kataitukata

Aku yang Mandiri

In Uncategorized on April 4, 2015 at 7:32 am

Apakah kamu mengerti, lubuk hatimu mampu merasakannya, ketika diri ini tak mampu melakukan apapun, sementara segala tanggung jawab ada padamu?

Seperti blog ini. Kata itu kata. Ya, kata hanya dianggap sebatas kata. Apalah arti sebuah kata? Atau, walaupun itu tenunan yang indah untuk kata-kata? Tiadalah memiliki arti.

Dirimu tiada berguna, lantas apakah juga bernilai guna ketika menulis sesuatu yang bisa dibaca orang lain? Berapa persentase bagi mereka yang sekedar mau atau punya rasa ingin tahu tentang dirimu? Mungkin 0%. Nilai itu, bahkan pantas diberikan untuk mereka yang sedang kebetulan sekalipun. Terlebih, mengunjungi blog orang lain, bukanlah hal yang menarik di zaman ini.

Aku pun menyadari bahwa zaman telah berubah. Dunia ini berubah. Begitu cepatnya. Sehingga mereka yang memilih diam saja, akan tertinggal jauh dari arus zaman yang begitu cepatnya bergerak. Mungkin juga suatu ketika semua ini akan dianggap sebagai hal yang kuno, lapuk dan masa lalu yang tiada perlu.

Dulu ada Friendster, lalu Yahoo Messenger. Kemajuan teknologi yang pesat, juga menyajikan Facebook, Twitter, Path dan Instagram. Belakangan Google juga berinovasi untuk menyediakan fasilitas yang serupa. Lalu beredar Whatsapp dan Line. Nanti, dalam waktu yang tidak lama lagi, segera tiba pelbagai hal lainnya yang jauh lebih maju, canggih, hebat dan menjadi kegandrungan tren kekinian.

Semua itu, termasuk yang saat ini sudah mulai klasik seperti blogspot, atau website pribadi, atau seperti punyaku yang menumpang di wordpress, bisa menghubungkan manusia satu sama lain, tanpa peduli di mana mereka sedang berada. Asal terhubung dengan internet, siapa saja bisa saling mengunjungi tanpa harus saling bertemu. Kecuali kita mau streaming dan melihat satu sama lain melalui yahoo, gmail atau skypee.

Yang kutulis ini benar-benar kurasakan sebagai hal yang tidak berguna. Tetapi saat aku menyebutnya begitu, di saat yang sama pula aku berharap bahwa ada yang berkenan mampir untuk sekedar membacanya. Termasuk memberikan penilaian bahwa sebuah tulisan memiliki nilai guna, manfaat, atau bahkan sebagai titik tolak untuk meledakkan sebuah granat inspirasi.

Sekali lagi, aku masih mengidap penyakit pesmistik dan skeptik yang parah. Siapa saja, baik itu kawula muda maupun orang-orang yang tua renta, sudah mulai enggan membaca tulisan. Bahkan mereka yang masih mulai belajar membaca, juga sudah sangat malas untuk melakukan aktivitas ‘sederhana’ yang bisa membangkitkan sebuah peradaban. Singkatnya, sekiranya masih ada orang yang kupikir tersesat di tengah tulisan ini, apakah ia mau membaca? Atau paling tidak, tertarik dengan sesuatu yang sangat tidak menarik ini?

Sudahlah, aku ingin berpikir positif. Mau tidak mau, aku harus mengafirmasi segala hal yang mungkin tidak bisa kuterima di dalam dada. Bukankah segala hal di dalam hidup ini, seluruhnya, tidak harus sesuai dengan keinginan jiwa kita? Semua orang memiliki keinginannya sendiri-sendiri. Semua orang hanya memikirkan dirinya sendiri. Itulah yang paling esensial dan jujur.

Akan tetapi, tidak adakah orang yang memiliki keinginan yang sama? Misalnya, kita sama-sama ingin membicarakan ketidakberdayaan kita sendiri? Atau misalnya ada orang yang sama denganku yang mengira bahwa dirinya sedang tidak berguna, berdaya-guna, bernilai-guna, berfungsi, bermanfaat, inspiratif dan seterusnya? Lantas, melalui titian jalan kesabaran dan lapang hati di dalam kesadarannya, mulai mempertimbangkan refleksi hidup ini.

***

Di awal tulisan ini, aku mengatakan bahwa, aku adalah orang yang memiliki tanggungjawab. Namun, seiring dengan segala usaha untuk menggenapi tanggungjawab itu, aku merasa tidak berdaya. Hampir-hampir, mengalami frustasi.

Nah, di tengah segala kesulitan itu, bertambah pula kesulitan lainnya. Misalnya, mustahil membicarakannya dengan orang lain. Apakah menguntungkan mendiskusikan kesusahan kita kepada orang lain? Belum tentu, tetapi bisa jadi.

Terkadang, orang memiliki pemikiran dan tentu saja, keinginan yang berbeda dengan dirimu. Karena itulah, terkadang pula mereka menawarkan solusi yang tidak pernah kamu pikirkan sebelumnya. Itu semua dilakukan, hanya karena mereka bukan dirimu.

Anggap saja kamu mengetahui lubuk hatimu sendiri, dan tahu ‘sedikit’ hal dari hati orang lain. Tetapi, tatkala intuisi kita tumpul, jelas diri kita sendiri ‘pasti’ tak mengetahui bagaimana perasaan orang lain, hati, batin, keyakinan dan penghayatan hidup orang lain.

Jadi, berceritalah kepada yang lain, agar engkau mendapatkan sedikit keuntungan dari mereka. Bukanlah sebagai makhluk sosial, kita harus berbagi satu sama lain. Berbagi rasa, berbagi curahan hati dan berbagi nasehat?

Tetapi, bagaimana mungkin, diri kita sendiri tega melibatkan orang lain, dengan dalih dan topeng moralitas? ‘Demi persaudaraan, demi persahabatan, demi kemanusiaan, demi segala hal yang bersifat sosial, dan bahkan demi agama, kita harus membantu orang lain?’ Mengapa kita sedemikian tega, memanfaatkan ‘demi-demi’ itu untuk keuntungan kita sendiri?

Aku bukanlah orang yang suka bergantung. Memang watak manusia untuk menjadikan dirinya adalah seorang diri. Diri ini ada, sebagai diri yang hidup, dengan dan untuk dirinya sendiri. Aku adalah aku semata, bukanlah orang lain.

Aku bukanlah penjahat yang mau berbagi keluh kesah yang selalu bersifat negatif, lalu memberikan dampak yang negatif pula bagi para pendengar yang baik hati. Sesuatu hal yang sangat aneh, bila kita membiarkan diri kita sendiri melakukan sesuatu untuk orang lain, yang merugikan. Kita selalu ingin menjadikan orang lain korban. Korban yang terbebani dengan segala omong kosong kita sendiri.

***

Huft…, memang tidak mudah untuk berdiri sendiri. Sejak kecil kita dipelihara dengan penuh kasih sayang, seperti kucing. Menangis harus digendong, mengompol harus digantikan popoknya, haus atau lapar harus disusui, dan seterusnya, dan seterusnya. Sepanjang hidup, kita selalu merepotkan.

Bayangkan bila kita dipihak orang lain, yang dikorbankan. Kita akan bilang bahwa, itu semua sama sekali bukan hal yang merugikan, bahkan mulia. Kita bukan dikorbankan, tetapi berkorban. Dan segala bentuk bantuan, pertolongan, cinta kasih dan seterusnya, disebut sebagai pengorbanan. Pengorbanan yang terhormat.

Tidak ada salahnya menolong orang lain. Malah itu semua dinilai sebagai amal saleh, kebajikan, kemakrufan dan perbuatan luhur atas nama apapun, yang penting telah membantu meringankan beban sesama.

Bahkan sesuatu hal yang kita keluarkan untuk kepentingan orang lain, bisa menjelma kebahagiaan. Jiwa, raga, harta benda, ketulusan hati dan seterusnya, bisa menjadi hal yang istimewa bagi orang lain. Apa keuntungan bagi diri kita sendiri? Kepuasan batin yang bernilai lebih besar dari apa yang diterima orang lain. Itu pun seandainya kita ikhlas memberikan apa yang kita anggap bisa membantu mereka.

Memberi hanyalah memberi, lalu kita bahagia. Membantu hanyalah membantu, lalu kita berjiwa besar dan merdeka. Berkorban hanyalah berkorban, lalu kita menjadi manusia terhormat. Apa yang terjadi dengan itu semua?

Itulah bila kita berpikir dari sudut para pemberi, pelipur lara, penasehat, pecinta, penyayang, pengorban, pejuang dan sebagainya. Bila kita diam saja, hati nurani kita akan berbisik, itu sebuah tindakan amoral. Ketidakpedulian adalah akar dari kebohongan di dalam lubuk hati terdalam manusia.

Karena itulah, beberapa orang mengira bahwa kematian dirinya untuk sesama, bisa mengangkat derajatnya. Kehormatan akan dengan sangat mudah diraih, oleh karena tindakan untuk orang lain, sementara di saat yang sama, mengabaikan dirinya sendiri. Kita akan menghapus istilah bahwa diri kita memiliki hak, sementara yang ada hanyalah tanggungjawab sebagai manusia.

Bila kita layak disebut orang yang bertanggungjawab, berarti di saat yang sama, kita sama sekali tidak berhak. Hidup ini memang bukan timbangan hak dan tanggungjawab. Juga bukan pula seperti siapa menanam, lantas menuai. Apakah adil misalnya, orang hanya mendapat kebahagiaan jiwa, sementara ia kehilangan hidupnya tatkala menyelamatkan nyawa orang lain dengan cara mengorbankan dirinya sendiri? Apakah itu timbal balik yang sesuai? Seandainya pamrih tidak lagi dilabeli dengan stigma imoral, apakah layak manusia mati untuk kebahagiaan yang abstrak?

Tidak ada jawaban yang paling tepat untuk memperdebatkan masalah itu. Hal ini sama persis dengan perdebatan para filsuf beratus tahun lamanya. Mereka hanya membuang waktu untuk masalah omong kosong tentang baik dan jahat, benar dan salah, serta ada dan tiada. Buat apa? Pertanyaan buat apa juga tidak terlalu penting, karena berujung pangkal pada sesuatu hal yang serba tidak selesai. Sekali lagi, segala sesuatu mengenai hal ini serba abstrak dan tidak pasti.

***

Dengan basis ketidakjelasan ini, masihkah kita harus membebani orang lain dengan semua omong kosong kita sendiri? Entahlah. Baik merengek, mengemis, meminta bantuan dan seterusnya maupun berpijak dengan kaki sendiri di tanah air yang kita miliki, kita akan tetap merasa tak berdaya.

Ada suatu masa ketika manusia memerlukan bantuan orang lain. Individu tidaklah semata-mata individu, tetapi juga makhluk sosial. Barangkali untung rugi bukanlah timbangan yang tepat untuk merenungkan segala hal tentang sosialitas manusia yang sebenarnya sangat personal.

Rasa-rasanya, aku harus menjadi orang yang menggenapkan segala tugas sebagai manusia yang bertanggungjawab. Di tengah ketidakberdayaan, tidak ada pilihan lain selain berusaha keras, tanpa bergantung dengan orang lain. Sekiranya segala hal tidak pernah tertunaikan, paling tidak kita sudah berusaha. Para pejuang yang mati di medan perang, meskipun belum tentu dianggap sebagai pahlawan, tetap saja mereka dicatat oleh sejarah sebagai orang yang sudah menjalani batas waktu kehidupannya.

Tidak bergantung kepada orang lain, tetapi mencurahkan segala isi hati melalui tulisan, apakah masih termasuk dalam sikap ketergantungan? Jelas saja, bila hal ini dilakukan hanya untuk menutupi segala kekurangan yang kita miliki, dan batin kita terus merengek untuk mendapatkan uluran tangan orang lain.

Akan tetapi bila kata-kata tertuju pada dirimu sendiri, sebagai patner imajiner yang meskipun dianggap tidak bakal mampu keluar dari kotaknya sendiri, paling tidak, kita menyadari bahwa diri kita sedang memerlukan bantuan, tetapi kita tidak mau meminta bantuan.

Cukuplah kematian karena keterbatasan kita sendiri sebagai penanda bahwa, diri kita mandiri. Kemandirian adalah ciri, bukan kepribadian individualisme manusia, tetapi usaha untuk tidak mau merepotkan orang lain. Dengan demikian, di saat yang sama berarti kita tidak merenggut kemanusiaan orang lain. Kita tidak perlu menjadikan siapapun sebagai korban keganasan kita.

Sekiranya kita mandiri dan memberikan sesuatu kepada orang lain, itu lebih baik. Mandiri dan memberi, tidak selalu harus menguntungkan diri sendiri. Kita mungkin rugi, tetapi paling tidak, bukan orang lain yang rugi. Kita memiliki hak untuk berbuat sesuatu pada diri kita sendiri, secara penuh dan utuh. Sekali lagi, ini semua adalah atas nama omong kosong yang serba abstrak. Dengan kata lain, bukanlah tempatnya untuk memperdebatkan hal yang tidak perlu diperdebatkan. Perlu atau tidak, mungkin tidak bisa diperdebatkan. Namanya juga omong kosong, bukan?

***

Aku berharap orang lain membaca ini semua, bukan rengekan. Aku ingin memberi tahu bahwa, sudah semestinya kita menyadari hidup kita sendiri. Dan sesuatu yang paling utama adalah kesadaran mengenai hidup yang mandiri, otonom, tiada bergantung, tanpa bantuan siapa saja, tetapi bukan imoral dan asosial.

Tidak ada keterangan bahwa kita harus hidup sendiri, dengan diri kita sendiri, untuk diri kita sendiri dan dengan segala kesendirian kita. Hanya saja, kita perlu mengafirmasi ke-ada-an atau ke-hadir-an diri ini, sehigga kita bisa memberikan sesuatu yang kita anggap bermanfaat bagi sesama. Untung ruginya tidak terlalu penting, karena memberi hanyalah memberi. Bukan karena hal itu baik, tetapi karena kita tidak bergantung kepada orang lain, sekaligus tidak merugikannya.

Dengan sekedar kata-kata, semoga kita menyadari bahwa, segala ketidakberdayaan kita masih memiliki nilai guna. Ada sesuatu yang diberikan, mengenai filsafat terutama. Ini semua sekedar permenungan tentang hidup yang penuh tanggungjawab bagi siapa saja yang tidak berguna sepertiku. Marilah kita menyadari bahwa diri ini harus mandiri. Sudah berapa kali aku mengatakannya, tetapi anggaplah semua ini omong kosong belaka dan pikirkan dirimu sendiri.

Apakah kau sedang tidak berdaya sementara ingin merugikan orang lain? Atau tidak berdaya dan ingin berdaya guna bagi orang lain? *Rahasianya adalah, sebenarnya manusia serba tak berdaya, serba pengecut, serba penghisap, serba merengek, serba lemah dan serba-serba lainnya. Kalau engkau menemukan dirimu sendiri, engkau akan menemukan segala hal tentang hakikat makna hidup. []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: