kataitukata

“Mencari Makna, Membangun Filsafat Pluralisme” [Samudera dan kaca mata kita 2]

In Uncategorized on September 1, 2015 at 8:33 am

Kita pada akhirnya mesti kembali kepada kebenaran yang mendasar. Sederhananya, yakni kebenaran yang begitu luhur. Kita harus menatanya, mengajukan pertanyaan yang esensial dan mencari makna di baliknya. Kita harus berjalan melintasi diri kita sendiri dan menemukan rasa di dalam pertanyaan-pertanyaan, kritik yang konstruktif dan kerumitannya. Kita memulainya melalui pendirian suatu pengertian mengenai kebenaran bahwa, hal tersebut sesungguhnya secara alamiah akan membangun kebersahajaan dan kerendahan hati atas gerak intelektual kita: kita semua menatap dunia melalui jendela kita sendiri, kaca mata kita sendiri. Sebuah kaca mata adalah sudut pandang yang melintasi segala batas tatapan, sebuah kerangka, sebuah teropong yang diwarnai oleh keluasan-keluasan, dan hal itu memiliki orientasi serta batasan tersendiri: semuanya, secara bersamaan, mewarnai seluruh sudut pandangan. Kita mesti memulainya dengan segala kerendahan hati, dengan hati yang legawa bahwa sesungguhnya kita tak memiliki apapun selain sudut pandang, dalam pengertian yang paling sederhana, dan atas hal itu, kita membentuk ide-ide kita sendiri, persepsi kita sendiri, serta imajinasi kita sendiri. Menghadapi pelbagai istilah yang begitu syarat dengan betapa nisbinya pandangan kita, bukan berarti bahwa secara tidak langsung kita harus meragukan segala hal, dan semestinya, perlu ditekankan bahwa sama sekali bukan untuk mengarah kepada hal tersebut. Hal itu mungkin cukup bertolakbelakang, dan hasilnya membawa kepada kepercayaan diri yang terhindar dari sifat arogansi, memelihara kesehatan, meningkatkan semangat bekerja dan membangun rasa ingin tahu yang kreatif mengenai tak terbatasnya jumlah kaca mata yang berasal dari setiap manusia yang sedang menatap dunia yang sama. Keragaman adalah seperti pelbagai keraguan yang kita miliki tentang apakah kita sedang berbincang mengenai dunia yang sama, pertanyaan yang sama dan kemanusiaan yang sama. Di dalam ‘kampung global’, kita terus-menerus melantunkan nyanyian individualisme yang sebenarnya mengendalikan kita agar menjadi ragu terhadap kenyataan bahwa ada kepingan-kepingan filsafat di balik segala perhitungan atas masing-masing bujuk rayu di dalam dada yang hendak menggapai kekuasaan dan nafsu pribadi. Dan apa yang dapat ego perbuat terhadap sifat egoisme?

Maksudnya adalah bahwa kita tidak akan bisa melepaskan kaca mata yang kita pakai. Kita tetap memakainya, lantas merenung, itulah jalan menuju hati, pikiran dan imajinasi! Horizon di hadapan kita menyuguhkan dua pilihan: kita bisa mencoba kaca mata yang satu atau yang lain, dari filsafat yang satu menuju filsafat yang lain dan dari agama yang satu kemudian agama yang lain, serta mencoba mengerti, satu demi satu, tradisi, mazhab, ajaran mereka dan prinsip-prinsip mereka. Oleh karena kita berjalan dari satu tempat ke tempat yang lain, dari pribadi kita sendiri menuju yang lain, kita akan menemukan banyak kemiripan, banyak sesuatu yang serupa dan banyak nilai-nilai yang kita bagi satu sama lain. Atau kita bisa mengambil jalan lain, yang akan membawa kita menuju relung jiwa suatu pandangan, dan kemudian mengundang diri kita memasuki gerak pandang pada pelbagai kaca mata yang terpasang di sekeliling kita. Ketika kita menentukan jalan itu, tiada lagi tanya yang mempersoalkan serba beragamnya pelbagai sorot mata yang memandang, namun kita akan menghunjamkan pandang kepada setiap obyek yang kita pilih, dan lantas kemudian kita berupaya memahami perbedaan-perbedaan sudut pandang dan esensi dari kemiripan mereka. Ketika kita menerima keberadaan kaca mata kita, kita pada akhirnya harus melewati, menata diri kita sendiri agar terbebas, berenang mengarungi samudera, memasang layar, memacu laju perahu, pergi, berhenti, tenggelam, berusaha bangkit, berhenti lagi, melebarkan kembali layar perahu, dan mengingat-ingat bahwa sebenarnya samudera itu ada, namun hanya karena luasnya daratan yang ada maka akan seperti hanya ada satu samudera, dan kehadirannya juga hanya berkaitan dengan harapan akan semangat bertahan hidup. Dan demikian pula sebaliknya.

  1. abang, blogku ganti alamat🙂

    Aku tetap baca tulisan-tulisan abang. Rajin-rajinlah posting, aku juga mulai rajin. Mampir ya bang🙂

    https://bangicalku.wordpress.com/

    • Terimakasih Cal, Aku setiap hari menulis, kebanyakan untuk buku. Selebihnya, tuntutan pekerjaan dan terkadang untuk mencari sedikit uang, secukupnya, apabila kebutuhan sehari-hari sudah kehabisan biaya. Baiklah aku akan sering-sering berkunjung ke blogmu.

      • Hmmmm, aku belum mengalami fase yang abang alami …

        Aku bisa mengerti rasanya, tapi tetap aja mungkin semu ..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: