kataitukata

Hidup Bahagia

In Uncategorized on September 9, 2011 at 3:32 am

Buku : Hidup itu Indah, Kumpulan Komik Opini Aji Prasetyo
Penulis : Aji Prasetyo
Penerbit : Cendana Art Media, Jakarta
Tahun : 2011
Tebal : 224 Halaman
Peresensi : Hasnan Bachtiar*

TIDAK MESTI murung dan stress memikirkan gejolak hidup yang kurang menyenangkan. Tidak pula menangis, menjadi bebal, macet berpikir, jenuh berkepanjangan, berteriak hebat dan bahkan bunuh diri hanya untuk menghadapi ketragisan hidup. Take easy. Hidup itu bahagia tanpa beban. Karena itu, segala ketragisan hidup patut untuk diapresiasi dengan baik.

Seorang penikmat filsafat Nietzschean berkomentar bahwa, “The tragic is the aesthetic form of joy, not a medical phrase or a moral solution to pain, fear or pity. It is joy that is tragic.” (Gilles Delleuze, 1983: 17). Jelas, tragis itu merupakan bentuk estetis dari kebahagiaan, bukan sebuah frase kedokteran, atau penyelesaian moral atau rasa sakit, ketakutan atau belas kasihan. Justru kebahagiaan – yang sering kita bayangkan – itulah ketragisan. Jadi, itulah kebahagiaan. Tidak perlu ditutupi: vulgar.

Tetapi, mengapa banyak orang tetap meratapi penderitaan? Karena banyak orang tidak jujur dan tidak mau bertelanjang apa adanya tatkala berkawan dengan hidup. Mungkin, memilih hidup untuk selalu bertopeng, penuh dengan kepura-puraan, citra, wibawa bohong dan memberi makna segala prilaku bias lainnya sebagai kebahagiaan. Kebahagiaan yang demikian, lahir dan tumbuh dari dasar alam bawah sadar ketakutan yang akut (neurosis). Kebahagiaan palsu.

Dalam buku “Hidup itu Indah, Kumpulan Komik Opini,” Aji Prasetyo membalik total paradigma berpikir tentang ketragisan secara radikal. Seolah penulis “buku putih” ini (karena cover-nya putih) bernilai bahwa, “Tidak perlu terlalu ambil pusing untuk menghadapi masalah, selesaikanlah dengan gembira, hidup itu indah.” Termasuk pada isu-isu sensitif yang sedang menghangat dewasa ini: agama, budaya, penjajahan.

Pada cover depan komik ini, sudah sangat provokatif. Ada latar jalan raya, ada seorang polisi yang sedang menilang pengendara motor berboncengan tiga tanpa helm, berbusana gamis Arab-nampak Islami. Jelas terjadi pelanggaran lalu-lintas. Tapi, ada teks ujaran pelanggar berkendara, “Melanggar? Ayat yang mana? Hadits yang Mana?” Tanpa berpikir panjang, pasti mengundang senyum tawa para pembacanya.

Secara hermeneutis menafsirkan selembar gambar itu bahwa, benar umat bergama berhak untuk mengimani agamanya dengan baik (agama), namun tidak harus bebal membabi-buta menetap pada satu cara pandang tertentu (penjajahan). Bisa dibayangkan bahwa sang polisi gagap untuk menjawab seputar pertanyaan keagamaan itu, tapi barangkali menjadi lebih parah, karena polisi itu dianggap menjalankan hukum manusia dengan melanggar hukum agama yang maha tinggi: melanggar akidah dan syariah (budaya). Kacau, but take easy. Kita hidup di dunia nyata yang serba negosiatif, bukan di dunia “kitab kuning” yang taken for granted. Jadi, ketiga orang saleh itu – terserah pakai dalil apa – tetap melanggar lalu-lintas. Kecuali memang mau berdamai dengan menyogok polisi itu dengan lembar ribuan rupiah. Intinya, hidup tanpa beban.

Komik putih ini menyelesaikan kesulitan yang kompleks tentang agama, ideologi, kultur, dan bahkan kolaborasinya menyangkut politik identitas dengan sangat baik. Lebih jauh, Aji yang banyak akal menyajikan kritik-kritik atas perilaku keagamaan.

Misalnya suatu cerita tentang putus-asanya iblis dalam menjalani kehidupan karena manusia lebih iblis dari iblis. Betapa tidak, yang kita anggap sepanjang sejarah Islam bahwa ramadhan adalah bulan penuh hikmah, kini telah menyesuaikan dirinya menjadi bulan penuh akting. Semua orang akting, hingga yang tak mau akting pun dipaksa akting. Pejabat gemar akting, karena mereka yang seolah menjadi salehlah yang dikehendaki masyarakat, atau paling tidak, pura-pura saleh. Pencuri, pelacur, dan pendosa lainnya, mengasah keahlian aktingnya selama sebulan dan sebulan kemudian tetap meneguhkan profesinya seperti semula. Kecuali para koruptor yang tidak punya jam kerja, atau tidak pernah berhenti berkorupsi. Pendosa yang satu ini, lebih syaitanirrojim dari pada iblis, si makhluk terkutuk seperti dalam cerita-cerita yang biasa kita dengar tatkala mengaji waktu kecil.

Fenomena lain yang tidak luput dari bidikan Aji adalah kekerasan atas nama agama sampai syahwat mendirikan negara Islam. Muslim tertentu ternyata tega menyita hak paten iblis, ketika melakukan dosa. Anarkisme yang sejatinya adalah tradisi iblis (hak paten), kini diklaim atas nama Tuhan. Puncaknya adalah mendirikan negara Islam, padahal sejatinya, atas nama syahwat politik yang bebal.

Sepenuhnya buku ini adalah kritik sosial. Aji menggabarkan dengan sangat baik soal-soal jual-beli agama pada bab “Komoditi itu bernama agama”. Bab lain, “Sekolah bangsa itu bernama media”, bercerita tentang sesuatu yang lebih guru dari pada guru di sekolah formal, yaitu media, secara khusus adalah tv. Lalu bab tentang “Berpolitik tanpa Melukai Akal Sehat” alias komik putih ini mengobrak-abrik kebodohan para politisi bodoh yang sejak awal memang bodoh dengan membodohi rakyat.

Kalau ada judul lain yang agak serius tentang buku ini, mungkin lebih cocok disebut “Sejumput Wacana tentang kebohongan”. Semuanya tentang kebohongan. Penguasa pembohong, beragama secara bohong, media penjual kebohongan, politik bohong, dan by the way, seluruhnya adalah the chicken soup of bohong. Buku ini memiliki narasi kritik yang lebih gila daripada kegilaan kritik Sindhunata yang menuduh para penguasa adalah celeng dalam Negeri Para Celeng (Opini Kompas. 31 Mei 2011: 6).

Sejujurnya, sebagai pembaca yang tuntas dalam waktu 30 menit, lebih baik anda para calon pembaca mempersiapkan obat sakit perut karena tertawa hingga tawa terakhir. Komik gila ini, lucunya naudzubillah. Kendati demikian, secara subyektif sebagai analis komik, buku ini jauh lebih baik dari sederet karya pemikiran Islam yang sok serius tetapi tiada berguna bagi penyadaran bangsa. Inilah saatnya kita membaca buku yang dianggap tidak penting, karena kita mesti mulai untuk membaca karya pinggiran yang sebenarnya adalah gambaran utuh dari kejujuran, dari pada membaca karya besar yang berupa kebohongan dan najis. []

* Hasnan Bachtiar pecinta komik dan kritikus jalanan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: