kataitukata

Pak Tua dan Anjing Muda

In Uncategorized on October 19, 2011 at 7:16 am

Oleh: Hasnan Bachtiar

“Cinta dan sakit jiwa adalah saudara kembar. Teruslah tertawa, bergembira dengan kegilaan.”

Entahlah, kegilaan ini dimulai dari cinta atau cinta dimulai dari kegilaan. Mencintai adalah seberapa sabar ia hari ini harus duduk berlama-lama menikmati secangkir kopi mocca, yang dihirup wanginya setiap setengah jam sekali.

Lelaki itu memang sudah beruban, wajahnya berkerut, tangan kirinya menyangga, menggaruk rambutnya yang terasa gatal karena ulah nakal kehidupan. Tangan kanannya menyeruput pelan tapi pasti, kopi yang belum dingin, lalu menghempaskan nafas serasa lega. “Hah…”.

Tetapi, sejurus kemudian seraya memaki-mbatin, “Anjing…!” duduk santai di depannya memelototi seonggok daging hidup yang tak berdaya di seberang jalan. Tubuh itu duduk-setengah berjongkok memeluk kedua kaki, sedang punggung dan pundak kirinya tersangga pohon besar yang kokoh.

Tempat duduk itu sangat nyaman, tak tergerus hangat terik mentari, tak terbelai halus rintihan gerimis dan tak pula harus merogoh kocek berlebih. Namun siang ini terasa sangat panas. Di samping kaca lebar, itulah di mana ia memperhatikan “Anjing” umpatannya tadi.

Kini ia memperhatikan putaran jarum jam. Kira-kira hampir tiga jam ia belum beranjak, bahkan merubah posisi duduknya. Lalu, ia mengangkat tangan sambil memantik ibu dan jari tengahnya, “ctak” (isyarat, hei kemarilah).

Datanglah gadis muda yang cantik, meskipun tak begitu seksi karena pakaiannya nampak sopan. “Kali ini bawakan aku secangkir kopi seperti ini lagi!” serunya tegas, serak dan putus-putus. Pelayan itu hanya menundukkan wajahnya sembari tersenyum cerah.

Setelah segelas kopi mocca panas datang, ia tak lagi menyeruput minumannya yang semula, namun meminumnya tanpa etika, tanpa gaya sama sekali, seperti derita tenggorokan yang kering, “haus”, menghabiskan begitu saja air hitam-coklat tak terlalu manis itu.

Semena-mena ia meninggalkan meja-kursinya, menaruh tas kulit coklat berisi laptop sekenanya, tak merasa kuatir sedikitpun barangnya akan dicuri pencuri. Ia berjalan gagah, punggunya agak bengkok ke depan, yang kuyakin, kegagahannya tak bakal runtuh.

Ia mengangkat tangan kanan lalu menoleh kekiri, mengayunkan, melambaikan sedikit. Kendaraan-kendaraan, mobil-mobil, motor-motor dan sepeda-sepeda berhenti. Tentulah demikian, karena memang berjalan di jalur hitam-putih memotong jalan raya, menuju orang diam di seberang jalan yang bersandar di pohon besar. Tangan kirinya menenteng secangkir kopi panas dengan tangkas.

***

Benarlah dugaanku, ia menemui Anjing umpatannya.

“Hei Anjing! Kupandang, kuperhatikan, kau benar-benar Anjing! Sangat mengganggu pandanganku dari sana” makinya menyemburat sambil menunjuk kafe tempat ia duduk tadi. “Maumu apa, mengotori pandang luasku!? Hei! Jawab…, dasar Anjing…?”

Memang senyatanya daging ini lemas, tak berdaya, lalu ia mengangkat mukanya, kaget. Mukanya memelas, matanya menatap tak bergairah, kantung-matanya menggantung tebal, sepertinya ia tak pernah hidup, tak pernah tidur. Lalu berucap, “Ha…?” – maksudnya ingin mendengar ulang, apa maunya si orang sepuh tadi – kulihat dahinya bergaris-garis, berlipat-lipat, seperti gelombang air.

“Apa yang kau lakukan, duduk di sini seharian, berhari-hari, tanpa makan minum, apa yang kau lakukan hei Anjing muda!?”

(Orang muda itu berkulit putih bersih, namun tetap saja terlihat kumuh, meskipun kaos tipis yang ia pakai nampak masih bersih dan tak terlalu bau. Hidungnya mancung, dan menurutku lebih tampan bila disandingkan dengan Antonio Banderas). Dengan bodohnya ia mengulang jawaban, “Ha…?”

“Ah…, bodohnya kau Anjing…., lalu duduk di pinggir trotoar, kira-kira setengah meter mendekat ke Anjing muda itu. Sekarang posisinya sama. Ia sederajat dengan orang muda itu, karena sama-sama di bawah.

“Hei Anjing, kau kenapa duduk berdiam di sini, dan kukira, kau tak hidup, mati pula tidak…,” ia memperpelan suaranya.

Sekarang bukan sekedar menyeruput kopi panasnya, tapi dihirupnya dalam-dalam. Seolah tak peduli dengan kejadian hidup apa saja, tanpa beban, lepas begitu saja. Ia memandang langit biru dengan teriknya yang menyengat, melawan arus, namun takkan pernah tersengat, karena memang pohon besar tempat Anjing muda bersandar, begitu rindang, lebat dengan daun-daun yang saling menyelimuti.

“Aku dulu bukan Anjing,” hanya itu yang Anjing muda katakan.

Kulihat, matanya berkaca-kaca lalu, menundukkan muka pun ia tak berani, hanya wajah yang pasrah dengan keadaan. Seolah tak ada tempat lagi untuk menyembunyikan malu.

“Dan kau juga anjing, bukan?” selorohnya asal untuk orang tua beruban yang masih menikmati kopi panas. Sontak saja kaget mendengar selentingan panas si Anjing muda.

“Kau bukan sekedar binatang, hei Anjing muda! Tapi kau sudah gila! Ucapanmu ngawur, ingin sekali tanganku ini menamparmu! Rasa-rasanya kau ingin meludahiku!?” Ternyata sampai juga ia menapaki api amarah, naik darah, agak memerah mukanya karena mendengar gongongan Anjing muda.

Anjing muda itu nyengir, menangis, meratap, merintih-rintih, tapi juga tertawa, terkekeh-kekeh. Hampir tak ada batas lagi antara senang dan susah, gembira dan sedih, atau gila-sakit jiwa dan gila-genius luar biasa.

Hari semakin sore, karena matahari mulai condong. Merah surya berubah menjadi oranye di lautan udara lepas yang menyimpan-memantulkan energi besar semesta. Burung-burung gereja beterbangan pulang ke kandang-kandang alaminya, dan kulihat kopinya tinggal beberapa sruput lagi.

Pak Tua:
“Lantas kenapa aku juga kau sebut anjing, hei Anjing muda?”

Anjing Muda:
“Aku dulu pemilik seluruh kota ini, termasuk kafemu yang nampak ramai sekali. Benar aku masih muda, tapi sepuluh tahun yang lalu, usiaku masih 17 tahun, tapi semuanya telah dalam genggamanku.”

Pak Tua:
“Aku tak mengerti apa maksudmu…?”

Anjing Muda:
“Aku juga tidur dengan keempat anak perempuanmu, lalu dua di antaranya hamil bukan!? Dan kau juga yang menyuruh menggugurkannya! Seluruh gadis cantik dan yang mampu mempesonaku di kota ini ada 90 orang, dan semuanya sudah kutiduri pula.”

“Jangan berpikiran macam-macam karena badanku kurus lalu aku penyakitan pak tua, semua yang kutiduri, mereka semua gadis baik-baik, virgin! Aku si Raja Cinta yang tenar itu!”

“Engkau tahu pak tua, siapa yang menguasai pusat perjudian di kota ini? Aku juga yang punya! Rumah bordil dan apartemen di tengah kota juga milikku!”

“Kafemu memang ramai, tapi diskotik di ujung jalan sangat ramai, itu semua karena kendaliku. Tempat itu surga obat-obat terlarang. Mariyuana, sabu-sabu, ekstasi, kokain dan heroin, semuanya berkualitas dan komoditas utama!”

“Aku biasa membunuh orang. Saingan bisnisku, bos-bos yang enggan menguntungkanku dan siapapun yang menyulut kebencianku!”

Pak Tua:
“Kau bajingan itu rupanya!?” Bukan sekedar mengumpat, tapi sedikit terkejut dan merasa bangga karena duduk bersama dengan orang gila-tak berguna, sekaligus bos besar yang sangar.

Anjing muda:
“Benar sekali! Semuanya tunduk padaku! Walikota, pengusaha, polisi, jaksa, para hakim, guru-guru, anak-anak kecil, ibu-ibu, para pengemis pun suka padaku!”

“Semuanya suka padaku! Aku yang memelihara mereka, dengan uang apa saja yang ada di gengamku! Kau tahu gereja-gereja, kuil-kuil, Katedral kota, masjid-masjid, semuanya terbangun atas kuasaku, bahkan khutbah-khutbah agama pun bisa kupesan sesuai selera dan tak ada satupun yang berani melawan!”

“Tapi kau tahu siapa aku?”

Pak tua hanya menggelengkan kepalanya sekali.

“Aku lah si Raja Iblis dan Malaikat dalam satu jasad!”

“Ah…, sudahlah, tidak penting baik dan buruk, sama saja. Semuanya sama saja, orang waras atau edan sepertiku, sama saja.”

Sejurus kemudian, mereka berdua terdiam, semuanya menjadi sunyi, bertambah sunyi karena tak ada satupun kendaraan yang melintas, sepi.

“Ya, semuanya sama saja. Baik itu dari buruk. Jahat itu dari kebaikan. Benar dan salah adalah dua sisi mata uang. Cinta dan sakit jiwa adalah bersaudara.” Pak Tua menginsyafi suatu hal yang sangat penting dalam hidupnya.

***

“Aku masih tak mengerti hei Anjing muda, mengapa kau sebut aku anjing pula!?” Kini kata yang keluar dari mulutnya tak lagi bermuatan emosi, namun tegas ingin tahu betul apa yang sedang terjadi.

Anjing muda:
“Kau bodoh sekali, bukannya itu semua menandakan, dengan kuasa, dengan uang, dengan kekuatan kepalamu pula, dengan keberanianmu, semuanya sama saja? Semuanya bisa kukendalikan!?”

“Bagiku tak ada bedanya antara pria hidung belang, penjudi, tukang minum, dan perampok dengan pemimpin agama, pastur, pendeta, ustadz, mereka semua sama saja!”

“Mereka dipenjara oleh nafsu-nafsu, nafsu birahi, nafsu amarah, dan keinginan-keinginan yang ‘harus’ dipenuhi, termasuk nafsu religius, memenuhi keingingan Tuhan yang menurutku tak ada bedanya dengan memenuhi keinginan iblis!”

“Tidak ada baik dan buruk, tidak pula benar dan salah, tidak ada indah dan jelek, yang hitam untuk kebahagiaan, yang putih pula demikian. Gelap dan terang sama saja, tidak ada bedanya sama sekali!”

Pak Tua:
“Anjing muda, aku semakin tak mengerti ocehanmu!”

Anjing muda:
“Bebal benar kau anjing! Dengan kehendak, aku bisa mencipta apapun!”

“Kubangun sekolah-sekolah agama dari hasil pelacuran, kudirikan rumah bordil dan pusat perjudian dari hasil bisnis percetakan dan penerbitan kitab suci, buku-buku, literatur-literatur keagamaan, bahkan separuhnya dari wakaf dan uang zakat yang diberikan oleh kolegaku yang agamis!”

“Menurutku, menurut kuasaku, mereka yang ditangkap polisi, dipidanakan oleh jaksa dan diadili oleh hakim, kemudian dipenjarakan, bukan hanya para pencuri, perampok dan pembunuh. Siapapun yang semisal dengan mereka, juga mestinya dipenjarakan!”

“Para agamawan, para orang suci, para pendeta, mereka mengajak manusia berbuat baik atas nama Tuhan? Tuhan yang mana? Siapa dia? Berbuat baik apa? Tindakan mereka? Bukannya mereka sama saja?”

“Sesungguhnya mereka telah mencuri waktu, merampok ‘diri’ dan menamakannya kesalehan, membunuh ‘manusia’ atas nama memenjarakan nafsu, hasrat dan kejahatan, tapi yang mana? Nafsu, hasrat, dan kepentingan Tuhanlah kejahatan itu!”

Pak Tua:
“Demi Tuhanku yang kucintai, aku tak mengerti kata-katamu Ajing muda…, apa maksudnya?”

Anjing muda:
“Sekarang aku bertanya padamu, apa bedanya bersembahyang di kuil, ruku’ dan sujud di depan altar menghadap Tuhan dengan mandi bersama gadis-gadis seksi berdada besar? Sama-sama menyenangkan kan? Lalu apa bedanya?”

Pak Tua:
“Demi Tuhanku, agama memiliki hukum-hukum yang harus dipenuhi, untuk keteraturan!”

Anjing muda:
“Agama yang mana anjing tua!? Siapa yang menulis kitab suci? Tuhan? Bohong sekali jika penulis kitab suci bak puisi itu Tuhan! Kapan dia menulisnya? Di mana? Kecuali kamu sakit, atau aku yang sakit!”

“Tak pentinglah…, tapi yang kau mesti tahu dengan hatimu, kuyakini Tuhan tetaplah ada. Namun bukan berarti Ia punya pensil dan selembar kertas, atau Ia punya mesin ketik untuk menulis syair-syair. Semua tulisan sama saja. Ya tulisan. Manusia seperti aku ini yang membuat.”

“Itu sekedar tulisan pak tua. Tak mungkin makna semesta, ide-ide, pikiran-pikiran Tuhan terangkum dalam buku kecil bersampul kulit itu pak tua!”

Pak Tua:
“Aku mengerti, kita berdua bertuhan, tetapi kau tak beragama, atau kau punya agamamu sendiri, seleramu.”

“Lalu bagaimana jika ibuku adalah isteriku, anakku juga isteriku dan anak-anak gadisku memiliki lebih dari seratus suami? Itu yang kamu inginkan!? Atau satu suami saja dalam kitab suci? Atau isteri adalah isteri yang kita cintai, kami saling memasangkan cincin di jari manis dan berciuman di depan pendeta atas nama Tuhan, berjanji sehidup semati tanpa terpisahkan kecuali karena kematian?”

“Lalu bagaimana jika barang-barangmu, rumah-rumah, kantor, pabrik, ladang, sekolah-sekolah adalah milikku juga, secara bergantian semauku, aku pun memilikinya? Ataukah milikmu adalah milikmu yang absah, kau dapat dari hasil kerja kerasmu, keringat darahmu?”

“Lalu bagimana jika sesukaku aku menyeret orang yang kubenci, kuseret ibumu, kuperkosa kemudian kubunuh di alun-alun kota dan mayatnya kugantung di pelataran? Ataukah berlaku seperti nasehat dalam kitab suci, hidup rukun, harmonis, saling menghormati, saling menyayangi dan hidup dalam damai?”

Anjing muda:
“Tak penting semua itu bagiku hei anjing! Sama sekali tak penting!”

“Inginku, kubikin sendiri agamaku, kitab suciku, norma-norma, hukum-hukum, aturan-aturan benar dan salah, baik dan buruk, bukankah semua itu mudah? Bukankah kau sendiri juga membuatnya, semua agama juga membuatnya, tuan-tuan mereka? Tapi nanti, tak perlulah dengan semua itu kau beri aku gelar nabi!”

Pak Tua:
“Bukannya tadi kau berbicara tak ada benar dan salah, baik dan buruk!?”

Anjing muda:
“Apa bedanya ‘ada’ dengan ‘tak ada’ bagiku? Sama sekali aku tak tertarik untuk mengikuti aturan apa pun yang menurutku tak penting.”

“Kau sama saja denganku, kau anjing, lidahmu terlalu sering menjilat, menjilat Tuhanmu, agamamu, kitab sucimu, dan tak apalah kau sebut aku anjing pula, aku menjilat apapun sesukaku!”

Pak Tua:
“Demi Tuhan, Puji Tuhan, tak sesabar ini aku duduk menikmati kopi mocca yang begitu nikmat…,” lalu ia mengaitkan kancing-kancing jas hitam yang dikenakan, mengusap-usap kotoran patahan daun-daun kering yang jatuh dari atas, dan barulah aku tahu mengapa tadi menaruh tasnya sembarangan di kafe, lalu memesan kopi panas dan membawanya keluar ke seberang jalan tanpa meminta izin terlebih dahulu.

Ternyata, ia “bos” pemilik kafe di seberang tempat ia duduk. Ia merasa tak nyaman dengan orang gila yang ia namakan Anjing muda itu, karena mengurangi estetika mengopi dari kafenya.

Lalu ia bertutur kembali di episode kopi mocca ini, “Apa yang kau tahu tentang ‘cinta’ hei Anjing bijak?”

Anjing muda:
“Cinta itu cinta, atau cinta itu tak ada, sama saja.”

“Sesuatu yang ada dan tak ada tak penting, sama saja!”

“Seperti halnya aku hidup, aku mati, sama saja.”

“Aku makan, minum, tidur dengan perempuan, atau tidak, sama saja!”

“Aku tahu kau orang baik orang tua, kau taat aturan-aturan! Tetapi aku lebih dari itu, aku tahu banyak hal dan tak banyak orang yang mengetahuinya. Hingga aku menemukan kebenaran bahwa benar dan salah menjadi tak penting lagi!”

“Aku hanya bergembira dengan kebenaran, ketiadaan, ya, kebenaran itu patut untuk ditertawakan! Apa kamu pernah berpikir jika yang benar itu ternyata sebenarnya adalah salah, dan sebaliknya yang salah adalah benar, atau keduanya salah, atau keduanya benar? Semua itu terjadi Pak Tua…”

Lalu ia tertawa lepas, mengangkat wajah menengadah ke langit, sampai kedua matanya tertutup, “Ha ha ha ha…”

***
Orang tua itu merogoh sesuatu yang ia simpan di balik punggungnya. Tepatnya, sesuatu yang ia selipkan di celananya, “pistol”. Ia mengelapnya dengan sapu tangan yang diambil dari saku celana, mengecek enam peluru yang menempel di wadah silinder dan menarik pemicunya.

Kini, ia hendak bertutur ringan, “Kau hebat sekali Anjing muda. Ya, cinta itu tak ada, atau cinta itu cinta saja, atau cinta itu, terserah aku menamakannya apa. Mungkin cinta itu, seberapa sabar aku hari ini harus duduk berlama-lama bersamamu menikmati secangkir kopi mocca. Semua kata tidak bermakna atau semua kata bermakna banyak tak terhingga, sama saja!”

Anjing muda:
“Benar-benar mengerikan pak tua! Kau benar-benar anjing yang mengerikan orang tua! Ha ha ha ha…”

Pak Tua:
“Anjing muda, terimakasih, karenamu, aku telah mengerti cinta dan kehidupan itu apa.”

“Sekarang aku ingin tahu, aku ingin kau mencontohkan bagaimana kau menertawakan kebenaran itu! Ini, ambillah pistolku!”

Anjing muda:
“Ya…?” Kini nampak kerutan tanya di antara kedua alisnya yang bertarung.

Pak Tua:
“Cinta itu tidak hidup dan tidak mati, atau tidak apa pun! Sama saja bukan!? Benarkah jika kau mati, kau tetap hidup, atau sebaliknya, dan apapun, sama saja bukan!? Sekarang hadapkanlah pistol itu dikepalamu, tariklah pelatuknya! Pastilah sama saja bukan!?”

Ditariklah pelatuk pistol yang digenggam tangan kanan Anjing muda itu, meledaklah, pecah kepalanya tertembus peluru!

Orang tua itu terpental menjauh dari tempat duduknya yang semula, tak ada apapun yang ia pikirkan lagi, sama saja dengan anak muda itu, tak ada apapun, atau ada apapun tak berhingga, sama saja.

Pak Tua dan seorang muda itu, benarlah mereka. Cinta atau sakit jiwa, keduanya adalah seni kehidupan yang selayaknya dinikmati dengan kesungguhan. Maka, tertawalah dan terus tertawa, berbahagia.

Pak Tua itu, ia ketakutan sekali setelah apa yang telah terjadi, wajahnya memucat. Ia melihat sobekan kertas yang digenggam si Anjing muda, lalu mengambilnya. Kertas itu dibukanya, bertuliskan;

Dem un bekannten Gott
Kepada Tuhan yang tak dikenal

Ich will dich kennen,
Kuingin mengenalmu,

Unbekannter,
Yang tak dikenal,

Due tief in meine Seele Greifender,
Kau, yang menggarap jiwaku dalam-dalam,

Mein Leben wie ein Sturm Durchschweifender,
yang mengembarai kehidupanku bagaikan badai,

Du Unfaβbarer,
Kau yang tak dapat dimengerti,

mir Verwandter!
yang sejenis denganku!

Ich will dich kennen,
Kuingin mengenalmu,

selbst dir dienen
malahan menjadi hambamu
(Friedrich Nietzsche)

Malang, 19 Oktober 2011

Tulisan ini dimuat di Sastra Indonesia, Pustaka Pujangga Yogyakarta 2011 [www.sastra-indonesia.com].

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: