kataitukata

“Mencari Makna, Membangun Filsafat Pluralisme” [Samudera dan kaca mata kita 1]

In Uncategorized on August 31, 2015 at 4:21 am

Samudera dan kaca mata kita

Buku ini adalah sebuah perjalanan, dan inisiasi. Sebenarnya tentang bagaimana menata dan menjalani jalan hati, pikiran dan suatu hal yang imaginer.

Tiada pernah ada perbincangan yang lebih bising mengenai perbedaan dan keragaman ketimbang apa yang kita temui di zaman globalisasi dan modernisasi, dan walaupun demikian, lebih dari sekedar yang pernah kita lalui, kita tampaknya telah terjebak oleh segala identitas dan perbedaan kita sendiri. Dunia global ini bak sebuah kampung; mereka bertutur…sebuah kampung bagi orang-orang kampung yang tak memahami satu sama lain. Untuk merasakan lebih dari satu hal: mereka tak tahu siapa diri mereka sendiri, dan mereka juga tak mengerti dengan siapa pula mereka tinggal. Situasi ini hanya akan dibicarakan secara tidak ikhlas, khawatir dan membiarkan pertikaian ketimbang mengedepankan perayaan kepercayaan diri kita sebagai bagian dari kekayaan kita sendiri: Edward Said menandaskan bahwa hal itu akan membawa kita pada ‘benturan ketidaktahuan’; Aku mengatakan bahwa hal itu akan menjerumuskan kita pada adanya ‘pertikaian persepsi’. Jelas persepsi yang lebih dikenal ketimbang ketidaktahuan: persepsi tentu saja berbuah dari sebuah ketidaktahuan, namun setiap orang mengekspresikan hubungannya dengan diri kita sendiri dan orang-orang lain bahwa kita harus melakukan sesuatu atas pertimbangan yang lebih dari sekedar pengetahuan semata. Persepsi terbangun dari perasaan, emosi, keyakinan dan psikologi. Kita tak punya kepercayaan diri. Kepercayaan diri terhadap diri kita sendiri, Kepercayaan diri terhadap orang lain, terhadap Tuhan atau siapapun dan juga terhadap hari depan. Kita kehilangan kepercayaan diri, tiada bayangan akan sebuah keraguan atas hal itu. Khawatir, ragu dan rasa tidak percaya tanpa kita ketahui telah menjajah hati dan pikiran kita. Dan pada akhirnya orang lain menjadi cermin negatif bagi diri kita, dan keberbedaan yang dimiliki orang lain mengizinkan kita untuk memaknai diri kita sendiri, untuk mengidentifikasinya, dan, pada dasarnya, hal itulah yang akan menenangkan hati kita untuk sementara. Orang lain menjadi suatu hal yang mengalihkan perhatian kita terhadap diri kita sendiri, menurut tuturan Blaise Pascal. Orang lain membuat bingung kita terhadap diri kita sendiri, terhadap ketidaktahuan kita, kekhawatiran kita dan keraguan kita, karena selagi masih ada orang lain maka hal itu akan menentukan dan mendikte kecurigaan kita. Kita punya gambaran mengenai diri kita, namun di saat yang sama kita harus mengakui bahwa kita sesungguhnya tak memiliki bahan-bahan untuk menggambarnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: