kataitukata

Deideologisasi Kapitalisme Pendidikan

In Uncategorized on August 1, 2012 at 9:01 am

Image

Oleh. Hasnan Bachtiar

Pada pertemuan yang memang disengaja, kami bertemu seorang bapak pemilik otoritas yang kuat atas kebijakan pendidikan di negara ini. Terjadilah perbincangan santai yang mungkin tidak terkira, akan ditulis dan terwarta untuk khalayak. Dari obrolan penting itu, ada beberapa kesimpulan.Pertama, menurutnya, “Pendidikan yang berkualitas itu harus mahal.”Kedua, “Biaya pendidikan yang mahal, dimaksudkan untuk keberlangsungan pendidikan yang berkelanjutan (sustainability).”Ketiga, “Bukan bermaksud melayani kapitalisme, lembaga-lembaga pendidikan unggulan yang elit, hanya persoalan segmentasi pasar, di lingkungan elit pula.”

Tatkala ini semua dipikirkan secara serius, betapa orang-orang miskin seperti punguk merindukan rembulan.Cita-cita untuk menuntut ilmu di lembaga-lembaga yang baik, sepertinya bukanlah hak dari kelas termarjinalkan.Bisa dibayangkan bila pemilik kebijakan memihak kelas menengah ke atas, berarti negara tentu tidak pernah melayani kepentingan dan kemakmuran “seluruh” rakyat.Inilah struktur kekuasaan yang mengabdi pada uang, pasar, kekayaan dan singkat kata, semua itu disebut dengan kapitalisme.

Yang menjadi pertanyaan mendasar adalah, mengapa terjadi kapitalisasi pendidikan?Semua manusia tentu secara eksistensial memiliki hasrat, nafsu, keinginan untuk bersenang-senang tanpa batas.Dalam persoalan ini, kesenangan yang diharapkan ditunjang oleh kepemilikan kekayaan.Kekayaan agar berlimpah ruah, maka harus dijalankan melalui sistem yang benar, misalnya, dengan modal yang paling minimum, mencapai hasil atau keuntungan yang maksimum.Sistem akumulasi modal (capital) inilah yang disebut dengan kapitalisme.Sementara pendidikan, adalah instrumen, obyek, barang yang dipasarkan atau dalam istilah ekonomi adalah “komoditas”.

Uraian tentang pilihan manusia untuk memperdagangkan pendidikan demi kepentingan akumulasi kapital, bukanlah semata-mata pembicaraan mengenai etika, yaitu baik dan buruk.Penjelasan ini lebih dari itu, adalah pembicaraan tentang iman, tentang keyakinan, tentang ide yang dibela mati-matian oleh manusia itu sendiri. Dengan kata lain, sebenarnya, kapitalisme adalah sebentuk “ideologi” yang dianut oleh sebagian orang.

Demi ideologi, siapa pun akan membela apa yang diyakininya benar. Jika kapitalisasi pendidikan itu langkah yang perlu dilakukan dan baik di mata para kapitalis pendidikan, maka itulah yang akan diperjuangkan hingga titik darah penghabisan. Kendati demikian, yang menjadi masalah sekali lagi, bukan siapa yang benar dan siapa yang salah.Masalah utamanya adalah apakah yang menjadi fondasi dari ideologi kapitalisme itu?Lalu, apakah kapitalisme yang dijalankan benar-benar baik, baik bagi siapa, akankah hal itu merugikan orang lain, atau perilaku itu menginjak martabat kemanusiaan yang universal?

Pertama, fondasi kapitalisme adalah kehendak bebas manusia (free will).Lebih jauh daripada kebebasan, basis dari fondasi ini adalah hasrat ketubuhan yang meluap-luap.Dalam pengertian filsafat kontemporer, tidak dibedakan antara jiwa dan tubuh.Keduanya adalah kesatuan yang utuh yang sedang menari menikmati dirinya sendiri, bahkan tanpa orientasi yang jelas.Hal ini dapat diidentifikasi dari persoalan, kebebasan manusia mengabdi untuk siapa? Bagaimana hakikat eksistensial manusia, mengapa mereka hidup dan untuk apa? Pertanyaan ini tentu termasuk dalam bidang metafisika yang tidak pernah terselesaikan oleh filsuf di mana pun.

Benarkah kehidupan manusia mengabdi pada ketidakjelasan tanpa ujung?Benarkah relativisme atau nihilisme merupakan hal-hal yang mesti dimaklumi?Inilah hal-hal yang pelik, yang menjadi fondasi “rapuh” untuk melakukan tindak laku kapitalisasi pendidikan. Ketidakberesan menjangkiti iman manusia yang tidak sepenuhnya bebas, karena ia sangat terpenjara oleh kebingungan-kebingungan tidak berujung. Dengan demikian, masihkah iman ini harus didukung? Tentu tidak!

Kedua, sistem kapitalisme yang merenggut kemerdekaan pendidikan, telah dijalankan demi memenuhi kehendak nafsu penumpukan kekayaan. Bila akumulasi profit dilakukan dengan baik, maka kebahagiaan tentu saja memiliki jaminan yang mantap. Kendatipun, “kebahagian” yang dimaksud berfondasi kebebasan yang semu. Benar-benar, bahwa “jiwa yang bebas” dalam konteks ini, tidak memiliki tujuan apapun, kecuali ia tidak pernah memahami dirinya yang eksistensial. Akankah kejahatan terhadap diri sendiri ini, memiliki akibat bagi sesama? Tentu saja, sistem ini tidak disadari, tidak memiliki kepedulian terhadap diri sendiri, terlebih terhadap hidup orang lain.

Bila pemilik kebijakan menuruti kehendak pasar, – dalam hal ini ia akan memberikan perhatian yang besar pada kepentingan pemilik kapital – maka secara terang ia menjadikan pendidikan sebagai sarana yang paling baik untuk menumpuk harta. Pendidikan “berkualitas” diiklankan melalui pelbagai media, lalu ditunjukkan bahwa lembaga pendidikan tertentu memiliki fasilitas yang lengkap, guru yang berdedikasi tinggi dan jaringan sosial yang kuat.

Hal itu menjadi sangat mungkin, karena “uang”.Baik itu infrastruktur, biaya operasional, gaji guru dan lain sebagainya, menghabiskan uang yang sangat banyak. Dengan kata lain, modal yang kuat, sangat menentukan apakah anda, atau anak anda akan bersekolah di tempat yang berkualitas atau tidak. Bila orang miskin, tentu saja bukanlah tempatnya untuk belajar di lembaga pendidikan yang elit, berkualitas dan memiliki fasilitas yang lengkap. Sangat memprihatinkan!

Sementara itu, sistem ini tidak hanya menjangkiti sekolah yang elit saja.Hampir seluruh lembaga pendidikan, tergilas oleh pola pikir yang berkiblat kepada uang.“Uang bukan sekedar Yang Maha Kuasa, tetapi juga Yang Maha Esa.”Kapitalisme, sesungguhnya lebih Tuhan dari pada tuhan-tuhan pada agama-agama.Dampak yang dapat dilihat secara kasat mata adalah, betapa payahnya mereka yang hidup sebagai kelas-kelas termarjinalkan. Secara kasuistik bahkan kita menyaksikan di media massa, ada seorang gadis remaja yang bunuh diri, hanya karena tidak mampu membayar sekolah.

Pembaca yang budiman, dapat pula kita pikirkan secara tajam bahwa, satu tanda tangan oleh pemilik kebijakan untuk aturan pendidikan dan kependidikan yang mengabaikan orang-orang miskin, ternyata dapat mengakibatkan krisis kemanusiaan yang luar biasa.Hanya karena salah menetapkan the public policy, maka jutaan anak bangsa dibiarkan bodoh karena tak bersekolah. Hanya karena “kebingungan” yang tak berujung, melayani hasrat pribadi, mementingkan kekayaan, beriman pada sistem kapitalisme, maka jutaan manusia-manusia terbunuh secara massal karena kelaparan, tidak memiliki pekerjaan karena tidak punya ijazah, kemiskinan yang luar biasa dan sederet keprihatinan buram lainnya.

Demikianlah sesungguhnya hakikat ideologisasi kapitalisme pendidikan, sangat merugikan.Iman ini rapuh, karena benar-benar menginjak martabat kemanusiaan. Kemanusiaan yang dimaksud adalah diri sendiri dan orang lain. Bagi diri sendiri, ia membiarkan seluruh hidup ini tunduk pada kebingungan eksistensial, sementara bagi orang lain, ia jelas-jelas melakukan penjajahan melalui struktur kekuasaan dan kapital. Karena itu, penting kiranya melakukan “deideologisasi”.Deideologisasi adalah pembongkaran ideologi, dengan maksud untuk menunjukkan kema’rufan dan menghentikan segala tindak laku yang dehumanistik.

Pada akhir perbincangandengan bapak penguasa tersebut, syukurlah sempat memohon kepedulian dan keadilan bagi mereka yang papa, golongan miskin. Barangkali cukuplah moral al-Qur’an dalam surat al-Hasyr yang artinya, “…kiranya kapital itu, tidak hanya dikuasai, didominasi dan dihegemoni para kaum kapitalis belaka” (…kayla yakuna dullatan baina al-agniya’i minkum), kita jadikan spirit untuk meruntuhkan ideologisasi kapitalisme pendidikan. Soal usul ini didengarkan atau tidak, maka akan ada langkah-langkah berikutnya.

Tidak dapat dipungkiri bahwa, kadang manusia memang lupa.Karena itu, bila pemimpin lupa, maka rakyat yang baik harus maju kedepan untuk mengingatkan.Begitu pula sebaliknya, pemimpin yang baik adalah mereka yang menerima kritik konstruktif bagi kemaslahatan orang banyak dan kemanusiaan.Ada pula teguran bahwa, “Tahukah engkau hedonis (menumpuk kekayaan) itu apa?… janganlah berlaku demikian… sungguh, janganlah berlaku demikian…” (al-hakumu al-takatsur…kalla saufata’lamun…tsumma kalla saufata’lamun…) (QS. al-Takatsur: 1, 3, 4).

Sekiranya keinginan-keinginan rakyat tentang kemerdekaan  -memperoleh pendidikan, mendapatkan hak-hak untuk belajar secara leluasa di pelbagai lembaga pendidikan tanpa harus terbebani oleh biaya yang sangat mahal dan menikmati pendidikan tanpa terjajah oleh aturan kapitalisme – tidak terpenuhi, maka alangkah baiknya untuk memberhentikan menteri pendidikan dan menggantinya dengan pedagog kritis yang memihak kemanusiaan. []

*Tulisan ini dimuat di Koran Pendidikan, Edisi Pertengahan Juli 2012.

Penulis adalah Aktivis Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: