kataitukata

Melihat waktu

In Uncategorized on January 16, 2014 at 3:16 am

Sebagai subyek yang menyadari diri sendiri, memaklumi bahwa ke-aku-an ini menanggung segala pikiran, hati dan jiwa (lubuk hati), jarang sekali memikirkan waktu. Kecuali, memang ingin bertanya mengenai sesuatu untuk memastikan akurasi terjadinya suatu kejadian yang diinginkan hasrat. Akan tetapi waktu, seperti halnya hari ini, pada saat kata demi kata tertenun, sekaligus dengan sangat terpaksa memikirkannya. Paling tidak, sekiranya tidak memikirkan, barangkali menatapnya dari jauh. Atau, melihatnya sekelebat dalam satu lirikan mata yang sinis.

Aku percaya bahwa waktu itu ada, sekaligus tidak. Kepercayaan ini iman. Sama sekali bukan hal yang bisa dipertanggungjawabkan secara logis-rasional, terlebih perlu untuk mencari kesinambungannya dengan uji empiris. Aku sekedar percaya. Iman barangkali, sangat mungkin berkawan dengan penjelajahan yang bersifat psikologis. Karena itu, dari pada memikirkan hal yang bersifat fisis, mungkin, penjelasan psikologis lebih dekat dengan penilaianku sebagai subyek. Segala rumusan psikologis, sungguh, sedemikian leluasa dalam membicarakan subyektivitas atau segala sesuatu yang sifatnya subyektif.

Akan tetapi, sembari masih mempertahankan kesadaran yang bersifat subyektif-psikologis, rasa-rasanya tidak adil bila menanggalkan perkara fisik dan jiwa, seperti mereka yang kehilangan kata-kata sehingga tega menyebut kebenaran dalam kacamata bipolaritas, dualisme, kepingan mata uang dan seterusnya. Padahal – entah benar atau salah, kebenaran itu sendiri memiliki kompleksitasnya masing-masing. “Adakah kebenaran waktu?” Secara lebih khusus, apakah waktu itu sendiri ada? Ataukah hanya hayalan belaka? Apakah masa lalu dan masa depan itu ada? Ataukah hanya masa kini saja?

Barangkali sebagian orang dihinggapi teror oleh doktrin teologis tertentu. Misalnya, mereka percaya bahwa Tuhan pernah bersumpah demi waktu? Adanya Tuhan itu sendiri sudah menjadi masalah tersendiri, namun kini hendak menambah masalah baru yang membuat “masalah tak terpecahkan” menjadi ganda. Tidak ada rumus matematis yang paling pas untuk menggambarkan dua entitas tersebut, mengingat tidak ada satupun simbol yang layak untuk mendeskripsikan kompleksitas dan ke-maha-abstrak-an eksistensi hal-hal yang menjadi persoalan fundamental.

Untuk mengukur kepekaan rasa di dalam hati, kiranya “gerak fisik” menjadi perlu dipertimbangkan. “Kesabaran” sebagai bahasa moral, kiranya cocok untuk menyebut “lamanya” atau durasi, seberapa lama benda material tertentu berpinda tempat, dengan ukuran-ukuran yang tertera pada jam tangan, atau stopwatch. Masalahnya, kehadiran waktu apakah terletak pada kesadaran psikis manusia, ataukah pada jenjang gerak itu sendiri? Apakah waktu bersifat material ataukah benar-benar menjamah aras psiko-metafisika?

Para filsuf mungkin telah lebih canggih memikirkan hal ini dan menuangkannya dalam karya-karya monumental mereka sendiri. Bertahun-tahun lamanya mereka membangun argumentasi, sehingga terkumpul kurang lebih 150 ribu buku dan 8 juta tulisan pendek. Siapa yang tertarik belajar dan memiliki hasrat yang gila mengenai waktu sebagai topik bahasan, maka boleh kiranya menelusuri segala literatur yang ada sepanjang peradaban umat manusia. Namun, jangan pernah kecewa dengan segala kesulitan bahwa material yang diperlukan untuk belajar sangat sukar ditemukan, gagal ditemukan, atau seringkali para “pencari” tersebut merasa frustasi dan putus asa karena kesulitan-kesulitan yang sungguh mengerikan. Aku tidak perlu membaca buku-buku itu. Biarlah dalam kesunyianku ini, aku berpikir sendiri.

Ketika roda mobil berputar, maka dengan mesin yang sangat tangguh (2000 tenaga kuda), kecepatan 100 kilometer per detik, bisa ditempuh dalam waktu kurang dari 10 detik. Ukuran-ukuran itu waktu, dalam bahasa yang lazim dan disepakati. Jarum jam yang berputar tanpa pusing sepanjang hayat, bisa menjadi saksi untuk mengukur kesabaran kita dalam memikirkan soal waktu. Lalu sekali lagi, waktu itu apa? Usiaku ketika menulis persoalan ini masih 26 tahun. Namun sekali lagi, rasa-rasanya kesadaranku tentang kekinian, kedisinian dan ke-ada-anku tidak pernah melewati hari-hari di mana aku pernah menjadi bayi, balita, anak-anak, remaja dan menjadi dewasa. Aku tidak ingat kapan aku bayi dan bagaimana kesadaranku tatkala bayi. Apakah aku tidak ingat ataukah aku terlupa, karena pernah mengalaminya?

[bersambung]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: