kataitukata

Nelangsa

In Uncategorized on August 26, 2015 at 9:14 am

Di hari-hari yang semakin berat ini, aku makin merasakan, betapa hidup ini sungguh nelangsa. Tidak ada protes yang perlu dilontarkan, tidak ada pula keluh kesah yang harus dibisikkan, dan yang terpenting lagi, tidak ada setetes pun daya dan upaya yang mampu menanggulangi bencana hebat krisis identitas akan kesejatian makna hidup sebagai manusia.

Dengan jalan yang gontai dan tatapan mata yang kosong, kesadaranku mulai mengabur. Yang kupikirkan hanya satu hal dan itu pun serba tidak pasti karena aku tlah kehilangan dasar pijak sebagai manusia yang berdikari. Apa itu? Aku menyerah.

Namun, itupun tak pernah kulakukan, karena ketika aku menyerah, aku hanya berharap untuk menyerah. Harapanku tiada pernah benar-benar terwujud karena untuk menyerahkan diriku pada kehidupan ini pun aku tak mampu lagi.

Dalam ruangan luas yang sepi, seperti kotak kaca untuk ikan-ikan yang berenang di udara tanpa air segar, sayup-sayup aku mendengar sajak yang semakin membuat nyiut nyaliku berhadapan dengan ombak besar kehidupan ini.

…Kau tak akan mengerti bagaimana kesepianku

menghadapi kemerdekaan tanpa cinta

kau tak akan mengerti segala lukaku

kerna luka telah sembunyikan pisaunya.

Membayangkan wajahmu adalah siksa.

Kesepian adalah ketakutan dalam kelumpuhan.

Engkau telah menjadi racun bagi darahku.

Apabila aku dalam kangen dan sepi

itulah berarti

aku tungku tanpa api…” (WS. Rendra)

Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika sudah mencapai titik Rp. 14.000,- Ini jelas sangat berat bagi perhitungan bangsa ini. Bagiku? Gajiku yang tidak naik-naik, sangat kecil dan jelas di bawah standard UMR, menghadapi tinju uppercut dahsyat tersebut jelas langsung k.o. Aku jatuh terkapar sampai hitungan ke 10 walau ronde pertama pun belum kulalui.

Bisa apa hidup dengan uang 1 juta bersama anak istri dengan banyak tanggungan? Ya bisa melarat kerat. Lantas tanganku yang remuk karena dihantam takdir, di bukit yang sangat dingin ini, semakin cenat-cenut menyanyikan lagu wajib bagi para pesakitan. Aduh…aduh… waduh…

Lalu aku bergumam pada sahabatku (kawan akrabku adalah diriku sendiri), aku ini, sudah sakit-sakitan, tinggal sendiri di gubuk kecil ini, sungguh susah mau mandi, tidur, bangun, apalagi lari-lari. Pekerjaanku naik levelnya menjadi seratus kali lebih berat dari biasanya. Bukan karena apa, tetapi karena menahan sakit yang luar biasa.

Aku bisa menahannya. Yang aku tidak bisa menahan adalah anakku yang baru saja lahir dan istriku yang kutinggal di kampung. Susahnya bukan main, karena merasa terbebani segala hal. Yang terberat adalah beban mental. Sampai-sampai, aku jarang makan. Bukan karena tidak mampu membeli beras, iyah, itu memang benar, tetapi aku kehilangan selera. Setiap hari pada akhirnya hanya mengonsumsi indomie dan telur rebus. Dan, aku tak lagi mau membeli air kemasan atau air galon. Aku kini gemar meminum air ledeng yang sangat segar. Entah sehat atau tidak, bukanlah menjadi perhatianku.

Bobotku yang menyentuh angka 70 kg, kini turun drastis mencapai angka 57. Drop! Sesak nafasku mulai kambuh, migren, sakit kepala, dan mual-muntah mulai menjadi sahabat karib yang selalu siap menemani hari-hariku. Aku tidak pernah tidur di bawah jam 3 pagi. Jiwaku selalu gelisah. Bukan karena insomnia atau banyak jerangkong yang melayang-layang di langit-langit kamarku yang gelap. Tetapi karena luka bekas operasi yang benar-benar menyusahkan. Tetapi itupun masih bisa kuatasi. Sekali lagi, rasa rindu pada buah hati dan belahan jiwaku yang membuatku begini.

Masalah-masalah terus berdatangan tanpa henti. Sementara aku, bekerja terus hingga mampus. Harapan sudah mati, lantas ternyata ada buah yang tumbuh dari pohon kemalangan ini: nestapa.

  1. Selamat atas kelahiran anak pertamanya…………

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: