kataitukata

Revitalisasi Tadarus Transformatif

In Uncategorized on August 7, 2012 at 2:32 am

Image

Oleh. Hasnan Bachtiar*

SEBAGAI bangsa yang kaya akan kebudayaan, kita patut bersyukur bahwa di setiap bulan Ramadhan, umat Islam Indonesia masih melestarikan tradisi tadarus. Tadarus adalah membaca al-Qur’an di sore atau malam hari. Namun demikian, menurut sudut pandang sosio-politik, apakah tradisi ini berhubungan dengan kondisi sosial bangsa Indonesia?

Memang secara sepintas, hal ini tidak bermanfaat apapun sepanjang praktik tadarus, hanya merupakan kegiatan keagamaan untuk menggenapi kebutuhan kesalehan individual. Mengaji al-Qur’an, identik dengan hanya sekedar “membunyikan” al-Qur’an.

Ada perbedaan mendasar antara membaca yang berulang-ulang dan pembacaan yang transformatif. Bila tadarus dimaksudkan untuk kepentingan akumulasi pahala, sehingga dibaca terus-menerus untuk mengejar target hatam, maka hal ini tidak lebih dari sekedar pembacaan yang biasa, kontinyu tapi alpa makna (al-qira’ah al-mutakarrirah).

Sementara itu, pembacaan yang transformatif, tentu saja bukan sekedar membaca teks-teks keagamaan, tetapi juga mencari relevansinya dengan kehidupan sosial. Nilai-nilai etika dan moral dalam al-Qur’an, mencoba dituangkan dalam kehidupan keseharian, khususnya dalam konteks sosio-politik Indonesia. Kuntowijoyo dalam bukunya yang bertajuk “Islam sebagai Ilmu: Epistemologi, Metodologi dan Etika” menyebut upaya ini sebagai “kontekstualisasi” al-Qur’an (2006).

Memahami persoalan ini, sebenarnya, kita tidak perlu mempertanyakan seberapa rajin kita membaca al-Qur’an, atau seberapa banyak kita menghatamkannya di bulan suci ini. Persoalan kontemporer yang mendesak adalah seberapa “kritis” kaum beragama membaca kondisi sosial bangsa yang semakin terpuruk, lalu berpikir ulang (rethinking), bagaimana obor kitab suci mencerahkan kebudayaan yang redup, kotor, korup, miskin dan penuh dengan gelimang dosa.

Secara kuantitatif, 100% penduduk Indonesia adalah beragama dan 80% beragama Islam. Adakah kitab-kitab suci yang diimani sebagai tulisan dan gagasan Tuhan Yang Agung ini dibaca dengan baik, sehingga berfungsi sosial? Secara sosiologis, apa yang sudah diperbuat oleh organisasi keagamaan seperti misalnya Nahdhatul Ulama dan Muhammadiyah, terkait dengan persoalan korupsi, politik kebangsaan yang busuk dan kemiskinan? Adakah langkah-langkah political reading relasi teks-konteks, sehingga para elit keagamaan mampu memobilisasi massa untuk bekerja keras dalam agenda pembangunan?

Bila kita kritis, sebenarnya persoalan ini tersirat dalam al-Quran, surat Ali Imran ayat 110, yang artinya, “Engkau adalah umat terbaik, yang diturunkan di tengah umat manusia untuk menegakkan kebaikan, mencegah kemungkaran (kejahatan) dan beriman kepada Allah.” Perlu sekali dijelaskan, apa yang dimaksud dengan pembacaan kreatif itu, secara lebih sistematis.

Menurut Kuntowijoyo, ada empat hal yang tersirat dalam ayat tersebut, yaitu tentang konsep umat terbaik, aktivisme sejarah, pentingnya kesadaran dan etika profetik (Kuntowijoyo, 2001: 357). Pertama, umat manusia akan menjadi umat terbaik, tatkala mampu melaksanakan “pengabdian kemanusiaan” bagi umat manusia (civil society); Kedua, mengemban misi kemanusiaan, berarti berbuat untuk manusia dalam bentuk aktivisme sosial dan membentuk sejarah; Ketiga, kesadaran dimaksud adalah kesadaran ilahiah. Dengan kata lain, suatu bentuk “keterpanggilan etis” untuk kemanusiaan yang dilandasi oleh spirit teologis; Keempat, etika profetik ini berlaku umum, yaitu menyeru kebaikan, mencegah kemungkaran dan beriman kepada Allah (transendensi).

Khusus menyangkut penjelasan yang terakhir disebutkan, etika profetik memiliki tiga prinsip utama, yaitu humanisasi, liberasi dan transendensi.

Pertama, humanisasi bermakna memanusiakan manusia. Di hadapan situasi kontemporer, di mana kehidupan masyarakat tradisional berubah menjadi situasi industrial, dengan demikian merubah pula pola-pola kebudayaan yang ada.

Kemanusiaan, kadangkala tergantikan atau bahkan tidak lebih penting dari kepentingan industrialisme. Orientasi profit yang dijalankan melalui cara produksi (mode of production), membentuk pola pikir manusia yang konsumtif, bahkan membentuk masyarakat konsumsi (the consumption society). Dengan demikian, barang, mesin, uang dan kepentingan pasar merupakan prioritas dari pada kemanusiaan, yang hanya melayani dan dapat dirasakan manfaatnya oleh sebagian orang saja, khususnya pemilik kapital.

Berseberangan dengan hal ini, maka mereka yang jauh dari kepemilikan modal, menjadi miskin, termarginalkan dan tersisih dari komunitas industrial (teralienasi). Humanisasi ini, merupakan paradigma, di mana kesadaran kemanusiaan untuk memanusiakan manusia, diupayakan untuk menjawab pelbagai problem masyarakat industrial tersebut.

Kedua, liberasi adalah upaya untuk menetralisir segala bentuk tindak laku yang dehumanistik atau anti-kemanusiaan.  Upaya ini menjadi sangat penting, karena dalam setiap struktur sosial, khususnya dalam konteks masyarakat industrial-kapitalistik, tidak hanya ada para pemilik modal dan pekerja, namun juga berlangsung sistem dominatif, hegemonik dan eksploitatif. Dengan kata lain, ada kelas yang menindas, ada pula yang tertindas. Liberasi sebagai prinsip etika profetik, berguna untuk membuat netral kondisi “penjajahan” tersebut. Liberasi, bermakna pembebasan atau pemerdekaan bagi kemanusiaan di hadapan sistem sosial yang tiranik.

Ketiga, transendensi adalah mengembalikan segala urusan kehidupan kepada Tuhan. Prinsip ini sebenarnya merupakan upaya untuk mengoptimalkan spiritualitas manusia, sebagai hamba. Terlebih bahwa, transendensi diharapkan menjadi nilai kesadaran umat, yang bersifat komunal atau memasyarakat. Humanisasi dan liberasi, keduanya semata-mata diupayakan karena prinsip transendensi ini.

Tuhan merupakan sumber kekuatan, Tuhan merupakan sumber keabadian dan Dzat yang Maha Obyektif. Segala upaya humanisasi dan liberasi, bukanlah pemikiran dan sikap manusia yang reaktif. Upaya pembelaan terhadap kemanusiaan, misalnya dihadapan dehumanisasi yang menindas, bukan bahwa kelas penindas digantikan posisinya oleh kelas tertindas sebagai penindas baru, namun lebih kepada upaya menetralisir dan menuju pada kondisi yang obyektif.

Bila diikhtisarkan kembali, maka “tadarus transformatif” ini memiliki empat nilai dan tiga prinsip yang secara paradigmatik digunakan sebagai framework dalam rangka beragama secara kritis. Empat nilai tersebut adalah: (1) civil society, (2) aktivisme sejarah, (3) pentingnya kesadaran, (4) etika profetik. Sedangkan prinsip-prinsip yang menopang adalah humanisasi, liberasi dan transendensi. Perangkat teoritik inilah yang digunakan untuk membaca teks-teks al-Qur’an dan sekaligus konteks masyarakat kontemporer Indonesia.

Bila nilai-nilai dan prinsip-prinsip tadarus transformatif tersebut benar-benar dipakai oleh segenap umat Islam, maka bukan mustahil bila agama benar-benar menjadi agama yang mencerahkan. Marilah kita semua mencoba menimbang kembali persoalan yang mendesak ini. Selamat bertadarus, selamat berevitalisasi! []

Tulisan ini pernah dimuat di Harian Bhirawa pada Senin 6 Agustus 2012.

*Peneliti filsafat di Pusat Studi Islam dan Filsafat (PSIF) UMM & Aktivis Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: