kataitukata

Pedagogi Kaum Miskin

In Uncategorized on September 11, 2012 at 7:20 am

Image

Oleh: Hasnan Bachtiar

TIDAK PERNAH ada jawaban yang memuaskan hati, tatkala berhadapan dengan pertanyaan, “Untuk apa pendidikan di negeri ini?” Hadirlah dua jawaban rigid yang tak terelakkan, yaitu untuk mencari ilmu atau untuk menjadi pegawai.

Jika menambahkan pertanyaan-pertanyaan lain misalnya, “Ilmu apa itu? Untuk apa dipelajari?” Jawaban popular akan berbunyi, “Ilmu yang sedang menjadi trend, untuk kepentingan diri pribadi.” Atau, “Ilmu yang sedang dibutuhkan oleh perusahaan, agar menjadi tukang di perusahaan itu.”

Dua jawaban tersebut, terang menunjukkan bahwa orientasi lembaga pendidikan kita adalah pasar. Ilmu diperjual-belikan, menjadi komoditas dan melayani kepentingan akumulasi profit para pemilik kapital. Tersingkaplah bahwa, falsafah pendidikan kita memihak kapitalisme.

Tergilas Kapitalisme

Penggilasan pendidikan bangsa oleh kapitalisme, merupakan akar masalah dewasa ini. Sistem dan kebudayaan pasar, turut membentuk watak kehidupan keseharian masyarakat. Akibatnya, kegagalan untuk turut dalam penguasaan kapital, berarti sepanjang sejarah, kebudayaan kita (pendidikan) akan memproduksi manusia-manusia yang bermartabat buruh pengabdi kepada kapitalis.

Moeslim Abdurrahman dalam “Pedagogi Kaum Pinggiran” (2009: 193-201) mengidentifikasi adanya empat dampak, penetrasi kapitalisme dalam bidang pendidikan, yaitu: hilangnya kesadaran, runtuhnya identitas, terhapusnya falsafah pendidikan dan lenyapnya martabat kebudayaan. Empat hal itulah yang menyebabkan bangsa ini tertidur pulas, sementara kapitalisme terus-menerus menjajah.

Pertama, hilangnya kesadaran. Baik itu para pemikir pendidikan, pemilik kebijakan, pendidik dan anak didik, semuanya telah lupa bahwa kapitalisme itu senantiasa merugikan, memiskinkan dan menjajah. Di luar dugaan, ketidakmampuan untuk mengasah dimensi kritis membuat banyak orang mengorbankan kesadaran diri dihadapan dikte pasar. Sikap oportunis dan pragmatis yang dangkal, menjadikan pendidikan sebagai lahan untuk memperkaya diri. Sementara di sisi lain, orang miskin semakin miskin dan mengalami keterjajahan yang berlipat.

Kedua, runtuhnya identitas kebangsaan. Identitas manusia Timur yang berbudi luhur telah runtuh diterpa badai sistem kapitalistik. Tidak ada lagi orang mengasihi orang lain dan berdiri untuk memperjuangkan komunitasnya yang terpinggirkan. Yang ada adalah jika saat ini tidak turut dalam trend kapitalis, maka akan terasingkan. Jika tidak ambil bagian sebagai masyarakat konsumen (consumer society), tentu akan teralienasi. Maka, orang dikatakan eksis, jika ia selalu mengonsumsi barang-barang kapitalis. Sangat memprihatinkan jika, “Aku ada, karena berbelanja.”

Ketiga, terhapusnya falsafah pendidikan. Sudah barang tentu, orientasi pasar telah menghapus falsafah pendidikan kita. “Mencerdaskan kehidupan bangsa” tergantikan sebagai “membelanjakan kehidupan bangsa.” Seluruh lembaga pendidikan, tunduk pada kapitalisme. Sekolah hanya untuk kaum berpunya, untuk dididik menjadi pengabdi para pemilik kapital. Sementara bagimana mereka yang miskin? Hanya boleh hidup nestapa, alpa pengetahuan dan terus-menerus menjadi kelas terjajah.

Keempat, lenyapnya martabat kebudayaan. Dulu, kebudayaan menjadi terhormat karena tiga hal, yaitu kemerdekaan, kesederajatan dan keadilan. Kini, tidak lagi demikian. Apa yang dikatakan baik, tatkala manusia itu memiliki, menjadi dan berlaku sesuai dengan kebudayaan populer: kebudayaan pasar. Kapitalisme hanya memberi kemerdekaan bagi kelas pemilik modal, derajat mereka berbeda dan keadilan tanpa batasan kelas, sebenarnya tidak pernah ada. Dengan kata lain, golongan miskin dan kelas pinggiran adalah komunitas yang hidup tanpa martabat sama sekali. Demikianlah, kebudayaan telah lenyap, karena mengabaikan golongan selain kapitalis.

Pedagogi Kaum Miskin

Menghadapi pelbagai problem pendidikan dan kapitalisme yang pelik, memerlukan pandangan kritis dan transformatif. Pandangan ini yang terpenting adalah menekankan pada kesadaran perubahan sosial. Jika akar masalahnya adalah kapitalisme, sebagai suatu sistem kehidupan yang hegemonik (menindas), maka harus ada upaya untuk menetralisir penindasan tersebut.

Perlawanan terhadap hegemoni kapitalisme harus dilakukan oleh segenap anak bangsa. Kita semua harus “sadar” sebagai agen perubahan, yang mampu memproduksi kebudayaan dan membentuk sejarah. Langkah awal yang bisa dilakukan adalah menyuarakan perlawanan di hadapan publik. Harus ada advokasi politik wacana yang membangkitkan kesadaran kritis seluruh lapisan masyarakat.

Paling tidak, yang pertama kali adalah perbincangan filosofis-paradigmatik, khususnya menyangkut pedagogi kaum miskin. Kendati tidak bermaksud untuk melawan kaum kaya, namun secara psikolinguistik, hal ini akan memprovokasi segenap kesadaran masyarakat. Yang terpenting bukanlah dikotomi kaya miskin, namun pendidikan adalah hak segala golongan, Pendidikan Berlandaskan Keadilan Sosial.

Pedagogi kaum miskin adalah falsafah pendidikan yang menekankan reformasi kebudayaan, dari kapitalistik menjadi sosialis-humanis. Sudah saatnya para pedagog pendidikan, pemilik kebijakan, para pendidik dan anak didik, meninggalkan orientasi kepentingan akumulasi profit para pemilik kapital dan menuju kepada falsafah kebajikan.

Falsafah ini bisa merujuk pada pilar kebangsaan kita, yaitu Pancasila. Ada dua ciri khas, yang membuat falsafah ini lebih unggul dari pelbagai mazhab pendidikan yang ada. Yang pertama adalah ciri humanisasi dan yang kedua adalah liberasi.

Pancasila menghendaki berlakunya sistem pendidikan yang memanusiakan manusia. Maka, bukan manusia yang mestinya memenuhi kehendak sistem, tapi manusia sebagai pusat pandangan pendidikan. Sedangkan ciri liberasi atau pemerdekaan sosial, adalah ketentuan yang tidak boleh diganggu-gugat oleh sistem apapun. Liberasi membebaskan manusia dari belenggu sistem, kekangan pragmatis kapitalisme dan ekstrimitas ideologis. 

Namun sayangnya, jalan panjang pendidikan bukan tanpa masalah. Modifikasi sistem pendidikan yang mengikuti kemajuan zaman, melahirkan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) atau Sekolah Bertaraf Internasional (SBI), yang sama sekali belum memahami falsafah pendidikan Indonesia. Segala proses “internasionalisasi” pendidikan, masih berkiblat pada tuntutan pasar (kapitalisme).

Hal penting lain yang belum dipahami oleh seluruh rakyat Indonesia sebagai umat yang beragama bahwa, sesungguhnya falsafah pendidikan, sangat tergantung pada pemahaman terhadap makna, “Ketuhanan Yang Maha Esa.” Teologi, membentuk karakter yang khas bahwa, pendidikan asli Indonesia sifatnya religius.

Memberi perhatian yang besar pada religiusitas, berarti berpuasa dari segala nafsu kemanusiaan, termasuk orientasi pendidikan untuk kepentingan kapitalisme. Menjadikan teologi sebagai prinsip, berarti membebaskan dari belenggu. Sementara, terjebak pada gelombang nafsu duniawi berarti terpenjara.

Demikianlah wacana kritis tentang pedagogi kaum miskin, semoga memberikan kontribusi yang berarti bagi dunia pendidikan dan kependidikan kini dan mendatang. Spirit humanisasi, liberasi dan religiusitas semestinya diperhatikan oleh seluruh pihak. Jika hal ini dijalankan dengan baik, maka pendidikan Indonesia akan benar-benar dapat mencerdaskan kehidupan bangsa. []

Penulis adalah Anggota the Reading Group for Social Transformation, PSIF-UMM

Tulisan ini pernah dimuat dalam kolom “Opini” Harian Bhirawa pada 3 Juli 2012 dengan pengeditan seperlunya. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: