kataitukata

Revitalisasi Islam Transformatif

In Uncategorized on September 9, 2011 at 3:52 am

Kiranya kita bergerak dalam agenda strategis revitalisasi Islam transformatif. Agenda ini adalah untuk menguatkan kembali vitalnya misi teologis-kebudayaan yang berorientasi pada perubahan sosial.

Di tengah karut marutnya situasi kebangsaan, tepat di bulan Ramadhan yang mulia ini, sangat baik jika kita membaca dan mendefinisikan kembali prospek Islam dan perubahan sosial di Indonesia. Ada pertanyaan penting yang muncul dalam hubungannya dengan akar masalah sosial dan fundamen teologis-kebudayaan masyarakat kita, apakah agama dapat diupayakan sebagai solusi kebangsaan yang berjalan beriringan dengan agenda politik advokasi yang memihak masyarakat marginal?

Fakta yang sulit kita pungkiri adalah kerapkali pemikiran keagamaan yang pluralistik terlampau melayani banyak daya, termasuk juga kuasa dan kekuatan ekonomi (kapitalisme). Sulit membayangkan agama bisa keluar dan bergumul dengan teori sosial kritis dalam rangka menerobos kemelut problem sosial yang semakin mendorong kepada kegagalan berbangsa dan bernegara.

Agama, teologi, kebudayaan, simbol-simbol, sakralitas dan garis makna lainnya telah menjadi komoditas bagi ideologi dan kepentingan politik sesaat. Termasuk agama yang mengaku konservatif-skripturalistik sekalipun, penganutnya kehilangan dimensi kritis beragama sehingga tega untuk berlaku radikal, mengupayakan kekerasan, dan menyemai benih-benih teror.

Sedangkan sebagian lainnya, tengah menikmati jeratan budaya dan tren yang berorientasi kepentingan pasar. Agama secara natural memodifikasi dirinya menjadi agama yang pro konsumeristik, marketabel, mengutamakan penampilan dan akting di depan media-media elektronik dari pada melaksanakan betul misi keagamaan yang sesungguhnya.

Sebagian orang saleh tidak pernah berpikir panjang, apalagi menghayati makna beragama yang berupaya dalam agenda pemerdekaan sosial sebagaimana misi yang diemban para nabi (profetisme). Para ulama, para ustadz dan penkhutbah hanya terjebak pada rutinitas ritual keseharian, hal-hal fiqihiyyah yang bersifat furu’, dan seluruh aspek kehidupan diukur dalam pandangan benar salah yang ekstrim (a dualistic world view).

Di sinilah kiranya sangat menarik untuk mempromosikan kolaborasi antara teologi dengan teori sosial kritis. Jadi dalam upaya keprihatinan sosial, selain dapat melakukan transformasi dan perubahan sosial seperti yang diperintahkan Allah SWT, pula mudah-mudahan mendapat balasan pahala dariNya.

Apa yang mesti kita perbuat? Cendekiawan Muslim Indonesia mencoba menjawabnya. Gus Dur (alm. Semoga Allah mengangkatnya ke tempat yang tinggi) menganjurkan agar para ulama tidak terjebak dalam politik praktis yang terlampau pragmatis dan menipu. Politik yang demikian hanya membawa kemudharatan. Kiranya timbang ulang intelektualitas (al-muhafadzhah ‘ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah) disertai dengan gerakan politik dari arus akar rumput yang memihak orang-orang miskin perlu diupayakan dengan baik.

Kendati demikian, lanjut Ulama’ yang bernama asli KH. Abdurrahman Wahid ini, hendaknya umat tidak perlu pusing menghadapi rahmat keragaman-keberbedaan-multikuluralitas, bahkan sejatinya tidak pernah ada perbedaan pendapat itu, yang ada hanya salah paham belaka. Kita hanya perlu bersyukur dengan terus bergerak menuju kemaslahatan. Perbuat apapun demi transformasi sosial, sekarang dan di mana pun pula. Perbuat kema’rufan dan lawan segala kemunkaran sosial dengan cara yang baik dan terbaik. Wa Allahu a’lam bi al-shawwab.

Penulis adalah pengagum Gus Dur.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: