kataitukata

Kuliah DR. Moeslim Abdurrahman

In Uncategorized on July 6, 2012 at 4:53 pm

Image

Kuliah DR. Moeslim Abdurrahman

di Pesantren Berbasis Ilmiah Program Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah (PPUT)

Padepokan Hizbul Wathan Malang, Jl. Mulyodadi 112 A Jetak Lor DauMalang

 

Transkrip ditulis oleh Hasnan Bachtiar

Peneliti Filsafat di Pusat Studi Islam dan Filsafat

Aktivis Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah

 

Assalamualaikum Wr. Wb.

                        

Syukur Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, saya sangat senang bisa berada di sini. Pada hari ini banyak peserta adalah para pemuda. Mudah-mudahan yang muda-muda ini akan menjadi orang penting di Muhammadiyah. Insya Allah (disambut dengan senyum dan tawa para peserta kuliah).  Asal jangan berpikiran yang nakal, kalau nakal susah menjadi …[1] 

 

Saudara-saudara sekalian, saya meneruskan saja yang saya katakan tadi di UMM (Universitas Muhammadiyah Malang).[2] Saya tidak bersedekah apa-apa kecuali kritik. Banyak orang Muhammadiyah alergi dengan kritik, padahal kritik itu merupakan suatu keniscayaan kalau kita mau maju ke depan. Organisasi kita atau Persyarikatan kita ini, saya kira layaknya seperti negara kecil, birokrasinya, aktifitasnya. Bahkan saat saya masih menjadi salah satu ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Muhammadiyah ini seperti yayasan besar. Rutinitas kita, dari segi waktunya dan fikiran, itu membuat lelah, karena terlalu banyak beramal. Jadi, terlalu aktsaru amalan tapi tidak ahsanu amalan.

 

(Kang Moeslim sepertinya nampak lelah untuk duduk bersila di bawah karena memang fisiknya yang sudah mulai kurang sehat). Ini repot sekali ya, kaki saya ini memang memakai pen.[3] Duh ya Allah, kok di atas sendiri (kali ini Kang Moeslim duduk di kursi yang disediakan oleh panitia).[4] Ini udzur karena fisik, bukan karena saya ingin duduk di atas. Sampai sekarang saya sudah enam tahun memakai pen. Ini karena saya pernah jatuh tiga kali. Pertama, ingin jadi ketua PAN, jatuh. Kedua, menjadi ketua Muhammadiyah juga jatuh, karena dianggap saya punya kartu anggota yang belum genap lima tahun. Padahal saya sebelum lahir saja sperma saya sudah Muhammadiyah. Ketiga, ini benar jatuh dan dioperasi, karena itu sampai sekarang saya masih memakai pen.

 

Bapak-bapak dan saudara-saudara sekalian, pada dasarnya kita masuk Muhammadiyah karena ikhlas, sehingga kadang-kadang kritik itu dianggap tidak sehat. Sudah beramal dan sudah banyak berkorban, ternyata masih dikritik (sambil tersenyum). Saya juga pernah mengkritik bapak saya dan mertua saya. Mereka membikin TK dan SD. Tetapi karena sudah ada SD Negeri, jadi tidak laku. Lalu saya bilang, sudahlah, berhenti saja tidak usah pakai SD, toh SD Negeri-nya itu kan isinya juga anak-anak Muhammadiyah. Berbeda dengan komentar bapak saya, bekerja di SD Negeri itu tidak dapat pahala, tapi kalau di SD Muhammadiyah, karena ada namanya Muhammadiyah, menjadi dapat pahala. Maksud saya, seringkali di persyarikatan kita berpikir begitu. Kita terlalu aktsaru amalan tidak ahsanu amalan.

 

Saya pernah mengkritik ketika Mas Malik menjadi MENDIKNAS.[5] Saya bilang, ini kan mumpung Mas Malik menjadi MENDIKNAS dan setelah itu MENDIKNAS ini selalu Muhammadiyah. Saatnya kita evaluasi betul, bahwa Alhamdulillah kita ini sudah mempunyai Universitas Muhammadiyah di mana-mana. Tapi saya bilang pada Mas Malik dan kawan-kawan di PP Muhammadiyah pada waktu itu, kenapa kita tidak bisa mempunyai strategi tentang ahsanu amalan. Ada delapan universitas yang ternama di Indonesia. Misalnya UI, ITB, UGM dan lain sebagainya. Dari delapan sampai sepuluh universitas besar di Indonesia, itulah bagian yang nanti akan, – lima tahun, sepuluh tahun yang akan datang – mempengaruhi bangsa. Lulusan-lulusan universitas itu masuk pada formasi elit nasional. Tetapi kan kita yang Muhammadiyah kadang-kadang berpikir untuk kita sendiri. Berpikir bahwa UI bukan punya kita, UGM bukan punya kita, sehingga tidak pernah mencoba untuk merebut. Tatkala itu direbut orang, kita marah-marah. Itu gimana sih, universitas-universitas besar yang dibiayai pemerintah ternyata direbut orang lain.

 

Maksud saya, pada saat Mas Malik menjadi MENDIKNAS, kenapa seperti di Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Barat, atau di Sumut (Sumatra Utara), kita tidak punya beberapa SMU unggulan, yang kemungkinan bisa memproduksi paling tidak sepertiga dari kursi universitas besar. Dengan begitu, limatahun, sepuluh tahun yang akan datang, formasi elit itu dengan sendirinya akan dikuasai anak-anak Muhammadiyah. Karena memang universitas-universitas inilah yang – anda lihat sendiri, pergulatan komposisi menteri selalu diperebutkan oleh UI, ITB dan universitas besar lainnya – mereka yang menguasai formasi elit nasional. Maksud saya, sekedar advertise pikiran-pikiran seperti itu di Muhammadiyah, dengan begitu Muhammadiyah tidak lelah sekedar memelihara amal yang begitu banyaknya, tetapi tidak bisa bersaing kualitasnya dengan orang lain.

 

Karena itu saudara-saudara sekalian, Muhammadiyah ini menurut saya, sebagai persyarikatan harus berani mengembalikan, atau mencari apa yang sebenarnya yang bisa menggugah kembali. Sekarang ini organisasi-organisasi Islam ini kanmalah terjebak pada isu-isu yang sangat kecil, bukan isu-isu strategis yang kita bisa bersaing dengan banyak orang, bahkan kita bersaing di zaman globalisasi sekarang ini. Menjelang Muktamar Muhammadiyah, isunya malah haram tidaknya rokok, bahkan NU tadi katanya baru berfatwa di Muktamarnya, bahwa perempuan wajib sunat, ngene kok yo nggolek perkoro (translate from Jawa into Bahasa: begini kok, ya mencari perkara) kan masih banyak hal sebenarnya kita bisa bersaing betul.

 

Jadi seperti saya katakan di beberapa kritik saya menjelang Muktamar ini, saya bilang bahwa Muhammadiyah dihadapkan di suatu kenyataan di mana dalam waktu yang agak lama, – tempo hari, di zaman orde baru dan di awal reformasi – orang-orang Muhammadiyah menguasai birokrasi pemerintahan, menjadi KORPRI. Karena banyak orang Muhammadiyah di pemerintahan, menjadi pejabat dan sebagainya, maka kehidupan kemuhammadiyahan itu menjadi tertolong. Bukan fasilitas langsung, tapi maksud saya melalui kekuatan di dalam pemerintah itulah, maka kemudian barokahnya melebar-lebar di berbagai aktivitas Muhammadiyah. Tapi begitu Muhammadiyah tidak menguasai dunia KORPRI ini, misalnya saja di Departemen Agama (DEPAG) itu saya lihat kan kalau di pusat itu Muhammadiyah itu minoritas betul, tidak bisa menduduki apa-apa. Tatkala seperti itu terjadi, apa alternatif kita?

 

Sejak KH Ahmad Dahlan dan bertahun-tahun lama Muhammadiyah di luar pemerintahan, sebenarnya Muhammadiyah punya pilar yang sangat kuat, karena dulu kita punya lapisan yang disebut saudagar-saudagar Islam atau pedagang-pedagang Islam. Orang-orang yang disebut saudagar ini, memiliki surplus ekonomi yang bisa membiayai sekolah atau mendirikan sekolah, dan lain sebagainya. Saudagar-saudagar Islam itu di era awal orde baru itu habis. Jadi, saudagar lawean (saudagar batik), dihabisi oleh masuknya pasar Klewer dan lain seterusnya. Produksi masal tentang tenun atau tentang batik membuat saudagar-saudagar kita habis. Itulah sebuah fenomena yang untung saja, ketika saudagar-saudagar kita habis, diganti oleh KORPRI-KORPRI itu. Sekarang ini repot sekali menurut saya, kalau tidak ada lapisan di Muhammadiyah ini yang menjadi pilar ekonominya, pilar mesin uangnya.

 

Saudara-saudara lihat ya, kalau sebenarnya untuk bertahun-tahun kehidupan Islam itu kan (ada penyekong secara ekonomi), tidak hanya Muhammadiyah, NU pun begitu. Jadi dulu itu kalau ada seorang Haji yang kaya raya, dalam pengertian sawahnya itu luas, punya tanaman tebu dan lain sebagainya, maka Haji itulah yang membiayai pesantren, membiayai Kiayinya,  uangnya dari pak Haji yang kaya di sektor pertanian itu.

 

Tapi itu sejak tahun 1965 itu kan tanahnya dihabisi, dalam pengertian kemudian ada land reform itu dibatasi hanya 4 hektar. Sehingga banyak waktu itu atas nama anaknya, keluarganya dan lain sebaginya, lebihnya hanya untuk pesantren, untuk wakaf.  Tapi artinya, bahwa kemudian kan surut sekali kemampuan petani untuk mendukung kegiatan di pesantren-pesantren. Kalau NU mengalami nasib seperti, jadi tunjangan dayanya NU itu ada tiga pilar: Satu, NU itu didukung Haji-Haji yang ada di pedesaan itu; Kedua, para Kiayi itu kalau gak menantunya atau anaknya itu setelah menjadi aktivis ANSOR, kemudian menjadi anggota-anggota DPR di kabupaten-kabupaten itu. Nah, itulah yang kemudian menjadi semacam yang menyambungkan antara birokrasi pemerintahan dengan fasilitas yang bisa dinikmati oleh warga NU, dan terutama DEPAG dikuasai NU. Jadi, dulu saja misalnya tiba-tiba ada pengangkatan UGA, Ujian Guru Agama itu, wah itu asal ANSOR atau apa, itu langsung menjadi UGA, menjadi pegawai negeri di bawah Departemen Agama. Kyai-Kyai kalau naik haji juga melalui DEPAG.

 

Nah tapi itu kan kemudian ada (jeda) waktu, setelah land reform itu, kemudian sawah-sawah mereka kurang. Kemudian DEPAG mulai dikuasai Muhammadiyah, sejak Pak Mukti Ali jadi Menteri Agama. Itu ada beberapa masa sejak NU berganti ke Muhammadiyah, (soal) DEPAG.

 

Nah situasi itu sudah sangat berubah. Sekarang ini, bahkan tidak hanya NU dan Muhammadiyah yang saudagarnya hilang,  hajinya hilang, bahkan negara ini sekarang sudah mulai lemah. Yang menang apa? Yang menang adalah mall-mall.  Mall-mall itu tidak hanya di Jakarta tapi sampai di kabupaten-kabupaten. Dan itu berarti kapital yang menguasai. Siapa yang menguasai kapital ini? Yang memegang kapital ini adalah hanya 10% dari rakyat ini. Dari sepuluh persen itu kira-kira 8% ya yang mereka sipit-sipit matanya seperti saya,[6] yang 2% itu mungkin pejabat dan lain sebagainya.

 

Jadi sebenarnya, betapapun anda alim sebagai calon Ulama Tarjih, baca kitabnya (kitab kuning atau Arab gundul), berpikirnya hebat dan sebagainya, tetapi kalau anda melupakan sektor pendidikan, sektor ekonomi, sepuluh universitas terbaik dikuasai orang lain, pasar-pasar dikuasai orang lain, ya nasib kita seperti ini jadinya. Paling-paling kita bisa marah doang dan itu kita lebih suka kalau marah-marah di mana saja, merasa karena di negerinya sendiri, ternyata kita tidak bisa menjelaskan, limadza ta’akhkhoro al-Muhammadiyah wa taqaddama ghairuhum minhu? Nah saya kira itu problem kita.

 

Oleh karena itu, anda semuanya sebagai calon kiayinya Muhammadiyah, saya kira sebenarnya tidak bisa kita hanya membawa ke depan Muhammadiyah ini, sekedar dari pendekatan teks saja. Kita harus menguasai sektor-sektor yang riil itu. Sektor ekonomi, sektor pendidikan, sektor teknologi dan lain sebagainya. Dan pertempuran masa depan itu, sebenarnya pertempuran tentu saja di tiga tempat itu yang sangat strategis. Pertempuran masa depan itu satu, adalah pertempuran pada tingkat negara. Nah itu yang tadi di dalam seminar, membicarakan Muhammadiyah.

 

Kalau kita merasa bisa menolong orang miskin, dengan cara-cara kita selama ini, tidak mungkin bisa. Jumlah orang miskin itu akan selalu lebih banyak, kalau ketimpangan sosialnya seperti ini. Sementara kemampuan kita bersedekah dan mengeluarkan zakat fitrah segitu-gitu aja. Kecuali kalau anda ikut mengawasi dan mengontrol semua anggaran pemerintah, baik yang di pusat maupun di daerah itu, betul-betul ada penjiwaan anggaran untuk orang-orang miskin. Maksudnya, itu berarti, kita juga tidak boleh mengabaikan sektor negara, biarpun kita bukan partai politik. Itu pertama.

 

Dan dulu saya pikir, seandainya saya ketua PAN, itu saya anggap bahwa PAN itu adalah kepanjangan dari Muhammadiyah itu. Karena Muhammadiyah itu persyarikatan, ya PAN itulah corongnya. Corong itu sekarang sudah diambil orang lain, saya tidak tahu. Tetapi bahwa Muhammadiyah, tidak bisa dihilangkan komitmennya untuk menjadi persyarikatan yang peduli betul pada nasib mustadh’afin itu. Jadi anda tidak mungkin akan menolong orang-orang miskin, dan menempatkan orang miskin itu sebagai fenomena individual. Kalau fenomena individual kita begitu tahu orang miskin, kita punya uang kan kita kasih dengan niat ini shadaqah yang ikhlas, maka kita bisa dapat pahala. Jumlah orang miskin sekarang dengan kemampuan kita bersedekah itu kita tidak mungkin kita bisa mengatasi problem. Kecuali kita mempengaruhi kebijakan Negara.

 

Bagaimana cara Muhammadiyah mempengaruhi kebijakan negara? Lewat mana caranya? Bukan menganjurkan supaya Muhammadiyah menjadi partai, tidak. Tetapi maksud saya tetap harus ada hubungan Muhammadiyah dengan negara, sehingga Muhammadiyah bisa melakukan advokasi kepada negara. Itulah yang saya bingung sampai sekarang, mau disalurkan ke mana? Bahkan tadi saya cerita, ini persoalannya bukan Muhammadiyah tidak punya gerbong atau saluran ke negaranya itu, tidak, tetapi rakyat  seluruhnya sekarang, itu malah menurut saya secara politik itu membingungkan, apalagi buat orang miskin, siapa yang akan menyalurkan nasib orang miskin, supaya orang miskin diperhatikan oleh negara.

 

Tadi saya bilang bahwa, di UNMUH itu yang saya rasakan, ini ada orang yang mengaku jadi wakil rakyat, tetapi sebenarnya dia tidak punya rakyat. Orang itu jadi wakil, karena dia punya duwit (uang) dan kemudian membeli suara rakyat, setelah dibayar, rakyat itu mendukung. Begitu dia di DPRsana, dia tidak pernah memikirkan rakyat itu. Bahkan kalau dia butuh dukungan rakyat dia harus datang ke rakyat dan membayar lagi. Kalau tidak membayar, tidak datang dukungan itu.

 

Yang kedua, sekarang ini ada rakyat, tetapi juga tidak punya wakil. Jadi rakyat di mana, wakil di mana, itu dua hal yang sangat berbeda. Nah ini menurut saya masalah yang, tentu ini di luar soal kitab-kitab yang anda baca (peserta kuliah tertawa), tetapi kalau anda tidak bisa membaca keadaan ini, sebagai pimpinan Muhammadiyah nantinya, ya tidak mungkin bisa bagaimana membawa Muhammadiyah itu betul-betul disebut sebagai gerakan persyarikatan yang antara lain dengan surat al-Maun-nya itu, konsisten untuk memperjuangkan nasib kaum mustadh’afin. Itu satu.

 

Jadi perebutan kita, tidak bisa dipisahkan kapanpun dengan negara, biarpun negara malah kalah dengan pasar. Tetapi negara itu tetap fungsional. Di Amerika saja, Clinton sampai, eh Clinton, Obama (salah menyebut presiden AS yang baru), al-Mubarrak Obama itu, yang katanya menyembunyikan Islamnya itu, Obama sampai harus menunda kunjungannya ke Indonesia, karena di sana harus to be or not to be, memperjuangkan tentang undang-undang kesehatan itu. Ada tiga juta rakyat Amerika yang miskin tidak punya insurance, dan kalau itu tidak berhasil bagaimana nasib mereka. Hidup di negara yang modern, dan masih seperti itu, tidak punya asuransi kesehatan. Artinya orang seperti Obama, dan hidup di kehidupan politik di Amerika saja tidak bisa mengabaikan negara. Jadi negara yang harus memihak, itu harus dikontrol dan diawasi.

 

Sekarang ini, negara memihak ke mana tidak jelas, dan siapa yang harus mengawasi dan harus menekan? Itu satu hal. Itu pada tingkat nasional. Pada tingkat daerah misalnya, sama juga PDM-PDM ini (Pimpinan Daerah Muhammadiyah di setiap Kotamadya atau Kabupaten), seperti halnya hidup di dalam urusannya sendiri. Bangun pagi ngurusi TK, SD, dan lain sebagainya. Tapi tidak memikirkan bahwa di kabupaten Malang ini, ada berapa orang miskin, anggaran pendapatan daerah itu digunakan kemana dan untuk apa. Tidak pernah ada advokasi untuk menekan anggota DPRD kabupaten Malang itu, supaya anggarannya digunakan untuk kemaslahatan umat. Seolah-olah itu adalah, ya sudahlah itu kan dunia mereka, bukan dunia kita. Jadi perasaan untuk mengontrol, itu yang penting.

 

Tapi saya tidak menganjurkan agar Muhammadiyah membuat partai, jangan. Karena juga, Muhammadiyah selalu dikibulin oleh partai-partai itu. Dari dulu Muhammadiyah selalu bikin partai, tapi diambil orang terus. Itu dari Parmusi dari apa dulu lah. Jadi perebutan masa depan, tidak bisa mengabaikan peran negara. Di luar program yang sudah rutin, menjadi program masing-masing cabang, ranting dan lain sebagainya. Seharusnya Muhammadiyah memperhatikan suatu ruang perjuangan yang tidak bisa diabaikan, yaitu ruang negara.

 

Yang kedua, pertarungan masa depan itu menurut saya, juga pertarungan pasar. Muhammadiyah memiliki akses pada pasar yang miskin sekali. Tidak ada instrumen yang kemudian kita ikut menentukan jalannya pasar itu. Pasar itu dikuasai oleh kapital, yang kapital itu tidak ada agamanya. Dan kapital itu yang penting, bagaimana ada akumulasi yang terus-menerus tanpa memperhatikan apakah ada kemiskinan, ada ketimpangan, ada penderitaan sebagian umat manusia, itu tidak pernah dipikirkan. Kapital itu orientasinya akumulasi saja. Makin banyak akumulasinya, makin baik. Itulah hukum pasar.

 

Kita sama sekali tidak memiliki hubungan dengan pasar. Dulu, pasar-pasar tradisional, dikuasai oleh Muhammadiyah, pedagang-pedagang itu adalah orang Muhammadiyah. Orang NU itu jadi petani. Sekarang pasar itu digulung semua oleh kapital baru. Tatkala pasar Slompretan, sekarang dibikin pasar besar, pasar bursa tekstil yang besar. Dulu, hampir segala kegiatan Islam di Solo, dibiayai oleh hasil perdagangan pasar itu. Tapi begitu jadi pasar Klewer, Muhammadiyah tidak bisa apa-apa. Bikin bank persyarikatan aja tidak jelas, kukut (Jawa: kukut, English: Bankrupt). Tapi kalau anda tidak bisa bersaing di situ, itulah sebenarnya ancaman besar bagi kehidupan keberagamaan ini.

 

Mall-mall itu sudah sampai di kabupaten-kabupaten di kota-kota. Dan mall-mall mengajarkan hedonis, gaya hidup yang luar biasa. Masa’ orang Malang kok rebutan makan di KFC, wong ayamnya ayam orang sini sendiri. Ini air kan sumbernya bukan dari mana-mana, tapi sumber dari belakang rumah kita, dikemas oleh orang lain, dikasih merek Aqua kemudian kita beli dari mereka. Sudah sumber-sumber kita sendiri tapi kita beli dari orang lain. Tidak ada orang bikin kopi sendiri sekarang ini.

 

Kemasan ini kan industri pasar. Nah ini yang untung siapa? Nah, jangan mengeluh, kalau kemudian surplus orang-orang yang punya modal ini, mereka bisa membelanjakan untuk keyakinan dan keimanan mereka. Kita bisanya marah doang nanti, tidak bisa menyaingi. Mereka bikin gereja di dekat masjid besar sekali, bikin rumah sakit di sebelah BKIA[7] yang lebih bagus, karena modalnya banyak. La yaqumu al-din fi yaum al-akhir illa bi dananir, tidak mungkin, kalau sekarang illa bi dhalalin lah… tidak mungkin Muhammadiyah bisa menyaingi dunia pasar, dan kita punya rumah-rumah sakit lebih baik dari mereka, kecuali kalau kita menguasai kapital. Oleh karena itu jangan dilupakan persaingan di pasar ini, walaupun anda akan jadi Ulama Tarjih.

 

Ancaman Islam dan ancaman keimanan manapun itu adalah gaya hidup. Gaya hidup memang luar biasa. Kalau kita di Jakarta, tidak masuk akal rasanya. Orang menawarkan, anda mau tinggal di mana? Seperti tinggal di California, itu dibikinkan rumah di Cibubur, cluster-nya namanya cluster California, dicangkok sebagian suasana di California sana, dibawa ke Cibubur itu, diiklankan, anda dikasih impian bahwa kalau anda tidur di rumah di California itu, persis seperti tidur di rumah di California Amerika sana, itu dibeli dengan harga mahal, karena model rumahnya seperti rumah California, atau Cluster Den Haag namanya. Orang yang tidur di rumah itu seolah-olah, bermimpi tidur di Den Haag sana. Padahal itu di Cibubur.

 

Sama dengan bapak-bapak, ibu-ibu, kalau pergi ke mall-mall itu, itu sebenarnya kan bagaimana beli kangkung saja, itu sebenarnya kan tasnya yang dibuang, dan tetangga kita biar tahu dari tas itu beli kangkung dari mall mana, merek tasnya itu lho, itu luar biasa. Cara ngibulin (membohongi) kesadaran-kesadaran kita. Kita minum air, ini air kita sendiri. Ya Allah… pengaruhnya. Kalau lebaran, saya rasakan, kalau saya pulang ke Lamongan sana itu, saya cari kue yang bikinan orang situ aja nggak ada, semua itu kaleng, di kampung minumnya itu aja pakai Aqua, tidak ada orang merebus air sendiri, tidak ada. Padahal kalau merebus air itu kan cuman segitu itu lho. Tapi kalau kita minum, setiap orang dikasih Aqua, ini keuntungannya ke siapa? Itulah sebenarnya penjajahan ekonomi di pasar ini, yang kadang-kadang, sudah nggak kuat gitu lho. Dan nggak pernah memikirkan, bagaimana kita bisa melawan penjajahan yang seperti itu. Itu yang kedua.

 

Jadi yang pertama, saya pikir saya ini saja, karena anda orang muda, sebentar lagi akan jadi pemimpin Muhammadiyah,  ini adalah pertarungan kita di masa depan. Yang pertama adalah negara, yang kedua adalah pasar. Dan kita melawannya dengan Baitul Mal Wa Tanwil (BMT). BMT itu pinjamannya cuma berapa sih? Paling 500, 150 ribu. Sementara mereka itu, Tantular dengan Century[8] itu, dengan manipulasi seperti itu, trilyunan itu negara kita dirugikan. Dan katanya kalau dibelikan cendol[9] di Jakarta itu, sudah tenggelam dengan banjir cendol.

 

Yang ketiga, menurut saya persaingan kita adalah dunia peradaban, dunia ilmu, dunia sains, dunia teknologi. Orang nelayan sekarang, tidak hanya berpikir IT, tetapi persaingan kita nanti bagaimana tentang pangan itu masa depan, pengadaan pangan itu, mereka sudah berlomba-lomba dengan biotech, kita masih mikir bagaimana bikin pacul yang baik saja masih susah, bahkan tidak mau bikin pacul, karena hedonis pasar itu, maka kalau ada pacul bikinan Cina, kita akan beli dari pada bikinan depan rumah kita. Kita dibanjiri, dari mulai obeng, sampai apa saja, produk luar negeri. Jadi kita mending beli, dari pada membikin. Di mana bangsa kok, semua konsumtif seperti ini, tidak produktif sama sekali. Sampai obeng saja tidak mau bikin sendiri.

 

Bangsa ini mayoritas Islam. Jadi kalau bangsa ini miskin, yang paling miskin ini ya orang Islam sebenarnya. Kalau di Cipinang, mayoritas ya Islam. Kalau penjara di Kupang, ya mayoritas ya orang Katolik, di Mangga Besar, kalau ada pelacur, tukang masak, itu mayoritas Islam. Keluarganya, kalau tidak Fatayat ya, mungkin ada yang bau-bau Aisyiyah, NA… (peserta kuliah tertawa). Tidak mungkin di Mangga Besar sana orang Hindu, orang Hindu kan di Bali sana. Dan itu, kalau anda sangat normatif sebagai calon Ulama Tarjih, tapi yang anda tuntut adalah tukang-tukang pijat itu (maksudnya di sini menerangkan tentang prostitusi), ya sudah jelas bukan muhrimnya dipijat, dan itu pakai plus lagi, massage plus, plusnya itu apa? (peserta kuliah semakin tertawa).

 

Tanpa kita melihat bahwa mereka sebenarnya hanya korban, tidak ada pilihan. Jadi, menjadi orang miskin itu bukan pilihan. Menjadi tukang pijat plus (prostitute) itu juga bukan pilihan. Buktinya anak-anaknya itu, mayoritas sekolah di Madrasah, dan SPP-nya (biaya bulanan sekolah) itu dibayar dari kenyelenehan yang plus-plus itu (peserta kuliah tertawa lagi). Termasuk yang sekolah di pesantren dan yang sekolah di Muhammadiyah itu. Betul.

 

Saya pernah dengan anak-anak muda itu membikin survei di Mangga Besar itu, para pemijat plus itu, mayoritas dari daerah Jepara, yang kedua Indramayu, yang ketiga Sukabumi, itu daerah santri semua. Entah Fatayat entah apalah namanya. Dan di lingkungan NU juga begitu. kalau ada keluarganya yang meninggal, surplus plus-plus-nya itu yang dikirim untuk selametan di sana. Yang untuk barakah, yang untuk membayar doa Kyai itu. Karena mereka kan tidak boleh berdoa sendirian, harus membayar Kyai.

 

Nah, apakah kemudian, tanpa melihat masalah seperti itu? Nah kalau anda hanya menjadi teks normatif, seperti saya zaman di pondok pesantren dulu, itu kalau mau nonton bioskop kan, masa’ pakaian saja harus pakai rok yang segini-gini (maksudnya di atas lutut perempuan), saya lalu bilang astaghfirullah… (peserta kuliah tertawa). Tapi kalau ada orang miskin, yang compang-camping, mengemis, perempuan, pakaiannya seperti itu, kan kita tidak pernah ada kesadaran kenapa orang itu miskin. Tapi orang miskin dengan pakaian gombal seperti itu gak papa. Itu namanya kesadaran normatif sambil yang tadi bagaimana kita melihat cara massage plus tadi, yang bekerja di sektor-sektor yang secara tekstual (tekstual keagamaan), yang bisa dikatakan sebenarnya mereka adalah ahl al-nar (ahli neraka).

 

Tapi sebenarnya kalau kita lihat dari mata rantai, itu kan kesalahan kita. Dosa sosial kita juga kan? Kenapa kita tidak pernah memberi alternatif kepada mereka supaya tidak kerja di situ? Buktinya anaknya juga sekolah di pesantren kok, ingin bisa ngaji, ingin menjadi orang baik. Nah tetapi nasib mereka, lapangan kerja mereka itu kan tidak kita tentukan sendiri.

 

Kita harus mengontrol kepada negara. Supaya kebijakan publik negara itu, memihak kepada nasib-nasib mereka ini. Bukan dikibulin seperti sekarang. Ekonom-ekonom yang bekerja pada pemerintah ini, seenaknya saja pidato bahwa pertumbuhan ekonomi kita bagus. Itu zaman Soeharto juga bilangnya begitu. Pertumbuhan ekonomi kita secara fundamental itu baik (Kang Moeslim menirukan para ekonom tersebut), bilang 4%, 5%, 6%. Tapi orang-orang miskin ini kan nggak makan pertumbuhan ekonomi (peserta kuliah tertawa). Makannya kan beras. Nah beras dari mana kalau tidak ada lapangan kerja. Apalagi mereka yang sekolahnya sampai di Ibtida’iyyah (setingkat elementary school).  Walaupun ngajinya enak di sana kan, begitu kawin, nggak ada ini pekerjaannya, cari kerja ke Jakarta, mau kerja di pabrik garment, pabriknya sudah tutup, bangkrut. Usaha ini gak bisa, itu gak bisa, ya akhirnya jadi tukang pijat plus itu. Itu kan tidak ada kaitan dengan pertumbuhan ekonomi.

 

Untung saya itu, kawan-kawan di Jakarta, nyabut mandatnya Pak SBY (the president) itu, berdemo itu (demonstration), saya ditelpon oleh Andi Malarangen[10] karena kebetulan kawan waktu sekolah di S3 di Amerika. Mas, apa yang salah dengan pemerintah SBY kok dicabut? Pertumbuhan ekonomi kita baik. Saya bilang, ini orang-orang miskin semakin banyak jumlahnya, saya nggak bisa ngitung saking banyaknya, saya bilang begitu. Dan orang-orang ini tidak makan pertumbuhan ekonomi yang kamu katakan itu. Saya denger dari tv atau pidato dari orang-orang yang merasa penting di negeri ini. Sekarang ini ekonomi susah bener lho mas. Di warteg itu, saya kalau nyuruh office boy saya di Jakarta, di kantor al-Ma’un itu (al-Ma’un Institute), perasaan saya dulu itu kalau makan Rp. 6000 -7000 itu sudah enak gitu lho, sudah ada lauknya. Sekarang ini paling tidak Rp. 8000, 9000, 10.000. Naik terus, tapi kok pemerintah selalu bilang pertumbuhan kita bagus. Ini apa hubungannya dengan orang-orang yang pijat plus tadi itu (peserta kulah tertawa).

 

Jadi, kalau pelajaran di pesantren para calon Ulama Tarjih ini, cuma wa la taqrab al-zina, gitu-gitu lah, kala itu sih gampang. Dari dulu saya di pesantren ya, itu aja gak dirubah. Tapi kenyataan, realitas betapa kompleksnya masalah kehidupan manusia, rakyat yang miskin itu, sehingga mereka jauh dari rumah-rumah Allah, rumah-rumah ibadah itu. Banyak orang-orang miskin yang tinggalnya tidak jauh dari mesjid-mesjid kita. Di Jakarta itu, saya lihat ada mesjid, di pojok ada tukang tambal ban, itu saya tanya, kok anda ndak pernah ke mesjid? Waduh saya belum sempat pak. Tapi kesan saya terhadap mereka, tidak ada hubungan itu antara suara adzan dengan nasib mereka. Seperti suara adzan ya suara kenalpot saja yang lewat itu. Ya bagaimana? Kita tidak pernah memikirkan nasib mereka yang bertahun-tahun jadi tukang tambal ban. Jadi secara fisik, tidak jauh. Tetapi secara sosial, menjauhkan mereka dengan rumah-rumah ibadah. Dan itu tidak bisa kita selesaikan dengan hanya wa la taqrab al-zina itu. Atau hanya memikirkan zakat fitrah dan seterusnya.

 

Harus ada pemihakan politik yang berani mengontrol negara. Yang menentukan anggaran itu untuk siapa. Nah inilah sebenarnya politik yang sesungguhnya, bukan politik yang politik-politikan kayak politik partai itu. Jadi, tanpa alternatif di dalam kesulitan kehidupan sosial seperti itu. Sebenarnya sering kita kadang para ulama itu berani berfatwa tetapi tidak bertanggungjawab. Cobalah, kita hanya bisa mengatakan bahwa merokok itu haram. Berapa ribu orang yang bekerja di sektor rokok itu, berarti setiap bulan mereka menerima gaji yang haram, itu dimakan menjadi darah yang haram. Dan kita tidak pernah punya alternatif, apa Muhammadiyah, apa NU, apalagi ulama-ulama itu.

 

Maksud saya, jangan kemudian kita ini, karena lebih paham dan alim dalam membaca kitab, kemudian dengan enak memvonis orang-orang sekedar dari segi tekstual saja. Saya dulu pulang dari pondok pesantren itu ya, ya Allah… kalau disuruh pidato itu, pulang khutbah itu, saking niatnya, pokoknya ya asal kita sudah faruddu ila Allah wa al-rasulfa in tanaja’tum fi syai’in … gitu-gitu lah, asal dua ini kita pegangi. Itu saya lihat, bertahun-tahun, saya sekolah di pesantren, khutbah itu terus tapi rakyat saya itu, tetangga saya itu nggak ada yang berubah nasibnya itu. Karena orang-orang itu sebenarnya butuh.

 

Misalnya kalau di tempat saya, anda bisa membayangkan ya, di Lamongan, tempat saya yang gersang itu. Ya Allah kalau musim kemarau itu, orang itu memaksakan untuk menanam timun itu (cucumber), dan setiap hari itu dua kali, pagi dan sore, dia harus memikul air itu dari timba itu (ember atau wadah air), saya bilang, kok nggak ada dari kyai atau dari ulama itu, eh… gimana bersama pemerintah itu mikirin, gimana caranya menolong orang miskin itu.

 

Ini sekedar contoh saja. Saya hanya membagi bagaimana pengalaman-pengalaman dan kesadaran saya. Dulu misalnya sebagai orang santri di pesantren itu, karena saya ini, keluarga saya Muhamamdiyah, yang lahir dari sperma yang sudah Muhammadiyah itu, itu semua keluarga saya, ingin agar saya menjadi ulama beneran. Sehingga saat saya sekolah SD itu, disuruh pindah ke Madrasah. Saya ke SMP nggak boleh, harus pergi ke pesantren ke Pondok Kertosono itu. Pesantren yang lebih dari Muhammadiyah itu Wahabi-nya (peserta tertawa). Setiap hari pengennya bertengkar aja mencari ulama NU (peserta tertawa). Dan begitu saya sudah agak besar di pesantren itu, itu orang tua saya sudah menyiapkan di rumah itu, membikin SD Muhammadiyah. Itu belum ada SD, di tempat saya itu sudah membikin SD Muhammadiyah. Ya walaupun itu bangunannya sebenarnya dari pohon kelapa, ya begitu-begitu. Jadi sekedar cerita, suatu ketika ini hujan, angin rebut (angin yang sangat deras), zaman tahun-tahun di pesantren tahun 70-an itu kan konflik NU-Muhammadiyah itu luar biasa. Dari soal bedug, soal ushalli, nggak ada habisnya. Dulu dari Pondok Kertosono saya bilang, karena innama hurrima, taksis (pembatasan: hanya itu saja) tentang keharaman itu, maka tikus itu saya bilang halal. Wah ditantang saya oleh orang NU itu. Kalau memang betul, kamu yakin bahwa tikus itu halal, berani nggak kamu makan tikus, mau disate, dibakar, terserah. Tiba-tiba ada hujan, angin, SD Muhammadiyah itu ambruk, sedihnya keluarga saya itu. Dan ada orang-orang NU dan saudara-saudara saya juga, mereka pada ngomong di mana-mana, itu lihat, Allah menunjukkan bahwa Muhammadiyah itu sesat, makanya (peserta kulah tertawa). SD-nya itu aja ambruk. Malu betul kita. Dan bapak saya, mengumpulkan saudara-saudaranya, semua orang di situ, pengurus SD itu, dan bilang, Allah mencoba kepada kita. Jadi madrasah yang ambruk itu, kata bapak saya, ini cobaan, apakah kita di jalan Allah yang benar apa tidak. Tapi kata orang NU, itu adalah pertanda teguran dari Allah bahwa ajaran kita sesat. Ini persoalan SD itu ndak ada hubungan, bahwa yang benar itu Muhammadiyah apa NU, ini gara-gara, karena (pembangunan SD tersebut) tidak ada arsiteknya, tidak ada mandornya, tidak ada apa. Jadi, bikinnya serampangan. Sebetulnya ini persoalan biasa. Itu tidak usah dibikin Muhammadiyah dibikin NU, tapi kalau cara bikin bangunannya seperti itu pasti ambruk, gitu lho.

 

Jadi, maksud saya, marilah kita lihat konteks yang seperti itu. Jadi tadi saya katakan bahwa, tantangan kita ke depan, satu negara, yang kedua pasar, dan yang ketiga sebenarnya yang saya katakana adalah dunia peradaban, dunia pemikiran, itulah pentingnya universitas. Universitas itulah dunia sains, dunia teknologi. Banyak orang Muhammadiyah, yang percaya, sudah beramal bikin TK itu sudah cukup. Tidak usah berpikir macem-macem.  Nah, sebagai persyarikatan, untuk merespon perkembangan sains dan teknologi, kita sekarang kalah jauh. Oleh sebab itu, – ini dalam pikiran manusia, kehendak Allah itu baik – tapi kalau kita lemah dalam perebutan ketiga wilayah itu, negara, pasar dan peradaban, jangan diharapkan bahwa Muhammadiyah adalah ya’lu wa la yu’la ‘alaih. Saya ini cuma provokasi, jangan dimasukkan hati (peserta kuliah tertawa).

 

Saya ingin membangkitkan, sehingga anda tertantang untuk bertarung ke depan, itu adalah dalam wilayah tiga persoalan tadi. Negara, pasar dan peradaban, di universitas melalui pemikiran, sains dan teknologi. Barangkali itu sekedar sedekah saya malam ini, sebagai kebiasaan saya mengkritik, supaya di Muhammadiyah ini ada tukang kritiknya, jadi jangan hanya tukang amalnya, tapi juga tukang kritiknya, yang itu bagian dari amal keseluruhan persyarikatan Muhammadiyah. Terimakasih, mohon maaf kalau ada yang salah. Kalau biasanya tukang khutbah itu kan, bilangnya nutupnya itu bahwa kalau ada yang benar dari Allah, kalau ada yang salah dari saya, nah yang dari Allah yang dari saya itu terserah anda. Terimakasih.

 

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

 

 

Begini, ini tentu saja ya, Malaysia itu, orang-orang Melayu pribumi dan orang Islam di sana, itu sekarang ini merasakan, dia tinggal, menjadi tuan di negerinya sendiri. Bukan mayoritas yang seperti numpang di negara orang. Dulunya orang-orang Melayu di sana merasa begitu. Tapi sejak, – ini saya mau mencontohkan yah, bahwa pendidikan itu kalau tidak dikaitkan dengan suatu politik yang besar, pendidikan menjadi suatu kerja rutin mendidik di sekolahan. Tapi bedanya dengan Malaysia itu begini, tatkala orang Melayu Islam di sana merasa tertinggal dari yang lain, kelompok etnis atau ras yang lain, maka pemerintah Malaysia itu sejak ada kerusuhan tahun 1967, itu kemudian merubah semua strategi yang ada di negeri itu. Jadi ada kerusuhan antara orang Melayu dan Cina tahun 67, luar biasa, menurut tokoh-tokoh Malaysia, ini tidak mungkin, kalau orang Melayu yang mayoritas kehidupannya seperti ini, dan yang minoritas seperti itu, tidak ada perubahan yang radikal, maka akan terus-menerus seperti ini. Jadi itu kira-kira perasaannya seperti kita sekarang, kita ini mayoritas, kita ini hidup di negeri Muslim, tapi kenapa, kok nasibnya seperti numpang di negeri orang? Sehingga mayoritas, menjadi minoritas dalam arti kesejahteraannya dan lain sebagainya. Itu sangat mengganggu betul di Malaysia saat itu. Nah oleh karena itu kemudian, pemerintah Malaysia memihak, bagaimana menjadikan orang Melayu, agar tidak ada perasaan mayoritas sebagai minoritas yang kalah. Orang Melayu mulai memanggil orang-orang yang bekerja di kebun-kebun karet itu, dibawa ke kota, kebun karetnya itu dimodernisir betul, dengan menanam kembali karet-karet yang baru dan kelapa-kelapa sawit. Jadi itu ada modernisasi yang luar biasa. Orang-orangnya dibawa ke kota ke Kuala Lumpur, anaknya disekolahkan ke luar negeri, dibiayai pemerintah Malaysia. Dan itu mereka mengambil tiga jurusan yang paling penting. Satu adalah Sains, yang kedua Enginering, yang ketiga Bussines, itu luarbiasa besar-besaran, orang Malaysia mengirimkan anak-anak mereka ke luar negeri. Yang kedua, tidak boleh orang-orang Cina bekerja, tanpa bermitra dengan orang Melayu.

 

 

 

 

 

 


[1] Pikiran nakal yang dimaksud di sini adalah pikiran-pikiran kritis. Seringkali pikiran nakal diidentikkan dengan pemikiran liberal, karena itu bagi kalangan mayoritas atau Islam konservatif, hal ini sulit diterima.

 

[2] Sebelumnya pada sore hari sempat, memberi kuliah di Pusat Studi Islam dan Filsafat UMM (Center for Islamic and Philosophical Studies) pada acara Muhammadiyah Up Date: Menggugat Modernitas Muhammadiyah, Refleksi Satu Abad Perjalanan Muhammadiyah.

 

[3] Pen, semacam besi pengganti tulang yang patah. Kang Moeslim pernah kecelakaan motor, karena itu setelah operasi, tulang di kakinya harus diganti dengan pen.

 

[4] Tempat memberi kuliah saat itu adalah masjid, di mana juga menjadi tempat biasa KH Abdullah Hasyim memberikan kuliah Tafsir al-Qur’an dengan membaca kitab kuning, yaitu kitab Tafsir al-Maraghi (suatu khazanah tafsir yang rasional, modern dan mencerahkan, karya ulama besar Mesir, Mustafa al-Maraghi) setiap Jum’at Malam. Dalam kajian tafsir ini Kiyai liberal tersebut juga membicarakan metodologi tafsir kontemporer, seperti hermeneutika yang menggunakan ilmu-ilmu sosial dalam membaca teks keagamaan. Misalnya saja metode al-tarikhiyyah (historis), al-susiulujiyyah (sosiologi), al-antrufulujiyyah (antropologi) dan al-tafsir al-ijtima’ al-mu’ashir (hermeneutika heuristik), yang dibaca dengan pendekatan (approach) bayani (bahasa), burhani (filsafat) dan irfani (gnostik).

[5] Mas Malik adalah Prof. Malik Fadjar, M.A., mantan Rektor UMM yang pernah menjadi Menteri Pendidikan Nasional pada periode Presiden Megawati Soekarno Putri dan pada periode Presiden Habibie juga.

[6] Kang Moeslim menyebut salah satu etnis tertentu, yang selalu menguasai pasar Indonesia karena kekuatan secara ekonomi. Etnis itu adalah etnis China.

[7] BKIA: Balai Kesehatan Ibu dan Anak. Biasanya BKIA ini adalah amal usaha milik Muhammadiyah di berbagai daerah di pejuru nusantara.

 

[8] Tantular dengan Century yang dimaksud adalah kasus korupsi Bank Century yang merugikan negara trilyunan rupiah.

 

[9] Semacam makanan atau jajanan dari air santan kelapa, cendol seperti agar-agar, gula jawa, dan diminum dengan diberi potongan es yang kecil. Harganya bervariasi di tiap daerah, dari Rp. 500 – 5000,-

[10] Prof. Andi Malarangen adalah juru bicara kepresidenan, di masa kekuasaan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: