kataitukata

Tradisi Kritis dalam Filsafat Sejarah: Analisis Hermenutis dalam Teks “Manusia, Filsafat dan Sejarah”

In Uncategorized on November 27, 2015 at 4:00 am

 

Oleh. Hasnan Bachtiar, Peneliti Filsafat dan Teologi Sosial di Pusat Studi Islam dan Filsafat (PSIF) UMM

 

Pendahuluan

Paper ini[1] ingin menjelaskan mengenai pokok-pokok tradisi kritis di dalam literatur filsafat sejarah, yang bertajuk “Manusia, Filsafat dan Sejarah,” yang ditulis oleh Juraid Abdul Latief (2013).[2] Oleh karena itu, dari pada sebuah upaya pengujian (examination), narasi ini lebih merupakan interpretasi konstruktif terhadap teks filosofis. Dalam menginterpretasikan karya tersebut, penting kiranya memanfaatkan hermeneutika, untuk mendapatkan makna-makna yang lebih sempurna, – minimal dari sekedar pengertian tekstual – dan menjangkau aspek-aspek di luar persoalan subyektif kepengarangan.[3]

Tujuan utama adanya interpretasi konstruktif ini, adalah untuk mengajukan ide-ide penting (yang bersifat ‘sosial’ filosofis) dalam menghadapi segala problem kehidupan masa kini, dan sebagai dasar pijak untuk membangun masa depan yang lebih cerah. Interpretasi terhadap, baik itu (fenomena) sejarah maupun teks sejarah, sama sekali tidak terlepas dari paradigma interpreter-nya.[4] Bila sang interpreter menghendaki pentingnya memikirkan persoalan kekinian dan kedisinian, maka meletakkan sebuah orientasi tafsir akan (teks) (filsafat) sejarah yang tunduk pada pelbagai kepentingan kebajikan masa kini, bukanlah hal yang perlu dipersoalkan.

Agar lebih mudah dipahami, tulisan ini akan menjelaskan tiga persoalan pokok yang disajikan secara sistematis, yaitu: pertama, bagaimana kita membaca teks filsafat sejarah; kedua, mengapa tradisi kritis di dalam menginterpretasikan teks filsafat sejarah itu penting; dan yang ketiga, bagian-bagian mana saja di dalam literatur filsafat sejarah tersebut, yang mengandung arti penting dari tradisi kritis atau tradisi berpikir kritis.

 

Membaca Teks Filsafat Sejarah

Adalah Kuntowijoyo, seorang sastrawan dan sejarawan terkemuka, pernah menulis seuntai syair, “Aku ingin meletakkan sekuntum sajak di makam Nabi, supaya sejarah menjadi jinak, dan mengirim sepasang merpati.”[5] Membaca puisi tersebut, hal yang perlu digarisbawahi adalah istilah “supaya sejarah menjadi jinak”. Pertanyaannya adalah, mengapa sejarah harus dijinakkan? Bukankah sejarah itu berjalan apa adanya secara obyektif?

Sebagaimana batu kerikil di jalan, walaupun hanyalah sebuah batu, namun tiada satu pun manusia yang mengerti hakikatnya, lantas mampu secara sempurna mengungkap segala hal ihwal mengenai batu tersebut. Pendek kata, terkadang manusia alpa bahwa dirinya pun gagal merengkuh dan mengudar makna sejati dari sebongkah batu. Kebenaran akan batu, hanyalah ada pada batu itu sendiri (the truth in itself, because being in itself). Sementara itu, segala komentar kita pada batu, hanyalah komentar semata-mata, tidak lebih.

Demikian pula dengan sejarah dan filsafat sejarah. Fakta sejarah adalah peristiwa yang terjadi begitu saja, obyektif dan berlaku dalam pergumulan ruang dan waktu. Hanya saja, fakta-fakta tersebut dapat dipandang sebagai fenomena sejarah, tatkala ada sesosok makhluk berakal, yang mencoba belajar dari kejadian masa lalu. Tatkala segala fenomena sejarah itu dibawa ke universitas, ke laboratorium, atau ke tempat yang memiliki tradisi akademik ilmiah tertentu (humaniora), niscaya akan berubah statusnya menjadi data sejarah. Data-data ini diolah, dimengerti, dipahami, ditafsirkan dan dituangkan dalam tenunan teks-teks sejarah, maka jadilah apa yang kita sebut sebagai buku sejarah.[6] Lantas di mana letak obyektivitas sejarah? Tak ada lagi. Karena keperawanannya telah terkontaminasi oleh syahwat interpretasi manusia.

Di dunia ini memang sudah penuh dengan tafsiran, interpretasi, pembacaan-pembacaan, produk aktivitas hermenutika dan seterusnya. Karena intensitas interpretasi ini begitu tinggi, maka telah jamak bila orang berujar, “Dunia ini penuh dengan apa kata orang.” Ya benar. Karena semua manusia menafsirkan segalanya. Lalu sekali lagi, di mana letak obyektivitas obyek yang kita tafsirkan? Sekali lagi kita bisa menjawab, tidak ada (pada kita). Memang kita sendirilah yang mengaku bersalah bahwa telah menikmati ranumnya kesucian segala hal (termasuk kebenaran hakiki).

Apa yang terjadi sehari-hari di tengah kehidupan kita ini, sebenarnya adalah hal yang biasa. Namun, tatkala hal tersebut dihubungkan dengan sesuatu yang dianggap sakral, semisal agama, adat istiadat, moralitas dan seterusnya, maka akan melahirkan sebuah pertanyaan, “Di mana letak kebenaran itu sendiri?” Apa jawaban kita? Sepanjang yang paling mampu kita ajukan adalah, “Kebenaran ada di dalam dirinya sendiri.”

Namun di saat yang sama pula, kita harus dihadapkan dengan kenyataan bahwa, kebenaran kemanusiaan yang paling manusiawi senantiasa bersifat nisbi. Semua orang berkata, berbicara, menafsirkan, menduga, menyangka, menakwilkan, membelokkan makna, berbohong, berdusta, menggelapkan arti, dan sebagainya, selalu berhadapan dengan relativitas absolut. Tidak ada kebenaran (sejati) yang mampu digenggam oleh tangan manusia, kecuali bukan apapun, omong kosong belaka dan segala hal yang nihil. Kita, – disadari atau tidak – terancam oleh jurang nihilitas yang menganga lebar.

Para pembaca bisa saja menyangkal semua narasi ini, walaupun agaknya mustahil. Mungkin istilah yang tepat bukanlah “bisa saja” tetapi “boleh saja”. Kebolehan memberikan penegasan bahwa, di tengah ketidakpastian kebenaran, manusia masih memiliki kebebasan yang utuh. Mereka (dan tentu saja, kita) merdeka membangkitkan sayap-sayap kita bak kupu-kupu yang terbang ke langit luas. Kita boleh saja berseteru dan saling mengklaim memiliki kebenaran yang utuh, tetapi nyatanya, itu hanya prakiraan semata.[7]

Walau demikian sukar dan tiada pernah berhasil menjangkau kebenaran sejati (termasuk obyektivitas yang total), sekurang-kurangnya, kita memiliki kesempatan untuk merindukannya. Menurut filsuf Mohamad Iqbal, hanya kerinduan yang dituangkan dalam bahasa kalbu-lah, mampu menemukan kebenaran sejati itu. Intisari ajaran agama, penghayatan mistik (sufisme) dan sastra, adalah di antara sarana yang mampu membawa kita tenggelam dalam lautan luas kebenaran.[8] Pertanyaannya adalah, apakah manusia memungkinkan untuk berbagi kerinduan tersebut? Atau, setidak-tidaknya, kita berbagi pemaknaan mengenai sesuatu hal, tanpa menegasikan pemaknaan orang lain? Jawabannya adalah, “Mengapa tidak?”[9]

Kembali kepada sebaris puisi Kuntowijoyo. Dengan demikian, kita memahami bahwa, upaya menjinakkan sejarah adalah cara untuk menyadari diri sendiri yang serba fana ini, lantas mulai berbagi mengenai kebajikan obyektif (dan kebenaran). Dalam bahasa agama, genap dengan istilah watawâ saub al-haqq (Q.S. al-Ashr). Harus ada sesuatu yang bernilai, bermanfaat dan berguna yang kita berikan untuk kepentingan kemanusiaan di masa kini dan masa mendatang. Kita perlu memilih kedua masa itu, karena masa lalu mustahil kita jelajahi kembali.

Karena itulah, maka dalam membaca teks filsafat sejarah karya Sdr. Juraid Abdul Latief ini, perlu mengerahkan segala nilai kebajikan di dalam diri ini (menggunakan perspektif kritis), dalam rangka menemukan makna-makna yang selaras dengan kepentingan kemanusiaan masa kini dan masa depan.

 

Arti Penting Pembacaan Kritis

Telah disinggung bahwa, penting kiranya membaca teks filsafat sejarah ini menggunakan perspektif kritis. Menurut Azhar Ibrahim Alwee, ia mengungkapkan bahwa tradisi kritis merupakan dua hal: yang pertama adalah “sikap kreatif dan kritis dalam memikirkan kebuntuan yang dihadapi manusia,” sementara yang kedua, adalah “kesungguhan tanpa jemu untuk mempersoalkan ide-ide dominan yang sudah diterima begitu saja dan menelitinya kembali sesuai dengan potensi manusia tersebut.”[10]

Nah, apa persoalan utama dewasa ini yang kita hadapi? Ada banyak hal. Tetapi, paling tidak, masalah terpenting yang harus diperjuangkan, bermuara pada pokok-pokok persoalan kebebasan, keadilan sosial dan kemanusiaan. Di saat yang sama, berarti kita mengikrarkan diri untuk memilih garis oposisi yang jelas, dalam rangka melawan segala bentuk korupsi, despotisme dan otoritarianisme. Ketiga hal itulah, nenek moyang dari segala kemunkaran yang ada di muka bumi ini (the old mother of evil).

Dalam uraiannya, Azhar Ibrahim melanjutkan,

“pemikiran kritis dapat (a) memberikan suntikan kepada pembangunan dan perkembangan ide, (b) memastikan bahwa yang salah harus dibetulkan, (c) mengangkat kejelasan dari pada ambivalensi, (d) membongkar penyimpangan ideologi, (e) memberi makna baru kepada apa yang selama ini dipakai.”[11]

Jelaslah dalam konteks mengevaluasi gagasan tertentu, maka harus ada keterangan yang benar-benar jernih mengenai “untuk apa” dan “berdaya guna bagaimana” suatu ide digulirkan, dijalankan, diterapkan dan seterusnya. Pemuliaan, perlindungan dan pemenuhan kebebasan, keadilan sosial dan kemanusiaan, harus menjadi fondasi dasar, di mana setiap kritisisme itu bekerja. Dalam konteks ini, segala aspek yang keliru dari esensi nilai-nilai humanistik tersebut, harus diluruskan. Sementara itu, di saat yang sama, tatkala “ide keliru” itu telah membaku, terinstitusionalisasi dan bahkan secara arogan mendapatkan legitimasi publik, maka tidak ada jalan lain kecuali menantangnya dan menguraikan duduk perkaranya secara gamblang, bahwa terdapat kekeliruan yang fatal di dalam (ideologi tersebut). Pada akhirnya, dengan itu semua, akan lahir makna-makna baru, sebagai buah manis dari pohon interpretasi yang kritis, namun memiliki empati yang tinggi pada segala aspek kebajikan dan kemanusiaan.

Apa yang diungkapkan Azhar Ibrahim di atas, sebenarnya selaras dengan penjelasan yang diajukan oleh Erich Fromm sebagai berikut:

“Critical thinking is the only weapon and defense which man has against the dangers in life. If I do not think critically then indeed I am subject to all influences, to all suggestions, to all lies which are spread out, with which I am indoctrinated from the first day on. One cannot be free, one cannot have one’s centre in oneself unless one is able to think critically… Critical thinking is…an approach to the world…; it is by no means critical in the sense of hostile, of negativistic, of nihilistic, but on the contrary critical thought stands in the service of life, in the serving of removing obstacles to life individually and socially which paralyze us.”[12]

Pengertian yang diajukan baik oleh Azhar Ibrahim maupun Erich Fromm mengenai pemikiran kritis, secara sederhana dapat kita pahami bukan sekedar sebagai kritisisme semata (murni), terlebih yang kerap terjebak pada kenisbian (nihilism). Akan tetapi, kritisisme ini diajukan semata-mata demi memenuhi kehendak empati kita terhadap pelbagai nilai kemanusiaan. Kritik yang diajukan terhadap obyek, patut dianggap sebagai salah satu cara dalam berbuat baik, menolong sesama dan membongkar segala bentuk tirani dehumanistik yang membelenggu.

Berlawanan dengan pemikiran kritis yang diajukan, terdapat ciri-ciri pemikiran yang sama sekali tidak menghargai potensi intelektual manusia, dan demikian berarti meremehkan kemanusiaan itu sendiri. Cara berpikir yang dangkal, lembam dan bebal ini antara lain:

“(a) the inability to identify the urgencies of problems and issues in society; (b) accepting ideas without thinking its consequences to individual and society at large, e.g. the ease of denouncing secularism, without much thought given to it; (c) lacking foresight of future trends, e.g. unable to see problems that could emerge in the future. For instance, the refusal of addressing the problem of alienation amongst the youth…”[13]

Dalam rangka menghindari, sekaligus melawan pola pikir yang dekaden di atas, penting kiranya berusaha memahami kerangka berpikir kritis. Tetapi tidak cukup sekedar memahaminya, karena secara moral, kita sendiri merupakan manusia yang masih memiliki jati diri kemanusiaan, memiliki hati nurani, perasaan yang tulus dan kesucian jiwa. Oleh karena itu, sangat perlu mengafirmasi kerangka, cara, struktur, paradigma, perspektif, atau sudut pandang berpikir kritis, untuk memahami apa yang sesungguh terjadi di hadapan kita saat ini. Berkaitan erat dengan hal ini, Karl Mannheim berkomentar bahwa,

“One can understand the contemporary world in its rapid change only if one learns to think sociologically, if one is capable of understanding changes in ways of human behavior by reference to the changing conditions of society. This, however, also requires acquaintance with recent findings in psychology and philosophy.”[14]

Dengan demikian secara reflektif, kita – sekali lagi – bukan sekedar harus terlibat dalam tradisi pemikiran kritis (kritisisme murni), tetapi juga diagnostik. Fungsi utama tradisi pemikiran yang demikian, akan memudahkan kita untuk memahami lingkungan sekitar kita saat ini, sekaligus memberikan terobosan-terobosan intelektual yang bersifat solutif, progresif dan mencerahkan. Oleh karena itu, kita harus memiliki,

“(a) the ability to identify and being affected by a particular problem of issue confronting the society; (b) the ability to determine and define the problems that emerged; (c) the ability to analyse the problems from various dimensions; (d) the ability to offer viable solutions to solve the problems and (e) the courage to challenge the existing ideas that have caused the aggravation of the problems confronted.”[15]

 

Membermaknakan Teks Filsafat Sejarah

Dengan sudut pandang kritis di atas, kini tibalah saatnya menginterpretasikan secara kreatif dan konstruktif, bukan sekedar bagian-bagian dalam buku yang ditulis oleh Juraid Abdul Latief tersebut, tetapi keseluruhannya secara utuh. Pertama, penafsir tetap berpijak pada landasan pemihakan terhadap tiga prinsip penting dalam kehidupan sosial, yakni kebebasan, keadilan sosial dan kemanusiaan. Kedua, penafsir memainkan cara berpikir yang kritis-diagnostik. Namun bukan sekedar teks yang didiagnosa, tetapi juga persoalan-persoalan penting yang dihadapi oleh masyarakat saat ini. Atau setidaknya, seruan moral untuk memikirkan persoalan tersebut. Ketiga, penafsir berupaya mengajukan wacana mana saja di dalam teks yang dievaluasi, yang memiliki nilai penting, yang bermanfaat untuk menyelesaikan segala kebuntuan-kebuntuan persoalan yang dihadapi oleh masyarakat.

Dalam uraian awalnya, sang penulis menukil pemikiran filosofis seorang intelektual Spanyol yang bernama Ortega y Gasset, yang menyebut bahwa “…Man has no nature, what he has is history…”[16] Dalam komentar Ortega, terdapat dua kemungkinan makna. Yang pertama adalah, bahwa setiap manusia memiliki kecenderungan untuk memikirkan masa lalu secara histori, sementara yang kedua adalah, menjadi penggerak sejarah. Dalam menanggapi perkara ini, Juraid secara gemilang menjelaskan bahwa,

“Apa yang diuraikan, kiranya menjadi petunjuk betapa pentingnya arti sejarah sebagai fenomena manusiawi. Sejarah adalah sumber orientasi (masa lalu) yang dikenali kembali dari suatu pusat orientasi lain (masa kini).”[17]

Dalam konteks ini secara sepintas Juraid menegaskan bahwa, berpikir historis merupakan hal yang penting. Tentu saja apa yang diajukannya sama sekali bukan bermaksud untuk menegasikan refleksi sosiologis (yang sebenarnya lebih urgen). Justru dengan menelaah sejarah secara benar, akan menimbulkan kesadaran sejarah. Juraid menuturkan bahwa,

“Kesadaran sejarah…sejauh mereka memahami…bertambah luaslah ruang lingkup kebebasan yang memungkinkan dirinya bertindak secara berani dalam kaitannya dengan proses berlangsungnya pelbagai kejadian, demikian juga ruang lingkup tanggungjawab pribadinya untuk berbuat demikian.”[18]

Istilah “kebebasan” dan “keberanian” yang disinggung Juraid inilah yang sangat penting diperhatikan. Pasalnya, persoalan tersebut merupakan pintu di mana kita bisa memasuki sebuah ruang kesadaran kemanusiaan yang memahami bahwa, sejarah bukan sekedar fakta, tetapi juga makna-makna dan nilai-nilai dari makna yang telah digali, dipelajari, dimengerti dan dipahami oleh setiap peminat sejarah. Dengan kata lain, setiap penafsir sejarah, tidak hidup dan membaca teks sejarah dari ruang hampa. Secara jelas, kita semua hidup di dunia yang memiliki konteks, baik itu kebudayaan, sosial, politik, ekonomi, bahasa, adat istiadat dan seterusnya. Dengan kata lain, sesungguhnya kita mengajukan refleksi sama sekali bukan mengenai sejarah an sich, tetapi juga kondisi kita sendiri, masyarakat kita dan tentu saja, kebudayaan masa kini. Juraid menyatakan bahwa,

“Sejarah itu anak kebudayaan dan kebudayaan itu sendiri dibentuk oleh sejarah…lebih tegas lagi dapat juga dibahasakan bahwa sejarah adalah bagian dari kebudayaan.”[19]

Di saat yang sama dengan demikian, pemikiran sejarah beserta segala kesadaran sejarah yang kita himpun, memberikan pengertian bahwa sejarah bukanlah sekedar mengenai masa lalu. Justru sejarah adalah masa kini dan segala dambaan manusia akan kehidupan yang lebih baik dan sempurna mengenai masa depan. Oleh karena itu, sejarah adalah kita, di segala masa. Lebih dari itu, sejarah adalah manusia. Juraid secara jernih mengungkapkan bahwa,

“Tanpa manusia, mustahil sejarah, baik sebagai proses maupun sebagai cermin sejarah, dapat dihadirkan. Sejarah ditentukan oleh manusia. Tidak ada manusia, tidak ada sejarah.”[20]

Pernyataan Juraid di atas bisa dipahami secara umum bahwa, sejarah masa lalu diciptakan oleh manusia dan dicatat oleh sejarawan masa kini. Akan tetapi, dengan pemikiran kritis, kita bisa menafsirkan kembali secara lebih progresif bahwa, apa yang ditentukan oleh setiap manusia, mengandung makna kekinian dan kedisinian. Jika kita berbicara masalah sejarah, maka tidak boleh terbang mengawang-awang, lantas meninggalkan segala kesadaran mengenai kekonkretan yang kita hadapi saat ini. Bila manusia itu hidup, sekaligus memiliki kebebasan, keberanian, rasa empati dan pemihakan terhadap kemanusiaan, maka tiada lain kecuali mencoba bertanya dan mempertanyakan, masalah apa yang sesungguhnya dihadapi, baik itu oleh dirinya sendiri, lingkungan sekitarnya, masyarakat umum dan bahkan suatu negara dan komunitas global. Melalui contoh yang brilian, Juraid menyatakan bahwa,

“Kesadaran atas ruang dan waktu ini menuntut pula kearifan lain. Bahwa penilaian komparatif terhadap peristiwa sejarah yang berbeda dimensi spasial maupun temporalnya tidak bisa bersifat general. Oleh karena itu, tidak tepat untuk memaksakan dan menyatakan sisi positif zaman tertentu relevan untuk zaman lain dan ruang lain. Peristiwa sejarah sangat terikat dengan semangat spasial dan temporal yang melingkupinya.”[21]

Mengenai masalah temporalitas sejarah, Juraid seakan memberikan tafsiran yang berbeda dengan pengertian umum bahwa, sejarah hanyalah masa lampau semata. Dengan kesadaran sejarah, semestinya kita mampu membedakan segala yang sudah terjadi, melaksanakan apa yang sedang terjadi, serta pula merencanakan apa yang belum terjadi. Oleh karena itu, ia menyatakan bahwa, bukan sekedar peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa lalu, tetapi juga makna di balik itu semua, apa ajaran yang terpenting yang harus kita ambil, apa yang sebenarnya menjadi ibrah yang menjadikan kita lebih paham dalam menghadapi segala persoalan di masa kini. Dengan demikian, konsep utama yang perlu digarisbawahi bukanlah sejarah itu sendiri namun tanpa kesadaran, tetapi “kesadaran sejarah”. Juraid berpendapat,

“Fakta sejarah…bukan merupakan unsur satu-satunya dalam membina kesadaran sejarah. …Yang terpenting mengapresiasi secara cerdas kausalitas peristiwa dalam konteks kekinian untuk tujuan yang lebih ke depan, maka hakikatnya kita telah berupaya memaksimalkan kesadaran sejarah. Dengan kata lain yang terpenting bagaimana belajar sejarah.”[22]

Di titik inilah kita mencoba mempertanyakan kembali, apa sesungguhnya yang terpenting dalam mempelajari sejarah, berguru pada sejarah, membaca teks sejarah, mengafirmasi sebuah teks filsafat sejarah? Jawabannya adalah, apa yang kita hadapi saat ini sebagai manusia, dengan cara yang paling manusiawi, sebagai bagian dari masyarakat dalam kehidupan sosial. Dalam konteks yang lebih luas, misalnya berhubungan erat dengan masalah negara-bangsa dan nasionalisme, Juraid menginsyafkan kita semua bahwa,

“…kesadaran sejarah tetap dapat diharapkan memberi spirit bagi kehidupan bangsa dan negara di masa kini dan di masa mendatang. …telah menjadi komitmen bersama pembangunan dan kemajuan bangsa dan negara hendaknya menyeimbangkan antara material dan spiritual. Di sinilah kesadaran sejarah dapat berperan aktif, yaitu dalam memperkokoh muatan moral pembangunan suatu bangsa.”[23]

Pada akhirnya, Juraid menyimpulkan sendiri bahwa,

“Dengan demikian, nyata sekali sejarah merupakan sesuatu yang selalu harus inheren dalam kehidupan ini, sejarah sama vitalnya dengan hidup itu sendiri. Mereka yang mengabaikan sejarah tidak akan pernah menjadi sempurna dalam spirit kedewasaan.”[24]

Selaras dengan apa yang diungkapkan Juraid, Paulo Freire pernah menyatakan bahwa, perlu kiranya memanfaatkan sejarah masa silam untuk memperbaiki segala kondisi kekinian. Yang sudah lalu bukan saja waktu tatkala kekuasaan zalim dan makna yang sudah baku dipaksakan kepada generasi masa kini, tetapi juga waktu yang bisa membangkitkan kesadaran sejarah dan memicu tumbuhnya kebudayaan perlawanan, sebagai sanggahan terhadap segala kekerasan kekuasaan.[25]

Sangat penting diajukan pendapat bahwa, kritis terhadap sejarah bukan berarti kita menolak bahkan mengabaikan sejarah. Justru dengan kesadaran dan pemikiran kritis, kita berusaha meluruskan segala penyimpangan, kemunkaran, memperbaiki kerusakan dan menunjukkan mana saja pelajaran dan ibrah di balik semua itu. Sejarawan terkemuka asal Belanda, Johann Huizinga menyatakan bahwa, jangan sampai kita benar-benar lalai akan persoalan kemanusiaan yang dihadapi saat ini sehingga tiada sempat memikirkan hari depan, ketika asyik terpana akan keindahan estetis sejarah. Ia berpendapat,

“Even though we may rate older periods higher than the present, for their faith, their art and the solidity and soundness of their social forms, our cultural lif is no (or should not) longer directed towards the illusory ideal of reinstatement. We are neither able nor willing to look back. For us there are only the unknown distances ahead…Humanity has to find its own way…”[26]

Dengan uraian yang sangat tajam, Juraid memberikan pelajaran kepada kita semua bahwa,

“Bangsa yang tidak menjadikan catatan masa silam sebagai materi merancang masa depan, bukan saja mengingkari perilaku yang dibuat sendiri, tetapi lebih dari pada itu, ia akan kehilangan petunjuk arah sehingga rancangan aktivitas pembangunan yang akan dilakukan sekarang maupun ke depan akan kehilangan orientasi pula. Sebab pada dasarnya, sejarah mampu merekam semua bentuk terbaik maupun sebaliknya terhadap yang terburuk yang telah dilakukan oleh manusia.”[27]

Satu hal yang penting lagi, yang perlu kita apresiasi dari pemikiran filsafat sejarah Juraid adalah, bagaimana mengevaluasi “yang terburuk” yang telah dilakukan oleh manusia. Di sepanjang sejarah, kita memang bisa dengan mudah menangkap segala kejadian masa lalu yang mengandung persoalan dehumanisasi. Penjajahan misalnya, adalah praktik di masa lalu yang sangat buruk dan tidak menghargai harkat dan martabat manusia sebagai manusia. Tetapi untuk hal yang sangat sukar ditelaah, kecuali bagi mereka yang memiliki kemampuan berpikir kritis, seperti misalnya mengenai pemikiran dominan yang sebenarnya di sepanjang lembaran sejarah umat manusia telah membelenggu, maka dengan kesadaran sejarah dan pemikiran kritis, kita patut menyelesaikannya. Hal ini dilakukan, agar kita semua mampu terbebas dari segala mitos-mitos yang menghambat penyelesaian segala persoalan masa kini dan meminimalisir segala tantangan di masa depan. Howard Zinn, ahli sejarah kontemporer Amerika menyatakan bahwa,

“We can recapture those few moments in the past which show the possibility of a better way of life than that which has dominated the earth thus far. To move men to act is not enough to enhance thir sense of what is wrong, to show that the men in power are untrustworthy, to reveal that our very way of thinking is limited, disorted, corrupted. One must also that something else is possible, that changes can take place. Otherwise, people retreat into privacy, cynicism, despair, or even collaboration with the mighty.”[28]

 

Kesimpulan

Demikianlah uraian singkat mengenai bagaimana mengapresiasi buku penting tentang filsafat sejarah yang ditulis oleh Juraid Abdul Latief. Penulis buku yang bertajuk “Manusia, Filsafat dan Sejarah” ini menggiring para pembacanya untuk mengafirmasi pemikiran kritis, tatkala berhadapan dengan teks sejarah. Sejarah harus dimaknai sebagai refleksi terhadap segala persoalan kekinian, sekaligus titik tolak untuk merumuskan masa mendatang. Di samping itu, penulisnya juga menegaskan pentingnya kesadaran sejarah. Kesadaran sejarah dalam konteks ini, bukan sekedar tentang kemampuan mempertimbangkan masa lalu belaka, tetapi juga bagaimana sebagai manusia yang humanis, memiliki empati terhadap kebebasan, keadilan sosial dan kemanusiaan, sehingga berani terlibat dalam agenda penyelesaikan problem keanusiaan kontemporer.[]

 

 

Catatan Akhir

[1] Paper ini dipaparkan dalam program book review Juraid Abdul Latief, “Manusia, Filsafat dan Sejarah,” Departmen Sosiologi, Universitas Muhammadiyah Malang, pada 7 Mei 2015. Tulisan ini tidak untuk dikutip, mengingat proses akademiknya belumlah lengkap. Apabila telah lengkap, akan dipublikasikan secara terbuka.

[2] Juraid Abdul Latief, Manusia, Filsafat dan Sejarah (Jakarta: Bumi Aksara, 2013).

[3] Luis Alonso Schökel dan Josê Maria Bravo, A Manual of Hermeneutics (Sheffield, England: Sheffield University Press, 1998), hal. 18-21; Jürgen Habermas, “Hermeneutics and the Social Sciences,” The Hermeneutics Reader: Texts of the German Tradition from the Enlightenment to the Present. Edited, with an introduction and notes by Kurt Mueller-Vollmer (New York: Continuum, 2006), hal. 293-319.

[4] Baca pemahaman terhadap konsep paradigma, melalui literatur yang paling sederhana dan sangat mudah dipahami, melalui tulisan Heddy Shri-Ahimsa Putra, “Paradigma Ilmu Sosial Budaya: Sebuah Pandangan,” Makalah disampaikan pada Kuliah Umum “Paradigma Penelitian Ilmu-Ilmu Humaniora,” diselenggarakan oleh Program Studi Linguistik, Sekolah Pascasarjana, Universtias Pendidikan Indonesia, di Bandung, 7 Desember 2009.

[5] Kuntowijoyo, Makrifat Daun, Daun Makrifat (Jakarta: Gema Insani Press, 1995).

[6] Michel Foucault, “On the archeology of sciences: Response to the epistemology circle,” in part two, “Epistemology and Methodology,” Aesthetics, Method and Epistemology: Essential Works of Foucault 1954-1984 (New York: The New Press, 1998), hal. 297-334.

[7] Persoalan ini secara filosofis mengingatkan kita pada seorang filsuf Jerman terbesar sebagai pioner post-modernisme, Friedrich Nietzsche. Nietzsche melemparkan satire, “The Gods are dead but they have died from laughing, on hearing one God claim to be the only one, ‘Is not precisely this godliness, that there are gods but no God?’” Nietzsche, “Of the Apostates,” Thus Spoke Zarathustra III, hal. 201. Gilles Deleuze, Nietzsche and Philosophy (Columbia University Press, 2002), hal. 4.

[8] Baca Mohammad Iqbal, “Knowledge and Religious Experience,” The Reconstruction of Religious Thought in Islam (Stanford; California: Stanford University Press, 2013), hal. 1-22.

[9] Tariq Ramadan, “Of the Universal,” The Quest for Meaning: Developing a Philosophy of Pluralism (London: Allen Lane, Penguin Group, 2010), hal. 12-25. Baca pula bab khusus yang bertajuk “The Universal Shared”, hal. 22-25.

[10] Azhar Ibrahim Alwee, “Tradisi Kritis dalam Pemikiran Keagamaan dan Keintelektualan Muslim,” Tafkir: Jurnal Pemikiran Kritis Keagamaan dan Transformasi Sosial, Edisi 1, No. 1 (2009), hal. 6.

[11] Ibid.,

[12] Erich Fromm, The Art of Listening (New York: Continuum, 2003), hal. 168-9.

[13] Azhar Ibrahim Alwee, “The Making of Progressive Religion,” Islam, Religion and Progress: Critical Perspective (Singapore: The Reading Group, 2006), hal. 20.

[14] Karl Mannheim, “On the Diagnosis of Our Time,” From Karl Mannheim. Edited by Kurt H. Wolff and with an introduction by Volker Meja and David Kettler (New Brunwick, NJ.: Transaction Publishers, 1993), hal. 95

[15] Azhar Ibrahim, Ibid., hal 24. Lihat juga Karl Mannheim, Freedom, Power and Democratic Planning (London: Routledge and Kegan Paul, 1951), hal. 4.

[16] Juraid Abdul Latief, Ibid., hal. 3.

[17] Juraid, Ibid., hal. 3.

[18] Ibid., hal. 11.

[19] Ibid., hal. 32.

[20] Ibid., hal. 36.

[21] Ibid., hal. 47.

[22] Ibid., hal. 49.

[23] Ibid., hal. 50-1.

[24] Ibid., hal. 63.

[25] Paulo Freire, Letters to Christina (New York: Routledge, 1996), hal. 87.

[26] Johann Huizinga, In the Shadow of Tomorrow (New York: The Norton Library, 1964), hal. 38.

[27] Juraid, Ibid., 68.

[28] Howard Zinn, The Politics of History (Boston: Beacon Press, 1978).

 

Bibliografi

Ahimsa Putra, Heddy Shri, “Paradigma Ilmu Sosial Budaya: Sebuah Pandangan,” Makalah disampaikan pada Kuliah Umum “Paradigma Penelitian Ilmu-Ilmu Humaniora,” diselenggarakan oleh Program Studi Linguistik, Sekolah Pascasarjana, Universtias Pendidikan Indonesia, di Bandung, 7 Desember 2009.

Alwee, Azhar Ibrahim, “Tradisi Kritis dalam Pemikiran Keagamaan dan Keintelektualan Muslim,” Tafkir: Jurnal Pemikiran Kritis Keagamaan dan Transformasi Sosial, Edisi 1, No. 1 (2009).

Alwee, Azhar Ibrahim, “The Making of Progressive Religion,” Islam, Religion and Progress: Critical Perspective. Singapore: The Reading Group, 2006.

Deleuze, Gilles, Nietzsche and Philosophy. Columbia University Press, 2002.

Foucault, Michel, “On the archeology of sciences: Response to the epistemology circle,” in part two, “Epistemology and Methodology,” Aesthetics, Method and Epistemology: Essential Works of Foucault 1954-1984. New York: The New Press, 1998, hal. 297-334.

Freire, Paulo, Letters to Christina. New York: Routledge, 1996.

Fromm, Erich, The Art of Listening. New York: Continuum, 2003.

Habermas, Jürgen, “Hermeneutics and the Social Sciences,” The Hermeneutics Reader: Texts of the German Tradition from the Enlightenment to the Present. Edited, with an introduction and notes by Kurt Mueller-Vollmer. New York: Continuum, 2006.

Huizinga, Johann, In the Shadow of Tomorrow. New York: The Norton Library, 1964.

Iqbal, Mohammad, “Knowledge and Religious Experience,” The Reconstruction of Religious Thought in Islam. Stanford; California: Stanford University Press, 2013, hal. 1-22.

Kuntowijoyo, Makrifat Daun, Daun Makrifat. Jakarta: Gema Insani Press, 1995.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: