Rindu itu

Rindu itu, saat kita hanya punya tiga ribu rupiah, makan bakso semangkuk berdua di pinggir jalan, tanpa memikirkan apa jadinya sejarah hidup kita di masa yang akan datang

Iklan

Sajak sebelum subuh

WIN_20170430_21_08_12_Pro

Tanpa selimut yang tebal, hantu-hantu menjelma angin yang menghembuskan dingin yang membekukan kesabaran yang melukai syukur yang menertawakan tungku yang termenung lesu menanti api biru yang baru saja padam terbunuh angkuh hantu-hantu yang menjelma angin yang berdesir membisikkan was-was yang menggelapkan segala yang menyilaukan banyak mata yang mabuk fatamorgana tanpa senja.

Canberra 30 Mei 2017

11462

Seandainya waktu berjalan mundur

Aku ingin kembali

Di kala itu, Tuhan tersenyum

Ia menitipkan cinta untukku

dalam rangkaian takdir yang hadir

dengan iringan lagu-lagu kehidupan yang wajar

atas nama seorang gadis

yang bernama Maria

setiap aku menyebut nama itu

aku mengingat al-Qur’an

aku melihat Tuhan

setiap aku membaca nama itu di dalam kitab suci

aku mengingat wajah isteriku

aku mendengar Tuhan berfirman

Ia yang menciptakan segala

menyempurnakan senyumnya

 

Canberra, 6 Mei 2017

 

Nanti

Aku ingin, di penghujung usiaku, di batas nafas yang terakhir

Aku, membaringkan kepalaku di pangkuanmu

Kita bersama-sama membaca puisi kesaksian yang indah

Tiada illah, kecuali Allah

Lalu, kau cium keningku

Kau bisikkan janji di telinga kananku

‘Sampai ketemu sayangku, di kampung akhirat nan abadi.’

Kau mandikan tubuhku dengan air kesabaran

Kau sucikan wajah, kedua tangan, rambut, telinga dan kakiku dengan embun keikhlasan

Kau pakaikan aku dengan kafan ketegaran

Kau shalatkan dengan syariat kedamaian

Kau kubur dengan tanah ibu pertiwi

Kau doakan aku dengan kasih agar dosa-dosaku dibasuh dengan salju yang putih bersih

Kau rapalkan Fatehah agar jalanku tertuntun terang cintamu

Kau kirimkan Yasin di setiap malam Jum’at agar harum muthmainnah mengundangku, kita, mereka, kita semua, umat yang damai, yang yakin, yang tertuntun lurus dan yang terbaik, menghadiri perayaan kebahagiaan yang tak berujung pangkal.

Canberra, 19 April 2017

Persiapan Membaca Das Kapital, Karl Marx

das-kapital

Oleh. Hasnan Bachtiar

Bukanlah hal yang semudah kita pikirkan dalam membaca dan memahami magnum opus yang telah dipersembahkan Karl Marx, Das Kapital. Kita yang sejak awal menginginkan untuk segera memahami secara lebih komprehensif mengenai intisari dari filsafat keadilan sosial ekonomi dari buku tersebut, jelas akan kecewa. Kendati kesimpulan konseptual disajikan di awal, terutama mengenai nilai-nilai moda produksi, sama sekali tidak disinggung perkara ini dengan mudahnya.

Ketika kita mencurahkan perhatian terhadap bab pertama di dalam buku pertama (terdapat tiga jilid buku), pertama-tama kita akan berhadapan dengan tema pokok mengenai komoditas. Saya tidak mengetahui secara pasti, mengapa penulisnya memulai narasinya dengan tema ini. Saya hanya berusaha mengira-ngira, bahwa sang penulis, sebenarnya sangat memahami konteks intelektual akademik, termasuk pula sosio-politik dan kultural masyarakat setempat (Eropa abad ke sembilan belas). Semangat zaman telah mewarnai, bukan sekedar pemilihan tema dan pengaturannya secara sistematis, namun juga gaya penulisan yang begitu cair mengikuti gerak pemahaman terhadap wacana, sejarah dan pemikiran yang dialektis.

Ketika menginjakkan kaki di awal narasi, setelah memahami pokok-pokok pikiran yang ada dan mencoba mengajukan pertanyaan, “mengapa demikian?” dan seterusnya, tentu kita akan menuai kecewa untuk yang kedua kalinya. Kita harus segera menyadari bahwa yang kita nikmati bukanlah sajian intelektual akademik yang berbentuk jurnal ilmiah atau buku-buku akademik yang disusun sesuai dengan kebiasaan akademik Barat abad ke dua puluh satu, yang sangat sistematis mengatur antara tesis yang diajukan, argumen-argumen, bukti-bukti pendukung, contoh-contoh dan seterusnya.

Kendati demikian, mungkin kita akan menemukan berbagai jawaban atau alasan-alasan dari pertanyaan “mengapa” ketika membaca begitu saja bab demi bab pada ketiga jilid Das Kapital. Misalnya, mengapa terdapat kecaman terhadap uang, apa dasar-dasar ilmiah sehingga uang adalah jimat (fetish) yang sangat ampuh, sehingga membuat manusia menjadi mabuk dan seterusnya. Semua ini memiliki konteksnya masing-masing, yang dapat ditemukan di berbagai tempat, di hamparan teks yang tidak dapat diprediksi sebelumnya.

Namun yang jelas, untuk memahami gerak historis moda produksi kapitalis, termasuk pula pada akhirnya memahami berbagai nilai dan prinsip di balik gerak tersebut, harus membaca secara utuh ketiga jilid dari buku yang memuat kritik terhadap kapitalisme tersebut.

Mungkin, kita memerlukan sekurang-kurangnya tiga kali pengulangan, untuk mendapatkan keyakinan yang terbaik, yang menegaskan bahwa kita memahami apa yang dimaksudkan dan menjadi orientasi utama penulisan Das Kapital. Upaya pembacaan yang pertama, berfungsi secara signifikan untuk memetakan berbagai wacana (pengetahuan), terutama yang menopang tesis pokok yang diajukan oleh Marx; pembacaan yang kedua berfungsi menyusun ulang secara lebih sistematis berbagai gagasan yang diajukan; yang terakhir berdaya guna untuk memahami, sekaligus menginterpretasikan ulang teks yang ada, sesuai dengan kepentingan reproduksi pengetahuan pembaca.

*Akses digital mengenai Das Kapital, bisa merujuk kepada link berikut ini https://libcom.org/library/capital-karl-marx

Agama, Konservatisme Islam dan Kaum Miskin

djoko-supriyanto

Oleh. Hasnan Bachtiar

Ada satu titik di dalam hidup kita di mana kita harus berhenti mengejar materi. Hidup seadanya dengan harta yang kita punya, dan mulai mengabdikan diri untuk menolong orang lain. Mengumpulkan sebanyak mungkin kebaikan untuk dibawa ke hadapan Tuhan.” Djoko Supriyanto*

Pagi ini, ketika beredar banyak sekali meme yang menyindir kesigapan pasukan yang mengaku sebagai tentara Tuhan, yang popular dengan nama Front Pembela Islam (FPI), di saat yang sama saya tercengang, melamun dan lama sekali berpikir ketika membaca status seorang aktivis media sosial yang bernama Djoko Supriyanto.

Ketika FPI disindir dengan cara, “Mari kita mendoakan FPI yang siap berjihad ke Aleppo,” Supriyanto menyeru untuk “Hidup seadanya dengan harta yang kita punya, dan mulai mengabdikan diri untuk menolong orang lain.” Yang menarik, status dari media sosial yang dikutip terakhir ini, disertai dengan foto seorang ibu separuh baya, sedang membopong puteranya yang tak berdaya di salah satu bangsal rumah sakit. Warna hitam putih foto ini, membawa kesan adanya kesengsaraan yang penuh nestapa. Saya sendiri merasa bahwa, sang putera tengah menghadapi sakaratul maut yang begitu getir. Terutama bahwa, kaum miskin yang papa, semakin tak berdaya menghadapi ketetapan ilahi yang paling pasti: maut dan duka.

Saya memahami betul bahwa banyak orang memiliki empati dan rasa prihatin yang mendalam terhadap masalah kehidupan yang semakin sulit ditaklukkan ini. Namun kenyataannya, ekspresi keprihatinan ini, justeru termanifestasikan dalam bentuknya yang tak dapat diandalkan. Maksud saya, justeru sebagian kaum Muslim tampil dengan wujudnya yang keras, garang dan sebenarnya bingung harus bagaimana menjawab segala tantangan yang ada. Di sisi lain, krisis kemanusiaan telah mengemuka secara membabi-buta.

Tentu saya sedang tidak mempersoalkan masalah kebenaran informasi dari kedua ekspresi di dunia maya tersebut, antara meme yang mengritik konservatisme Islam dan kampanye kreatif untuk membangun empati kaum beragama terhadap masalah kemanusiaan. Lebih bijak untuk menganggap keduanya sebagai karya intelektual tertentu yang bermuatan estetis. Keduanya, adalah karya yang disampaikan kepada pembaca jagat maya, yang diolah melalui pergumulan akal sehat, hati nurani dan fakta sosial yang ada. Pendek kata, itulah kenyataan yang direpresentasikan melalui kenyataan lain, dengan bentuk yang relatif berbeda.

Pertanyaan yang menghantui saya, terutama berkenaan dengan fakta-fakta krisis kemanusiaan yang dewasa ini mengemuka adalah, bagaimana menyelesaikannya? Bagaimana kita, sebagai agensi sosial yang berpotensi mengupayakan perubahan sosial dan transformasi, mampu menjawab semua ini? Sebelum itu semua, bagaimana mengumpulkan kekuatan sosial, politik, ekonomi dan kultural, yang diawali dengan cara membangun empati humanistik para pengakses media sosial yang sedemikian massif dan terkadang, agresif? Bagaimana membelokkan wacana yang berorientasi kepada perayaan pengerasan sikap keberagamaan di berbagai kalangan, agar supaya menuju pemuliaan terhadap pentingnya agama yang berfungsi sosial?

Sebelum itu semua, jelas penting kiranya mendudukkan akar persoalannya, yakni krisis kemanusiaan di kalangan masyarakat Muslim, sekaligus merebaknya wabah konservatisme Islam. Jelas di antara keduanya memiliki dua kemungkinan, yakni beririsan dan tidak. Disebut beririsan oleh karena banyak pihak melampiaskan ketidakmampuan menghadapi segala krisis yang ada, sehingga memilih jalan konservatisme yang bermodalkan pengecaman, caci maki, takfir dan bahkan memobilisasi massa untuk melakukan tindak kekerasan di tempat dan sasaran yang sama sekali tidak relevan. Disebut tidak, karena konservatisme dianggap berdiri sendiri yang disuburkan oleh benih-benih ideologis, sementara fenomena krisis sosial kemanusiaan yang ada, merupakan katalis yang mempercepat penyebaran dan pertumbuhannya. Yang terakhir ini agak sulit diterima, karena betapapun kompleksnya hubungan antara penderitaan umat dan menguatnya ideologi Islam yang keras, keduanya memiliki interdependensi yang tidak dapat dipungkiri.

Krisis kemanusiaan yang ada, jelas tidak terjadi secara alamiah. Setiap krisis yang ada, – kecuali yang disebabkan oleh bencana alam, atau bencana katastropik lainnya yang berhubungan dengan tatanan semesta – selalu ada penciptanya. Seorang peletak dasar psikoanalisa, Sigmund Freud menyebutkan bahwa, motif tindak laku dehumanistik manusia sehingga berimbas pada lahirnya berbagai krisis, adalah panggilan hawa nafsu seksual, baik terhadap pria maupun wanita. Filosof sosial Jerman terkemuka, Karl Marx, mengajukan isyarat bahwa, motif kepentingan penumpukan kekayaan dan keserakahan adalah motif-motif yang sangat kuat, yang mempengaruhi timbulnya perilaku destruktif di antara individu, kelompok dan bahkan korporasi yang merugikan manusia, alam dan tatanan peradaban. Sementara itu, Friedrich Nietzsche, dengan cara yang sangat mengesankan, menyadarkan kita semua bahwa kekuasaan adalah bahtera yang membawa segenap manusia mengarungi samudera takdir kehidupan ini.

Tahta, harta dan wanita/pria adalah alasan-alasan yang melekat erat, seperti virus yang menggerogoti otak, sehingga pengidapnya menjadi linglung, berjalan miring dan menjadi sangat bebal. Carl Gustav Jung, seorang murid terbaik Freud, Feurbach, seorang teolog pengecam teologi dehumanistik, Marx dan sahabatnya, Engels, menambahkan satu motif yang dapat menyebabkan kerusakan yang luar biasa bagi kehidupan, yakni kegilaan terhadap agama. Berbagai motif ini, beserta segala kompleksitasnya, membawa manusia menjadi raja tega yang sangat merosot moralnya. Dalam konteks ini, kanibalisme dikembangkan secara lebih luas dan kreatif, sehingga korbannya bukan hanya individu-individu, namun juga massa yang besar dan melampaui batas-batas teritorial suatu negara. Neoliberalisme ekonomi, aktivitas blok-blok politik adikuasa pro korporasi multinasional, penciptaan dan pemberantasan terorisme, pasar senjata, perang yang tidak jelas maksud dan tujuannya, pabrik, pasar dan perdagangan narkoba, adalah perwujudan nyata dari senjata pemusnah massal yang lebih dahsyat ketimbang nuklir yang berbahan bakar uranium dan plutonium.

Lantas tidak jarang pula, agama digunakan sebagai komoditas yang paling laku, paling laris dan sangat sensitif, untuk kepentingan para pihak yang kejam dan bengis. Senapan ekonomi politik ini, yang bermesiu wacana keagamaan tertentu, telah membangkitkan sifat-sifat revivalistik sekelompok kaum Muslim di berbagai wilayah di belahan dunia. Lalu disertai pula dengan sifat ideologis yang keras, yang lambat laun menjadi semakin mengeras. Semakin mantaplah ideologi konservatisme yang terutama menjangkiti masyarakat Muslim yang telah sekian lama tertindas. Melindungi diri dari sifat-sifat salah para pihak, seperti riya’ dan sombong (superior), serakah (kapitalis), despotik, sewenang-wenang dan semua untaian bau busuk dehumanisme, adalah kepentingan dari konservatisme ini. Hal tersebut bukan sekedar tidak efektif, namun juga sama kelirunya dalam meletakkan dan memanfaatkan agama, pemikiran keagamaan dan praktik-praktik keagamaan.

Cara menyelesaikan masalah ini adalah membangun kesadaran kritis yang cukup jelas, terang dan mencerahkan ketika berhadapan dengan berbagai kompleksitas krisis sosial kemanusiaan yang dihadapi. Setidaknya, itulah prasyarat yang harus dilakukan, sebelum berbagai langkah strategis lainnya. Kita memang memiliki empati, tapi setiap empati yang membawa kepada terjaminnya keberpihakan terhadap kebenaran, keadilan dan kemanusiaan, harus berjalan beriringan dengan kesadaran kritis ini.

Yang dimaksud dengan kesadaran kritis adalah, kita memahami posisi kita sebagai agensi sosial kemanusiaan yang memiliki kekuatan untuk mengupayakan perubahan menuju kebajikan yang berkelanjutan. Lalu, kesadaran kritis adalah pandangan yang tidak buram, terhadap segala kenyataan sosial kemanusiaan yang ada, baik itu menyangkut segala hal yang terjadi, asal muasal, faktor-faktor penyebab, dampak-dampak yang terjadi dan juga siapa para pihak yang terlibat, termasuk para korban yang menanggung derita berkepanjangan atasnya. Dengan kata lain, kita harus memiliki ketegasan sikap keberpihakan, sekaligus piawai dalam menganalisis seluruh persoalan yang ada. Dari kedua hal ini, akan lahir jalan keluar. Seperti yang kita hadapi saat ini, kita harus mengakhiri sikap-sikap konservatisme Islam yang tidak perlu, karena tidak mungkin sanggup menghadapi neo-imperialisme, terutama yang dilakukan secara membabi-buta oleh negara-negara adikuasa dan berbagai korporasi internasional.

Kita memerlukan kampanye besar-besaran untuk menunjukkan bahwa wacana konservatisme Islam telah keliru dan memiliki banyak kemungkinan gagal menghadapi segala krisis yang semakin tak terkendali. Tidak tidak perlu berjihad ke Aleppo untuk menangani masalah kemiskinan, tingkat pendidikan yang rendah, akses politik ekonomi yang sangat terbatas (yang hanya didominasi dan dihegemoni oleh korporasi internasional), juga korupsi dan banyak lagi masalah lainnya. Apapun caranya, setelah kesadaran kritis, menghentikan segala ekspresi yang tidak cerdas atau sikap yang mengada-ada seperti misalnya konservatisme Islam yang semakin mengemuka, hal yang mendasar lainnya adalah, bagaimana memenangkan wacana kritis yang progresif, berpencerahan dan transformatif, dan juga penting untuk segera secara besar-besaran memobilisasi massa yang memiliki cita-cita, visi dan misi yang sejalan, untuk segera mewujudkan perubahan yang konkret, material dan kasat mata. Membela orang miskin, memerlukan nilai keagamaan yang mulia, kesadaran kritis, memenangkan kontestasi wacana dan mobilisasi massa.[]

*Terimakasih kepada Djoko Supriyanto, seorang aktivis media sosial yang berusaha membangun keberpihakan terhadap kemanusiaan.