kataitukata

Tangis, senyum, pasrah dan menghilang

In Uncategorized on June 4, 2015 at 11:47 am

“Terukir di bintang, tak mungkin hilang, cintaku padamu…” – Yuna

Manis sekali lirik lagu ini. Saat ini, sedang kudengarkan via youtube. Aku duduk di kantor ketika adzan isya’ berkumandang. Sudah lebih dari lima belas kali isteriku menelepon, tetapi tak kuangkat. Entahlah. Aku tak tahu mengapa aku bersikap demikian.

Tapi saat itu, mataku hanya meneteskan air mata. Namun sejurus kemudian, aku malah tersenyum. Mungkin, diriku sedang menghayati sesuatu. Hidup. Ya, tentang makna hidup. Atau, hidup itu sendiri. Ya, hidup.

Aku baru saja kehilangan pekerjaan. Ya. Berarti kehilangan martabat. Aku bukan lagi menjadi bagian dari kelas pekerja, karena aku tak lagi memilikinya. Bahkan, dari yang terendah sekalipun.

Tetapi aku senang. Perasaan riang dan kebahagiaanku sugguh luar biasa. Tanpa kelas, tanpa martabat, tanpa kehormatan, telah kulalui pertama kalinya dalam hidup. Berarti, aku memiliki pengalaman yang begitu kaya. Ya. Aku sangat kaya raya, justru ketika aku tidak memiliki apapun.

Janganlah bertanya tentang makan. Atau, juga tentang kewajiban menafkahi isteri dan keluarga. Aku bisa makan apa saja, asal halal. Makanan, lauk pauk, sayuran dan lain-lain bisa kudapatkan secara percuma dari tong sampah. Minum, bisa dari air kran masjid. Sementara support keuangan untuk keluarga, aku masih cukup pandai untuk berhutang kepada para sahabat sejati. Dan, tentu saja, tak ada yang berani menagih. Hahaha…

Orang merdeka sepertiku ini sudah sangat kebal dengan penderitaan. Cemooh, caci maki, hasutan, perkataan kotor dan lain sebagainya, tak akan mampu menembus pagar senyumku yang sangat manis. Semanis gulali yang disari dari madu murni, dari lebah yang gemar berpuasa dan hanya memanen keperawanan bunga-bunga ilahi.

Aku kini, memiliki hobi baru. Yakni, mendengarkan segala hal. Baik atau jahat, bersih atau kotor, wangi atau busuk, benar atau salah, indah atau buruk dan seterusnya. Mendengarkan, adalah kenikmatan tersendiri. Namun ketika pertama kali mendengar, aku tak kuasa untuk memikirkannya. Rasanya, otakku sudah tak punya stamina lagi. Karena itulah, hati, pikiran dan jiwaku pun, sedang mengistirahatkan diri.

Aku mulai melihat segalanya menjadi jernih, ketika tiada daya dan upaya. Ketika aku berpasrah pada segala.

Aku menghilang, entah ke mana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: