kataitukata

Bila NU dan Muhammadiyah Menyelesaikan Terorisme

In Uncategorized on September 28, 2012 at 2:48 am

Oleh. Hasnan Bachtiar

“Tidak Seorang pun, teroris itu, berasal dari pesantren NU” – KH. Said Agil Siradj

DEMIKIANLAH pandangan tajam, sekaligus tendensius dari seorang pemimpin umat di Indonesia. Itulah kesan awal, tatkala mendengar statemen wawancara Ketua PB NU di salah satu stasiun televisi swasta (4/9/2012). Namun, pendapat itu harus dibaca secara positif oleh seluruh pihak, terlebih menganggapnya sebagai sedekah pemikiran bagi umat.

Secara jernih, paling tidak argumen yang diajukan ulama’ tersebut, memiliki tiga makna tersurat: Pertama, menunjukkan bahwa ormas keagamaan selain NU, telah memproduksi teroris; Kedua, ideologi konservatisme menjadi masalah utama fenomena terorisme; Ketiga, adanya salah paham untuk menangkap akar masalah radikalisme yang selama ini mengemuka.

Pertama, seperti halnya Muhammadiyah, diakui maupun tidak, memang memiliki ciri pemikiran yang lebih konservatif dibanding dengan NU yang lebih dekat dengan tradisi (turath). Kredo al-ruju’ ila al-Qur’an wa al-Sunnah yang berkembang pada Muhammadiyah, menjadikannya sangat skripturalis dalam memahami Islam. Seiring dengan berjalannya waktu, beberapa fakta historis menunjukkan bahwa pelaku-pelaku teror di Indonesia, – tanpa menyebutkan inisialnya satu persatu – adalah alumnus pesantren yang bermazhab skripturalis itu.

Tapi apakah benar, penyebab terorisme adalah pesantren yang skripturalis? Pertanyaan yang demikian, tidak boleh dijawab dengan menyederhanakan banyak hal. Misalnya, terorisme terjadi karena salah tafsir terhadap kitab suci. Atau, pesantren-pesantren selain milik NU adalah pesantren yang mengajarkan tafsir yang membolehkan terorisme.

Kedua, konservatisme memang masalah yang fundamental. Kendati demikian, ternyata ada akar masalah lain yang menyebabkan mereka yang berideologi konservatif, bersikap radikal dalam beragama. Sesungguhnya, akar masalah ini milik kita bersama, yaitu ketidakadilan ekonomi dan kemiskinan. Sudah barang tentu, menuduh bahwa semua kesalahan berasal dari negara pemilik kapital yang sekian lama menjajah negeri ini, adalah alasan yang sulit untuk dibantah. Senyatanya kita terjajah, baik secara ekonomi, politik, sosial dan budaya.

Hal yang terlewat dari kelompok radikal adalah cara mereka menyelesaikan masalah imperialisme tersebut. Mana mungkin meraih keadilan ekonomi dan mengentaskan kemiskinan melalui aksi teror? Perilaku yang sangat tidak menguntungkan umat beragama, bila perilaku kekerasan diutamakan. Dengan demikian, sebenarnya ini masalah membaca akar persoalan, menganalisis dan memahaminya, serta memberikan solusi yang strategis. Jelaslah, terlampau memberikan perhatian terhadap persoalan ideologi, sebenarnya juga bermasalah.

Ketiga, kiranya baik NU maupun Muhammadiyah, telah salah paham menentukan sikap tatkala keadilan dan keberpihakan sosial harus dituntut. Bila NU sibuk mengurusi proyek kontra-terorisme dan deradikalisasi paham keagamaan yang membahayakan, namun agaknya melupakan persoalan keadilan dan kesejahteraan ekonomi umat. Sebaliknya, Muhammadiyah sibuk mengurusi proyek amal usaha dan ekonomi umat, namun enggan secara serius merespon persoalan konservatisme yang merebak di hampir seluruh anggotanya.

Menyelesaikan persoalan ideologi tanpa pembangunan ekonomi rakyat miskin, akan menjerumuskan kita pada sikap yang tidak kalah ideologisnya, truth claim, reaktif dan salah paham di antara ormas keagamaan satu sama lain. Di sisi lain, pembangunan ekonomi tanpa meninjau ulang konservatisme yang menjangkiti, akan menyebabkan sempitnya pemahaman terhadap agama itu sendiri, eksklusivisme, tertutup dan intoleran.

Kita adalah Aset Toleransi

Rohaniawan Franz Magnis Suseno (2012) menandaskan bahwa, aset toleransi terbaik yang dimiliki bangsa ini adalah NU dan Muhammadiyah. Bila keduanya bersatu dalam misi yang mulia, niscaya keadilan dan kesejahteraan lebih mudah terwujud. Karena itu, sudah saatnya saling berlomba dalam kebajikan (fastabiq al-khairat) demi pembangunan toleransi, melawan ketidakadilan ekonomi, sosial dan budaya, serta bersatu dalam pembangunan ekonomi kerakyatan.

Secara filosofis, bila tradisionalisme NU yang inklusif, toleran dan terbuka dipadu dengan modernisme Muhammadiyah yang progresif, manajable dan berkemajuan, maka kompleksitas problem keumatan tidak hanya terurai menjadi jernih, tetapi juga sangat menguntungkan bagi masa depan anak bangsa. Di dalam al-Qur’an surat al-Ashr mengajarkan nilai untuk saling menasehati tentang kebenaran dan kesabaran (watawa saub al-haqq, watawa saub al-shabr). Artinya, umat Islam Indonesia dituntut untuk bahu-membahu saling melengkapi kekurangan masing-masing.

Memiliki perbedaan cara pandang, tafsir, agama atau apapun yang berhubungan dengan pemikiran, tidak semestinya membuat kita terpecah belah dan berserakan. Orang boleh saja tidak setuju dengan pendapat orang lain, hanya saja, siapapun yang memiliki kekuatan harus melindungi mereka yang papa, tidak berdaya dan minoritas. Apapun alasannya, sangat dilarang oleh agama apapun untuk merendahkan martabat sesama, terlebih berlaku anarkis dan radikal.

Dalam konteks ini maka, elit keagamaan harus berbicara dari hati ke hati untuk saling mengerti dan berjuang bersama-sama. Bukan berarti bersatunya NU dan Muhammadiyah adalah meleburkan paradigma berpikir dan epistemologi beragama (manhaj al-fikrah). Telah menjadi watak manusia untuk berpikir dan berlaku berbeda. NU dan Muhammadiyah harus terhimpun untuk saling mendukung dalam persoalan memanusiakan manusia (humanisasi) dan melawan kemunkaran sosial (counter hegemony) seperti korupsi, penjajahan ekonomi dan mempersempit ketimpangan maupun ketidakadilan sosial-ekonomi di tengah umat.

Para pembaca yang budiman, mari kita mendengarkan nasehat para ulama’ NU maupun pimpinan Muhammadiyah secara jernih. Di tangan NU dan Muhammadiyah-lah masa depan bangsa ini dipertaruhkan. Semoga terpeliharanya hubungan sosial kedua ormas Islam terbesar di Indonesia itu, menjadi teladan bagi kita semua, agar lebih toleran dalam beragama sekaligus memihak kaum mustadl’afin. []

Peneliti Filsafat di Pusat Studi Islam dan Filsafat (PSIF) UMM dan Aktivis Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah.

Tulisan ini pernah dimuat di Harian Bhirawa 19 September 2012 dengan pengeditan seperlunya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: