kataitukata

Puasa dan Kesetaraan Sosial

In Uncategorized on September 9, 2011 at 3:50 am

ADA BENARNYA bahwa metafor kefakiran dekat dengan kekufuran. Bukan soal kesalehan individual, tetapi soal jarak sosial bahwa si miskin lebih sukar untuk melaksanakan ritual keseharian sedang ia ditimpa kewajiban rutinitas sesuai dengan kehendak struktural.

Mereka para pekerja, harus bekerja lebih giat dan lebih keras, dari pada para pemodal dan tuan pemegang kebijakan. Termasuk kebijakan untuk menentukan kapan dirinya dapat menikmati kesyahduan ritualitas pribadi. Kebebasan berkehendak sesungguhnya sangat dipengaruhi oleh kekuatan dan kekuasaan ekonomi.

Tidak jarang para buruh, pekerja serabutan, pegawai rendahan hanya tunduk pada jadwal “keamanan finansial” dari pada waktu-waktu ibadah “yang sudah ditentukan”. Lagipula kendati “bisa saja” beribadah, namun kemungkinan kecil mereka memiliki kepemilikan kuasa ekonomi.

Maka dikatakan saleh tatkala setiap Muslim dapat melaksanakan shalat lima waktu, pergi ke masjid, meninggalkan aktivitas perdagangan di pasar saat menjelang shalat Jum’at, sahur dan berpuasa di bulan Ramadhan yang mulia. Peribadatan yang lumrah, namun sukar untuk dilakoni oleh mereka yang tertimpa nasib sebagai si miskin.

Hampir setiap hari dapat kita saksikan di pasar-pasar, di pabrik, atau beberapa orang yang mangkal sebagai para tukang, tatkala adzan berkumandang, mereka kukuh bergelut dengan aktivitas ekonomi kendati secara fisik dekat dengan rumah Tuhan. Banyak pula yang beristigfar menyesalkan hal itu tanpa berbuat apa-apa.

Para ulama, para ustadz dan pengkhutbah lebih suka menjatuhkan nilai yang kurang baik terhadap mereka, kendati tanpa memahami ujung pangkal permasalahan yang sebenarnya. Kebanyakan kaca mata fiqih yang hitam putihlah yang digunakan untuk mengomentari apakah perilaku tertentu halal atau haram, baik atau buruk dan lain sebagainya.

Paradigma dualistik ini sebenarnya adalah pandangan legalistik-formil keagamaan. Kitab suci sebagai rujukan utama, ditelan begitu saja sebagai teks yang mengatur segala ketentuan kehidupan nyata. Tentu orang kaya, pemodal, pemegang kebijakan, yang rajin beribadah, dalam model pemikiran keagamaan yang demikian, mereka tergolong sebagai orang-orang saleh. Syariat yang terpenuhi, sangat mendukung kepemilikan kuasa ekonomi ini.

Dengan demikian, moda ekonomi, sangat menentukan moda interpretasi. Bukan hanya kelas sosial yang ditentukan oleh kuasa ekonomi, tetapi juga alur pikir penafsiran al-Qur’an, sangat dipengaruhi oleh kepemilikan modal dan sistem ekonomi (kapitalisme).

Sungguh paradoks tafsir syariati ini dengan nilai persamaan dalam agama. Sampai-sampai tatkala shalat berjamaah pun, kaya-miskin memiliki jarak yang bisa disaksikan. Dengan pakaian yang lebih bagus dan bersih, mudah ditebak, siapa yang menempati shaf yang paling depan. Sedang para petani, nelayan, buruh dan kuli bangunan, dengan baju seadanya, pastilah mesti mensyukuri tempat beribadah yang seadanya pula.

Inferior complex atau rasa sungkan dan rendah diri bagi kelas yang berbeda ini, menjadi gejala umum dalam situasi keagamaan. Secara psikologis, sebenarnya hati nurani setiap orang bisa menyaksikannya. Namun apa daya, tatkala akar masalahnya adalah persoalan keadilan ekonomi. Selalu ada masalah yang tak pernah terselesaikan menyangkut redistribusi ekonomi yang timpang.

Di sinilah sebenarnya, puasa mesti lebih bermakna dan memberikan inspirasi pembebasan jarak sosial bagi seluruh umat. Puasa sebagai upaya untuk merasakan “lapar” adalah penghayatan bagaimana musim paceklik yang senantiasa menimpa orang-orang miskin. Karena itu, jika kelaparan – dalam artian yang sebenarnya – yang dialami para papa disebabkan oleh distribusi kapital yang tidak merata, puasa telah memberikan tantangan, apakah kita mampu menyelesaikan masalah struktural tersebut.

Demikianlah, puasa mengajarkan nilai kesetaraan (egalitarianisme). Akhirul kalam, ada baiknya kita memperhatikan peringatan al-Quran bahwa, “Berdustalah mereka yang mengaku saleh, sementara mereka tidak memiliki tanggungjawab sosial terhadap ketimpangan dan marginalisasi sosial.”

*Ditulis untuk menjawab pertanyaan saudara Devrina Nova, seorang pengajar anak-anak jalanan dan anak-anak miskin kota di Malang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: