kataitukata

Tradisi Literasi: Tujuan, Harapan dan Cita-Cita

In Uncategorized on October 30, 2014 at 8:56 am

Ketika kita membicarakan tradisi literasi dan memang sengaja secara persuasif mengajak para pembaca untuk terlibat dalam agenda membangkitkan kembali tradisi literasi, sebenarnya memiliki tujuan-tujuan. Tujuan tradisi literasi, secara sederhana dapat kita ajukan dalam sebuah pertanyaan yang ringkas, “Sebenarnya apa yang menjadi tujuan aktivitas ‘baca-tulis’?”

Membaca dalam persoalan ini jelas berbeda dengan aktivitas membunyikan tenunan kata dalam susunan kalimat-kalimat. Benar-benar berbeda. Membaca yang dimaksud adalah membaca tulisan (grafis) yang memiliki/mengandung makna atau informasi tertentu. Hal ini sangat mirip tatkala kita membaca angka-angka. Angka-angka adalah simbol-simbol mengenai makna-makna atau informasi-informasi tertentu. Karena itulah, ada yang mengatakan bahwa matematika bukan sekedar ilmu pasti, terlebih yang berbasis pada ideologi ‘positivisme logis’, tetapi juga ilmu bahasa, bahkan ilmu tafsir.

Percobaan sederhana:

Tugas: “Silahkan anda hitung, seberapa luas semesta!”*

*“Yakin anda mau menghitungnya?” Bila anda tidak mememiliki basis akademik di bidang matematika, fisika, astronomi, astrofisika dan bidang-bidang lain yang berkaitan dengannya, silahkan membaca keterangan** di bawah ini.

**“Bila anda masih ngotot ingin mengetahuinya – paling tidak, ‘perdebatan’ mengenai akurasi pengukuran luas semesta, silahkan membaca abstrak dari publikasi seorang sarjana dari Mihran Vardanyan dkk.”

***Berikut ini adalah abstrak dari penelitian Mihran:

The question of determining the spatial geometry of the Universe is of greater relevance than ever, as precision cosmology promises to verify inflationary predictions about the curvature of the Universe. We revisit the question of what can be learnt about the spatial geometry of the Universe from the perspective of a three-way Bayesian model comparison. By considering two classes of phenomenological priors for the curvature parameter, we show that, given the current data, the probability that the Universe is spatially infinite lies between 67 and 98 per cent, depending on the choice of priors. For the strongest prior choice, we find odds of the order of 50:1 (200:1) in favour of a flat Universe when compared with a closed (open) model. We also report a robust, prior-independent lower limit to the number of Hubble spheres in the Universe, NU 5 (at 99 per cent confidence). We forecast the accuracy with which future cosmic microwave background (CMB) and baryonic acoustic oscillation (BAO) observations will be able to constrain curvature, finding that a cosmic variance-limited CMB experiment together with an Square Kilometer Array (SKA)-like BAO observation will constrain curvature independently of the equation of state of dark energy with a precision of about σ 4.5 × 10−4. We demonstrate that the risk of ‘model confusion’ (i.e. wrongly favouring a flat Universe in the presence of curvature) is much larger than might be assumed from parameter error forecasts for future probes. We argue that a 5σ detection threshold guarantees a confusion- and ambiguity-free model selection. Together with inflationary arguments, this implies that the geometry of the Universe is not knowable if the value of the curvature parameter is below |Ωκ| 10−4. This bound is one order of magnitude larger than what one would naively expect from the size of curvature perturbations, 10−5.

Bila menginginkan teks lengkap dari penelitian Mihran dkk., silahkan merujuk pada situs berikut ini: http://mnras.oxfordjournals.org/content/397/1/431.full. Semoga anda memahaminya. Namun bila anda tidak paham – hahahaha…seperti saya misalnya (tenang…karena itu anda masih memiliki teman yang tidak paham persoalan ini, jadi jangan terlalu bergundah hati) – dan masih terus mencoba memahaminya, tetapi tetap saja tidak paham, silahkan membaca informasi yang lebih general dari penelitian yang dilakukan oleh J. Souza, “On limit behavior in space-time” Boletim da Sociedade Paranaense de Matemática (2014). Versi lengkap tulisan Souza, silahkan diakses secara bebas melalui alamat situs berikut: eduem.uem.br/ojs/index.php/BSocParanMat/article/viewFile/23011/12451. Bila kali ini para pembaca masih belum paham juga, alangkah baiknya, jika kita menghirup nafas dalam-dalam dan tersenyum, lalu abaikan saja teka-teki yang belum terjawab tersebut.

****Logika akan mengajarkan bahwa, Luas semesta tidak terbatas – dan bahkan ketidakterbatasan tersebut, berkembang secara terus-menerus. Walau demikian, tidak akan ada satupun orang yang mampu membuktikan hal ini secara empiris, kecuali memang bisa (tapi saya pikir agaknya mustahil, walaupun saya sendiri berharap kemungkinan itu ada). Dalam konteks ini, matematika adalah bahasa yang memperkenalkan kepada manusia akan adanya (pemahaman tentang) ketidakterbatasan semesta.

Kendati demikian, kita tidak akan berdiskusi masalah matematika yang termasuk dalam disiplin ilmu bahasa dan hermeneutika. Kembali pada persoalan membaca. Baik itu membaca kata-kata atau angka-angka, bahkan simbol-simbol seperti tulisan dalam bahasa Cina, Jepang dan Korea, bahkan gambar-gambar dan film, semuanya berorientasi pada satu hal, yaitu makna. Pemahaman akan suatu makna tertentu, adalah definisi yang paling sederhana untuk menggambarkan pentingnya tradisi literasi. Jadi dengan demikian, “memahami” adalah kata kuncinya.

Bila anda memahami, anda tahu, anda menguasai. Anda berkuasa, berarti anda sangat mampu untuk survive: menantang hidup!

Masalahnya tidak semua teks kita baca begitu saja. Hanya sesuatu hal yang benar-benar perlu atau menarik minat kita, yang akan kita baca. Membaca-memahami ini, adalah aktivitas yang benar-benar menjadi bagian dari kehidupan kita. Menerima sms, membaca email, membaca buku, majalah, surat kabar, laporan penelitian, membaca inbox dari media sosial, berkomentar di dinding facebook, berkicau di twitter dan seterusnya, itu semua adalah aktivitas membaca-memahami yang dimaksud (mengenai menulis, akan dibicarakan di lembar-lembar berikutnya: coming soon). Tidak jarang pula aktivitas membaca-memahami membawa pada konsekuensi yang tidak ringan, bahkan membawa kepada kesalahpahaman-penafsiran dan pertikaian. Akan tetapi, sekali lagi, bahwa membaca-memahami tergantung pada gerak hasrat masing-masing manusia, “Modusnya apa?”

Sebagai mahasiswa misalnya, agaknya sungguh susah bila hidup di universitas tanpa membaca buku. Tanpa penguasaan terhadap segala informasi yang kita perlukan, misalnya salah satu tema tertentu dalam perkuliahan, jelas akan menjadikan kita gagap (illiterate). Dalam konteks ini, baik dosen maupun mahasiswa memiliki posisi yang setara: para pembaca-pemaham adalah pengendali informasi. Ini hanyalah contoh yang praktis dari salah satu kerja literasi: membaca.

Beberapa pemikir membantah bahwa membaca buku akan memberikan manfaat tertentu, karena informasi dalam sebuah buku hanyalah informasi belaka. Maksudnya, informasi adalah ide-ide yang bersifat imajinatif dan tidak memiliki keterkaitan secara langsung dengan realitas, bahkan bukan realitas itu sendiri. Yang paling ekstrim adalah mengatakan bahwa, setiap pemuja gagasan adalah mereka para pemimpi belaka, yang tercerabut akarnya dari realitas sosio-historis yang paling materiil. Pembaca yang terlampau mengafirmasi idealisme yang mengagungkan dunia ide ketimbang realitas sehari-hari, agaknya kurang disukai oleh beberapa sarjana yang menginginkan situasi konkret.

Jangan terlalu serius! Membangkitkan tradisi literasi, tidak perlu mempersoalkan prasangka negatif yang terlalu jauh seperti hal yang kita perbincangkan di atas. Membaca, tidak harus membaca buku. Dalam pengertian, semata-mata buku memang. Namun, bukan berarti membaca buku tidak penting. Persoalannya adalah bagaimana caranya membaca realitas dengan tepat, lantas menuangkan pelbagai informasi tersebut dalam sebuah tulisan yang “layak baca” dan membuka peluang yang sebesar-besarnya agar supaya khalayak mampu mengaksesnya.

Sekali lagi, tradisi literasi juga menghendaki kita semua agar mampu “membaca-memahami” realitas sosial kemanusiaan. Dengan demikian, segala problematika sehari-hari bisa menjadi bagian dari tradisi literasi ini, bahkan tidak terdapat jarak yang terlalu jauh antara membaca-memahami dan hidup sehari-hari. Dalam konteks ini maka membangkitkan tradisi literasi bertujuan untuk memperpendek distansi antara dunia ide yang imajiner dan realitas kehidupan kemanusiaan yang materiil.

Bagaimana bila ada orang yang mengatakan bahwa, menguasai kehidupan tidak harus mengafirmasi tradisi literasi? Memang pernyataan tersebut memungkinkan untuk terjadi. Akan tetapi, sudah mafhum di zaman yang serba grafis ini – yang sama sekali bergantung pada tradisi tulis-menulis dan baca-membaca – bahwa setiap manusia agaknya susah bila mengandalkan dunia ideal yang sangat rasional di alam pikirannya saja. Kesadaran rasional manusia yang melepaskan diri dari tradisi grafis, tidak akan mampu menghadapi gelombang besar nan kuat dari serangan industrialisasi yang dehumanistik. Terlebih di alam yang serba sibernetik – yang tak jarang mengandaikan bahwa, dunia yang paling riil adalah alam maya atau internet – maka manusia harus menyesuaikan diri untuk “mengendalikan” dan “menguasai”, bukan “dikendalikan” dan “dikuasai”.

Kalau begitu maka, syarat utama dalam menjunjung tradisi literasi ini adalah otonomi manusia. Dan sebaliknya, tujuan utama tradisi literasi adalah memerdekakan kemanusiaan manusia dari segala tindak laku yang tidak manusiawi (dehumanistik). Aktivitas sederhana seperti membaca-memahami dengan demikian adalah aktivitas otonomisasi manusia. Walau demikian kiranya tradisi literasi akan kehilangan maknanya, ketika otonomi manusia telah hadir, namun disalahgunakan demi kepentingan yang justru merendahkan harkat dan martabat manusia. Anda para pembaca, membaca-memahami bukan untuk menjajah manusia lainnya, tetapi demi memuliakan manusia.

Bagaimana dengan aktivitas menulis? Apakah menulis memiliki tujuan tertentu? (persoalan ini akan didiskusikan pada pembahasan berikutnya).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: