Halah, Alasan!

Kita sering mengucapkan, “Halah, alasan!” yang sebenarnya tujuannya adalah untuk menolak suatu pendapat tertentu. Jelas, kita menyatakan ketidaksetujuan dengan eskpresi komunikatif yang kurang lebih bisa disebut dengan terus-terang.

Tetapi, apa sebenarnya alasan itu sendiri? Kita bisa menyebutnya dalih, atau sesuatu yang disusun berdasarkan sistem logika tertentu, untuk mendukung suatu tindakan tertentu. Atau bisa juga bahwa, hal itu benar-benar menunjukkan apa yang sebenarnya menjadi motivasi tindakan tertentu.

Aku menulis masalah alasan ini, berbasis kepada dua hal yang penting: pertama, aku sudah pusing dengan tugas yang harus diselesaikan lima hari sejak sekarang. Atau, kalau aku melebihi tenggang waktu yang disediakan, aku akan mendapatkan pinalti, semacam pengurangan poin 10%; kedua, aku sedang duduk di Menzies Library, ANU, berusaha berjuang sekuat tenaga untuk menulis karya ilmiah yang terbaik, yang disusun dengan argumentasi dan bukti-bukti yang tak terbantahkan, atau setidaknya tahan akan kritik-kritik umum.

Bermula dari soal ujian, yakni, terdapat pernyataan bahwa kritik yang lazim diajukan mengenai kebijakan luar negeri Amerika Serikat di negara-negara Timur Tengah, khusunya di wilayah Teluk (the Arab Gulf), adalah bahwa keterlibatan Amerika di sana secara konsisten terbangun berdasarkan kepentingan ekonomi. Nah, apakah aku harus setuju dengan ini semua, karena “tampaknya” atau “barangkali” itulah kenyataan yang terjadi di dalam sejarah.

Di tengah sumber-sumber material yang terpecah-belah atau berserakan, aku berjuang mulai menata dan mengurai satu per satu persoalan dan jawaban, secara lebih sistematis.

Pertama, sesungguhnya kebijakan AS di kawasan teluk itu, secara umum hendak diarahkan atau mengarah ke mana?

Kedua, apakah kepentingan ekonomi AS itu benar-benar faktor yang sangat menentukan untuk mengarahkan kebijakan mereka?

Ketiga, jikalau boleh dikatakan demikian, lantas apa bukti-buktinya?

Keempat, apa teori-teori yang ada atau setidaknya, pendapat para sarjana tatkala mempertimbangkan keterlibatan Amerika di kawasan Teluk Arab? Misalnya, bagaimana perspektif para sarjana realis, bagaimana yang konstruktivis-ideologis, bagaimana pula mereka yang progresif-kooperatif (ini elaborasi teoretik yang kuajukan sendiri)?

Kelima, bagaimana mereka menyusun argumentasi terbaiknya, di antara debat teoretik yang ada? Misalnya secara positif-konstruktivis atau kritikal-rekonstruksionis.

***

Dari semua kegelisahan yang ada, semuanya bermuara pada pertanyaan yang sederhana, yakni “Apa yang sesungguhnya diinginkan oleh Amerika Serikat di kawasan?”

***

Jawabanku berdasarkan pada catatan sejarah yang diajukan oleh Michael C Hudson, seorang ahli hubungan internasional di Timur Tengah, melalui kertas kerjanya yang bertajuk, “The United States in the Middle East” (2016).

Barangkali sementara, aku hanya memerlukan bagian bab pertama dari uraiannya untuk menjelaskan rumusan yang paling umum dari kepentingan AS di Teluk.

Jawabannya adalah, AS memiliki kepentingan tradisional, yakni anti-komunisme, minyak dan Israel. (Ini salah satu jenis jawaban, yang berdasarkan pada kepentingan tradisional AS. Karena itu, masih ada dasar-dasar yang lain).

***

Sebelum menjelaskan mengapa itu semua terjadi, harus disadari bahwa, konsekuensi dari jawaban ini menentukan jawaban mendasar mengenai bahwa alasan terpenting dari permainan politik AS di Teluk adalah bukanlah ekonomi, tetapi kolaborasi antara ekspansi ideologi liberalisme Amerika (melawan komunisme Soviet), penguasaan minyak (ekonomi) dan Israel (tatanan kenegaraan dalam negeri AS, secara ideologis dibangun oleh orang-orang Yahudi dan Kristen pro-Zionisme).

Sekali lagi, jawabannya bukanlah semata-mata faktor ekonomi.

***

Mengapa kebijakan AS diarahkan oleh ketiga hal tersebut (melawan komunisme, minyak dan Israel)?

Kalau AS benar-benar ingin menguasai dunia (the global hegemon), maka tidak ada cara lain kecuali menghabisi musuh terkuat satu-satunya, yakni Uni-Soviet dalam konteks Perang Dunia Kedua dan Pra-Perang Dingin.

Mengapa harus dilakukan, karena AS merasa terancam dengan ideologi komunisme dan watak politik ekspansionis Soviet (yang agak radikal). Kalau Soviet menang, tentu mereka akan merebut kendali akan pasar minyak. Tentu saja hal ini mengganggu perekonomian dunia yang lebih bebas. Konsekuensi lain yang sangat berkaitan adalah, keseimbangan politik global akan turut terganggu, tidak menutup kemungkinan akan membangun afiliasi politik dengan komunisme Soviet dan ini semua yang akan menguasai tatanan dunia, yang diimajinasikan lebih bersifat totalitarian.

***

Apa bukti-bukti AS benar-benar beraksi sesuai dengan tiga kepentingan tersebut (anti-communism, oil and Israel)?

Pertama, pada level geostrategi, demi memberantas komunisme dan segala pengaruhnya, AS mulai membangun aliansi militer (The Middle East Defense Organization) di tahun 1951-2, walaupun sayangnya gagal, karena malah melahirkan musuh-musuh baru (musuh dalam selimut). Tetapi melalui proyek politik dan ekonomi, mereka secara relatif berhasil. Mereka memberikan bantuan ekonomi dan militer.

***

Buktinya apa? Bukti ini tidak langsung jelas mengarah, karena terdapat kompleksitas yang lain yang melapisi dinamika dua kekuatan adikuasa (AS-Soviet), yakni dinamika regional di Timur Tengah (terutama pro-kontra masalah pendirian negara Israel).

(1) Di Mesir, Presiden Eisenhower mencoba membujuk Nasser pada perang 1956 (karena bantuan Soviet tidak mencukupi pada perang melawan Israel yang didukung Inggris dan Prancis)*. Lalu Presiden Kennedy juga meminta bantuan Aljazair untuk membujuk Nasser agar mendukung revolusi republikan di Yaman (ini semacam proyek demokratisasi untuk menanggulangi komunisme sudah kadung menyebar). Pendek kata, Mesir, Aljazair dan Yaman diharapkan akan menjadi musuh komunisme Soviet.

*Perang ini disebut sebagai Agresi Tripartite/Operasi Kadesh/Perang Sinai, yakni tatkala Israel menginvasi Mesir pada akhir 1956 yang didukung penuh oleh Inggris dan Perancis. Sebelumnya, Nasser memang menasionalisasi Kanal Suez. Karena itu Israel dan para backing Baratnya ingin mengambil alih wilayah itu. Di tengah awal mula perang, AS, Soviet dan PBB menekan ketiga agresor tersebut (Israel, Inggris dan Prancis).

(2) Lebanon yang didukung AS, ternyata malah menuai instabilitas (puncaknya ada pada perang sipil 1958),* karena negara-negara tetangganya seperti Mesir dan Syria (pada 1954-54) justru jatuh pada bujuk rayu Soviet (oleh karena alasan hendak melawan Israel, mereka membutuhkan bantuan militer). Tatkala komunisme berkembang di kedua negara tersebut, situasi politik internal di Lebanon sangat dipengaruhi oleh ideologi yang sedang berkembang.

*Instabilitas yang dimaksud adalah, adanya perang sipil antara Kristen Manorite dan Muslim. Atas dasar apa mereka berperang? Pemerintah “Kristen” pro-Barat, sementara kekuatan politik lainnya (Muslim) pro-Nasionalisme Arab (Pan-Arabism), yakni Mesir dan Syria. Ceritanya Bagaimana? Nah, pada 1955an, Lebanon menunjukkan geliat dukungannya terhadap Pakta Baghdad (The Middle East Treaty Organization, disingkat METO), meskipun tidak ikut sebagai anggota pakta tersebut. Pakta ini ditanda-tangani oleh Iran, Irak, Pakistan, Turki dan Inggris Raya, dengan tujuan untuk membangun hubungan diplomatik, saling melindungi dan berkomitmen menjadi negara yang tidak mengintervensi urusan dalam negeri satu sama lain. Semua itu untuk mencapai tujuan umum, yakni membendung kekuatan Soviet. Jelas ada Inggris di dalamnya. Karena itu, pada 1956, Presiden Lebanon, Camille Chamoun (Wakil Kristen yang pro-Barat) diminta Nasser (Mesir) agar memutuskan hubungan diplomatik dengan kekuatan Barat (terutama Inggris). Konteksnya adalah, Inggris terlibat dalam Agresi Tripartite, yang hendak mengambil alih Kanal Suez yang sudah dinasionalisasi Nasser (seperti yang diceritakan sebelumnya). Karena Chamoun tidak mau, maka dianggap mengancam Nasionalisme Arab. Di saat yang sama, Perdana Menteri Lebanon Rashid Karami (Muslim-Sunni), mendukung Nasser di tahun 1956 dan 1958.

(3) AS juga melancarkan operasi penggulingan Perdana Menteri Iran, Muhammad Mossadiq pada 1953.* Dalam konteks ini, AS tengah bermanuver melawan nasionalisme Iran. Di saat yang sama, sentimen Nasionalisme Arab di Syria dan Iraq juga sedang berkembang secara massif. Boleh jadi AS sedang kerepotan menghadapi segala hal yang berbau nasionalisme (baik itu Iran maupun Arab), karena paham nasionalisme sangat menentang intervensi asing. Jika Mossadiq diabaikan begitu saja, tentu saja hal ini meningkatkan kekuatan Soviet. Jika Soviet memiliki kesempatan bekerjasama dengan Iran, maka tidak menutup kemungkinan penguasaan minyak dan ideologi komunisme akan tumbuh secara lebih agresif bersama-sama. Sekali lagi, tatanan dunia akan menjadi totaliter, tertutup dan despotik. Jelas, hal tersebut akan membunuh liberalisme global.

*Alasannya jelas, karena Mosaddiq mengganggu kepentingan perusahan minyak Inggris (Anglo Iranian Oil Company atau AIOC, yang sekarang menjadi British Petroleum disingkat BP) yang sejak 1931, memonopoli pengelolaan minyak Iran (85% keuntungan untuk perusahaan tersebut, sisanya 15% untuk Iran). Mossadiq menasionalisasi AIOC. Sebagai balasannya, Inggris meminta bantuan AS dengan kesepakatan, jika berhasil menggulingkan Mossadiq, maka AS mendapatkan bagian dalam pengelolaan sumber minyak Iran. Operasi ini (yang bernama Operasi Ajax) dilakukan oleh dinas rahasia Inggris (M16) yang didukung oleh CIA.

(4) Sejak 1950an-60an, ketika Nasser bekerjasama dengan Soviet untuk menasionalisasi Kanal Suez,* dan mempersiapkan konsekuensinya, yakni menahan gempuran Israel, Inggris dan Prancis (Tripartite Aggression), AS menjadikan Saudi sebagai kawan akrab yang dijamin masalah keamanan nasionalnya. Mengapa hal ini menjadi masalah? Nasser berafiliasi dengan Soviet,** sementara hal ini sangat membahayakan Saudi saat itu. Maka, AS bekerjasama dengan Saudi untuk mengeluarkan Mesir dari persatuan Nasionalisme Arab (Mesir, Irak dan Syria), dengan maksud mengakhiri segala peran politik kepanjangan tangan Soviet (atau mengakhiri penyebaran ideologi komunisme), sekaligus memuluskan agenda pendirian negara Israel.

*AS tidak mau membantu Mesir untuk membangun bendungan di Aswan, sebagai gantinya, Nasser menasionalisasi Kanal Suez. Tentu hal ini memancing peperangan dengan kekuatan Barat (terutama berkenaan dengan urusan Israel?). Konsekuensi lainnya, situasi ini jelas membahayakan 40% minyak Saudi Aramco dan 75% sumber daya, yang berlayar melewati kanal tersebut.

**Sayangnya Soviet dikenal sebagai negara yang pelit untuk memberikan bantuan finansial dan militer kepada negara-negara aliansinya. Di samping itu, sukar menemukan titik temu antara ideologi komunisme dan Nasionalisme Arab. Kendati demikian, dukungan Soviet terhadap kampanye anti-Israel adalah ancaman yang serius bagi keamanan nasional AS (Eisenhower Doctrine, Michael C Hudson’s Thesis).

Catatan analisis: Pada tahun 1967, Israel menyerang armada udara Mesir hanya dalam waktu kurang dari setengah jam di pagi hari, tatkala fajar baru menyingsing. Bahkan Mesir sendiri belum sempat menerbangkan pesawat-pesawatnya. Momen ini sendiri merupakan bagian dari Perang Tujuh Hari (the 1967 Six-Day War) yang dimenangkan oleh Israel. Tak lama setelah perang, blok rejeksionis (anti-Israel) muncul dan sebenarnya berdasarkan kenyataan di lapangan, mereka sangat bergantung dengan pasokan senjata dari Moskow. Dalam konteks geostrategi regional yang sangat dipengaruhi oleh penetrasi AS dan Soviet, maka posisi blok rejeksionis justru menyebabkan disintegrasi. Bahkan sebagai manuver politik, sepeninggal Nasser, yakni Anwar Sadat, menyatakan bahwa Mesir adalah negara pertama yang mengakui runtuhnya Moskow. Maka secara rasional ia melepaskan diri dari segala dukungan militer Soviet dan secara dramatis justru bergabung dengan Washington demi menyelesaikan krisis Arab-Israel yang kian parah.

(5) Di tahun 1990an di mana Soviet benar-benar kalah, AS mampu membujuk Mesir dan Syria – yang sebelumnya tergabung dalam blok rejeksionis (Arab Nasionalism) bersama Irak – untuk melawan Saddam yang menginvasi Kuwait dan menebarkan ancaman terhadap negara-negara Teluk, terutama Saudi. Dengan demikian, kelompok Nasionalisme Arab ini sudah tidak punya lagi patron adikuasa yang mampu menghalangi segala kepentingan AS dan Israel. Singkat cerita, komunisme telah kalah.

Nah, tulisan ini hanya menjelaskan satu alasan tradisional, yakni anti-komunisme. Bagaimana dengan minyak dan Zionisme Israel? Aku akan menyelesaikan tulisan mengenai alasan selanjutnya setelah pulang dari perpustakaan sore nanti.

Kesimpulannya? Tentu hanya menyodorkan satu jenis jawaban (Doktrin Eisenhower: anti-komunisme, minyak dan Israel), satu jenis argumen (manuver politik dan ekonomi AS untuk memerangi komunisme) dan bukti historis (sejak 1950an-1990an) sudah barang tentu tidak mencukupi untuk membangun kesimpulan apapun. Artinya, kesimpulannya belum ditemukan.

Kita harus benar-benar sadar, mencari alasan tidak semudah mengatakan “halah, alasan!” Ini benar-benar susah, dan tidak semudah seperti apa yang dibayangkan.

 

Iklan

Tutup Mata, Mulut dan Telinga

Istilah “Tutup Mata, Tutup Mulut dan Tutup Telinga” kudapatkan dari catatan “antropologis” dari perjalanan haji Danarto.

Tapi sebelum membicarakan itu semua, ada latar belakang bagaimana kiranya hingga pada akhirnya aku harus duduk dan menulis tentang topik itu.

Tentu aku mengenal baik orang ini. Beliau adalah seorang sastrawan, seniman, pelukis dan sederat profesi unggul lainnya, pantas kiranya dilekatkan kepadanya.

Tapi sebenarnya, malam itu, dua hari yang lalu, di puncak mihrabku, selepas shalat isya’, aku membaca pesan whatsapp dari seorang kawan, yang mengabarkan berita duka. “Pak Danarto, sedang dirawat di rumah sakit karena kecelakaan (ditabrak motor). Kondisinya parah. Beliau koma.”

“Innalillahi wainna ilaihi raji’un…” Membatin dalam dadaku. Sungguh pilu hatiku. Sedih. Beliau kuketahui “sepertinya” tak punya keluarga. Seperti sebatang kara yang hidup dalam sepi walaupun sangat berarti.

Lantas aku melanjutkan membaca buku, karena harus membuat karya ilmiah tentang situasi kompleks politik internasional di kawasan teluk Arab-Persia, yang jatuh temponya tidak lama lagi.

Beberapa jam kemudian, seorang kawan yang lain mengabarkan bahwa beliau telah menghadap keharibaan ilahi Rabbi. Tak dapat aku berpikir dengan tenang kecuali segera mengucapkan tasbih, tahmid, takbir dan tahlil. Segera kukirimkan tujuh untaian al-Fatihah untuknya.

Malam semakin larut dan mewujud pagi buta yang semena-mena. Aku masih mengaji dengan perasaan duka yang mendalam. “Sungguh segala-gala yang bersumber dariNya, akan bermuara kepada dekapanNya pula”. Semoga Tuhan menerimanya apa adanya, sebagai seorang yang pecinta yang menerima cinta dari Yang Maha Cinta.

Setelah memperbarui air wuldu’, setelah shalat qabliyah subuh, aku mendirikan shalat ghaib. Shalat untuk para sahabat yang berarti, yang hikayat kehidupannya patut dipertimbangkan sebagai teladan yang baik bagi generasi selanjutnya.

Setelah menyelesaikan kehidupan malamku, aku terlelap beberapa jam di pagi hari. Ini sudah mejadi kebiasaanku, tidur ba’da subuh dan bangun jam delapan pagi.

Aku mengingat-ingat kembali beliau. Barangkali ingatanku terpatri dari tuturan seorang guru, antropolog, yang bernama Moeslim Abdurrahman (Kang Moeslim, almarhum). “Danarto adalah orang yang saleh, yang memahami Islam dari pandangan dunia sebagai orang Jawa yang luhur.” Kang Moeslim sendiri sebagai doktor antropologi, telah menyelesaikan disertasi tentang haji, di salah satu universitas terbaik di Amerika. Pada akhirnya saya baru mengerti (nanti akan diceritakan mengapa demikian) bahwa sebenarnya bangunan besar perspektif ilmu sosial Kang Moeslim, didapatnya dari uraian-uraian kesenyapan batin Danarto.

Setelah membersihkan diri, kamar dan rumah, memasak, makan dan shalat dhuhur, dengan segera aku menuju ke mobil dan sepertinya tidak biasanya aku memanaskan mesin terlalu cepat. Segera kutancap gas dan sebenarnya batinku hanya mengarah ke satu tempat: Menzies Library di Universitas Kebangsaan Australia, salah satu perpustakaan terlengkap di dunia mengenai kajian Asia, Afrika dan Timur Tengah.

Setelah memarkir mobil, tiba-tiba saja aku teringat dengan makalah yang harus kuajukan sebagai bagian dari ujian di universitas. Entah mengapa aku duduk, membaca buku secara marathon, tentang tugas-tugas akademisku sudah barang tentu. Lama sekali, sekitar kurang lebih enam jam.

Lalu, sepertinya Kang Moeslim berbisik, “Carilah bukunya Danarto”. Lalu mudah sekali, melalui database perpustakaan, kutemukan tiga buku karangannya, “Orang Jawa Naik Haji”; “Godlob” dan “Gergasi”.

Sesampainya di rumah, yang pertama kali kulahap adalah “Orang Jawa Naik Haji”. Buku ini, sangat jujur, jenaka dan mencerminkan kedalaman spiritual seorang penulis yang luar biasa. Bahkan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menyebutkan, “…kepadatan buku ini tidak menyembunyikan pengalaman rohaniah menarik yang dijalani manusia Danarto, yang ingin bertemu malaikat di sekitar Ka’bah, dan merasa mampu melakukan komuni mutlak dengan Tuhannya – sesuatu yang sangat diirikan mistikus mana pun sejak dahulu kala.” (Tempo, Buku, tertanggal 22 September 1984).

Bagaimana dengan “Tutup Mata, Tutup Mulut dan Tutup Telinga”? Maksudnya adalah, perjalanan hidup manusia, termasuk haji, sebaiknya diniatkan untuk ibadah saja. Tetapi namanya juga manusia, jalannya kadang keliru, alpa dan lupa. Ada yang menganggapnya biasa, karena mudah tergoda baik oleh iblis maupun malaikat yang ditugaskan menguji setiap hamba.

Jadi, sesungguhnya, hal-hal yang mengiringi ibadah sebenarnya bukan sekedar kemurnian hati, kesucian pikiran, ketulusan dan keikhlasan, akidah yang sempurna dan seterusnya, namun juga sifat-sifat sejati manusia yang sangat manusiawi, seperti emosi diri, keinginan menang sendiri, atau bahkan mempersangkakan welas asih Rabbi dengan sekehendak hati. Sekali lagi, segala hal adalah permakluman yang sangat manusiawi. Betapapun tingginya idealisme, puncak kesadaran dan kekhusyukan dalam menjalani setiap jengkal makna hidup, semuanya mewujud dalam segala kekurangan dan ketaksempurnaan kita sebagai manusia.

Sepertinya kalau begitu, fana dan baqa itu bukan hanya sekedar kajian filsafat atau mistisisme Islam, bukan juga sekedar kesenyapan batin akan suasana spiritual, tetapi juga hal yang bersifat sehari-hari, biasa dan manusiawi.

Misalnya, sudah barang tentu Departemen Agama tidak boleh disebut sebagai Departemen Surga, yang terbebas dari kecurangan dan kejahilan manusia. Kalau ada korupsi di dalamnya, yang mengakar, membudaya dan beranak-pinak, itu juga sangat manusiawi. Keliru memang dan salah besar, perlu sekali dihukum di hadapan mahkamah negara secara adil dan sah. Tetapi perlu diingat pula, kita semua manusia biasa. Gus Dur pernah berkomentar sinis bahwa “Semuanya ada di Departemen Agama, kecuali satu. Yakni, agama itu sendiri”. Itu pula yang membuat Danarto tak lagi khusyuk menutup mata, mulut dan telinganya, dari segala kejahatan manusia di dunia, yang menjadikan agama sebagai topeng mengumpulkan harta benda.

Itulah, barangkali Danarto benar. Khusyuk seperti di cerita-cerita wayang, itu mustahil. Semestinya kita biasa saja, hanya, harus lebih arif bijaksana. Mungkin, “selayaknya manusia Jawa”(?).

Baqa’

Kukira hanya aku sendiri yang akan mampus ditelan kekejaman diri pribadi, yang hampa, kesepian dan gila. Ternyata tidak. Seluruh umat manusia, telah ditakdirkan untuk meratapi kehadirannya di muka bumi ini. Bertarung dengan ruang dan waktu, serta tentu saja, mereka selalu kalah.

Akan tetapi, tidakkah kita menyadari bahwa, ada pihak-pihak yang disebut baik dan sebaliknya; seperti Malaikat dan Iblis. Maksudku bukan itu. Sebenarnya, mereka ada maupun tidak, bukanlah masalah. Maksudku yang sebenar-benarnya adalah, kita hadir atas limpahan kasih sayang, jikalau boleh kiranya menyebutnya begitu.

Aku sedang duduk, di hadapan meja belajar, menatap jendela kaca yang tirainya terbuka sebagian, mendengarkan “The Hundred-Foot Journey” (2014), yang secara bergantian menyuguhkan percakapan-percakapan menarik hati dalam bahasa India, lalu Prancis dan Inggris, sambil menikmati secangkir kopi hitam Italia, yang kudapat dari pasar beberapa bulan yang lalu.

Begini, aku pernah mampus ditikam diriku sendiri. Lalu selalu kalah. Itu semua benar. Lalu, seringkali kita melewatkan omong kosong mengenai, malaikat dan iblis yang mewakili segala jiwa baik dan buruk, benar dan keliru, indah dan jelek.

Aku yang mampus, kalah dan menyadari hitam-putih kehidupan, telah nyata-nyata diatur oleh skenario rahasia yang tampaknya serba tak tampak, walaupun kita tahu betul itu semua lazim diketahui, bukan?

Aku tidak tertarik mengajukan pertanyaan, misalnya, bukankah jika demikian skenario yang lain bisa diciptakan dengan segala kehendakNya. Aku bukanlah pendikte yang sembarangan memaksakan kehendak tololku. Itu terserah saja dan serba terserah. Sampai kapan kita harus menyangsikan kenyataan bahwa keterserahan itu juga berarti berserah diri, membebaskan dari segala belenggu emosi jiwa yang tak terwujudkan?

Saat aku hilang bentuk, hampa dan menjadi kekosongan, sesungguhnya kesadaranku saat itu, juga bukan milikku, tapi milikNya. Tentu, siapa yang tak bersepakat bahwa semua yang berasal dariNya akan kembali kepadaNya.

Iyah betul, ini bukanlah bisikan iblis atau malaikat, jika keduanya sebenarnya akur sebagai hamba-hamba yang menuruti segala kehendakNya. Semua jenis kesadaran – tanpa membedakan hitam dan putih yang sebenarnya sekedar selera warna, atau hitam bukanlah warna sementara putih adalah satu-satunya – adalah karuniaNya yang kadang tak kita pahami atau kita tak akan pernah menjangkau pemahaman itu.

Sekali lagi, begini, maksudku, sebagai manusia yang sekedar hamba biasa, ini semua bisa dimengerti melalui nama-namanya; cinta, kasih sayang, keagungan, kehormatan, keadilan, kehalusan budi, dan sampai sembilan-puluh sembilan nama agung lainnya. Akankah kita mengabaikan satu hakikat lagi tentang yang tak terhingga?

Dengan segala serba keterbatasanku, aku sungguh tak punya keterbatasan. Bahkan, kesadaran akan diri pun dan diri itu sendiri pun aku tak kuasa atasnya. Semuanya, yang melekat padaNya, adalah baqa’.

 

Fana

Sejak semalam, aku berdiam diri di kamar. Sepertinya, aku menikmatinya, untuk sekedar melakukan hal yang sia-sia di dalam ruangan empat kali empat, dengan desain modern minimalis dan kamar mandi yang bersih dan menarik. Aku hanya duduk di ranjang kecil, walaupun aku punya ranjang yang lebih besar (king size), menatap tiga pintu lemari baju yang menempel di dinding. Sesekali aku melirik kedua kakiku yang membujur, menghadap jendela kaca yang tinggi dan besar, sebesar seluruh sisi depan kamar, tertutup dua lapis tirai, bermotif batik bunga mawar merah dan putih, daunnya membiru karena musim dingin yang bengis menjadikan segala yang seharusnya hijau membeku.

Kadang aku beranjak dari kasur, duduk bersila, menatap lemari kayu setinggi dua meter, menghitung jumlah laci yang ada padanya. Hanya lima, tidak lebih, meskipun kuulang beberapa kali, jumlah itu tidak pernah berubah. Di sampingnya adalah meja belajar dengan tiga susun laci di bagian kirinya. Meja ini cukup untuk menampung satu laptop ukuran kecil, lampu belajar, cangkir kopi, dan tumpukan buku-buku yang berniat segera kubaca. Di samping kiri meja, ada bertumpuk-tumpuk buku, dari telapak kaki sampai lutut, tentang ilmu sosial dan filsafat, satu set karya-karya Karl Marx, sejarah dan politik, studi Islam, beberapa novel, dan satu kardus jurnal-jurnal, tugas-tugas dan catatan kuliah. Semua yang kupunya ada di situ. Mungkin, itulah seluruh hartaku yang kumiliki.

Jika bosan mulai menghampiri, kuambil satu buku yang pertama kali kulihat, kuamati terus wujudnya, tapi tak kubaca sampai hatiku benar-benar terbuka bahwa barangkali aku akan mendapatkan faedah jika aku membacanya. Tapi ada satu aturan yang kubuat sendiri dan harus kutaati sebagai standar jati diri yang tidak boleh diganggu-gugat. Yakni, setiap aku duduk di meja belajar, aku harus melakukan dua hal saja: membaca atau menulis. Jadi, kadang aku merasa terpaksa melakukan keduanya, walau tanpa motivasi apapun.

Jika aku terlambat bangun dan mentari terbelalak membuka matanya, aku merasa hari semakin pendek. Malas sekali rasanya membuka mataku sendiri, apalagi membuka tirai jendela kaca. Hari ini, aku memberanikan diri membukanya. Yang kulihat adalah kebun yang indah sekali, dibatasi oleh pagar besi yang ramah, sebelum trotoar untuk pejalan kaki, lalu dua meter tanah berumput dan sisanya pastilah jalan raya. Ada lampu jalan berdiri menjulang tinggi, pohon bertiang tiga, yang satu miring ke kanan, satu lagi ke kiri dan sisanya tegak lurus di tengah.

Sedetik lamanya aku melamun. Memperhatikan langit yang tak putih. Kupikir, warnanya abu-abu malu-malu, lalu semakin ke ufuk, ia menguning emas. Bukan, ia seperti warna teh susu, tapi bercahaya indah.

Di samping kananku, di meja belajar, ada buku “A History of the Arab Peoples” karangan Albert Hourani, sejarawan Lebanon yang tersohor baik di belahan dunia bagian Timur maupun Barat. Sudah keselesaikan separuhnya, ingin kulahap sisanya. Tapi engkau tahu bukan, aku kali ini sibuk menulis. Ya, menulis tentang penyakit ketidakjelasan yang menjangkiti jiwaku. Barangkali itu bukan penyakit, jika pada akhirnya orang mencapku sebagai manusia yang kurang waras, tapi semacam, titik nadir di mana sebagai manusia, kita tak melakukan apapun kecuali menghadapi samudera permenungan yang sungguh dalam dan luas, yang berhiaskan gelombang besar kekosongan, kegundahan, kekhawatiran, kengerian, kehampaan, ketidakteraturan, stagnasi, kemuakkan, ketidakberdayaan, mimpi, keinginan yang belum menampakkkan wujudnya, dan banyak hal lainnya. Entahlah, hal ini sungguh sulit dijelaskan bagaimana kondisi dan situasinya. Tetapi yang jelas, engkau pun punya, sebagaimana semua manusia pastilah punya. Mungkin itulah titik nadir, di mana kemanusiaanmu rasa-rasanya menghilang menjadi asap yang terbang ke alam bebas, mengabur, lenyap dan engkau menyadari betul bahwa sejatinya, inilah hidup yang sesungguhnya; fana.

Untuk apa kita memasak?

Seorang lelaki tua duduk di kursi kecil di hadapan meja selebar pembaringan. Tangannya tangkas memainkan pisau mengiris bawang merah, bawang putih dan bahan-bahan lainnya. Seorang perempuan setengah baya membantunya sambil bercengkrama soal hidup ini dan itu, sesekali tersenyum dan tertawa. Dua balita mungil duduk bersama di kursi kecil di sebelah mereka, mengayun-ayunkan kakinya, menanti hidangan terlezat di dunia. Muda-mudi di balik pintu yang terbuka, sedang menyanyi, menari dan membacakan syair-syair gunung dan pesisir, tentu isinya tentang cinta. Seorang perempuan muda merebus sayur mayur, seorang lagi menggoreng ikan, sedangkan seorang lainnya sedang menanak nasi. Seorang lelaki muda, tangan tangkasnya sedang mencuci piring, gelas, panci dan lainnya. Ia tiba-tiba bertanya, tak hanya kepada semua, tetapi kepada diri pribadi dan seorang lelaki tua, “Untuk apa kita memasak?” …Semenit kemudian lamanya, setelah memikirkannya masak-masak, seorang lelaki tua berkata, “Untuk cinta, welas asih, bahagia dan kemanusiaan.”

Prosa untuk Abah dan Ibu di rumah.

Ditulis di lantai dua, di pojok bukit merah, Deakin, Canberra, 7 Oktober 2017

 

 

Impian Biasa

Mimpi ini mimpi yang biasa saja. Lahir dari seorang yang biasa, untuk keluarga yang biasa. Kami bersama-sama pergi ke Jogja untuk menghayati hidup yang serba biasa. Kebahagiaan kami adalah kebahagiaan yang biasa. Syukur kami, syukur yang biasa. Hati kami, hati yang benar-benar biasa. Biasa bagi kami, adalah biasa yang biasa saja. Jika impian biasa ini kami mampu merengkuhnya, maka apapun yang terhebat di dunia ini, juga akan menjadi biasa bagi kami. Hidup ini, sesungguhnya adalah hidup yang biasa.

Puisi untuk Maria, Sastra, Abah, Ibu, Tia, Lala, Rian, Tanu, Yaksa, Bas. Keluarga kami yang biasa, yang hidup dengan penuh cinta.

Canberra 24 September 2017

 

Kesedihan

Waktu terbagi, di antara duka lara yang menjelma gerimis pagi. Angin menari, seperti gundah-gulana dalam hati. Sementara awan gelap dan guntur yang bernyanyi, menyebut nama-nama jiwa yang tak lagi memiliki asa, rasa dan cinta. Khawatir menjelma ratapan bulan dan mentari, yang membacakan puisi dari syair-syair gerhana surya dan petaka. Pada akhir November, lima puluh dua tahun yang lalu, seorang lelaki, Asmui, terbunuh. Isterinya, Sumarni, hidup dalam rapuh. Puterinya, Asmarani, menjadi bulan-bulanan ragu. Hari ini, di suatu sore yang tak biasa, seorang bisu berkisah, didengarkan oleh sahabatnya yang buta dan tuli.

Canberra, 23 September 2017