kataitukata

Tradisi Literasi: Motivasi menulis catatan

In Uncategorized on October 28, 2014 at 4:45 am

Jujur saja, saya tertarik untuk menulis persoalan tradisi literasi –beserta segala panduan teknisnya- karena terinspirasi dari seorang blogger terkemuka mengenai masalah ini, yakni dari pemilik akun dari blog https://disertasindonesia.wordpress.com. “Mohon maaf kiranya cakrawala pengetahuan saya tidak seluas yang diharapkan oleh pembaca, yang mengira akan memberikan analisis menurut sudut pandang ilmiah akademik.” Dan jelas, kawan-kawan karib saya akan berkelakar, “Ah…itu biasa saja.”

Karena itulah, saya harus mendobrak tradisi. Kembali pada pemilik blog, saya pikir beberapa ide di dalam blog yang bertajuk “Indonesia dalam Disertasi”, sungguh orisinil dan sangat bermanfaat bagi siapa saja yang mampu membaca secara jernih dan positif, nilai gunanya.

Saya mengenal penulis blog tersebut, di dunia maya, ketika saya masih memiliki akun facebook (sebelum dipadamkan). Akan tetapi, dalam satu kesempatan di tahun 2012, kita pernah bertemu secara langsung dalam sebuah konferensi internasional. Siapa dia? Rahasia. Cukuplah informasi tentang siapa sosok di balik blog wordpress tersebut kita perbincangkan, akan tetapi, akan sangat baik bila pembaca mencoba mengunjungi apa yang sudah ditulisnya (tentang tradisi literasi).

Orang kedua yang membuat saya begitu terkesan dengan tradisi literasi adalah Aaron Swartz. Siapa dia? Yang saya tahu secara sangat simpel, ia adalah pembobol-pengunduh jutaan artikel dan jurnal Jstor dan kemudian membiarkan publik menikmati “informasi/ilmu pengetahuan” tersebut secara cuma-cuma, tanpa membayar sepeser pun, alias tanpa menjadi korban “Kejahatan” copyright pemilik kapital perusahaan penerbitan tertentu. Sungguh mulia upayanya tersebut, sayangnya Jstor yang berkomplot dengan kampus di mana ia belajar, MIT, menganggap seluruh upayanya adalah tindakan criminal. Naas, nasib hidupnya harus berakhir dalam hitam kelam kekuasaan kapital. Ia meninggal karena bunuh diri.

Bila pembaca masih penasaran, seluruh informasi tentang dirinya, bisa kita baca sepintas dari http://en.wikipedia.org/wiki/Aaron_Swartz. Berikut ini, gagasan terpentingnya mengenai dunia literasi, kebebasan akan akses informasi dan ilmu pengetahuan, serta upayanya dalam membangun kesadaran kritis publik global, saya lampirkan secara utuh dari salah satu situs yang menyediakan pelbagai informasi secara gratis, yakni archive.org. Gagasan hebat Aaron Swartz tersebut, bertajuk “Guerilla Open Access Manifesto”:

Information is power. But like all power, there are those who want to keep it for themselves. The world’s entire scientific and cultural heritage, published over centuries in books and journals, is increasingly being digitized and locked up by a handful of private corporations. Want to read the papers featuring the most famous results of the sciences? You’ll need to send enormous amounts to publishers like Reed Elsevier.

There are those struggling to change this. The Open Access Movement has fought valiantly to ensure that scientists do not sign their copyrights away but instead ensure their work is published on the Internet, under terms that allow anyone to access it. But even under the best scenarios, their work will only apply to things published in the future. Everything up until now will have been lost.

That is too high a price to pay. Forcing academics to pay money to read the work of their colleagues? Scanning entire libraries but only allowing the folks at Google to read them? Providing scientific articles to those at elite universities in the First World, but not to children in the Global South? It’s outrageous and unacceptable.

“I agree,” many say, “but what can we do? The companies hold the copyrights, they make enormous amounts of money by charging for access, and it’s perfectly legal — there’s nothing we can do to stop them.” But there is something we can, something that’s already being done: we can fight back.

Those with access to these resources — students, librarians, scientists — you have been given a privilege. You get to feed at this banquet of knowledge while the rest of the world is locked out. But you need not — indeed, morally, you cannot — keep this privilege for yourselves. You have a duty to share it with the world. And you have: trading passwords with colleagues, filling download requests for friends.

Meanwhile, those who have been locked out are not standing idly by. You have been sneaking through holes and climbing over fences, liberating the information locked up by the publishers and sharing them with your friends.

But all of this action goes on in the dark, hidden underground. It’s called stealing or piracy, as if sharing a wealth of knowledge were the moral equivalent of plundering a ship and murdering its crew. But sharing isn’t immoral — it’s a moral imperative. Only those blinded by greed would refuse to let a friend make a copy.

Large corporations, of course, are blinded by greed. The laws under which they operate require it — their shareholders would revolt at anything less. And the politicians they have bought off back them, passing laws giving them the exclusive power to decide who can make copies.

There is no justice in following unjust laws. It’s time to come into the light and, in the grand tradition of civil disobedience, declare our opposition to this private theft of public culture.

We need to take information, wherever it is stored, make our copies and share them with the world. We need to take stuff that’s out of copyright and add it to the archive. We need to buy secret databases and put them on the Web. We need to download scientific journals and upload them to file sharing networks. We need to fight for Guerilla Open Access.

With enough of us, around the world, we’ll not just send a strong message opposing the privatization of knowledge — we’ll make it a thing of the past. Will you join us?

Aaron Swartz

July 2008, Eremo, Italy

[Keseluruhan dari teks yang ditulis tersebut, silahkan anda unduh gratis Manifesto Aaron tersebut dari, https://archive.org/stream/GuerillaOpenAccessManifesto/Goamjuly2008_djvu.txt]. Kisah hidupnya telah difilmkan. Bila anda ingin menikmati film tersebut, silahkan mengunjungi http://www.takepart.com/internets-own-boy.

Sesungguhnya, faedah dari kisah hidup dan upaya sosial kemanusiaan Aaron Swartz adalah mengajarkan pentingnya tradisi literasi, untuk semua orang (tidak hanya orang berpunya). Semua umat manusia memiliki hak yang sama dalam mendapatkan ilmu pengetahuan.

Inspirasi berikutnya adalah, para sahabat saya di the Reading Group for Social Transformation (RGST) atau kelompok baca untuk transformasi sosial. Saya mendirikannya di akhir tahun 2013, dan kini, kelompok ini menjadi semakin radikal untuk memperjuangkan seluruh aspek literasi dalam rangka mengupayakan perubahan kebudayaan, yang pada akhirnya membawa pada perubahan sosial secara berkelanjutan. Saya berhutang budi pada mereka, Ical, Fauzan, Afdila, Salsa, Syamsuddin, Medis, Khusnul Khuluq dan semuanya. Entah bagaimana caranya, hingga pada akhirnya kita semua yang tergabung di dalam komunitas telah menjadi para “predator pembaca buku”. Sementara sebagian aktivitas lainnya, kita gemar menulis, sebagai sarana aktualisasi rasa dan alam pikir mengenai kondisi hidup manusia sehari-hari. Bagimana dengan diskusi, berdebat, idealnya adalah presentasi riset mutakhir? Sudah menjadi kewajiban kita (dalam bahasa Jawa, dianggap sebagai “sego jangan”).

Pertanyaannya, bagaimana mungkin beberapa orang dan orang-orang dalam komunitas memiliki tradisi literasi yang begitu kuat, sementara orang lain tidak? Maksudnya, bukan mustahil untuk berbagi sesuatu yang baik dan bermanfaat bagi sesama. Karena itu, sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesamanya, termasuk dalam pembangkitan tradisi literasi. J

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: