kataitukata

Asketisme Islam, Gaya Hidup Kenabian

In Uncategorized on March 22, 2012 at 9:12 am

Oleh. Hasnan Bachtiar*

Jabatan adalah derivasi tugas-tugas kenabian. Karena itu, tatkala amanah telah dipikul, selayaknya manusia yang sejati adalah hidup bersih dan terhormat”

 

ITULAH sepenggal nasehat yang terus terngiang di telinga penulis hingga kini. Wacana asketisme dan kenabian, digulirkan oleh ratusan pemikir, ilmuan dan para kyai Muhammadiyah se-Jawa Timur, dalam forum kajian Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, di Universitas Muhammadiyah Malang pada 29 Januari 2012.

Forum mulia yang bertajuk “Restorasi Asketisme Islam untuk Keteladanan Nasional” itu menyimpulkan bahwa, kepemimpinan di negeri ini kini sedang karut marut. Banyak pemimpin yang lalai akan amanah. Dengan kata lain, jabatan adalah ladang empuk untuk melampiaskan hasrat pragmatisme yang tak terbendung. Karena itulah, sangat penting adanya restorasi asketisme Islam.

Restorasi yang dimaksud adalah, menghadirkan kembali trend asketik di tengah umat yang terombang-ambing gelombang hedonisme akut. Dalam kehidupan yang serba mengabdikan diri pada materi (uang), sikap asketik menjadi penting. Sesungguhnya, inilah substansi dan strategi yang sangat baik. Melalui politik kebudayaan, diharapkan secara berangsur, akan mengobati bangsa dari penyakit “berbudaya korupsi”.

***

Secara lebih jauh, Prof. Syafiq Mughni menjelaskan bahwa, sebelum melaksanakan asketisme, alangkah baiknya memahami sejarahnya. Secara historis, asketisme mengalami beberapa tahapan. Namun sejak kelahirannya, praktik kesederhanaan ini merupakan respon dari kehidupan dunia yang gemerlap.

Pada era klasik, di pelbagai wilayah Arab, asketisme mengalami modifikasi menjadi tasawuf falsafi yang mendapat pengaruh kuat dari tradisi filsafat Yunani dan teologi Islam yang skolastik (kalam). Pada puncaknya, lahirlah dua istilah penting dalam khazanah ini misalnya, hulûl dan wihdah al-wujûd. Keduanya, kurang lebih bermakna bukan sekedar “kebersatuan dengan Tuhan,” namun juga “musnahnya diri (hamba) yang materiil, sehingga yang ada tinggalah Tuhan semata”. Inilah respon terhadap kehidupan dunia yang fana.

Dalam situasi yang demikian, asketisme dianggap sebagai hal yang terlampau mewah, berlaku untuk kalangan ahli dan tentu saja bukan untuk orang awam. Tidak sembarang orang mampu mengalami kondisi ekstase batiniah. Dengan demikian, muncul rambu-rambu terhadap mereka yang melakukan praktik tasawuf, terlebih atas lantunan, “Ana al-haqq” atau “Lâ ilâha illa ana.”

Sebagian rambu merupakan solusi. Karena itu dalam periode berikutnya, praktik asketisme mesti memiliki mentor (mursyid), yang akan membimbing untuk mengenal Yang Ilahi, agar tidak tersesat dalam kekafiran. Setiap mursyid, memiliki jalan (tarîqah) tersendiri untuk mencapai kedalaman kalbu. Dalam periode ini, praktik asketisme menjadi “terlembagakan”, sesuai dengan tarikat atau metode yang dimiliki sang guru.

Pakar sejarah Islam ini melanjutkan, asketisme periode klasik, sangat berbeda dengan gaya modern. Di masa kini, tarikat atau asketisme yang terlembagakan menjadi kurang populer. Masyarakat perkotaan lebih gadrung pada trend asketisme yang individual, tidak terikat dan sesuai dengan modern life style. Inilah yang disebut dengan neo-sufisme.

Sayangnya, neo sufisme hanyalah gaya hidup yang tidak terlampau berhubungan dengan kondisi sosial bangsa dewasa ini. Antropolog Moeslim Abdurrahman menjelaskan bahwa, kegiatan keagamaan populer, di dominasi oleh kelas menengah baru, yang sama sekali tidak tertarik dalam agenda advokasi politik yang memihak kaum terpinggirkan (mustadh’afûn) (Moeslim Abdurrahman, 2009).

Menanggapi hal itu, KH. Saad Ibrahim menjelaskan bahwa, mestinya Muhammadiyah melihat peluang strategis asketisme, hubungannya dengan isu kebangsaan. Menurut pakar tafsir ini, bahkan kenabian pun, perlu strategi politik, sehingga hasilnya bisa dirasakan secara nyata.

Melalui fatwa Majelis Tarjih Muhammadiyah, diharapkan nantinya secara diskursif, mampu mempengaruhi ummat. Terlebih, wacana asketisme ini dapat menggandeng kelas menengah ekonomi. Jelas, agenda ini bukan pragmatis dalam pengertian yang negatif. Pragmatisme yang baik, adalah yang mengarahkan pada kemaslahatan umat. Dalam tradisi Islam, setiap yang maslahat, itulah jalan agama yang benar (al-mashlahah syariatun).

Wacana asketisme ini, harus menjangkau seluruh aspek kehidupan. Tidak hanya dalam aspek ekonomi, tetapi juga hukum, pemerintahan, politik, sosial dan pendidikan. Dalam sejarah Islam, Nabi SAW. juga mencontohkan hidup asketik, yang menjangkau seluruh bidang kehidupan. Prototipe manusia sempurna ini, tidak melulu melengkapi hidupnya dengan penghayatan teologis dan hanya melaksanakan ritualitas keagamaan belaka. Baginya, asketik termanifestasi dalam seluruh kehidupan sosial.

Seorang teoritisi profetisme terkemuka, Kuntowijoyo menjelaskan, betapa Rasulullah benar-benar mengajarkan asketisme sepanjang hayatnya. Itulah mengapa kemudian, asketisme Islam identik dengan filsafat kenabian. Tatkala Muhammad SAW. mi’raj ke langit ke tujuh, seorang sufi berkomentar bahwa, itulah puncak spiritualitas manusia beragama. Niscaya “kesadaran kesufian”, tidak memperkenankan diri pribadi untuk kembali ke dunia. Namun, “kesadaran kenabian” berbeda. Nabi memilih kembali ke tengah-tengah ummat, untuk menyelesaikan segala problem kemanusiaan.

Demikianlah, asketisme Islam sesungguhnya adalah gaya hidup kenabian. Seperti disinggung pada pembuka tulisan ini, jika diri pribadi, segala profesi atau bahkan “jabatan” dimengerti sebagai “tugas kenabian”, maka perilaku asketik, tidak mustahil akan mewujudkan good government, demokrasi, akuntabilitas, keadilan dan kesejahteraan publik. Di sinilah asketisme berlaku solutif bagi problem kebangsaan. []

 

*Peneliti filsafat di Pusat Studi Islam dan Filsafat (PSIF) UMM.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: