kataitukata

Melampaui Kritik Sastra Baru yang Terbaru

In Uncategorized on September 1, 2013 at 12:12 pm

Image

Hasnan Bachtiar

Aku ingin meletakkan sekuntum sajak di makam nabi, supaya sejarah menjadi jinak dan mengirim sepasang merpati – Kuntowijoyo –

UPAYA susastra seorang sastrawan, adalah aktivitas sejarah. Betapapun di era kontemporer ini marak dikumandangkan karya sastra yang dianggap otonom, maka penulis sastra tidak pernah terbang dari bumi di mana ia berpijak.

Dari sekian banyak kritikus sastra Indonesia, Nurel Javissyarqi adalah salah satu penulis yang ternaungi oleh berkah buminya. Ia mencoba menimbang syair-syair, puisi, prosa dan kritik sastra yang lahir dan tumbuh dari negerinya sendiri, khususnya penjelasan-penjelasan sastra dan kebudayaan oleh Ignas Kleden.

Dalam konteks ini, tidak ada sastra yang hanya sastra. Yang ada adalah sastra yang ditulis oleh latar belakang sejarah yang jelas dan untuk masa depan sejarah yang jelas pula. Jika seorang sastrawan seorang yang baik, maka kemungkinan besar karyanya tentu baik dan mencerminkan kebaikan.

Hal yang sama diungkapkan oleh Mursal Esten (1988) bahwa kreativitas bukanlah hal yang berdiri sendiri. Di samping merupakan aktivitas seorang seniman, kreativitas adalah suatu proses yang kompleks, menyangkut lingkungan sosiokultural. Subadyo Haryati dalam karyanya yang bertajuk “Seniman dan Seni di Indonesia” (1983) menegaskan bahwa seorang penyair sesungguhnya merupakan unsur masyarakat. Sebagai unsur, ia menghadapi lingkungan dan sejarah yang dihadapi oleh seluruh masyarakatnya.

Dengan kata lain, penulisan esai panjang “Membaca ‘kedangkalan’ logika Dr. Ignas Kleden? (bagian XX kupasan keenam dari paragraf tiga dan empat)” oleh Nurel, adalah aktivitas yang “penting” dalam sejarah sastra Indonesia. Dikatakan penting, karena memiliki maksud-maksud dan tujuan-tujuan tertentu. Dan harus dimaklumi sejak awal bahwa, karya-karya kritik Nurel bukanlah anak-anak rohani yang terlepas dari konteks di mana ia lahir. Inilah pandangan alternatif di era kontemporer dewasa ini yang menganggap bahwa sastra atau kritik sastra melampaui teks dan permainan teks.

Melampaui Kritik Sastra Baru yang Terbaru

Dewasa ini, “kritik sastra baru” menjadi kiblat kritik sastra di mana pun. Siapa yang keluar dari arus utama, berarti dianggap tidak menganggap penting trend dan pastilah akan tersisih sebagai anggota masyarakat sastra (teralienasi). Harap dimaklumi, dalam pengertian tertentu, salah satu jenis sastra kontemporer ini dapat juga dianggap sebagai gaya hidup.

Kritik sastra baru ini jelas berbeda dari sekedar aturan estetis Aristoteles dalam poetika. Michael Rifaterre secara gamblang menyebut bahwa sastra (puisi) hanyalah permainan belaka (this is an extreme case but exemplary, for it may tell us much about poetry’s being more of a game than anything else) (1984: 13-14). Umberto Eco, novelis dan pakar semiotika mengatakan hal yang sama bahwa sastra adalah kebohongan. Sedangkan teori sastra adalah teori tentang kebohongan. Persoalan ini jelas melebihi kerumitan tentang bahasa dan benda yang dibahasakan.

Dalam ungkapan Rifaterre, sastra adalah konstruksi dari hasil eksperimen senam kata-kata indah (a calisthenics of words), suatu kesibukan menenun kata-kata (a verval stting-up exercise). (Rifaterre, 1984: 13). Pada jalur ini, Roland Barthes merumuskan hakikat sastra dengan mengesampingkan roman-roman yag bercorak realisme, khususnya dari abad XIX di Eropa. Malahan ia menaruh minat pada Finnegans Wake. Ia menganggapnya sebagai hal yang sulit dimengerti dan tidak pernah bermakna pasti. Dari ketidakpastian inilah, kemudian ia menyimpulkan bahwa sastra seharusnya tidak punya kepastian akhir. Selama teks terus dibaca, – dengan demikian pembaca adalah produsen sastra yang baru – maka akan terus menjadi teks yang baru tanpa henti.

Atas nama obyektifitas, Barthes melanjutkan bahwa tidak mungkin memulai sejarah sastra yang baru, tanpa meninggalkan hak istimewa pengarang. Ia berargumen bahwa, “Kita harus memisahkan sastra dari individu.” (Roland Barthes, On Racine, 1963: 162). Sebaliknya, kendati Barthes menitikberatkan pada obyektivitas pembaca, di seberang jalan Rene Wellek mengingatkan agar pembaca pun, tidak perlu hingga melakukan anarki nilai dan akhirnya menuai skeptisisme yang kering. Pembicaraan yang impresionistis dan subyektif hendaknya dihindari. (Rene Wellek, Literary Theory, 1983: 74). H.R. Jauss, Wolfgang Iser, Norman Holland, Harold Bloom dan Stanley Fish mungkin adalah sederet kritikus yang sealiran.

Sementara itu, aliran sastra yang berkomitmen pada ikhtiar penemuan makna dalam benak pengarang ada pada karya E.D. Hirsch, Validity in Interpretation (1976). Dalam tradisi filsafat, mungkin hal ini lebih dekat pada tradisi fenomenologi. Praktik-praktik kritik sastra dalam bingkai fenomenologis bisa disimak pada Georges Poulet dan Jean-Pierre Richard.

Di luar itu semua, berkembang aliran dekonstruksi. Nama-nama yang patut dijadikan sebagai rujukan adalah Jacques Derrida, J. Hillis Miller dan Paul de Man. Inilah aliran yang paling tidak bisa dipahami, nilistik dan selalu berlari dalam kubangan teks yang mengalami pembaruan abadi.

Kendati demikian, di luar hutan rimba aliran kritik sastra yang ada, ada komentar yang sangat masuk akal dari William E. Cain bahwa, kontestasi teoritis sastra telah keluar dari jalurnya. Kritik sastra terlalu lepas menjulang ke langit dalam perdebatan filsafat. (William E. Cain, the Crisis in Criticism, 1987) Ia tidak pernah lagi tahu bagaimana cara menikmati karya sastra dengan penghayatan yang sederhana. Seolah terlupa bahwa di samping teks-teks yang terajut, ada manusia hidup yang mencicipi masakan, berhubungan seksual dan memiliki empati kepada sesamanya, bahkan mereka yang religius bisa merasakan ketenangan batin dari Yang Ilahi.

Penegasan ini mendapatkan pembelaan dari Steven Knapp dan Walter Ben Michaels. Keduanya mengingatkan bahwa perdebatan filsafat menyangkut teori sastra, membuat para kritikus sastra tidak lagi bekerja sebagai seorang kritikus. Dengan kata lain, konstalasi teoritis hanya melalaikan banyak orang dari upaya berkarya. Padahal, perdebatan teoritis itu, hanyalah upaya coba-coba belaka, tidak lebih. (W.J.T. Mitchell, ed., Againts Theory, 1985: 30).

Jika pelbagai rimba teoritis sastra itu dipetakan, maka kritik sastra lawas diwakili oleh aturan estetis Aristoteles. Sementara, kritik sastra baru, hadir sebelum Roland Barthes. Pasca Barthes, muncullah tradisi teori sastra yang “seksi” bernama dekonstruksi. Melampaui itu semua, marilah kita semua kembali pada penghayatan sastra yang paling tradisional, bebas dan terlepas dari jeratan bias-bias teoritis. Dalam konteks inilah kritik sastra Nurel menempati ruangnya.

Kritik sastra Nurel terhadap teks-teks Ignas Kleden, di luar dari substansi filolosofis, teologis, sosio-kultural dan estetika sastra, sebenarnya hanya ingin menunjukkan bahwa, tradisi dekonstruksionis dan relativisme interpretasi Kledenian bukanlah puncak gunung. Karya-karya Kleden, adalah karya yang patut diapresiasi dalam posisi yang sama di hadapan pengetahuan. Dengan kata lain, Nurel hendak menawarkan sedikit nilai etis egalitarianisme.

Ia sangat konsekuen terhadap pendiriannya, imannya. Egalitarianisme membawanya pada aktivitas kreatif yang melampaui upaya-upaya akademik civitas academia. Nurel sebagai kritikus, adalah pekerja keras yang disiplin, tekun dan punya etos intelektual yang sudah sangat jarang ditemui. Kesedarajatan kemanusiaan membawanya pada kesimpulan pentingnya kebebasan intelektual tanpa tendensi gelar akademik apapun. Dengan pelbagai catatan terhadap teks-teks Ignas Kleden, ia membuktikan bahwa, “Semua manusia memiliki derajat yang sama di hadapan pengetahuan. Semua manusia adalah murid di hadapan ilmu.”

Seperti yang diungkapkan sebelumnya, upaya “melampaui” bukanlah permainan teks belaka oleh Nurel. Kehendak untuk berbicara, berkampanye, mencoba membuat jernih persoalan dengan maksud-maksud dan tujuan yang mulia, keadilan, egalitarianisme dan kemanusiaan, semua itulah yang membuat karya kritik sastra Nurel adalah karya yang sangat penting dan berbobot.

Bukan hanya itu, artikulasi kritik Nurel sangat mudah dipahami jika dibaca secara utuh dan menyeluruh. Dengan bahasa yang manis dan meliuk-liuk, ia seperti para pujangga zaman kuno, pujangga kerajaan-kerajaan besar di Jawa. Mengambil pesan moralnya, maka akan menemukan betapa kritik sastra ini sangat tinggi nilainya. Tidak sembarang kritikus sastra, – bukan pembuat prosa, novel atau syair – dapat menciptakan ulasan atas teks sastra tanpa meninggalkan kekhasan bahasa yang dimilikinya, bahkan secara berani, ia sengaja memainkan kualitas estetis yang unik.

Secara akademik, dengan sedikit sosiologis, Nurel sebagai kritikus dapat dikatakan sebagai penulis yang turut menuliskan karyanya pada buku harian sejarah. Bahwa pembelaannya dalam mengapresiasi Ignas Kleden – yang menurutnya perlu direvisi dengan kearifan Islam-Jawa – adalah manifestasi teologisnya dalam memahami agama, kebudayaan dan dunia. Singkat kata, kritik sastra Nurel adalah ibadah. []

June 27, 2012

http://sastra-indonesia.com/2012/06/melampaui-kritik-sastra-baru-yang-terbaru/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: