kataitukata

Kita dan Kesadaran ‘‘Perlawanan’’

In Uncategorized on November 6, 2015 at 8:19 am

Alatas

Hasnan Bachtiar
Pendiri The Reading Group for Social Transformation (RGST)
“Kudongkel keluar
orang-orang pintar dari dalam kepalaku
aku tak tergetar lagi
oleh mulut orang-orang pintar
yang bersemangat ketika berbicara
dunia bergerak bukan karena omongan
para pembicara dalam ruang seminar
yang ucapannya dimuat di halaman surat-kabar
mungkin pembaca terkagum-kagum
tapi dunia tak bergerak
setelah surat-kabar itu dilipat…”

Wiji Thukul, Mendongkel Orang-Orang Pintar (1993)

Pembuka Wacana
Semoga lirik-lirik kasar Wiji Thukul di atas, mampu menimbulkan erupsi kesadaran kemanusiaan kita. Kesadaran kemanusiaan adalah hal yang terpenting, di mana kita akan mampu menyadari diri dan lingkungan kita sendiri. Segala krisis kemanusiaan yang ada dan kebutuhan untuk menyelesaikan masalah tersebut, harus menjadi bagian dari kerja-kerja kesadaran kita sendiri.

Dalam mendiskusikan kenyataan mengenai krisis kemanusiaan yang dewasa ini terjadi, penting kiranya mewacanakan dan menyuarakannya secara keras di ruang publik. Diskusi adalah aktivitas kesadaran (menyadari dan menyadarkan). Sementara pewacanaan adalah agenda komunikatif, dalam rangka memperluas kesadaran kritis yang ada, sehingga timbul kearifan publik yang peduli dan memihak pentingnya perubahan sosial dan kemanusiaan, menuju kepada kondisi yang lebih baik.

Ilmu pengetahuan, wacana dan bahkan nilai-nilai sejarah tertentu, bukanlah hal yang hadir dan mewujud begitu saja secara arbiter. Di saat yang sama pula, pemuliaan terhadap ide-ide dan nilai-nilai mengenai hal tersebut, sama sekali bukan pula untuk melayani kepentingan wacana itu sendiri. Ilmu pengetahuan bukanlah bekerja untuk ilmu pengetahuan. Dengan demikian netralitas akademik, adalah hal yang bertolak belakang dengan pentingnya wacana dan pewacanaan yang memihak kepentingan sosial kemanusiaan kita sendiri dan lingkungan kita sendiri.

Paper ini mengandung nilai-nilai advokasi wacana yang memihak kepentingan sosial kemanusiaan miliu lokal tempat kita hidup dan bernaung. Advokasi yang pertama kali dilakukan adalah mengidentifikasi problematika faktual yang mendasar dan berupaya memberikan berbagai solusi kreatif secara intelektual terhadap hal tersebut. Kita dan kesadaran ke-kita-an kita, adalah hal yang hendak didiskusikan secara intensif dalam narasi ini.

Kesadaran Kritis dan Perlawanan
Penting kiranya mengambil manfaat dari kesadaran-kesadaran yang lahir dari berbagai belahan dunia. Hal tersebut akan menjadi ibrah yang menerangi segala ikhtiar sosial dan intelektual kita, sehingga kita mampu memecahkan masalah yang ada di hadapan kita sendiri.

Kita bisa memulainya dari filsafat Raushan Fikr. Ciri khas dari Raushan Fikr, – semacam Renaissance atau Aufkärung ala Timur – bukan sekedar terletak pada kebangkitan intelektualnya. Fondasi utama adanya kebangkitan itu sendiri adalah, kesadaran akan hal yang serba bersifat kontekstual.

Segala hal yang keliru, mengekang, memenjarakan, menjajah dan membelenggu, itulah yang ditantang dan dilawan oleh kesadaran. Sementara itu, spirit intelektual yang ada, menjadi api yang berkobar, yang siap melahap apa saja yang dihadapinya.

Iran, sebagai konteks partikular yang melahirkan kobaran api tersebut, secara begitu gamblang, telah menginspirasi seluruh komunitas maupun kelompok yang menjadi korban keganasan dehumanisasi (baca: sikap arogan anti kemanusiaan). Berturut-turut kebangkitan telah terjadi, di berbagai belahan dunia. Di Mesir, di Turki, di India-Pakistan, di Jepang, di Cina, di Afrika, dan jelas di Indonesia pula serta seterusnya.

Di negeri ini, petanda adanya kebangkitan adalah Sumpah Pemuda. Yang ‘‘disadari’’ jelas. Adanya kolonialisme Eropa, sebagai musuh utama yang harus dilawan dengan berbagai cara. Sementara itu di dalam tradisi bermuhammadiyah, istilah Pengikut Muhammad (baca: followers Sang Nabi), al-rujû’ ‘ila al-Qur’ân wa al-Sunnah (kembali ke al-Qur’an dan Sunnah), Penolong Kesengsaraan Oemoem (disingkat: PKO), hingga Tachayul, Bid’ah dan Churafat (disingkat: TBC), merupakan manifestasi sistem tanda dan pemaknaan yang serupa.

Jelas Sumpah Pemuda dan Muhammadiyah terhubung erat dengan tali pati kemanusiaan. Hal ini berjalan beriringan, seperti misalnya, ketika diikrarkan bahwa, Persyarikatan tersebut menerima Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan harga mati.

Apa yang diperjuangkan oleh Sumpah Pemuda, sama persis dengan apa yang dijihadkan oleh Muhammadiyah. Musuhnya pun sama, walau keangkeran wajahnya, memiliki fitur dan spesifikasi masing-masing. Namun yang jelas, kita sama-sama memerangi penjajahan, despotisme struktur kekuasaan, feodalisme yang bejat dan keserakahan kaum kaya yang bengis.

Di samping itu, tujuan dan cita-cita yang dimiliki pun mirip sekali. Seandainya terdapat perbedaan, sangatlah tipis. Apabila Sumpah Pemuda berikhtiar akan Indonesia Merdeka (meminjam istilah Tan Malaka, Merdeka 100%), sehingga di masa pasca kemerdekaan, terealisasi adanya keadilan sosial, kemakmuran dan kesejahteraan, di Muhammadiyah juga demikian. Hanya memakai sedikit bumbu teologi Islam, sehingga terartikulasikan melalui istilah baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur (artinya: terwujud negara yang Merdeka 100%, – hanya saja – dan mendapat welas asih cahaya Tuhan).

Hal tersebut, hampir-hampir sama persis, tentu saja apabila Pancasila dimaknai sebagai Aqidah Islâmiyyah, yang disampaikan melalui lisan kaumnya, yakni kaum Nusantara. Sila ‘‘Ketuhanan Yang Maha Esa’’ misalnya, konon merupakan terjemah dari firman Allah dalam Surat al-Ikhlas, ayat pertama. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa segala hal yang bertentangan dengan Kemerdekaan 100%, nyata-nyata telah menghardik welas asih Sang Khalik, yang Maha Perkasa.

Itulah, kesadaran yang lahir, sebagai anak pertama dari kegelisahan batin akan situasi kontekstual sehari-hari. Kesadaran adalah perlawanan, genderang perang dan perjuangan tanpa akhir.

Mendiagnosa Kontemporaritas
Setelah memahami kesadaran, kita harus memahami betul apa yang sesungguhnya terjadi di sekitar kita saat ini. Dengan kata lain, penting untuk mendiagnosa kontemporaritas, baik dari segi waktu maupun fenomena sosial kemasyarakatan yang terjadi di sekitar kita, dalam berbagai skala, dari lokal, regional/nasional hingga global/internasional.

Kita menyadari bahwa kini situasi telah berubah. Segala hal menjelma dalam wujudnya yang serba ekstrem. Termasuk pula globalisasi. Tiada satu tempat atau wilayah pun, yang tiada terjangkau, bahkan oleh manusia belaka. Dalam waktu beberapa detik saja, seorang pemuda dari Malang, Jawa Timur, Indonesia, bisa bercengkrama ria dengan seorang gadis yang tinggal di kota Moskow, Rusia. Alam sibernetik (cyberspace) menjadi semacam perantara yang maha hebat, melampaui para dukun atau orang pintar yang sedang menunggu wangsit, dari para dedemit.

Banyak cendekiawan memandang bahwa, di satu sisi, perubahan situasi yang ekstrem ini tergantung kepada sang pemenang peradaban. Sejak Syed Hussein Alatas, Edward Said, Hamid Dabashi, Gayatri Spivak, hingga Soedjatmoko, Kuntowijoyo dan budayawan kondang Sujiwotedjo, memandang bahwa, itulah buah dari kemajuan sains dan teknologi di Eropa (juga Amerika). Di sisi lain, mereka juga menawarkan racun dan kekejian. Seperti dalam ungkapan filosof Muslim dari Perancis, Roger Garaudy, Baratlah penjahat yang sesungguhnya.

Hampir seluruh lini kehidupan, menjadi sasaran eksploitasi mereka. Bukan hanya di dunia Timur, tetapi juga Barat, Utara, Selatan dan seluruh arah mata angin lainnya. Bukan hanya Islam dan kaum Muslim yang hendak dijajah hingga hina dina, namun seluruh yang ada di dunia hingga tiada tersisa. Lihatlah bagaimana mereka dengan penuh murka melahap hasil-hasil pertambangan yang ada, sekaligus menghancurkan alam ini.

Aspek utama yang harus kita soroti adalah aspek perekonomian dan kemasyarakatan. Para pemodal, yang kerap kita juluki sebagai kaum kapitalis-borjuis, telah menguasai segala-galanya. Ideologi ultra-liberal dan kesadaran konsumeristik, telah merubah tatanan kehidupan dari yang bersahaja menjadi yang gemar hura-hura.

Siapa saja yang memenangkan cara kerja ekonomi (mode of economy), maka ialah penguasa dunianya. Di saat yang sama pula, penguasa moda investasi, secara otomatis akan mendiktekan trend yang ada. Trend adalah apa yang bisa dikonsumsi oleh khalayak ramai. Sementara itu kultur konsumsi, sangat tergantung kepada siapa investornya.

Ini adalah sebuah modus operandi yang dahsyat. Moda ekonomi tanpa dijelaskan secara panjang lebar dan komplit oleh berbagai teori filosofis yang njelimet, nyata-nyata telah memperlebar (selebar-lebarnya) disparitas antara kaum yang berkuasa dan yang terkuasai. Ini jelas merupakan fakta ketidakadilan, yang rentetannya menyebabkan kemelaratan yang berseberangan jalan dengan Merdeka 100%.

Lantas mereka yang sudah kadung menyetir segala ritme moda ekonomi dunia, masih ingin menambah kekayaannya. Rasa-rasanya, menurut cita rasa lidah keserakahan yang menjulur bak anjing lapar, akumulasi profit yang akan melipatgandakan kapitalnya masih senantiasa kurang. Kurang puas karena kurang banyak, lebih banyak lagi, jauh lebih banyak lagi hingga tiada terbatas kekayaannya.

Sejarah membuktikan bahwa, seorang intelektual tukang yang pandai mengibul, seperti Samuel Huntington telah mengakali kita semua dengan cerita mengenai “Clash of Civilizations”. Maksudnya adalah, agar ada sasaran lain yang bisa dijadikan tumbal. Yakni tumbal keganasan kapitalisme global. Sebagian kelompok yang tersasar menyambut pancingan konyol tersebut. Tidaklah bosan mereka mendengungkan Jihad Global yang bisa dilaukan melalui peperangan melawan negara-negara kafir Eropa dan Amerika. Menurut John L. Esposito, inilah yang disebut “Clash of Fundamentalisms”. Inilah zaman di mana terjadi pertengkaran antara fundamentalis pasar vis a vis fundamentalis keagamaan.

Kalau kita segera menyadari proses imperialisasi melalui moda ekonomi global ini, jelas akan terungkap bahwa fundamentalisme keagamaan apapun, tidak akan pernah menang melawan kapitalisme kontemporer. Berbagai doktrin humanisme universal, yang selaras dengan nilai-nilai etis agama-agama, hanya membicarakan nilai, sementara tanpa daya dorong yang kuat dalam melawan segala keterpasungan ekonomi global. Yang semakin mengiris hati, kesadaran dan interpretasi moral sekalipun, terkadang telah terpengaruh oleh kepentingan kekuasaan kapitalisme.

Jangan pernah membual dalam soal Bank Syariah, Asuransi Syariah, Hotel Syariah dan seterusnya. Jangan pula merasa suci dan tersucikan oleh karena terlibat kapitalisme berjubah syariah seperti MLM Syariah, kosmetik Syariah, lalu desain, mode dan fashion Syariah. Lalu, kini muncul pula bisnis recehan yang memasarkan pengobatan Syariah, produk-produk sumplemen Syariah dan seterusnya. Sejak tayangan televisi Syar’i, radio Syar’i, periklanan Syar’i, hingga pendidikan Syar’i, semuanya bermazhab kapitalisme. Pendek kata, di hadapan kapitalisme, agama adalah komoditas. Karena, semua hal adalah komoditas, selama itu menguntungkan para pihak kapitalis.

Modal kesadaran kemanusiaan dan kebangkitan intelektual yang mesti kita tempa sejak saat ini, tidak hanya berskala nasional seperti yang telah diusahakan oleh para Jong yang memproduksi Sumpah Pemuda. Juga bukan pula seperti para reformis Muslim yang berdakwah di sekitar Keresidenan Ngayogyakarta, seperti Muhammadiyah di awal-awal berdirinya. Musuh kita berlewel global, transnasional dan internasional.

Strategi “Building Block”
Secara moral, meminjam istilah Antonio Gramsci, kita harus terlibat dalam agenda hegemonisasi. Bila hegemoni adalah kekuasaan yang menguasai, maka hegemonisasi adalah perlawanan terhadap penguasaan tersebut.

Setidaknya, terdapat dua corak umum dalam gerak hegemonisasi ini. Pertama adalah anti-hegemony dan kedua adalah counter hegemony. Perbedaan keduanya hanya perkara trategis gerakan, misalnya, counter hegemony memerlukan adanya building block sedangkan yang lain tidak. Hal tersebut, bisa dimaknai sebagai pemersatu berbagai kesadaran kolektif berbagai kelompok manusia, terutama yang tertindas oleh struktur kuasa (ekonomi dll.) yang menindas. Hal ini tentu saja tidak harus dilakukan melalui revolusi. Apalagi oleh hanya kaum buruh atau mahasiswa. Jelas mustahil. Oleh karena itulah, harus dibangun segala bahasa politik dan kebudayaan resistensi yang mampu membendung segala ombak besar kapitalisme global yang kerap menerjang karang-karang yang kokoh sekalipun, sebagai gambaran negara-negara dunia ketiga saat ini.

Benarlah kiranya kita harus menghimpun kesadaran. Setidaknya, itulah tugas pertama kali yang harus dilakukan. Kesadaran yang terpenting adalah kesadaran kritis, di mana hakikat kemanusiaan kita harus mampu menyadari segala situasi riil yang sedang dialami, sehingga kita paham betul akan perkara “mengapa kita tertindas”. Karena jika tidak, maka kita akan mudah sekali terperosok dalam jurang kesadaran palsu (false consciousness).

Menyadari adanya building block, berarti kita menimbang-nimbang, apa kira-kira imajinasi sosial politik yang paling cocok dalam menghadang kapitalisme global yang kita anggap sebagai kemunkaran sosial? Menurut hemat sejarawan Belanda yang paling kritis dan memihak kaum pribumi, bahwa kita harus memiliki semacam utopian sosial. Hal itu adalah nilai utopis, yang diakui secara massal, diimani dan bahkan dianggap sebagai hal yang sakral, namun secara jernih mampu membawa kepada kesadaran umum yang memihak seluruh korban opresi sosial.

Masing-masing wilayah, baik dalam skala lokal, regional tertentu, hingga nasional, memiliki ciri khasnya masing-masing. Di tengah lingkungan masyarakat Kristen, mereka memiliki building blocknya tersendiri. Misalnya di lingkungan umat Kristiani (Katolik) Amerika Latin, Jon Sobrino meneriakkan bahwa, “No salvation outside the poor!” Di wilayah Hindu, Budha, Protestan dan Muslim, semuanya memiliki kekuatan propaganda kenabian, yang sama-sama kuat dalam menggerakkan kesadaran komunal umatnya.

Dalam lanskap globalisasi dengan demikian, perlu mengafirmasi segala jenis etika sosial (bukan etika teologis) yang mampu mempersatukan seluruh umat, untuk melakukan perlawanan terhadap neo-imperialisme kontemporer: kapitalisme global. Pluralisme, multikulturalisme dan kosmopolitanisme (kewarganegaraan dunia/world citizenship) adalah kebijaksanaan yang penting sekali dalam rangka menempa kekuatan moralitas berlomba dalam kebajikan (fa istabiq al-khairat), sekaligus melawan kemunkaran sosial (nahy ‘an al-munkar). Sebaliknya, segala paham dan konsepsi keberbedaan adalah absurditas yang dipamerkan, ketika alpa makna perjuangan sosial yang memihak kaum termarginalkan.

Oleh karena kita tinggal di lingkungan masyarakat Muslim, sudah barang tentu kita harus menggali berbagai utopian sosial yang sangat mungkin ditemukan dalam tradisi teologi Islam yang ada. Tentu yang terpenting, sekali lagi, bukan menjadikan agama sebagai komoditas. Terlebih bahwa, terma utopian sosial yang kita pilih, malah dicaplok oleh kepentingan politik kekuasaan yang sangat kurang ajar. Syahwat kekuasaan adalah kekuasaan, sementara agama adalah moralitas etis yang harus dihidupkan, bukan alat pemuas birahi kekuasaan. Secara lebih jauh, di saat yang sama, hal ini sama sekali tidak boleh menjadi bahan akademisasi atau kudapan kaum (kelas menengah) intelektual yang alpa keterpanggilan moral etis kemanusiaan.

Akhirnya, mengenai ‘‘siapa yang harus berbuat, harus melakukan apa dan mulai dari mana?’’ Meminjam kalimat Syed Hussein Alatas, ‘‘Siapa yang terlebih dahulu tersadar, dan mulai dari sektor mana saja, yang penting mengusahakan perubahan dan transformasi sosial’’. Anda tersadar? Apabila ya, baiklah, ‘‘Hanya satu kata: Lawan!’’[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: