Lapar, sangat lapar dan kelaparan adalah “Kaliren”

Jika engkau tidak cukup miskin, cobalah untuk setidaknya merasakannya. Jangan makan, jangan minum. Hidup sajalah dengan bernafas. Buka matamu, tahan nafsumu. Atau, bukan begitu. Hilangkan nafsumu. Itu juga bukan. Yang tepat adalah, kosongkan nafsumu. Kekosongan adalah ketiadaan atau kesempurnaan.

Jangan maka tiga hari berturut-turut, jangan bertanggungjawab, jangan berbuat baik atau jahat, jangan mempermainkan rasa. Hanya kosong belaka. Tiada isi.

Biarkan tubuh ini yang menggerakkan semuanya. Bukan nafsu yang mengemudi. Biarkan tubuhmu melayang di udara, atau mengapung di tengah samudera tanpa badai. Kalaupun badai menerpa, anggaplah itu biasa, karena diri dan jiwamu pun tiada.

Rasakan lemasnya seluruh bagian tubuhmu. Rasakan pula kepalamu hanya batu yang tak mampu memikirkan walau sekedar pilu.

Hahaha…asyik bukan? Inilah kemerdekaan itu. Kita tidak ingin ini itu, karena makanpun tiada tersebut dalam daftar nafsu yang harus diburu.

Kau, tak perlu bingung menjadi hina. Karena kehinaan adalah syarat utama menjadi sempurna.

Sempurna adalah merdeka. Mengapa merdeka? Ketika itu, engkau merasakan tiada lagi sakit atau pun suka cita. Kematian jiwamu adalah pintu menuju nirwana.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s