, banyak kata yang tidak kalah terlampau sinis dan tendensius terluncur dari seorang Lincoln atas nama tuntutan akademis dan tradisi kesarjanaan. Inilah yang disebut dengan ideologi, sedangkan prosesnya adalah ideologisasi.

Wansbrough hendak mengamini celah-celah kelemahan metodologis para Islamis – seperti misalnya tentang salvation history – dengan mengukuhkan paradigma radikal pada studi sejarah Islam. Tendensi keimanan Islamis atas beberapa teks sejarah, – Qur’an, Tafsir, Sira dan Sunnah – menurut Wansbrough sebaiknya tidak disebut sebagai sumber sejarah, karena dalam hal semua orang boleh berpendapat dan memberikan komentar atas teks-teks keagamaan, lebih tepat kiranya untuk menjadikan kritik sastra sebagai metode utama dalam tradisi akademis tentang sejarah. Sejarah dan secara spesifik lagi adalah sumber-sumber sejarah, memang dikomentari dari pelbagai sudut pandang, termasuk sudut pandang iman (ideologi). Dengan demikian, para Islamis memiliki kecenderungan untuk memberi paten tertentu dalam membaca teks-teks keagamaan sebagai sumber kesejarahan (satu tafsir). Inilah yang membuat Wansbrough untuk bekerja keras memecahkan persoalan sejarah, sumber sejarah dan ideologi yang melekati pada kedua hal tersebut.

Namun dalam benak historiografi itu sendiri, masih menyisakan beberapa pertanyaan misalnya, “Siapakah yang menentukan obyektifitas akademik?” Para Islamis dan penerusnya, – baik para sarjana Muslim maupun Non-Muslim – dan para Orientalis beserta Wansbrough, telah berjasa dalam menyajikan “bakal” diskursus historiografi baru, yang menjadi garapan para sejarawan saat ini. Diskursus ini berbicara tentang apakah kesejarahan bertendensi politik dan ideologi, atau memang menyajikan konstruksi kejadian penting masa lalu, atau keduanya, antara ideologi dan obyektivitas bisa dinegosiasikan secara akademis?

Secara berani, Wansbrough seolah menyajikan jalan alternatif dalam kerumitan sumber-sumber sejarah yang bertendi ideologis dan obyektifitas akademis. Kritik sastra sangat penting untuk memberikan makna secara lebih baik, lebih beragam, lebih kaya dan multi-interpretatif terhadap sumber kesejarahan, termasuk teks-teks keagamaan yang dianggap sakral.

Berikut ini adalah aplikasi kritik sastra atas pengungkapan fenomena Sunnah, sebagai sumber kesejarahan. Wansbrough memang mengamini dua pemikir hukum Islam pendahulunya, Goldziher dan Schacht. Kedua orang ini, merupakan tokoh yang meragukan soal validitas Sunnah. Cenderung ragu terhadap prosedur transmisional Sunnah, bukan tanpa alasan. Polemik persaingan antar mazhab di antara para Islamis sendiri, yang pada akhirnya memicu produksi hadits-hadits (Sunnah) yang patut dipertanyakan. Dalam persoalan produksi ini, bukanlah hal yang aneh mengingat tradisi peneladanan orang saleh (Sunnah) sekaligus tradisi hadits (tertulis/grafis), merupakan tradisi hidup yang sejak lama dipraktikkan bahkan sebelum Islam sebagai agama Muhammad diprokamirkan. Pembuktian yang paling valid untuk keraguan ini justru datang dari para Islamis sendiri. Demi pertaruhan sebuah tradisi, Malik ibn Anas menyelesaikan proyek penulisan Muwatta’. Kitab ini menjadi semacam kitab induk untuk menguji validitas berbagai hadits (legal maupun illegal) yang beredar. Dengan demikian, beralihnya konsentrasi studi sanad ke studi matan, menjadi pilihan yang rasional dan menguntungkan jika mulai mempertimbangkan metodologi kritik sastra dalam membaca sumber-sumber dalam studi sejarah. Jadi, banyak sejarawan harus mencoba hal baru, selain hanya terfokus pada historisisme ekstrim yang melulu menimbang sanad sebagai sumber. Hal baru itu adalah pengujian, pembacaan, penimbangan dan segala bentuk eksplorasi, serta pemaknaan seperti halnya dalam kritik sastra terhadap matan sebagai sumber.

Tapi di luar itu semua, tidak serta merta promosi metodologi dan teori Wansbrough menjadi pilihan yang lepas dari kritik. Justru dengan keluar dari angan-angan iman para Islamis, – Berg menyebutnya sebagai ketidaksukaan, sikap enggan yang tidak jelas, metode dan politik yang tidak fair, konservatisme teoritis dan kenaifan metodologis – dan mengalihkan perhatian ke matan hadits (sumber) beserta perangkat kritik sastra, berarti mengabaikan segala bentuk detil kesejarahan akademis. Kesejarahan akademis, tidak berangkat dari kritik yang bermuatan negatif seperti ketidaksukaan para orientalis terhadap para Islamis dan sebaliknya (sinisme). Detil akademis menghendaki adanya penjelasan yang lebih obyektif, tanpa memberi penilaian negatif, truth claim dan penghakiman terhadap makna-makna lain yang beragam, di luar konsentrasi studi ilmuwan atau sejarawan tertentu.

Memperjelas persoalan obyektifitas terhadap Sunnah sebagai sumber sejarah, sedikit kiranya merefleksi tesis para pendahulunya, Joseph Schacht dan Goldziher. Mereka berdua, secara terang-terangan menyebut bahwa, “Das Hadith wird uns nicht als Document für die Kindheitsgeschichte des Islam, sondern als Abdruck der in der Gemeinde hervortrenden Bestrebungen aus der Zeit seiner reifen Entwicklungsstadien dienen” (Hadits lebih merupakan refleksi interaksi dan konflik berbagai aliran dan kecenderungan yang muncul kemudian di kalangan masyarakat Muslim pada periode kematangannya, dari pada sebagai dokumen sejarah awal perkembangan Islam). Tentu saja hal ini menimbulkan pelbagai reaksi dari kritisisme tersebut.

David S. Powers merupakan salah satu ilmuan yang mencatat pelbagai reaksi dari gagasan yang muncul dari Schacht dan Goldziher. Powers mencatat adanya dukungan bagi orientalis, walaupun hanya sekedar pujian ringan – khususnya Schacht – dilontarkan oleh H. Ritter, A. Jeffrey, W.M. Watt, J.N.D. Anderson, J.Robson, S.D. Goitein dan G. Ryckmans. Kendati demikian, juga ada kritik yang lebih serius dari S. Vesey Fitzgerald yang menyimpulkan bahwa, dengan mengakui hadits dalam jumlah besar yang telah dilupakan orang, hal ini membuahkan pemikiran bahwa aturan-aturan legal yang disebutkan dalam “kisah-kisah palsu” itu memang bukan tidak mungkin merefleksikan pandangan-pandangan Muhammad. Hal yang sama juga datang dari Coulson yang mengakui adanya proses penisbatan dari transmisi hadits hingga ke Muhammad (back-projection).

G.H.A. Juynboll dengan penelitiannya, lebih suka menilai tesis Schacht dengan mendorong mundur asal usul hukum Islam lebih jauh ke belakang dari pada yang dinyatakan Schacht. Argumen ini secara lebih detil menunjuk keraguannya pada pendapat Schacht yang didasarkan pada statemen yang konon datang dari Ibnu Sirin, bahwa penggunaan isnâd (rangkaian transmisi) baru mulai pada seperempat kedua dari abad ke 2 H. Namun kritik yang lebih sempurna seperti yang digulirkan oleh Nabia Abott, sehingga penelitiannyapun memakan waktu lebih dari lima belas tahun bahwa: Pertama, hadits telah ditransmisikan, baik secara lisan maupun tulisan, sejak zaman permulaan sejarah Islam; Kedua, laporan-laporan tentang Muhammad, seperti yang diriwayatkan oleh para pengikutnya (sira), telah diteliti secara ketat dalam setiap mata rantai transmisinya; Ketiga, perkembangan yang fenomenal dalam literatur hadits pada abad ke 2 dan ke 3 H adalah dampak dari peningkatan jumlah mata rantai transmisi, baik secara vertikal maupun horizontal, dan bukan karena bertambahnya pemalsuan matan hadits. Studi kritis selanjutnya adalah oleh Brockelmann, Fuat Sezgin dan M.M. Azami.

Jelaslah kiranya memahami serangkaian kerja panjang orientalisme itu sendiri (khususnya Schacht) bahwa, ada pengabaian obyektifitas akademis. Apakah dengan meragukan sanad, kemudian menganulir segala bentuk konstruksi kejadian masa lampau (kehidupan Nabi), padahal sangat penting untuk menimbang argumentasi para pengkritiknya yang memang memiliki penjelasan akademis dan masuk akal? Jika memang ini yang dikehendaki, maka tendensi ideologis akan mereduksi nilai-nilai obyektifitas akademis.

Soal sejarah yang bermuatan ideologi, Wansbrough memberikan penilaian bahwa apa yang dimaksud dengan keimanan Islamis, merupakan kebulatan suara impresif yang disetujui (impressive unanimity) sekaligus menyebutnya sebagai fakta historis. Dengan kata lain, Wansbrough secara terus terang menyebut para Islamis memproduksi karya akademis, namun berasal dari studi yang kolutif. Inilah persetruan di antara dua kubu: Islamis yang terlampau beriman, dan Wansbrough yang juga sinis.

Polemik ini memicu kritisisme, namun lebih bersifat ideologis di antara kedua kubu yang berseteru. Wansbrough sendiri sedikit banyak menunjukkan oposisi yang berlebihan untuk mengklaim bahwa mayoritas Islamis terlampau konservatif menyikapi soal nilai akademik dan kesarjanaan. Kendati masuk akal bahwa salvation history merupakan topeng dari studi sejarah para Islamis yang terlampau beriman dengan keyakinannya, namun apakah benar jika metode yang paling tepat yang digunakan adalah bentuk kritisisme, kritik redaksi, dan kritik sastra, beserta tendensi ideologis yang nyata?

Tulisan Charles J. Adams menjadi sumber yang sangat penting untuk mengungkap upaya kritik sastra Wansbrough dalam historiografi. Dalam Reflection on the work of John Wansbroguh, Adams memberikan porsi khusus tentang tendensi Wansbrough secara lebih akademis bahwa, terdapat adanya hubungan antara Islam dengan tradisi agama-agama Timur Tengah lainnya. Menurut Adams, Wansbrough memperlakukan teks Islam sama halnya dengan pada studi atas Kristianitas dan Yudaisme kuno yang digarap oleh Rudolf Bultmann dan Jacob Neusner. Dalam hal ini Wansbrough beranggapan bahwa, para Islamis tidak perlu takut dengan adanya kritik pada teks yang dianggap sakral seperti hadits yang disandarkan pada Muhammad. Dengan demikian, pernyataan Wansbrough dianggap bertentangan dengan hukum agama dan keimanan.

Tentu saja obyektifitas akademik menuntut pembuktian yang lebih valid, termasuk membuka diri terhadap kebenaran-kebenaran baru dan lebih bebas dari tendensi ideologi dan politik, dari pada sekedar mengurai kesimpulan sederhana tentang historiografi yang tendensius yang berujung pada polemik, tuduh-menuduh dan saling hujat.

Dalam studi ini, sangat penting untuk menimbang kembali tentang soal obyektifitas. Kesarjanaan yang menentukan kesejarahan bukan sekedar klaim ideologis. Dengan demikian, deideologiasi dalam historiografi harus disuarakan. Menyikapi soal ini, penting kiranya untuk mempertimbangkan saran Mas’udi dalam studi sejarah. Mas’udi berpendapat bahwa, studi sejarah hendaknya juga bertujuan untuk mengambil nilai-nilai kebijaksanaan di balik sesuatu yang penting dan telah terjadi. Menurut asumsi para sejarawan Muslim awal bahwa, nilai sejarah ini akan nampak ketika adanya kolaborasi dengan disiplin ilmu lainnya. Inilah peluang penyegaran kembali historiografi, yang membuka kesempatan bagi para sejarawan untuk mencoba menggali banyak makna secara multi-interpretatif dan interdisipliner.

Sebagai penutup dari tulisan ini bahwa, betapapun studi sejarah selalu mengarah pada obyektifitas, tentu saja hal ini tidak mengabaikan soal kepentingan kemanusiaan sebagai seorang sejarawan. Pada akhirnya, secara positif menganggap polemik kesejarahan sebagai sharing intelektual, membuka peluang dalam mengapresiasi historiografi kontemporer yang mengakomodir banyak pendapat, pluralis dan multikulturalis. Seandainya boleh mengambil manfaat dari kerja keras Wansbrough bahwa, kritisisme para orientalis patut dipertimbangkan sebagai tradisi keilmuan yang baik, namun orientasi kolonialisme harus dikaji ulang, apakah bersifat menindas atau mengabaikan kemanusiaan. Jika memang demikian, paradigma poskolonialisme untuk membaca pelbagai karya besar para orientalis perlu dikampanyekan oleh para sarjana Muslim atau kalangan akademis manapun yang masih memihak kemanusiaan.

[Tulisan ini belum pernah diterbitkan. Dilarang mengkopi sebagian atau keseluruhan isi tulisan ini tanpa izin penulisnya. Silahkan mengirim permohonan via email di hasnan.unmuh@gmail.com]

*Penulis adalah Hasnan Bachtiar, penikmat sejarah dan kritikus lepas.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: