kataitukata

Kematian Pendidikan Agama

In Uncategorized on September 11, 2012 at 6:55 am

Image

Oleh. Hasnan Bachtiar

FENOMENA kematian pendidikan agama adalah hal yang sangat merisaukan. Agama sebagai doktrin, sementara ini tidak pernah dipahami sebagai hal yang potensional untuk perubahan sosial.

Pelbagai aspek pendidikan Islam (tarbiyah Islamiyah) seperti akidah, tauhid dan iman, hanya merupakan sederet etika kognitif yang melayani kepentingan individual. Dengan kata lain, tidak menekankan aspek komunal dan kemasyarakatan yang sedang ditimpa keprihatinan sosial.

Agama dalam hal ini, hanyalah menekankan aspek ritualitas semata. Agama bukanlah alat yang membumi. Apalagi sebagai misi suci untuk kesejahteraan dan keadilan umat manusia. Agama adalah seperangkat aturan ketat dari langit, yang tidak pernah menyentuh aspek kemanusiaan.

Yang terparah, agama adalah teks yang dipaksa menyelesaikan problem kompleks kemanusiaan yang tidak terbendung perkembangannya. Pelanggaran terhadap teks, jelas akan disinyalir sebagai kafir karena melanggar syariat atau garis hukum agama yang telah lama ditetapkan oleh ketetapan langit.

Bagaimana Mungkin?

Dari waktu ke waktu, model agama yang seperti inilah yang diajarkan dari generasi ke generasi. Dengan demikian, agama tidak terlalu berhubungan dengan kemiskinan, kebodohan massal, atau fenomena sosial lainnya.

Praktik pendidikan agama di pelbagai tempat, termasuk pendidikan tinggi, hanyalah formalitas yang mendukung segala titah dari langit. Atau sebenarnya, inilah kegagalan manusia dalam menangkap wahyu ilahi, karena terlampau menitikberatkan sisi sakralitas agama, sementara segala hal yang berhubungan dengan kepedulian sosial yang nyata, terabaikan.

Moeslim Abdurrahman (1997) menyebut gejala ini sebagai kematian agama. Bukan agama itu sendiri yang mati, namun manusia atau para pemimpin keagamaan, gagal menafsirkan pesan langit yang sebenarnya justru memihak orang-orang miskin dan kelas tertindas.

Ada beberapa tipe kegagalan manifestasi nilai agama dalam ruang publik. Pertama, para ahli agama tidak memiliki perangkat yang cukup untuk menemukan akar masalah sekaligus solusi bagi relasi agama dan problem sosial. Kedua, mereka mengerti tafsir pembebasan, namun sama sekali tidak tertarik dalam upaya pemerdekaan sosial. Ketiga, mereka yang Islamis, namun baginya agama hanyalah teks keagamaan, yang kehilangan pijakan realitas. Keempat, mereka yang tidak tahu menahu tentang agama, bahkan tidak memiliki kepedulian terhadapnya.

Alasan ini sangat masuk akal untuk menjelaskan kegagalan relasi agama dan perubahan sosial. Dalam sudut pandang antropologis, seluruh manusia memiliki kepentingannya masing-masing, yang sangat mendasar. Perspektif hidup setiap manusia, memiliki hubungan yang erat dengan hasrat yang ia miliki. Sementara bahwa, hasrat atau dalam bahasa agama adalah “niat” setiap manusia, hendak diarahkan untuk melayani siapa? Apakah agama hanya melayani diri pribadi?

Bagaimana Prosesnya?

Ada benarnya Clifford Geertz (1977) yang memberi pengertian bahwa manusia melihat realitas selalu dibalik tirai. Tidak pernah ada seorang pun yang menatap dan menilai kebenaran dengan mata telanjang. Selalu ada simbol dan di balik simbol selalu ada tendensi tertentu yang menjamin penentuan sikap untuk memutuskan, apa yang dipresepsi oleh manusia.

Jika dalam sistem simbol ini tidak pernah menerima, merenungkan dan menaruh perhatian yang penuh pada nilai etis agama yang universal, maka seperti pada istilah semantis agama itu sendiri, akan berubah menjadi gama, atau kekacauan.

Dalam perspektif religio-naturalis, bumi yang dihamparkan oleh Tuhan kepada manusia, sama sekali bukan untuk Tuhan itu sendiri. Sepenuhnya telah menjadi milik manusia. Secara moral, kepemilikan akan hak kebumian ini, telah dibagi secara adil dan rata atau setimbang.

Dengan demikian, pelayanan terhadap segala rahmat Tuhan, adalah dengan mewujudkan rasa cinta kasih dan pemeliharaan bumi itu sendiri. Bumi dan semesta adalah simbol eksistensi Ilahi yang harus diapresiasi melalui hubungan antara manusia dengan manusia, maupun manusia dengan alam.

Sayang sekali, syahwat kemanusiaan kadang tidak pernah menghendaki falsafah kepemimpinan manusia di bumi sebagai wakil Tuhan. Gejolak pragmatisme sempit untuk melayani nafsu birahi, kekuasaan, pamor, citra, pengakuan, kekayaan dan prestis, lebih menonjol dari pada segala niat mulia dari nilai universal agama.

Maka tidak perlu terkejut misalnya para pengamat menyadari bahwa, apa yang disebut sebagai Pendidik Muslim atau ustadz, bukanlah sama sekali sebagai seorang alim yang hendak menerjemahkan pesan agama untuk masyarakat luas. Ustadz bukanlah hermes yang memiliki peran penting di hadapan agama dan perubahan sosial. Ustadz adalah sebuah profesi yang harus melayani kepentingan akumulasi kapital.

Melalui banyak media komunikasi, yang disebut dengan ustadz adalah mereka yang memiliki wajah cukup tampan, berjenggot dan berkumis tipis, bisa mengaji dengan baik, berjaket kulit, memiliki mobil mewah, bahkan memiliki istri lebih dari satu, yang jelas segala abilitas yang dimiliki ustadz ini harus bisa dikomersialisasikan. Pendidikan agama dan transformasi nilai keagamaan itu sendiri, gagal seratus persen di hadapan ganasnya syahwat kapitalisme.

Menghidupkan Pendidikan Agama

Ada satu jalan untuk menyelesaikan itu semua, yaitu dengan menghidupkan kembali pendidikan agama. Jika pendidikan agama disinyalir tengah mati, maka harus ada upaya, untuk membuatnya berfungsi ditengah-tengah umat yang sedang bertarung melawan segala problem sosial kemanusiaan.

Paling tidak, ada lima cara, yang secara pedagogis akan merubah orientasi pendidikan agama kita. Dengan pelbagai cara ini, diharapkan akan merubah cara pandang, orientasi pendidikan agama, strategi gerakan sosial dan kontributif terhadap segala problem sosial kemanusiaan yang ada.

Pertama, pendidikan agama tidak hanya mengajarkan aspek ritualistik-individual, tetapi juga mulai menaruh perhatian pada kepedulian sosial. Rukun iman yang terlampau abstrak, harus diterjemahkan sesuai dengan kepntingan kepedulian sosial. Syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji, hendaknya bermakna sosial. Misalnya saja, belum dikatakan shalat, jika seorang siswa tidak rajin belajar dan peduli kepada orang-orang miskin.

Kedua, pendidikan agama tidak boleh terpengaruh trend yang melayani segala kepentingan akumulasi profit para pemilik kapital. Sekolah-sekolah agama tidak perlu turut dalam ajang komersialisasi agamanya. Sebaliknya, sekolah agama adalah sekolah rakyat, tempat belajar seluruh kelas sosial, termasuk orang-orang yang tidak berpunya.

Ketiga, pendidikan agama mengajarkan tauhid sosial. Dengan kata lain, mengabdi kepada Tuhan, harus diwujudkan dalam kepedulian terhadap sesama. Misalnya saja, sekolah-sekolah agama yang “unggulan”, juga harus memberikan peluang bagi siswa-siswa miskin yang kurang pandai, agar ada peluang untuk memperbaiki diri.

Keempat, guru agama atau ustadz adalah pejuang kemanusiaan, yang siap mengajarkan pelbagai aspek sosial dari agama. Ustadz ini, harus mengabdikan dirinya, bahkan siap menghibahkan dirinya untuk kepentingan agama dan perubahan sosial. Sebagaimana Rasul, seorang ustadz harus siap mengorbankan seluruh harta, jiwa dan raga untuk transformasi sosial.

Kelima, lembaga pendidikan agama adalah lembaga yang berorientasi pada pembentukan karakter religious anak didik, sekaligus mencetak para pemimpin untuk perubahan sosial yang memihak orang-orang miskin, kaum termarjinalkan dan kelas tertindas. Dengan demikian, sekolah agama turut mengurangi koruptor di Indonesia. []

Penulis adalah Peneliti Filsafat di Pusat Studi Islam dan Filsafat (PSIF) UMM dan Aktivis Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah

Tulisan ini pernah dimuat di kolom “Wacana” Koran Pendidikan pada Rabu, 13 Juni 2012, dengan gubahan judul “Menghidupkan Kembali Peran Pendidikan Agama” dan pengeditan seperlunya.

  1. Pada prinsipnya saya sependapat dengan pemikiran anda,terutama di bagian pertama dari 5 penyelesaian anda, persoalanya adalah bagaimana mungkin agama bisa diajarkan sedemikian rupa, di level paling bawah bagi anak2 kita, kita perlu ingat bahwa pendidikan adalah proses transformasi yang sangat panjang. hari ini kita umur 5 tahun sedang belajar agama kira2 10 atau 15 tahun lagi dampak itu akan muncul.

    Kemudian pertanyaan paling praktis saat ini ide yang anda berikan sangat menarik, tetapi bagaimana sikap kita dan metodologi sebagai seorang “guru” untuk menerjemahkan gagasan ini dalam pendidikan dasar anak. jika salah dalam mengambil sikap dalam memberikan pelayanan pendidikan kepada anak2 maka yang terjadi adalah doktrin baru atau dogma baru yang tentu sudah anda tolak seblumnya.

    Bagi saya, anak-anak dan masyarakat sekarang adalah hasil dari sebuah proses yang panjang atas persoalan pendidikan agama yang di dapat masa lampau. Tentu dengan hanya memangkas pendidikan di level paling atas sangat tidak masuk akal. Howard Gardner telah membuktikan itu, dengan penelitian dia soal pendidikan anak dari dini ternyata sangat mempengaruhi kesuksesan dan cara hidup orang.

    Solusi kedua anda, saya tidak sepenuhnya sependapat, pendidikan yang berkualitas sangat mahal, dan itu sudah tak terbantahkan lagi. Alih alih mendapatkan pendidikan yang berkualitas, tetapi justru akan terjatuh dalam pendidikan seadanya, jika kita tidak cermat dalam menentukan standar dan biayanya. Alhamdulillah, saya sudah menemani lebih dari 300 madrasah di Indonesia, dan ternyata membuat madrasah yang berkualitas butuh dana yang super besar.

    Saya sependapat bahwa kita tidak perlu harus kapitalis, tetapi secukupnya saja, kalau harus mengambil keuntungan tentu tidak harus berlebihan dari pendidikan. ok…

    Solusi ketiga anda, tak masalah…..

    Sulusi keempat, bagi saya guru harus kaya, baik guru agama maupun guru non agama, tidak mungkin mereka berjuang sementara perut mereka keroncongan, yang ada adalah nggrangsang.

    Beberapa hari yang lalu saya ketemu dengan salah satu teman saya, dia seorang pengajar di salah satu univ islam ternama di Malang. Dia menceritakan honor sebagai pengajar di kampus tersebut sangat minim, padahal kalau dilihat kawan ini sangatlah enerjik, briliant, tulisanya bertebaran dimana2, beruntung bagi dia masih ada lembaga2 lain yang mensponsori dia untuk berkarya meskipun tidak di universitas tersebut. Tetapi, teman dia dikampusnya, lebih sibuk mencari proyek untuk sekedar menyambung hidup ironi.

    Dari kisah itu saya menangkap kesan kalau guru berhonor seadanya dan dituntut untuk berjuang habis-habisan, maka dia akan layu sebelum berkembang, alih-alih bisa mendidik dengan baik, tetapi justru akan menerlantarkan anak didiknya.

    Ide kelima anda, saya sependapat, cuma sedikit penambahan, ini mirip dengan poin pertama, semua adalah proses, dan tak mungkin instan……

    Wassalam…

    Edi Slamet

    • Terimakasih banyak atas apresiasinya. Sungguh tanggapan tersebut sangat bermanfaat untuk memperbaiki pendidikan Islam di Indonesia. Lebih dari itu, yang terpenting adalah pembangunan watak dan karakter anak-anak bangsa sebagai generasi penerus pemangku tugas ilahiah (khalifah Allah di muka bumi ini).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: