Impian Biasa

Mimpi ini mimpi yang biasa saja. Lahir dari seorang yang biasa, untuk keluarga yang biasa. Kami bersama-sama pergi ke Jogja untuk menghayati hidup yang serba biasa. Kebahagiaan kami adalah kebahagiaan yang biasa. Syukur kami, syukur yang biasa. Hati kami, hati yang benar-benar biasa. Biasa bagi kami, adalah biasa yang biasa saja. Jika impian biasa ini kami mampu merengkuhnya, maka apapun yang terhebat di dunia ini, juga akan menjadi biasa bagi kami. Hidup ini, sesungguhnya adalah hidup yang biasa.

Puisi untuk Maria, Sastra, Abah, Ibu, Tia, Lala, Rian, Tanu, Yaksa, Bas. Keluarga kami yang biasa, yang hidup dengan penuh cinta.

Canberra 24 September 2017

 

Iklan

Kesedihan

Waktu terbagi, di antara duka lara yang menjelma gerimis pagi. Angin menari, seperti gundah-gulana dalam hati. Sementara awan gelap dan guntur yang bernyanyi, menyebut nama-nama jiwa yang tak lagi memiliki asa, rasa dan cinta. Khawatir menjelma ratapan bulan dan mentari, yang membacakan puisi dari syair-syair gerhana surya dan petaka. Pada akhir November, lima puluh dua tahun yang lalu, seorang lelaki, Asmui, terbunuh. Isterinya, Sumarni, hidup dalam rapuh. Puterinya, Asmarani, menjadi bulan-bulanan ragu. Hari ini, di suatu sore yang tak biasa, seorang bisu berkisah, didengarkan oleh sahabatnya yang buta dan tuli.

Canberra, 23 September 2017

 

 

Terbit Fana

Nabi KhidrOh diriku ꟾ sudahkah engkau membaca suratku ꟾ yang kutulis dengan pena rindu dan kertas termangu? ꟾ aku ingin meminta maaf kepadamu, diriku ꟾ semenjak tinggal di dalam diriku sebagai diriku, tanah airku bukanlah kemerdekaan itu ꟾ yang pernah kita perbincangkan dengan penuh debat dan ragu ꟾ hanyalah nafsu, amarah dan diri yang berwajah palsu tempat kita berteduh, bersetuju dan mengadu ꟾ tetapi bukan itu ꟾ karena serba bukan itu ꟾ hanya saja, sekali lagi, itu bukanlah itu ꟾ haru, ambigu, biru yang menerbangkan debu menderu syahdu ꟾ engkau di sana diriku, nampaklah jua di sampingmu, telah terbit fana yang selalu tanpa lelah memancarkan sinar padu ꟾ kutangkap kupu-kupu ungu, lalu kumasukkan saku kesadaran diriku sebagai diriku.

 

Canberra 10 Agustus 2017

Lala

 

Sepertinya baru kemGandrung Banyuwangiarin kita bermain bersama ꟾ adik kecilku yang mungil lucu ꟾ aku suka menggodamu karena marahmu menggemaskan, menyenangkan dan mengundang tawa kita ꟾ hatimu setulus embun, seputih salju ꟾ parasmu, tentu sama persis sepertiku, hanya, engkau selalu lebih hebat di mataku ꟾ engkau hidup lebih tegar, engkau bekerja lebih keras, engkau berpikir lebih dari segala yang lebih, engkau menanggung amanah yang tak tertanggung oleh orang-orang biasa, engkau tulang punggung semesta ꟾ tentu engkau tidak bersekolah karena dunia adalah gurumu, angin pagi adalah buku tulismu dan cahaya matahari adalah kata-kata yang tidak hanya menenun mimpi dan secercah harap bahagia, sementara tangis, tawa, imaji dan sapaanmu yang lugu adalah pencapaian hidup yang sungguh mustahil tergapai oleh sarjana di mana pun jua di dunia ꟾ Lala, terimakasih telah menjadi adikku dan guruku.

Canberra 7/8/2017

Senjakala Renta

img_2581-copyAdakalanya diri ini ꟾ sendiri ꟾ berhenti ꟾ terhenti

Telapak kaki ini ꟾ menyusuri ꟾ ketiadaan ꟾ kefanaan

Kehilangan rasa ꟾ hilang pula gundah gulana ꟾ tiada damai ꟾ tiada goda bahagia ꟾ kosong menjelma ꟾ bukan apapun jua

Musnah telah lahir ꟾ dari rahim senjakala ꟾ yang mengandung ꟾ langit berbulu merah ꟾ menguning

Lantas terbit gelap ꟾ dari hitam ꟾ yang bukan warna

Chiefly Library, ANU, Canberra Australia

25 Juli, 2017

Di Malam Takbiran

Ada yang diagungkan lewat corong-corong pengeras suara

Seperti knalpot vespa di bengkel-bengkel udik pinggir jalan

Rupanya bunyi keroncongan perut penjual sayur yang duduk di emperan trotoar lebih lantang diteriakkan

Seperti bayi-bayi yang menjerit hebat karena lapar, ibunya mati ketika melahirkan, sementara bapaknya babak belur dihajar massa karena mencopet, demi membayangkan sekaleng susu buah hatinya

Ada yang dipuja dengan kalimah-kalimah thayyibah lewat sound-sound system yang berharga jutaan rupiah

Seperti bel-bel menjengkelkan truk-truk tangki Pertamina yang dikemudikan petaruh nyawa

Rupanya teriakan garang lintah-lintah darat penagih hutang di rumah fakir miskin yang dihimpit rumah-rumah gedong para tetangga lebih nyaring bermelodi nestapa

Seperti suara gemericik air dari sungai yang coklat keruh berbau busuk sampah-sampah plastik sisa kenikmatan dunia tiada tara yang menjadi tempat berwudlu gelandangan yang dicap bukan sebagai manusia

Ada yang dinyanyikan indah dengan selingan kata akbar lewat menara-menara keramik megah

Seperti cekikikan tikus-tikus pengerat uang negara yang sedang ditransfer ke rekening keluarga, para sahabat dan sanak saudara

Rupanya bunyi keserakahan orang-orang berbelanja yang sedang kalap di toko-toko, di mall-mall, di butik-butik lebih menggetarkan Arsy di atas sana

Seperti suara riuh gaduh saling balas caci maki via media sosial demi kebenaran yang serba nisbi yang dikipas-kipas nafsu diri yang gelap mata tanpa sebab kecuali hati yang mati

Ada yang ditakbirkan di langgar sebelah rumah, oleh anak-anak kecil yang rajin mengaji

Seperti hatiku yang ingin mengucapkan seribu maaf untuk keluarga karena tak mampu berlebaran di rumah

Rupanya anak isteriku sedang menanti bunga rindu tanpa balas syair-syair cinta

Seperti pilunya para pujangga ketika tak mampu menulis puisi, prosa ataupun kata-kata mutiara genap hikmah dan nubuwah

Di malam takbiran, tawon-tawon madu mengadu, mengapa tak ada lagi sari-sari kebahagiaan di tengah mahkota bunga yang merekah surga.

Canberra 23/6/2017

Jatuh Cinta

Mimpi semalam, di atas kereta, duduk di hadapanmu, menatap sejuk senyummu, bahagia gila rasanya, Tuhan, aku jatuh cinta pada pandangan pertama!

Sajak untuk dia yang selamanya menjadi belahan jiwaku

Canberra, 30 Mei 2017