kataitukata

Karl Marx, Hegel dan Aleppo di Syiria

In Uncategorized on December 20, 2016 at 1:04 am

critique-of-hegels-philosophy-of-right_karl-marx

Oleh. Hasnan Bachtiar

Pagi ini, di masa di mana terjadi perang saudara di Syiria, terutama di kota Aleppo, saya membaca pendahuluan dari naskah karangan Karl Marx yang bertajuk Introduction to A Contribution to the Critique of Hegel’s Philosophy of Right (versi Deutsch-Franzosische Jahrbucher, Februari 1844).*

Diterbitkannya karya ini, bertujuan untuk memantik kesadaran para pembacanya mengenai pentingnya kritik terhadap spiritualisme-ideal Hegel, seorang filosof terbesar Jerman sepanjang masa. Kritik ini sangatlah penting, oleh karena seringkali kaum beragama keliru memahami, menghayati dan pada akhirnya, mempraktikkan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan mereka. Kekeliruan tersebut, tentu saja membawa konsekuensi kepada hilangnya spirit dan nilai agama yang sejati. Tidak dapat dipungkiri bahwa, sebenarnya agama membawa kepada kebahagian individual dan sosial, serta berpotensi secara aktif membangun keteraturan sosial, menjamin kebebasan, keadilan dan menjunjung harkat dan martabat kemanusiaan.

Karya Marx yang menegaskan bahwa “Kritik terhadap agama merupakan prasyarat untuk seluruh kritik” merupakan hal yang sangat kontekstual. Proposisi tersebut diungkapkan pada latar belakang yang tepat, di mana kaum beragama tampaknya memang sedang terjebak, terbelenggu dan terpenjara oleh ketidakmampuannya meletakkan visi transformatif dari ajaran agama. Kritik ini juga sangat relevan dan pantas dianggap sebagai representasi dari seluruh kritik, karena apapun yang berbumbu agama memiliki nilai kesakralan yang memabukkan. Artinya, terdapat semacam tabu untuk mengritik, mempersoalkan, mempertanyakan dan bahkan, hanya sekedar untuk memikirkannya. Dosa adalah balasan dari aktivitas yang dianggap “tidak pantas” (kritik) terhadap agama.

Ketika semua itu terjadi, selaras dengan ungkapan seorang filosof sosial kritis sepanjang masa ini bahwa, “Landasan untuk kritik sekuler adalah: manusialah yang menciptakan agama, bukan agama yang menciptakan manusia.” Dengan kata lain, segala aspek keagamaan, termasuk hal-hal yang sebetulnya bukan menjadi otoritas manusia untuk menentukannya, seperti dosa, balasan Tuhan, pahala, surga dan neraka, diterjemahkan sedemikian rupa, dalam bentuknya yang paling menakutkan. Di saat yang sama, disadari atau tidak, mereka tergilas dalam proses dehumanisasi yang diaktifkan sendiri. Mungkin, tiada lagi agama, ajaran, kitab suci dan bahkan Tuhan yang sejati, yang sebenar-benarnya, yang paripurna, oleh karena imajinasi kemanusiaan yang “keliru” telah mendiktekannya kepada manusia lainnya secara “keliru” pula.

Ungkapan sarkastik yang diajukan Marx, seperti “Maka, perjuangan melawan agama secara tidak langsung adalah perjuangan melawan sebuah dunia yang aroma spiritualnya adalah agama tersebut” dapat dimaklumi. Tentu saja bukan bermaksud merendahkan, menistakan, menghina dan hendak menegasikan agama itu sendiri, tetapi mengajukan kritik yang relevan dan signifikan terhadap makna-makna agama yang sama sekali bersifat disfungsi dan kehilangan dimensi transformatifnya. Agama yang diharapkan akan membawa kepada kebahagiaan, kesenangan, ketenangan, kedamaian, kesejahteraan dan bahkan tatanan kemasyarakatan yang sangat beradab, justru berbelok ke arah yang sebaliknya, oleh karena penanganan yang melenceng jauh dari kebenaran. Akibat dari kekeliruan kaum beragama yang dehumanistik ini, pada akhirnya membawa kita kepada kesengsaraan kemanusiaan yang mencengkeram dan sulit dilepaskan. Inilah yang dimaksud dengan perjuangan yang sebenar-benarnya. Dengan mengritik agama, maka sesungguhnya ikhtiar ini merupakan ikhtiar yang hendak menjunjung kemuliaan agama yang sebenarnya.

Melalui ekspresi yang begitu jujur, namun tidak kehilangan estetikanya, kritikus Hegel ini mengajukan gugatan bahwa, “Kesengsaraan agamis merupakan ekspresi kesengsaraan riil sekaligus merupakan protes terhadap kesengsaraan yang nyata tersebut. Agama adalah keluhan para makhluk tertindas, jantung-hati sebuah dunia tanpa hati, jiwa untuk keadaan tak berjiwa. Agama adalah candu rakyat.” Para pembaca hendaknya tidak turut tergelincir dalam memahami segala pernyataan yang ada, terutama, “agama adalah candu rakyat.”

Bukan agama itu sendiri yang keliru, namun kaum beragama yang telah secara semena-mena menciptakan makna-makna keagamaan yang jauh dari ruh kebenaran agama. Jadi ketika kita mengritik pemikiran, penghayatan dan praktik keagamaan tertentu, kita akan dianggap telah mengritik agama. Ini jelas penyesatan yang berlapis. Mereka telah keliru dua kali, yang pertama ketika mereka membawa kehidupan beragama dalam hitam legam dehumanisasi, sementara yang kedua, mereka bertopeng agama ketika orang lain yang sadar dan memiliki pengertian yang lebih baik mengingatkannya, menasehati, menunjukkan jalan yang benar dan sejenisnya, walau menggunakan istilah kritik untuk menyebutkannya.

Saya pikir, untuk menemukan benang merah dari kritik terhadap spiritualisme-ideal (agama) Hegel, penting kiranya menyitir pernyataan yang begitu kuat, dari apa yang sudah diupayakan oleh Marx bahwa, “Menghapuskan agama sebagai kebahagiaan ilusioner untuk rakyat, berarti menuntut agar rakyat dibahagiakan dalam kenyataan. Maka, panggilan supaya mereka melepaskan ilusi tentang keadaan mereka adalah panggilan agar mereka melepaskan keadaan di mana ilusi itu diperlukan. Maka, kritik terhadap agama adalah embrio dari kritik terhadap dunia yang penuh kesedihan dimana agama merupakan cahaya lingkaran sucinya.” Maksudnya, kita perlu menjadikan agama agar supaya bersifat transformatif dan berpotensi untuk mengupayakan humanisasi atau aksi-aksi pemanusiaan manusia, agar kehidupan kemanusiaan ini membahagiakan, damai, adil, sejahtera dan beradab.

Sebagai penutup, saya berpikir bahwa, apa yang terjadi di Aleppo, Syiria, di mana terjadi perang saudara dan perang atas nama membasmian terorisme ISIS (termasuk teror ISIS itu sendiri, beserta para penciptanya), adalah hal yang benar-benar menginjak martabat agama, kemanusiaan dan kesejatian kebenaran. Agama hanya menjadi tameng, topeng dan jubah untuk tindak laku dehumanistik yang mereka mainkan, oleh berbagai motif yang ada, baik itu yang bersifat politik maupun ekonomi. Selamanya, bukan agama yang menyebabkan perang, tapi kaum beragama yang secara arogan dan despotik yang membuat itu semua terjadi.

*Terimakasih kepada Ted Sprague selaku editor dan seorang penerjemah anonim, karena telah membuka akses untuk membaca karya Karl Marx melalui website marxist.org.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: