kataitukata

Tradisi Literasi: Sekali lagi refleksi tentang pentingnya Menulis

In Uncategorized on November 17, 2014 at 3:57 am

Tidak semua orang memiliki kemampuan untuk mengartikulasikan gagasannya melalui tulisan. Terlebih, model tulisan tersebut adalah karya ilmiah seperti paper, jurnal dan naskah penelitian lainnya. Padahal, ide-idenya bisa jadi sangat cemerlang, mencerahkan dan bisa menginspirasi banyak orang.

Seandainya gagasan “hebat” itu ditulis dan dipublikasikan di hadapan khalayak ramai, maka akan lahir orang-orang hebat lainnya. Inilah tujuan mengartikulasikan gagasan melalui karya tertulis. Semakin banyak yang membacanya, semakin banyak pula kemanfaatan yang ditebarkan bagi sesama.

Di lain pihak, aktivitas menulis ini juga penting untuk mengapresiasi tradisi kenabian. Nabi pernah menuturkan bahwa, “Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesama.” Menurut hemat penulis tenar YB. Mangunwijaya, melalui tulisan, sesungguhnya kita telah menyalakan cahaya-cahaya terang, yang akan membimbing siapa saja yang terpuruk dalam gelap yang mencekam (1988).

***

Apa yang perlu kita tulis? Gagasan. Namun, gagasan tentang “apa, bagaimana dan mengapa”, seperti kata Chairil Anwar, adalah persoalan tentang ke mana angin hasrat membawa kesenyapan batin kita. Apa yang menjadi perhatian kita, baik itu minat, kesenangan, kecenderungan dan totalitas kita, itulah kata kunci mengapa perlu membaca-meneliti-mendalami-menulis gagasan tertentu.

Gagasan itu bernama. Namanya adalah pengetahuan. Pengetahuan itu berwujud. Wujudnya adalah wacana. Sesungguhnya yang ditulis adalah wacana-wacana, tentang suatu hal, yang diikat oleh kehendak di dalam relung batin manusia, baik itu disadari atau tidak.

Dalam konteks ini, para penulis sesungguhnya adalah tukang-tukang jahit. Bukan setelan baju atau celana yang hendak dijahit, akan tetapi kata-kata. Wacana-wacana yang dikehendaki akan menampakkan diri dalam realitas nyata, bila ia terbungkus dalam jahitan kata-kata.

***

Sama persis seperti tukang jahit yang sebenarnya, para penjahit kata-kata harus memiliki keterampilan khusus agar karya yang dihasilkan berkualitas tinggi. Barangkali telah menjadi pemahaman umum bahwa, orang yang baru sekali menjahit, mustahil bisa menjadi penjahit ulung, terlebih menjadi penjahit desainer berkelas dunia. Demikian pula dengan para penulis, harus menempa kemahiran menulisnya sampai ia paham betul bagaimana menenun kata-kata yang baik, benar, indah dan sempurna.

Tidak ada cara menempa keterampilan menulis yang terbaik kecuali menjalaninya. Dengan menjalani maka kita akan terbiasa dengan cara-cara, teknik-teknik, strategi-strategi dan metode-metode untuk menenun kata-kata. Barangkali benar ungkapan bahwa, “Pengalaman adalah guru yang terbaik.” Sebenarnya bukan pengalaman yang menjadi guru, tetapi diri kita sendirilah yang membimbing menuju kesempurnaan ideal yang senantiasa diidamkan. Menurut pepatah Jawa, “Witing tresna jalaran saka kulina.” Artinya, “Cinta itu ada karena terbiasa.”

Maka sebenarnya, menulis adalah aktivitas rasa. Seperti halnya cinta, tercipta alah biasa. Sekali lagi, itu semua adalah rasa. Batin kitalah yang berbicara, lewat bahasa yang berwujud kata-kata. Sebagai contoh, Empu Walmiki telah menggubah epos Ramayana menjadi versi Jawadwipa, yang mampu dimengerti oleh orang-orang Nusantara. Karena karyanya sungguh sangat elok, maka Sena Gumira Adjidarma membahasakannya kembali dengan cita rasa bahasa nasional “Indonesia”. Dengan rasa, dengan cinta dan dengan keteguhan, hadirlah di hadapan kita sebuah novel bertajuk “Kitab Omong Kosong” (2012).

***

Para penjahit kata memiliki “masalah besar” dalam menjahit kata-katanya. Masalah besar itu bukanlah “tiada kata-kata yang pas untuk memulainya”, “kehampaan imajinasi”, “kekosongan inspirasi”, “mood yang menghilang entah ke mana” dan lain sebagainya. Masalah besarnya adalah, setiap penulis, tidak dapat menghentikan tulisannya. Apa yang dimaksud dengan gagasan di alam pikir manusia, senantiasa tidak mencukupi bila dituangkan melalui kata-kata. Pasti masih ada yang kurang dan kekurangan itu akan berlipat ganda terus-menerus.

Kita bisa saja menghentikan tulisan kita “di sini” atau “di sana”. Akan tetapi, gagasan-gagasan yang harus melengkapi apa yang telah kita ungkapkan tersebut, masih terlalu kurang dan akan selalu kurang. Gagasan yang terpenjara kata, ia duduk dan terdiam. Sementara itu gagasan yang belum tersentuh pena, ia bersayap, beterbangan dan bergerak bebas lepas di alam imajinasi setiap manusia.

Masalah yang kita hadapi ini begitu serius. Walau demikian tentu saja ada pemecahannya. Meskipun barangkali pemecahan itu sendiri adalah sebuah dusta. Paling tidak, dengan ikhlas berdusta, maka bisa menghibur diri kita sebagai manusia yang papa, alpa dan lupa. Langkah yang paling ringan untuk mengatasi masalah besar dalam menulis adalah, maklumilah segala kekurangan kita. Itu saja. Toh kita hanya manusia yang senantiasa tak sempurna.

***

Dalam menulis karya-karya ilmiah, jelas memerlukan sumber-sumbernya. Sumber itu bisa berupa gambaran kasar fakta-fakta yang tertangkap oleh indera kita (pada akhirnya menjadi fenomena), ungkapan-ungkapan lisan dan informasi-informasi tertulis. Dari pelbagai sumber itulah, para penulis tertuntun untuk mengungkapkan sesuatu dengan corak dan cita rasa tertentu. Dengan demikian, setiap penulis terbimbing dalam memilah-milih diksi yang paling tepat baginya.

Kita ambil contoh yang termudah untuk dipelajari adalah informasi tertulis. Informasi tertulis ini bisa berupa buku-buku, jurnal-jurnal, dokumen-dokumen tertentu, surat-surat kabar dan seterusnya. Marilah kita baca sebanyak-banyaknya sumber yang menurut kita relevan. Dari membaca itulah, maka pintu cakrawala wawasan akan terbuka. Bila wawasan terbuka, jelas “diksi-diksi” akan tumbuh, berkembang dan meluas dengan sendirinya.

Semakin sering kita membaca, semakin bervariasi diksi bahasa yang digunakan. Semakin sering kita menulis, maka semakin tertata cara-cara kita menjahit kata-kata. Semakin sering kita membaca dan menulis, semakin banyak karya-karya yang akan mengabadikan nama si tukang jahit kata.[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: