kataitukata

Padamulanya Banyuwangi

In Uncategorized on September 9, 2011 at 3:55 am

Oh umat manusia… hiruplah harum ranum risalah Muhammad yang mulia, saksikan wujud pancaran Allah Yang Ilahi. Oh umat manusia… ciumlah manisnya bibir lelaku budi pekerti yang membebaskan sesama, tersenyumlah tuk raih ajaran shalat yang terpuji, relakan hatimu pahami kisah cinta dalam prosa yang sunyi senyap tiada melenyap bahkan merasuki ruhul qudus, insan kamil cermin Sang Hyang Ilahi.

Oh umat manusia…kusaksikan pendeta mengaku mendapati dari seorang yang bertitah sang nabi, tertulis dalam kitab suci para sakti seberang jauh nusantara, mendekap erat batin perempuan suci, mengajar takbir yang menggetarkan gunung-gunung, ruku dan sujud yang membuat alam bersahaja, memuja puji dewa segala dewa hingga tiada daya upaya para bathara, melantun doa yang terijabah, menaruh harap yang menguatkan, mematri niat yang abadi, membimbing hidup berarti.

Oh umat manusia…kusaksikan ayah ibu tlah beradu belah kalbu aku tak mengerti di kala itu, sumpah serapah menghunjam angin seribu, “Kau tuduh aku selingkuh padahal kubantingtulang tiada peluh,” bela perempuan tersudut malu, ibuku… lelaki tua kekar terbakar cemburu berkelakar koar seperti jerit singa barong gusar, “Buktikan jika engkau wanita puja susila, telah kudapati engkau sujud dan ruku, berteriak takbir yang tiada pernah ada dalam mantra dewata, kau berilmu sihir, memuja buhul-buhul angkara, kau perempuan yang kawin lagi dengan iblis, kau berbakti amalan-amalan bid’ah dan syirik yang dilaknat danyang-danyang segoro kidul, buktikan jika engkau wanita yang suci pratiwi,” sungguh hina dina tuduh lelaki itu.

Oh umat manusia…dengan amuk yang menyambar, ia tusuk jantung ibuku dengan keris pusaka. Amarah telah memaksa buta manusia-manusia nestapa menjauhi kebenaran makna. Di tepi sungai, ibuku lemah tak berdaya, hinggap sakaratul mautnya, lalu berbisik sebelum ajal tiba tepat pada waktunya, “Islam adalah agama umat manusia. Allah Sang Ilahi adalah Tuhan seluruh jagat raya.”

Oh umat manusia…di separuh jasad dan ruhnya berpisah lalu ia berdoa, “Wahai Sang Ilahi Rabbi kiranya tlah robek jantung hati tertusuk belati keji biarlah darah merah harum mewangi, relakan cintaku ini kan menerangi, sebagai bukti yang menuntun menyusur alir sungai sepanjang jagad wangsa sang dewi asmarani, takdirkan singkap tabir sejati, relakan wahai Dzat yang nyawaku bergantung padaMu ya Ilahi…” dalam puasaran ikhlas ia berpasrah diri.

Oh umat manusia…lalu Tuhan berfirman, “Aku berkehendak. Jadilah engkau contoh cinta sejati tiada mati,” lalu seketika, alam bersahabat dan menjadi ajaib, “Subhanallah, walhamdulillah, wa la ilaha illa Allah, Allahu akbar…” Sang Hyang tlah mencipta (D)iri.

Oh umat manusia berbudi ma’rifat ilahi… inilah, aku kehilangan tabir tuk pungkiri, hingga kini, orang menyebutnya Banyuwangi, tempat yang diberkati. Pahamilah, pahamilah… padamulanya adalah cinta sejati. Allah telah berfirman, “Kun. Fayakun.” yang berarti, “Padamulanya Banyuwangi.”

Hasnan Bachtiar, Malang, 23 Ramadhan/23 Agustus 2011. Prosa ini untuk almarhum guruku, Hariwidjaja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: