kataitukata

Tujuh Mei 2015

In Uncategorized on May 8, 2015 at 2:11 am

Sejujurnya mulai tampak kejelasan padaku. Mana-mana saja kebaikan yang tulus dan mana yang bukan. Bahkan, aku bisa melihatnya dari sorot matanya. Bukan karena memang hal itu bisa ditandai melalui tatapan mata. Terlebih sebagai suatu hasil analisis fisik biologis. Bukan. Aku mengatakan ini karena batinku yang mengatakannya.

Selama ini, seseorang yang “kuanggap” sebagai orangtua (di samping orangtuaku yang asli), sebagai ibu dan bapak, keduanya adalah orang-orang yang memiliki nilai kebaikan itu. Apa yang diucapkannya, diajarkannya, cara menasehatiku ketika aku memang perlu pencerahan jiwa, adalah benar-benar hal yang ikhlas. Bahkan, ia kerap menyerahkan segala hal yang telah dilakukannya kepada Allah SWT.

“Biarlah Allah saja yang menilai,” atau “Semua rizki dan keajaiban ini, siapa lagi jika bukan Allah?” Sungguh, aku dapat membaca itu semua dengan baik. Bahkan, sejak aku pertama kali bertemu dengan mereka. Saat itu, aku adalah seorang papa yang tiada berdaya. Aku pergi dari rumah tanpa bekal dan uang saku yang cukup.

Merekalah yang memberikanku segalanya. Makan, minum, tempat tinggal, pakaian, ilmu pengetahuan dan bahkan, mengajarkan praktik akhlak seperti yang dianjurkan oleh Nabi. Aku memahaminya dan aku terus belajar untuk menjadikan segala kebajikan itu sebagai bagian dari hidupku. Sungguh, aku tak mampu membalas apapun yang mereka berikan.

Aku menganggap mereka sebagai orangtuaku sendiri. Aku mengatakan itu semua, dengan segala kesadaranku. Aku hanya berusaha jujur. Tidak lebih. Namun, pertimbanganku memilih mereka bukan karena aku merasa berhutang budi. Sama sekali bukan. Tetapi karena ketulusan atas apa yang ada di dalam hati mereka.

Mungkin aku berlebihan menganggap mereka terlalu sempurna sebagai gambaran sosok manusia yang baik di zaman serba korup ini. Aku juga tidak tahu apa yang ada di dalam hati setiap manusia yang bisa saja terjerumus dalam jurang nista kejahatan. Tetapi, apa yang tampak di hadapanku sehari-hari, menjadikanku mau bersaksi bahwa mereka adalah orang yang baik.

***

Aku memang tipe orang yang tidak mudah mengakui kebenaran. Tidak mudah percaya. Bahkan terhadap apa yang ada di dalam diriku sendiri. Barangkali realitas empiris yang serba materiil bisa menjadikan keyakinanku semakin genap dan, kebenaran itu, bisa ditentukan dengan pandangan yang semakin jelas, jernih dan tampak (mewujud).

Oleh karena itu, aku perlu membuktikan segala sesuatunya. Entah orang itu dianggap baik, ataukah buruk, aku tetap harus membuktikannya. Mendiang kakekku menasehati, “Berbuat baiklah kepada orang lain dan engkau akan menuai kebaikan pula.” Jadi, ketika ada kesalahan sedikit pun dari orang terdekatku, aku bisa mengetahuinya bahwa itu tidak benar.

Tetapi, itu dulu. Di mana aku adalah anak bau kencur yang sangat polos. Aku sama sekali tidak memahami konteks situasi politik dan meluapnya syahwat kejahatan. Mungkin, aku belum membuktikannya secara lebih pasti. Atau, bisa jadi itu semua kupikirkan secara tidak utuh dan setengah-setengah karena aku belum mengalaminya.

Aku sempat bertanya-tanya di tengah malamku, “Mengapa orang baik bisa mengatakan hal yang sangat buruk tentang orang lain (yang dianggap musuhnya)?” Ternyata, baru saat inilah aku baru memahami. Ternyata, perkataan buruk itu bukan sesuatu yang lahir begitu saja dari penuturnya. Kata-kata nista yang terucap, adalah buah refleksi.

Jelas bukan refleksi pribadi penutur. Tetapi refleksi tindak laku jahat orang lain, sehingga “orang baik” ini mengatakan fakta yang sebenarnya tentang kejahatan yang dilakukan oleh orang lain tersebut. Sekali lagi, pemahaman ini baru tergenggam erat di dalam dadaku, tatkala aku mengalaminya saat ini. Mengalami keburukan oleh sebab kejahatan orang lain. Orang yang sama.

Namun, aku ingin membuktikan semuanya. Membuktikan bahwa orang baik memang benar-benar baik dan orang yang jahat, benar-benar jahat. Caranya, aku harus lebih dekat dengan mereka. Bahkan, kalau memungkinkan, seperti bagian dari keluarga sendiri. Memang hal ini beresiko, tetapi aku memiliki kesempatan terbaik untuk membuktikan kebenaran.

***

Aku hanya berdoa, semoga tidak ada salah paham. Baik di antara mereka yang baik, maupun di antara mereka yang jahat. Suatu saat, aku berjanji akan mengatakan di hadapan mereka sendiri, tentu dengan cara yang paling santun dan bijak sana, bila memang mereka itu baik atau jahat. Inilah ikrar yang kutanam dalam relung jiwaku dan aku harus membayarnya sebagai hutang.

Tetapi, sekiranya aku dianggap bijaksana dan bijaksini, atau seorang yang plin-plan, atau yang memihak kedua belah pihak, atau berpijak pada kedua kaki yang satu sama lain berseberangan, atau yang terburuk aku dianggap sebagai orang yang munafik, itulah memang hal yang harus kutanggung. Apa lagi yang bisa dipanen dari pembuktian kebenaran? Jelas, kecurigaan pihak lain.

Dengan cara terbaik, aku ingin menjelaskan kepada mereka bahwa, pandanganku setelah memahami kebenaran adalah tetap. Aku bukanlah orang yang berwajah ganda. Tidak. Sama sekali tidak. Demi Allah Yang Maha Benar, aku jelas memihak yang benar dari pada yang salah. Bahkan setiap lima kali sehari, aku berdoa kepada Allah, agar tampak yang benar dan salah di hadapanku.

Sekali lagi, aku ingin mengungkapkan, baik itu dengan isyarat maupun secara langsung melalui lisanku bahwa, kebenaran itulah yang benar. Kebaikan yang benar-benar tampak dan tiada keraguan untuk membenarkannya, harus dipilih. Adapun kejahatan, di mana aku terlibat di dalamnya demi meluruhkan hasratku untuk mengungkap kebenarannya, harus dimaklumi.

Tentu aku tidak terlibat dalam perbuatan jahat itu. Hanya, aku mencoba berdiri di tengah lingkungan hitam itu untuk mencatat dan memahami apa-apa saja yang telah mereka lakukan. Bukankah aku sudah menjelaskan, bahwa aku ingin membuktikan kebenarannya? Pembuktian jelas perilaku lain, yang tidak tersangkut-paut dengan kejahatan itu sendiri.

Aku berdiri di pihak yang mana, semoga ditelaah dengan caraku menelaah. Yang paling awal, adalah menggunakan batin. Batin yang tulus, utuh dan murni. Dengan segala kesucian jiwa memandang diri dan manusia lainnya. Namun, sekiranya orang yang telah kupilih ingin pembuktian, aku akan membuktikannya. Tentu, dengan cara yang baik. Insya Allah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: