kataitukata

Puasa sebagai Kritik Sosial

In Uncategorized on September 9, 2011 at 3:44 am

BERDUSTALAH mereka yang mengaku saleh, sementara mereka tidak memiliki tanggungjawab sosial terhadap ketimpangan dan marginalisasi sosial – al-Ma’un –

Kutipan ayat al-Quran di atas adalah intisari dari makna spiritualisme Islam yang universal. Termasuk pula dalam ibadah puasa. Sejatinya manusia yang saleh, Ia tiada menjauhkan jarak antara nilai kemanusiaan dalam hati nuraninya dengan tindak laku sosial dalam kehidupan nyata.

Menurut catatan sejarah, istilah Ramadhan sendiri sudah ada sebelum Islam mengakomodasinya sebagai salah satu ritual wajib, di antara empat arkan al-Islam lainnya. Dalam tradisi Arab pra-Islam, bulan ini bermakna kering kerontang, panas yang membakar dan paceklik yang menyebabkan kelaparan berkepanjangan. Betapa sejak kelahirannya, Ramadhan adalah keprihatinan sosial tatkala seluruh masyarakat gurun di Jazirah Arab mengalami kesusahan.

Tentu saja, makna simbolik yang sangat mendalam menunjuk lebih kepada soal ketragisan hidup, dari pada hura-hura. Terminologi “kelaparan” yang disari dari konteks tanah kelahiran nabi ini memiliki arti sebagai musuh kemanusiaan. Sama sekali bukan serupa bumbu lezat sebagaimana halnya tatkala kita membayangkan bahwa puasa separoh hari sampai matahari tenggelam, akan menambah nikmat berbuka puasa. Pelampiasan yang kurang bermoral.

Namun sayangnya, masyarakat dewasa ini enggan menggali makna yang demikian. Banyak kaum Muslimin, seringkali menyongsong bulan suci dengan mementingkan suasana kulturalnya, ketimbang refleksi ritualnya. Budaya kita membiasakan untuk makan enak ketika berpuasa.

Lumrah, ideologi konsumerisme semakin menjamur tatkala bulan puasa tiba. Rakus dan serakah menjadi perilaku yang ordiner, yang bisa disaksikan saat waktu berbuka. Sampah-sampah jelas lebih menumpuk dari hari-hari biasa.

Kondisi tersebut sulit berubah. Para pengkhutbah atau para ustadz di televisi hanya menekankan soal aturan dan tata cara puasa yang syariati. Hal ihwal itu, seharusnya sudah selesai diperbincangkan di bangku sekolah dasar.

Dua hal yang kiranya wajib menurut agamawan tersebut adalah peringatan agar tidak lupa membaca nawaitu di waktu sahur, atau menyangkut persoalan yang membatalkannya. Selebihnya mungkin adalah anjuran agar lebih banyak membaca kitab suci dan banyak-banyak mencari pahala dengan bersedekah. Suatu pemaknaan ritual yang lagi-lagi sangat menekankan kepahalaan dari pada refleksi kesadaran yang memiliki perspektif sosial kemanusiaan.

Ramadhan yang bermakna kelaparan yang membakar, akhir-akhir ini menjadi gejala sosial yang merekah di permukaan. Banyak rakyat lapar, bukan seperti lapar yang kita rasakan (puasa), tetapi karena pengaruh politik dan distribusi ekonomi yang timpang. Bahkan mereka tiada berdaya untuk meredam amarah perutnya berhari-hari. Suatu kondisi yang serba sulit ini jelas bukan bersifat individual, tetapi lebih kepada akibat-akibat struktural.

Jadi yang terpenting bagi seluruh umat, beranikah menantang diri sendiri untuk turut berpuasa yang dibarengi dengan kesadaran dan ideologi yang lebih bermakna? Jika paceklik yang hadir sebagai fenomena kita disebabkan oleh ketidakadilan sosial, mampukah kita turut andil dalam cipta keadilan bagi para papa?

Inilah kiranya bagi orang-orang yang berpuasa, untuk membermaknakan puasanya. Berpuasa adalah keprihatinan sosial. Berpuasa berarti turut memperjuangkan hak-hak kemanusiaan dan keadilan sosial (amar ma’ruf), pula menghadang dehumanisasi (nahi munkar), agar tiada hanya mendapat lapar dan dahaga.

Sesungguhnya al-Quran mengabarkan bahwa, “Pada bulan Ramadhan yang prihatin ini, turunlah al-Quran sebagai petunjuk dan makna-makna, serta pembeda di antara engkau yang peduli pada perubahan sosial dengan yang diam saja.

*Penulis adalah Warga Negara Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: