Membongkar Ekonomisme Pendidikan

Oleh: Hasnan Bachtiar

Peneliti di Pusat Studi Islam dan Filsafat (PSIF) UMM dan Pengabdi di SD Aisyiyah Malang

Miris kiranya melihat silang sengkarut fenomena pendidikan di Indonesia dewasa ini. Betapa tidak, karena hampir seluruhnya terlibat dalam tindak laku yang tidak manusiawi, bahkan anti manusiawi. Pendidikan tunduk pada ideologi dan hasrat pasar. Demikianlah, praktik pendidikan jauh dari jangkauan rasional upaya memanusiakan manusia.

Fakta yang sulit untuk dibantah adalah tarif pendidikan yang luar biasa mahal. Dengan harga yang melambung tinggi, pendidikan tidak terjangkau seluruh rakyat. Orang miskin tentu bukan merupakan garapan proyek pendidikan dan kependidikan negeri ini. Inilah proses di mana secara sosial, pendidikan menjadi salah satu dampak sekaligus penyebab ketimpangan sosial. Pendidikan memperjelas jarak antara orang yang kaya dan yang miskin.

Lebih jauh lagi, motif-motif menjadikan bidang pendidikan sebagai lahan bisnis jelas-jelas tidak mementingkan soal kemanusiaan. Logika pasar sejak awal menentukan bahwa bisnis hanyalah untuk keuntungan sebesar-besarnya. Hal yang lumrah kiranya “manusia pebisnis pendidikan” terjebak dalam lingkaran setan pasar yang hanya menuntut akumulasi keuntungan.

Lalu di mana kemanusiaan, jika pasar menjadi ruh pendidikan dan kependidikan, atau manusia hanyalah instrumen pendukung kontinuitas logika pasar? Manusia tidak jauh beda dengan skrup-skrup, mur, baut, gerigi atau bahkan oli dalam mesin yang sedang berjalan. Memang tidak ada kemanusiaan. Kalaupun ada, hanyalah kamuflase periklanan atau politik marketing, agar logika pasar semakin masif.

Memperjelas Persoalan

Manusia pebisnis pendidikan tetaplah manusia yang memiliki hasrat, baik dan buruk sekaligus. Namun, logika pasar sudah menjadi hajat hidupnya. Pasar adalah hal yang paling menentukan ke mana arah kehidupan manusia selanjutnya. Di sadari apa tidak, selama prosesi pasar berlangsung, ide-ide pasar menjadi iman yang dipercaya secara utuh dalam jiwa manusia-manusia. Dengan kata lain, ide-ide yang pada mulanya bebas nilai mulai berubah wujud dalam bentuknya yang sempurna sebagai ideologi pasar. Dalam praktik, soal-soal pasar menjadi hal yang sangat dibela, dipertahankan dan menjadi tuhan bagi manusia.

Manusia sudah kehilangan kemanusiaannya, ketika ideologi pasar menggantikan ideologi kemanusiaan. Ideologi kemanusiaan yang pada mulanya baik karena berbasis kepedulian sesama, kini menjadi tidak baik. Ketidakbaikan kemanusiaan menjelma karena ideologi pasar menghakimi bahwa kemanusiaan sangat tidak menguntungkan bagi logika pasar. Hasrat, baik dan buruk menjadi samar dan pada akhirnya yang ada hanyalah “baik” saja bagi pasar.

Pada tahun 1923, Marcel Mauss menulis buku I’ Essai sur le don (Esei tentang pemberian) yang mebahas tentang logika pasar ini atau ekonomisme. Secara sederhana, yang dimaksud pasar adalah, ketika memberi maka harus ada kembali. Harap kembalian menjadi potensi yang wajib diimani. Dalam filsafat Mauss, logika pasar ini disebut dengan potlatch. Semakin tinggi kembalian, semakin menguntungkan bagi manusia potlatch ini.

Dalam konteks “pendidikan ala pasar” yang menganut ekonomisme, persoalannya menjadi jelas sekali bahwa, memberikan layanan pendidikan bukanlah untuk orang miskin dan tidak cocok bagi mereka yang tidak memiliki uang banyak. Layanan pendidikan yang harap kembalian, sangat baik jika diperuntukkan bagi orang-orang kaya. Inilah alur pikir dan ideologi potlatch bagi Mauss jika diterapkan pada pendidikan di Indonesia. Disadari atau tidak, inilah fakta yang sulit dibantah.

Melihat fenomena “pasar gila” ini, tidak heran jika kemudian Jacques Derrida memberikan kritik tajam atas kerja ekonomisme Marcel Mauss. Dalam karyanya, Donner le temps. La fausse monnaie (Paris: Galilée, 1991) Derrida memberikan kritik utama pada konsep kunci potlatch yang didefinisikan sebagai pemberian yang dipertukarkan atau pemberian yang wajib mendapat kembalian berlipat-lipat (Derrida, 1991: 55).

Derrida mengatakan bahwa, pemberian terlampau dianggap sebagai suatu nilai dan asal usul semua nilai (Derrida, 1991: 64). Hal ini menyingkap konteks betapa tidak manusiawinya ekonomisme, karena menghendaki perputaran logika pasar tanpa bisa berhenti.

Pertanyaan untuk kita semua adalah, apakah kita mampu menyadari ideologi ekonomisme ini? Apakah mereka para kuasa pasar mampu keluar dari ekonomisme yang tertanam dalam alam bawah sadarnya? Apakah manusia yang sadar adanya dehumanisasi memiliki minat untuk melawan logika dan praktik ekonomisme? Apakah manusia yang sadar sanggup terlibat dalam agenda counter hegemony? Dalam konteks pendidikan, masihkah ekonomisme patut untuk dijadikan tuhan di samping kemanusiaan?

 

[Tulisan ini pernah diterbitkan di Koran Pendidikan Edisi 343/I?5-11 Januari 2011 dengan versi yang mirip. Dilarang mengkopi sebagian atau keseluruhan isi tulisan ini tanpa izin penulisnya. Silahkan mengirim permohonan via email di hasnan.unmuh@gmail.com]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s