kataitukata

Fenomena Esemka dan Sosialisme Baru

In Uncategorized on March 22, 2012 at 8:53 am

PROGRESIFTAS yang mengejutkan. Tiba-tiba Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), memproduksi mobil yang canggih dan mewah berlabel “Kiat Esemka”. Apakah ini menandai bahwa pendidikan Indonesia telah memproduksi “para buruh”, ataukah “tenaga handal dan berkemajuan”?

Kedua pertanyaan itu, jelas menyangkut perdebatan dua mazhab pemikiran pendidikan. Di satu sisi, melalui nalar kritis atas kapitalisme, SMK disinyalir hanya memproduksi para buruh pabrik. Namun di sisi lain, ada sebagian golongan yang menangkap peluang positif pembangunan, sehingga mengklaim bahwa sekolah kejuruan telah melahirkan para profesional yang akan menjadi tumpuan bangsa.

Pendapat yang pertama lebih banyak menaruh perhatian pada persoalan ekonomi, sebagai refleksi kesejahteraan sosial. Kapitalisme dalam konteks dewasa ini, dianggap telah menjadi akar masalah adanya ketimpangan sosial. Para pemilik modal tentu saja lebih berdaya, dari pada mereka yang tidak berpunya. Karena itu, perlu dimaklumi sehingga mewabah suatu ungkapan, “Yang kaya semakin kaya, dan yang miskin semakin miskin.”

Kapitalisme tidak pernah memikirkan soal kesejahteraan rakyat. Para pemilik korporasi misalnya, memberikan perhatian yang besar terhadap akumulasi keuntungan bagi usahanya, secara individual, bukan secara sosial.

Dengan demikian, jika ada SMK yang mendidik siswanya menjadi ahli produksi, mungkin juga setara dengan “mesin”, maka mereka dianggap sebagai sekolah yang mendukung berjalannya kapitalisme. Bahkan di tengah pemberitaan media massa, secara sarkastik pernah muncul kalimat bahwa, “SMK, tidak lain hanya memproduksi buruh.”

Demikianlah pandangan pertama, yang sangat kritis terhadap fenomena yang rumit, menyangkut aspek ekonomi, sosial dan pendidikan. Pada intinya, pendidikan tidak selayaknya digunakan sebagai kepanjangan tangan kapitalisme.

Dalam sejarah, menyikapi persoalan yang mendunia ini, para ilmuan, teoritisi dan ahli pendidikan mazhab kritis jelas berkehendak untuk mengakhiri rezim kapitalis tersebut. Sosialisme baru yang dibawa oleh sederet pemikir Frankfurt School di Jerman, menyadarkan banyak kalangan bahwa, kapitalisme adalah pemikiran ekstrem yang mendukung kebebasan individual secara keterlaluan dan menjajah liyan yang tidak bermodal, kaum miskin, maupun kaum proletariat.

Di Indonesia, sejumlah kalangan yang peduli pada kasus SMK mafhum, bahwa sistem pendidikan ini semestinya tidak berkiblat pada paradigma kapitalistik. Singkat kata, pendidikan harus memproduksi manusia yang seutuhnya. Memanusiakan manusia, itulah kata kuncinya.

Di seberang pemikiran yang lain, bahwa SMK tidak pernah sampai hati memproduksi para buruh. Sekolah kejuruan, sama halnya dengan politeknik atau institut yang banyak mencetak tenaga profesional.

Perlu kiranya, membaca konteks relasi pendidikan dan kapitalisme, menurut sudut pandang sosio-ekonomi Indonesia. Negara ini, memiliki situasi yang berbeda dengan kapitalisme di Eropa. Pada umumnya, korporasi besarlah yang sangat mendominasi proses ekonomi bangsa. Dengan demikian, justru yang mejadi pertanyaan adalah, apa benar para profesional nanti, dipekerjakan untuk perusahaan besar (kapitalis) tersebut?

Jelas ini akar masalah, sekaligus peluang yang sangat menarik. Dengan adanya kasus SMK yang memproduksi Kiat Esemka, para penggiat ekonomi makro menjadi kelabakan. Betapa tidak, korporasi besar yang selalu menguasai pasar mobil, kini merasa tersaingi oleh produk lokal dengan harga yang jauh lebih murah. Esemka dicap sebagai perusak pasar makro.

Suatu pilihan yang positif, jika Esemka memilih bergerak sebagai lembaga mikro, yang diperjuangkan oleh para profesional alumnus SMK. Para buruh, – sebagai istilah yang dituduhkan oleh para kritikus – justru menjadi pejuang ekonomi lokal (mikro) yang terang-terangan melawan kapitalisme.

Dari sini, ada semacam titik terang, di mana peluang ekonomi kerakyatan, mulai disokong oleh upaya pendidikan yang sungguh. Indikator keberhasilan pembangunan ini, dapat dirasakan dalam jangka panjang, berdasarkan penyebaran secara kuantitatif dan kualitatif di seluruh pelosok negeri.

Pendidikan, khususnya SMK, dengan kata lain, lebih melawan kapitalisme dari pada serangkaian uji pikir para teoritisi kritis. Perlawanan yang lebih riil ini, hendaknya dibaca lebih positif oleh sebagian pihak yang memiliki kecurigaan di awal.

Memihak rakyat pada hakikatnya, tidak melulu berkecimpung dalam aspek paradigmatik dan teoritis. Sangat perlu membaca, meneliti dan pada akhirnya mempertimbangkan “peluang” pembangunan secara optimis. Inilah gagasan sosialisme baru atau neo-sosialism.

Jika memikirkan dengan jernih polemik Esemka ini, sebetulnya tidak ada perbedaan yang berhubungan dengan perlawanan terhadap kapitalisme. Esemka kini, telah hadir sebagai salah satu kekuatan yang gagah dan siap bertarung dengan kapitalisme. Dengan adanya Esemka, pendidikan telah bersyahadat untuk mendukung kredo perlawanan terhadap kapitalisme, yang digaungkan oleh para “kritikus” sekolah kejuruan tersebut.

Aspek penting yang hendaknya diapresiasi adalah, bagaimana politik, dalam hal ini pemilik kebijakan, melakukan advokasi pada geliat ekonomi mikro tersebut. Mestinya disusun pelbagai perlindungan legal, yang mendukung kelangsungan pendidikan, praktik ekonomi kerakyatan dan pengendalian situasi pasar yang telah lama didikte oleh korporasi besar. Pembaca yang budiman, marilah kita yakin dan mendukung kekuatan bangsa sendiri, kekuatan rakyat yang profesional, yang hendak membangun negeri melalui pendidikan yang memihak ekonomi kerakyatan. []

*Penulis adalah pengajar filsafat di Pusat Studi Islam dan Filsafat (PSIF) UMM.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: