kataitukata

Tradisi Literasi: Sebelum membaca: Menulis!

In Uncategorized on November 5, 2014 at 8:53 am

Pertanyaan berikutnya, setelah kita menemukan tujuan dari salah satu aktivitas literasi seperti membaca adalah menulis. Mustahil bahan bacaan tersedia begitu saja di hadapan kita, kecuali kita sendiri yang menciptakannya terlebih dahulu. Para pekerja literasi, dengan demikian, sejatinya adalah seorang tukang jahit. Lebih tepatnya adalah tukang jahit kata-kata. Tukang jahit kata-kata adalah orang yang setingkat lebih bermartabat, ketimbang dengan mereka yang lebih sering mengonsumsi bahan jadi (buku) begitu saja.

Sebenarnya, inilah yang menandai kelebihan manusia literasi dengan mereka yang agaknya belum mencoba mengapresiasi tradisi literasi. Seorang yang genap dengan keberaksaraan, bisa menikmati kepenuhan hidupnya sendiri. Kita bisa merasakan, membaca, meneliti, mendiagnosa, menilai, menginterpretasikan dan seterusnya, dari jalan kehidupan keseharian kita. Realitas kemanusiaan dan kemasyarakatan bisa tergenggam di tangan kita, bila kita mencoba memasaknya dengan bumbu-bumbu imajinatif, inspiratif dan progresif, maka masakan yang akan kita sajikan, tentu saja menjadi masakan yang lezat, sedap, sehat dan genap. Kelebihan lainnya adalah, produk jahitan kata yang kita hasilkan bisa juga dinikmati oleh sesama. Paling tidak dan terutama, untuk orang-orang di sekitar kita pula.

Mampu membaca masalah yang kita hadapi di dalam hidup kita sendiri, menelitinya dan mampu memikirkan solusi terbaik bagi masalah tersebut, adalah pencapaian yang tinggi dari manifestasi otonomi setiap manusia. Sederhananya, bila kita menyadari bahwa kita adalah manusia yang merdeka, boleh berjalan ke mana saja, berpikir dan berbicara apa saja, lalu kita memiliki keprihatinan terhadap apa yang kita anggap sebagai batu ganjalan secara manusiawi, lantas kita mencoba menawarkan penyelesaian masalah, menulisnya dan dibaca oleh banyak orang – yang kira-kira juga memiliki persoalan yang kurang lebih serupa – sungguh semua itu adalah hal yang sangat bermanfaat dan kemanfaatan tersebut menjadi berlipat ganda, hanya karena kita mengerahkan kemampuan menjahit kata.

Manfaat berikutnya adalah, menulis akan menjadikan banyak sekali kebaikan dan kebajikan kita, terus-menerus memberikan manfaat bagi sesama. Bahkan nilai-nilai yang dianggap tinggi derajatnya tersebut, bisa berkembang dan terus menyala obor pencerahannya menuju keabadian. Setelah kita mati, satu-satunya yang hidup adalah ilmu pengetahuan yang diarsipkan dalam sebuah lembaran-lembaran tulisan. Oleh karena itu, sebuah karya tulis adalah satu-satunya keabadian yang “memungkinkan” spirit kemanusiaan kita akan tetap hidup selamanya.

Kata kunci kerja literasi berikut ini adalah: berguna untuk melipat-gandakan kemanfaatan (kebaikan dan kebajikan) yang bukan mustahil akan bertahan sepanjang sejarah kehidupan ras manusia. Kata Chairil Anwar, “Aku ingin hidup seribu tahun lagi…” Kata Derrida, seorang filsuf garda depan dari Perancis, “Segalanya adalah teks dan kita tidak bisa melepaskan diri dari teks…” Kata Injil dalam Kitab Kejadian, “Pada mulanya adalah kata…” Kata al-Qur’an, “Bacalah! Bacalah atas nama Tuhanmu… – dan ayat lain – Nun, demi pena yang digoreskan dalam lembaran ilahiah…” Karena itu, sedemikian penting aktivitas menulis ini hingga pada akhirnya banyak nasehat spiritual, estetis dan filosofis dari pelbagai sumber menegaskan perlunya aktivitas tersebut.

Itulah mengapa, sepanjang sejarah “puncak” peradaban kemanusiaan, senantiasa mengenal, apa yang dimaksud dengan karya tulis, entah itu puisi-puisi, petuah, teka-teki kehidupan, kitab suci, catatan filosofis dan seterusnya. Saya pikir, sejarah puncak kegemilangan kerajaan-kerajaan Nusantara yang begitu massif memproduksi buku-buku yang bernilai tinggi, bisa menjadi contoh yang sangat kontekstual dalam rangka memahami persoalan yang kita diskusikan ini.

Dalam sebuah forum yang tidak resmi (Malang, 5/11/14), seorang pujangga Madura yang sangat terkenal, KH. Zawawi Imron mengatakan bahwa, setiap ilmu pengetahuan itu harus diajarkan kepada sesama. Pemberantasan kebodohan massal adalah kewajiban utama (fardhu ‘ain) bagi siapa saja yang memiliki kapasitas yang cukup mengenai kualitas pengetahuan. Jadi, kendati menulis itu agaknya bersifat pasif, namun seluruh karya yang bisa dibaca khalayak ramai, akan memberikan kesempatan yang lebih besar bagi upaya desaminasi kebajikan (imajiner) di tengah masyarakat yang memerlukan pencerahan.

Demikianlah, pelbagai hal yang mesti kita insyafi dalam rangka memahami tujuan, faedah dan cita-cita salah satu aktivitas dalam tradisi literasi: menulis. Dengan demikian, bila menulis telah menjadi bagian dari kehidupan manusia Indonesia sehari-hari, selayaknya “sego jagung”, maka dapat dipastikan bahwa, pembangunan tradisi literasi akan berjalan secara progresif. Bila dalam suatu masyarakat memiliki tradisi literasi yang kuat, tidak dapat dinafikan bahwa masyarakat tersebut bermoral dekaden. Pendek kata, sungguh, pembangunan tradisi literasi ini begitu penting untuk membangun kultur yang baik dan peradaban suatu bangsa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: