kataitukata

Sindiran Sejarah Kepartaian

In Uncategorized on October 31, 2011 at 3:34 am

Judul : Partai Demokrat Antek Pendjadjah
Penulis : Hendri F. Isnaeni
Penerbit : Ufuk Press, Jakarta
Tahun : 2011
Tebal : Cover + 187 + iv
Peresensi : Hasnan Bachtiar

SITUASI SULIT saat ini memang perlu sindiran. Tatkala kebenaran sedang tak berbunyi, maka tak ada lagi yang patut untuk diperdengarkan, kecuali kehalusan rasa. Tulisan populer, lukisan, puisi, lagu, bahkan aksi lucu-lucuan para komedian-lah yang menjadi pelipur lara kebenaran.

Apa kebenaran memang tidak bisa terungkap? Sejatinya, kebenaran seperti terasi. Segala bentuk kesalahan dan bau busuk, pastilah terendus oleh hidung manusia normal. Manusia berhati nurani. Dengan demikian, marilah kita baca bersama, masakan sindiran, kritik, umpatan, marah-marah yang tersaji dengan bumbu-bumbu sejarah dan komedi. Hendri F. Isnaeni, seorang kritikus muda tengah meluncurkan buku bertajuk, “Partai Demokrat, Antek Pendjadjah!”

Buku ini luar biasa. Sejak mukaddimah, sang penulis mengisyaratkan bahwa l’histoire se répète! Sejarah berulang! Bak George Bernard Shaw, seorang aktor sosialis Irlandia yang sedang berteriak mencela lelaku bebal manusia yang selalu saja mengulangi kesalahannya (2011: 1-5).

Sebenarnya, apa yang diulang oleh putaran roda takdir? Dewasa ini, kutukan sejarah sedang menjangkiti Indonesia. Partai politik lebih merupakan kepanjangan tangan penjajah, dari pada wadah aspirasi rakyat. Bisa kita saksikan bersama, tanpa kebohongan, tiada pula keraguan, parpol besar sedang memainkan kejahatan besar.

Dengan sejuta trik dan intrik, kelompok adikuasa menutup segala kemungkinan kesalahannya terungkap, termasuk di hadapan hukum negara. Tidak heran jika kekuasaan selalu meraup kemenangan. Kuasa senantiasa berdiri kokoh di balik pengetahuan, wacana, keadilan, bahkan kebenaran.

Jika parpol besar didirikan hanya untuk melayani kekuasaan, individu, sekelompok orang dan menafikan kedaulatan, sama halnya mereka dengan pelayan penjajah. Tidak harus penjajah yang berwujud utuh seperti dalam ingatan kelam kita, tetapi bentuk kuasa dalam bangsa yang menjerat rakyatnya sendiri. Menurut tutur orang desa, kejahatan dari dalam lebih “kompeni” dari pada kompeni Belanda.

Kendati demikian, tidak perlu terlalu gundah. Banyak hikmah dengan membaca dan belajar kepada sejarah. Bahkan sejarawan Bonie Triyana menandaskan, “Sejarah memang selalu berulang dan seringkali polanya tidak berubah. Melalui buku ini, kita menemukan nama partai yang ternyata juga tak berubah. Ternyata sejarah bukan sekedar kisah kepahlawanan dan heroisme tapi bisa juga tentang pengkhianatan dan kekonyolan” (endorsement).

Jelas-jelas model partai semacam ini tidak mengharapkan adanya kemerdekaan sejati. Lebih penting memperjuangkan pragmatisme secara total. Secara vulgar Isnaeni menyebut bahwa “Partai Demokrat Anti Kemerdekaan RI” (2011: 19). Kalau dulu kita dijajah Belanda, maka sekarang kita sedang dijajah oleh kawan sendiri. Keduanya, – penjajah – selalu tidak tertarik untuk memikirkan kemelaratan rakyat, kelaparan, kesedihan, dan kesengsaraan. Sama-sama penjajah, sejak dahulu hingga sekarang.

Tidak berhenti di sini, mahasiswa Falsafah dan Agama Universitas Paramadina ini juga menulis bahwa, orang-orang bangsa menyebut pendiri Partai Demokrat sebagai quilsing Belanda (pengkhianat) (2011: 43). Maka, seluruh rakyat Indonesia mengutuknya. Mengutuk segala hal yang mengkhianati keadilan dan kemanusiaan, apapun bentuknya.

Pembaca yang budiman, sekali lagi, lewat karya Isnaeni, kita tidak hanya diajak untuk belajar sejarah, namun juga belajar kepada sejarah. Banyak pelajaran penting yang dapat diambil dari sejarah kepartaian Indonesia. Termasuk belajar menjadi orang bangsa yang utuh, tidak berkepribadian yang terpecah: seorang Indonesia namun penjajah.

Seperti yang dikutip dalam De Schakel (23 Mei 1946), seorang pendiri partai berkata, “Kalau saya bukan orang Jawa, saya akan jatuh cinta dengan Belanda.” Ini hanya sindirian. Mungkin kalau sekarang, hanya modelnya saja yang berubah. “Kalau saya bukan orang Indonesia, saya akan jatuh cinta pada uang dan kekuasaan.” Dengan menikmati buku ini, marilah menjadi orang bangsa yang purna, bukan quilsing harta dan kuasa. []

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Matan, Edisi 63, Oktober 2011 dengan pengeditan seperlunya.

  1. LANJUTKAN

  2. Q.S : Al-A’raf Ayat : 3

    ittabi’uu maa unzila ilaykum min rabbikum walaa tattabi’uu min duunihi awliyaa-a qaliilan maa tadzakkaruuna

    “Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya)”.

    Maksudnya: pemimpin-pemimpin yang membawamu kepada kesesatan.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: